Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Indonesia dan Hal-Hal Tak Dewasa yang Menyertainya


3-0 untuk Malaysia. Indonesia teriak seketika. Bla bla bla bla bla bla!!! Laser-lah, serbuk gatal-lah, petasan beracun-lah, tai kuda-lah.. Banyak yang menyumpah. Serapah-serapah. Sampah.

Dalam pertandingan, peperangan, pertempuran, kejuaraan dan bahkan dalam hidup, konsekuensinya itu cuma dua. Kalo tidak kalah ya menang. Kalo tak siap menghadapi salah satunya, buat apa maju ke lapangan?
‘Lha tapi kan bisa juga seri?’
‘Lha opo sampeyan sufi?’
Yang bisa seri dalam kehidupan itu cuma segelintir orang yang benar-benar tercerahkan. Budha, Jalaluddin Rumi, Siti Jenar dan mereka-mereka yang mampu mengeja kata Tuhan dengan benar. Masa kita yang ngakunya manusiawi tapi seringkali mengedepankan naluri ini mau akhir pertandingan yang seri? Tai.

Mencari kambing hitam itu paling gampang. Tak perlu keluar duit dan tenaga, tinggal pilih mana yang layak dipersalahkan, tunjuk, selesai. Indonesia kalah, harusnya sudah. Namanya juga permainan. Tapi wong ya sudah tradisi, tak afdol rasanya kalo tidak mendayu-dayu sendu menyanyikan lagunya Exist, mencari sebab serta mencari alasan... Mencari-cari apa yang bisa disalahkan.

Trus kalo masyarakat kita tidak pernah mau belajar untuk menjadi ksatria dan menerima kekalahan dengan lapang dada, apa ya mungkin Indonesia akan bisa menjadi pemain yang diperhitungkan di dunia? Kedengarannya kok utopis ya? Tiba-tiba saya ingat Jepang. Seppuku. Harakiri. Sebuah tindakan berani untuk mempertahankan harga diri. Masyarakat kita mana berani? Jangankan mati. Mengaku kalah dan salah saja tak pernah. Coba, kapan kita dengar permintaan maaf atas kasus HAM di Aceh, Papua, penjajahan Timtim, pembunuhan Munir, hilangnya Wiji Thukul, pembantaian ’65, dan sebagainya-dan sebagainya.

‘Kamu itu ga nasionalis ya? Yang lain itu mati-matian membela Timnas kita!’, seorang kawan bicara.
Dan saya cuma tertawa. Bagi saya nasionalisme itu cukup sederhana. Yaitu jauh-jauh merantau ke Jakarta, melepaskan semua kenyamanan kampung halaman untuk memasrahkan diri pada kebusukan asap knalpot ibukota dan keruwetan jalanan yang jahanam, agar saya bisa membuat ibu saya di rumah tersenyum bangga, bisa punya uang untuk membawanya berobat ke rumah sakit, dan bisa memperbaiki rumah milik keluarga. Bukan jauh-jauh datang ke Jakarta untuk antri tiket di Stadion GBK dan ketika tak kebagian ngamuk-ngamuk, mengeroyok salah satu panitia yang tidak tahu apa-apa yang cuma berusaha nyari duit buat anak istrinya, terus mendobrak pintu stadion lalu merusak apa-apa yang ada di depannya.

Bukan pula sekedar ngopi di sudut taman budaya, sibuk berretorika, ngalor ngidul berwacana, berdialektika tai kuda, menyalahkan pemerintahan yang memang sudah tak terselamatkan atas semua keruwetan, lalu klepas klepus menghisap Dji Sam Soe sampai mampus. Bukan juga cuma duduk diam di depan layar TV, mengkritisi segala isi berita atas semakin parahnya dunia, merasa seakan-akan semua beban dunia ditimpakan Tuhan di pundaknya, lalu berkicau di Twitter, Facebook, dan jejaring sosial di dunia maya yang lainnya, mengomentari semua yang ada tapi tak pernah ada usaha apa-apa demi memperjuangkan kehidupan yang lebih baik; bahkan untuk dirinya sendiri; tiap hari cuma sibuk mengkritik sampai jadi trending topic. Jangkrik.
‘Nasionalisme itu gerakan, Bung... Bukan sekedar filsafat…’

Natal kemarin saya dipaksa malu mengaku Islam oleh statement MUI dan segelintir umat yang meneriaki sebuah Misa Natal yang saya saksikan di layar TV. Dan sekarang saya dipaksa malu (lagi) untuk mengaku sebagai orang Indonesia gara-gara ketidakksatriaan kita atas kekalahan. Njuk piye? Apa saya harus ganti agama dan pindah warga negara sekarang juga? Entahlah. Satu-satunya pikiran menyenangkan adalah membayangkan kalo Anarki Nusantara-nya ES Ito itu benar-benar nyata dan meluluhlantakkan semua yang ada. Anarki. Tak ada hierarki. Tak ada apa-apa. Cuma manusia. Bukankah daripada menjadi tua tapi tak dewasa lebih baik menjadi bayi lagi? Jika kecewa dan terluka tinggal meratap, ‘Yaowooohhh… Ampuni kami yaowoooohhhh….’. Ah sudahlah. Sudah pagi. Waktunya tahajud, minum bir dingin dan Tolak Angin.



***


Casablanca, 27 Desember 2010

Tentang Natal dan Ulama-Ulama Bebal



...Klo bikin status tu g usah yg mslh agama,jjr aj aq sbg orang muslim ngrasa tersinggung ma status n komen temenmu tentang adzan subuh...


Duengggg!!! Sebuah pesan dari seorang kawan. Siang-siang. Dan saya cuma garuk-garuk kepala. Kok bisa ya?

Sebelumnya saya memang nulis sebuah status di akun FB,

...Kalo simbol Natal di mall2 dianggap berlebihan, trus gimana dengan simbol2 Lebaran? Ulama kok bodoh...
(Kalo ga bodoh ya ga jadi ulama)

Lalu sebuah komentar singgah,

...kalo suara lagu puji-pujian di HKBP itu berisik, trus gimana dg suara puji-pujian dan adzan di subuh buta? (toleransi itu bukan telo yg tinggal dikunyah trus tercerna dg sendirinya di perut, nggak usah pake mikir) :P...

Dan selang sekian detik, pesan itu mampir di inbox saya.

Facebook itu ranah publik. Apa yang kita tulis di situ nantinya tidak hanya dibaca orang-orang yang kita tuju. Tapi semua. Dunia. Saya cukup paham hal itu. Karena itulah, seseorang harus siap mempertanggungjawabkan apapun yang dilakukan di situ kepada massa. Begitu juga halnya dengan saya. Karena sebagai manusia yang syukur alhamdulillah punya otak (meski kecil dan sudah mulai berkeriput), saya berusaha untuk tak pernah lupa melakukan filterisasi sebelum mengungkapkan sesuatu di situ.

...silahkan tersinggung. itu hak anda. dan tidak usah terlalu repot mendikte apa yang harus saya lakukan. terima kasih...

Kita manusia merdeka. Sejak lahir ceprot manusia sudah diikat norma-norma dan segala sesuatu yang membelenggu. Saya pikir tak ada gunanya menambah belenggu itu. Kawan saya berhak tersinggung dengan kalimat saya. Seperti halnya saya yang juga berhak tersinggung dengan ulah Noordin N. Tot dan jaringannya yang hobi membunuh orang-orang tak berdosa dan membuat banyak umat Islam yang memilih menundukkan kepala sambil bergumam pelan, ‘Islam’, ketika ditanya apa agamanya. Malu mengakui ajaran nabi yang dipercayai? Sungguh tai.

Semua berawal dari Natal dan MUI. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba lembaga tertinggi umat Islam ini mengeluarkan statement konyol bin tolol.

...Simbol-simbol Natal di beberapa mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya itu berlebihan, dan kepada para pengelolanya agar arif dan peka menjaga perasaan umat beragama...

Sekali lagi kumpulan ulama ini berpikiran seperti anak TK. Yang takut dan curiga akan ada anak lain yang merebut permen miliknya. Mungkin saya tak akan peduli kalo yang bicara seperti ini Om Rizieq pimpinan preman-preman bersurban itu. Tapi ini MUI. Majelis Ulama Indonesia. Lembaga tertinggi umat Islam yang (harusnya) suci?

Coba bayangkan, betapa bodohnya masyarakat kita jika para kyai haji ini menganggap bahwa umat di negeri ini merasa terganggu dengan Santa Claus dan pohon cemara sintetis yang berkeliaran di mall-mall dan pusat perbelanjaan? Kenapa sih mereka tak pernah angkat suara untuk membahas keberadaan terorisme di tubuh Islam tapi malah sibuk main haram-haraman? Bahkan mengurusi perayaan umat agama lain? Jika memang berpikir cerdas dan mencoba adil, kenapa mereka diam saja ketika tiap Ramadhan tiba stasiun TV kita gila-gilaan mengeksplorasinya? Ustadz-ustadz ganteng berkeliaran, gambar-gambar ketupat berseliweran, musik timur tengah riuh gaduh, band menye-menye keluarkan album religi, dan sebagainya dan sebagainya. Belum lagi diskon belanja gede-gedean yang menggiurkan, memaksa masyarakat kita memasrahkan diri dalam karnaval akbar bernama kapitalisme global. What the hell, Mr. Kyai? Itukah Ramadhan?

Jujur saja saya tak cukup mengerti, kenapa kawan saya tersinggung dengan status saya itu. Karena pesan balasan yang saya kirimkan sampai detik ini dicueki. Begitu juga, dia tak mampir di wall saya untuk terlibat dalam diskusi terbuka. Karena itulah saya cuma bisa mengira-ira, dia mungkin menganggap bahwa saya (dan kawan-kawan lain yang terlibat diskusi itu) adalah seorang Nasrani yang muak dengan MUI. Bukan. Sama sekali bukan. Meski ada kawan yang bilang wajah saya semenderita Isa (waktu disalib, katanya), saya tak pernah sekalipun berpikir untuk mengimaninya. Apa ga boleh, kalo seorang lelaki memberi masukan kepada perempuan yang dicintainya untuk mengoleskan lipstick merah muda di bibirnya, ‘Biar lebih cantik’, katanya. Sah-sah saja to? Lha wong cinta kok?

Menurut saya pribadi, hangar bingar Natal memang berpotensi menyesatkan. Gemerlap Santa dan pohon-pohon cemara itu sama sekali tak merepresentasikan kelahiran Isa. Seperti kita tahu, bayi Yesus dipercayai umat Nasrani lahir dari rahim Perawan Maria di sebuah kandang domba di Betlehem. Dalam kesunyian, kesendirian, dan penderitaan. Malam yang kudus. Lalu spirit Yesus semacam apa yang bisa dipetik dari riuh rendah perayaan gila-gilaan yang kita saksikan belakangan?
‘Lho, brarti MUI bener dong?’, seorang kawan menodong.
Dlondong!!
Perayaan Natal semacam ini tak jauh beda dengan Ramadhan kita. Siang berlapar-lapar puasa sambil menikmati khotbah-khotbah religi dari ustadz-ustadz funky di layar TV, tapi begitu Maghrib tiba banyak yang berbondong-bondong ke Starbucks, Mc' D, dan KFC untuk berbuka dan melancarkan aksi balas dendam. Disusul dengan menghabiskan isi dompet berbelanja baju dan celana yang akan dikenakan ketika Lebaran tiba. Gesek gesek gesek. Pulang-pulang tangan dipenuhi tas belanja. Tai kuda. ‘Pengendalian dirinya dimana?’

Toleransi. Itu masalahnya. Sejak kecil kita sudah didoktrin tentang apa itu eksklusivitas.

...Agama di dalam pengajaran sekolah, adalah soal lama dan terus-menerus persoalan sulit...

begitu Ki Hajar Dewantara pernah bilang.
‘Yang Islam di ruang ini. Yang Kristen disitu. Yang Katholik di sana. Lalu yang Hindu. Juga yang Budha’.
Mungkin memang inilah salah satu faktor yang membuat masyarakat kita terkotak-kotak. Melahirkan diskriminasi dan kesaligcurigaan. Agama bukan matematika. Di mana lima kali lima seluruh dunia sepakat untuk menjawabnya duapuluhlima. Agama itu bicara tentang kebenaran sekaligus ketidakpastian. Benar tapi tak pasti. Lha siapa coba yang bisa membuktikan kalo akhirat itu benar-benar ada?

Karena itulah, saling mencurigai semacam itu sepertinya sudah tak penting lagi. Sekarang tak ada salahnya jika kita mulai mencoba untuk berpikir, bagaimana cara terbaik untuk menghadapi hidup yang seperti pelangi ini. Warna warni. Bersama-sama belajar mengeja kata toleransi dengan lafal yang benar. Masalah siapa yang salah dan siapa yang lebih salah, apakah surga atau neraka yang akan kita temui nanti ketika sudah mati, serahkan saja sama Ahlinya. Saya pikir; meski guyonannya kadang berlebihan; Tuhan itu ga sebodoh yang sering kita pikirkan.

Selamat Natal. Damai di bumi damai di hati.
Sadhu.. sadhu.. sadhu..


***

Casablanca, 24 Desember 2010
* Foto: AP Photo/ Bela Szandelszky

Cerita Jelek dari Negeri Brengsek

Tolani ngglethak. Bagaimana tidak, lengan kekar berbulu itu tadi menempeleng tengkorak, ‘Plakkk!!!’.
‘Kenapa kamu lari?!’, sepatu PDL penuh lumpur menjejak. Punggung Tolani berkeretak, ‘Ampun paakk…’.
Tiba-tiba tangan kekar itu menjambak, ‘Kan sudah dibilang, jangan berjualan di taman ini!! Kamu pikir taman ini punya kakek moyang mu apa??!! Ini milik negara!!’, mulut berkumis itu bergerak-gerak. Bau amis menyeruak.
‘Maaf paakk.. Keluarga saya butuh makannn..’, Tolani bersyukur jantungya masih berdetak.
‘Cangkemmu ituu.. Lha kok malah curhat!!’, lelaki berseragam hijau itu menggertak. Setelah menengok kiri kanan, raksasa itu mendekatkan wajahnya. Berbisik. ‘Sudah… Ga usah lama-lama.. Sini uang keamanan, dan kamu ngga saya tahan… ‘.

Tangan Tolani bergetar merogoh kantong. Limapuluhduariburupiah berpindah tangan.
‘Sekarang pergi sana.. Jangan sampai temen-temenku liat kamu..’, tangan raksasa itu mendorong Tolani, ‘Kecuali kamu masih punya duit…’, mulut busuk merenges.
Tolani perlahan pergi. Gerobaknya tak mungkin terselamatkan lagi. Si bungsu Budi tak jadi ke dokter sore ini. Mencretnya sudah lima hari tak berhenti.



***


‘Jadi anak-anak…’, Bu Guru Ndari memonyongkan mulutnya. Lipstik murahan menjadikannya merah menyala, ‘Sila kelima itu menegaskan bahwa negara ini menjamin keadilan buat tiap-tiap warga negaranya.. Tidak hanya yang kaya, tapi semua… Semuanya… Termasuk yang miskin..’, parfum Bu Ndari menyeruak. Sengak. ‘Bahkan jaminan terhadap fakir miskin ini juga dibahas di salah satu pasal undang-undang dasar kita…’, ruang kelas panas. Bau sampah masuk dari jendela dengan bebas.

‘Hayooo.. siapa yang tau pasal berapa yang mengatur soal fakir miskin iniii.. Trus bunyinya apaaa..’. Kelas hening. Kepala-kepala kecil itu terlihat pening. ‘Kalo ada yang tau, boleh pulang duluan’, Bu Ndari melirik jam. Tak ada salahnya sekali-kali membuat muridnya gembira. Tetap sunyi. ‘Generasi ini memang generasi tai!’, Bu Ndari mengumpat dalam hati.

Tapi tiba-tiba, satu jari teracung. Di ujung. Gadis kecil mengerjap-ngerjap. Baju putih kumal rambut kusut. Mia namanya.
‘Iya Miaaa…’, Bu Ndari memusatkan perhatiannya.
‘Pasal 34 ayat 1 bu…’, Mia tegas berkata. Bu Ndari tersenyum, ‘Ternyata ada juga yang masih bisa diharapkan’.
‘Bunyinya?’, Bu Ndari bertanya.
‘Ehhhmmm… Fakir Miskin dan anak – anak yang terlantar dipelihara oleh negara..’
Senyum Bu Ndari mengembang. Di tengah-tengah kelas 6 yang meranggas ini ternyata masih ada juga rumput yang hijau. Tak semuanya kacau.
‘Baiklah Mia.. kamu boleh pulang duluan…’
‘Huuuuu…’, seisi kelas bersorak iri. Tapi meski asu-asu tak setuju, bukankah kafilah berhak untuk tetap berlalu?

Setelah mengemasi buku-bukunya, Mia berlari keluar ruangan. Di sudut halaman, siswa kelas lima latihan paduan suara untuk upacara bendera.
‘….Indonesiaaaa… tanah airkuuuu... Tanah tumpah darahkuuuu... Di sanalah aku berdiriii... Jadi pandu ibukuuu.….‘.
Sayup suara sumbang semakin tertinggal di belakang. Hati Mia berbunga. Dia memang ingin pulang cepat siang ini. ‘Aku bisa lebih lama membantu bapak jualan rokok dan aqua di taman kota... Si Budi kecil mencret sejak hari Selasa...’, pita merah muda berbentuk kura-kura menari-nari di rambutnya.



***



Solo – Casablanca, 11-12 Desember 2010

Mata Telaga Tara

Sebut saja namanya Tara. Itu nama sebenarnya. Tapi ibu di rumah biasa memanggilnya Ulil. Keponakan-keponakan saya lainnya memanggilnya Aurel. Sementara kakak saya ada yang memanggilnya Bintang. Apapun. Quenna Aurellia Bintang Nusantara nama panjangnya. Salah satu keponakan saya. Tiga setengah tahun usianya.

(Mungkin) seperti saya dulu, anak usia segitu memang sedang lucu-lucunya. Mata jenaka. Senyum tulus. Tawa lepas. Tak terbersit kecemasan besok akan makan apa. Tak terpikir untuk ikut-ikutan menghujat busuknya dunia. Bahkan tak mungkin menangis tolol gara-gara ditakdirkan hidup di negeri bobrok yang dipimpin pelawak-pelawak konyol.

Entah kenapa Tara selalu bisa membuat saya dan anggota keluarga lainnya selalu tertawa. Tingkahnya. Celetukannya. Polahnya. Bahkan mungkin saat ini cuma dia yang bisa membuat bibir ibu saya di rumah terkembang riang. Sungguh tak bisa dibandingkan dengan kebrengsekan saya yang selama ini justru lebih sering membuat bibir ibu tergetar karena tangis.

Mata telaga. Demikian saya sering mengasosiasikan tatapan Tara. Seperti telaga bening tempat Narcissus jatuh cinta pada dirinya sendiri, begitu pula mata Tara. Cuma dengan menatapnya, saya selalu bisa menemukan alasan untuk tidak cepat-cepat mati hari ini. Saya ingin melihatnya tumbuh menjadi besar, menjadi gadis cantik yang digilai lelaki-lelaki sebayanya, menjadi sarjana komputer mungkin. Atau menjadi penari? Penulis? Atau mungkin menjelma perempuan petualang yang tak lepas dari sneakers, backpack, jeans sobek-sobek, plus kamera yang akan dia gunakan untuk membekukan dunia-dunia asing dalam sebuah pigura yang sampai saat ini baru bisa saya angankan? Kathmandu mungkin? Madinah? Bhaktapur? Malta? Ah…

Membayangkan Tara menjadi dewasa dan menua seperti menelan pil pahit obat sakit kepala. Menyembuhkan. Tapi tetap saja tak terasa manis. Tetap saja ada sedikit kekhawatiran, bagaimana nanti ketika pil itu menyentuh pangkal lidah. Pahitnya pasti pekat. Pasti menyengat. Pasti lekat.

Bagaimana tidak. Dunia tempat kita berada tak beda jauh dengan kosakata gila. Di mana untuk bertahan hidup, kadang manusia saling memakan satu sama lain. Di mana kita seringkali cuma diberi dua pilihan, antara menjadi pemenang atau pecundang. Kalah atau menang. Membunuh atau dibunuh. Tak ada pilihan ‘diam’. Tak ada kosakata ‘tenang’. Semua memburu. Waktu seperti asu. Mengejar-ngejar tanpa peduli nafas kita cuma tinggal satu. Berlari atau mati.

Saya bukan meragukan Tara. Dia mungkin akan kuat menghadapinya. Seperti halnya saya yang masih bertahan hidup sampai detik ini. Tapi sungguh terlalu berat membayangkan mata telaga itu menjelma hujan yang tak berkesudahan, ketika suatu waktu mungkin dia merasa lelah dicekoki janji seorang lelaki muda sebangsat saya yang cuma bisa memberi angan-angan palsu tentang masa depan dan awang-awang, atau mungkin ketika cintanya dikhianati seorang lelaki bajingan yang menelantarkan hatinya untuk menikah dengan perempuan lain, atau mungkin ketika sebutir kekecewaan membuatnya suatu malam duduk terdiam sendirian berjam-jam di sudut café dengan berteman kaleng-kaleng bir dan alunan jazz yang merajam, atau mungkin ketika bla bla bla bla bla bla..

Saya juga tak bisa membayangkan suatu ketika mata telaga itu tiba-tiba meredup lelah ketika harus terjaga sampai pagi buta karena pekerjaan rumah yang diberikan guru sekolah, menghapalkan nama-nama ibukota negara di dunia, menghapalkan rumus matrik, logaritma, dan segala tetekbengek tai kuda matematika, lalu teori kuantum, hukum kekekalan energi, teori relativitas, persamaan kimia, geofisika, dan hal-hal tak penting lainnya, dan sebagainya dan sebagainya….

Belum lagi jika dia harus dibingungkan dengan ayat-ayat agama yang katanya suci tapi kenyataanya justru dijadikan legalisasi oleh sebagian orang untuk membunuh manusia lain, mengebom hotel, atau mungkin menganiaya sesama. Seruan Allahuakbar yang suci diteriakkan oleh kaum bar-bar yang tai. Puji-pujian diperlakukan seolah adalah seruan perang. Dan sejenisnya dan sejenisnya…

Lalu bagaimana juga jika ternyata suatu waktu Tara saya yang lucu mau tak mau harus bekerja dan mengejar apa yang disebut sebagai kesejahteraan di belantara gila bernama Jakarta, di mana gedung tinggi menjulang berserakan, mall-mall gemerlap berjejalan, sementara di sekitarnya gelandangan dan para jelata melata mencari remah-remah apapun yang bisa dimakan? Belum lagi jika tiba masanya ketika Tara mulai menulis ejaan namanya menjadi qUeeNa AureElia ImOeTt&LoetcU di akun jejaring sosial miliknya, lalu mulai minta dibelikan hot pants & tanktop warna pinky seperti yang biasa dilihat di tayangan sinetron televisi negeri ini...

Sungguh. Saya tak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika semua itu benar-benar terjadi. Saya benar-benar tak tahu. Yang jelas, telaga itu suatu waktu nanti pasti akan menjadi berbeda. Entah menjadi seperti apa. Karena saya yakin, mata saya (dan kita semua) pasti juga 'pernah' seindah matanya. Dan sekarang kenyataannya? Mungkin cuma cermin yang cukup jujur untuk menjawabnya.




***



Casablanca, 3 Desember 2010

Islam Cerdas vs Islam Tolol

; yang tercatat dari In the Name of God



‘(Umat) Islam itu ada dua. (Umat) Islam cerdas dan (umat) Islam tolol’, kata saya suatu waktu.
‘Matamu’, seorang kawan mencak-mencak, ‘Islam itu rahmatan lil 'alamin. Itu artinya orang yang sudah masuk Islam berarti sudah dapet pencerahan. Mereka manusia-manusia pilihan’.
Duenggg!!! Baru saya sadar kalo saya bicara dengan manusia batu. Asu.

Saya bicara begitu bukan berarti melecehkan. Tapi (menurut saya) memang begitu. Ada umat muslim cerdas yang beriman dengan mengedepankan kedamaian, tapi ada juga yang beriman sambil terus memelihara permusuhan. Teks-teks Qur’an diimani secara gebyah uyah. Ditelan mentah-mentah. Teks dipisahkan dengan konteks. Ayat perang jaman jahiliyah diimplementasikan ketika Blackberry sudah jadi mainan bocah.

‘Jadi kamu menganggap Qur’an cuma berlaku di jaman nabi dulu?!’
Wassyaahh.. Malah saya difitnah. Saya tidak bermaksud mengatakan itu. Saya cuma pengen bilang, beragama itu tidak harus dengan cara ‘berkacamata kuda’. Menganggap yang kita imani itu benar tentu wajar. Tapi kalo terus mengatakan ‘iman yang lain’ salah kaprah? Wallaahh…

Tema besar itulah yang diangkat dalam In the Name of God. Ide menarik kalo saya kata. Terlebih di negeri ini, Indonesia Jenaka Raya. Sebuah negeri dimana seringkali dijumpai preman-preman bersorban berkeliaran di jalanan. Dimana teriakan ‘Allahuakbar’ bukan lagi diartikan sebagai puja-puji terhadap Tuhan, melainkan dianggap sama dengan tabuhan genderang perang. Negeri di mana banyak generasi muda yang bersedia dengan lapang dada meledakkan dirinya di hotel bintang lima untuk dapat akses instan menuju surga.

Cerita bermula dari sepasang kakak beradik yang berprofesi sebagai musisi di Lahore, Pakistan. Mansoor (Shan) dan Sarmad (Fawad Khan). Masalah bermula ketika pesta penyambutan tahun baru 2000. Panggung musik keduanya diserang kawanan bersorban yang meneriakkan takbir. Melihat hal itu, sang adik, Sarmad, merasa penasaran. ‘Kenapa?’, batinnya bertanya. Tapi sayang, Sarmad mencari jawaban di tempat yang ‘salah’. Akibat dari rasa ingin tahu berlebihan dan jiwa yang masih labil, Sarman dicuci otak oleh seorang ulama garis keras Taliban bernama Maulana Tahiri (Rasheed Naz). ‘Nabi Muhammad membenci lagu dan musik’, katanya. Sejak itulah Sarmad meninggalkan alat musik dan mulai menumbuhkan janggut dan cambang.

Sepeninggal Sarmad, mansoor terbang ke Chocago, AS, untuk belajar musik. Di tengah-tengah masa belajar (dan percintaannya dengan Janie -Austin Marie Sayre-), dua pesawat menabrak gedung kembar WTC. ‘Buuummmm!!!’, 11 September 2001. Islam lalu dimusuhi. Akibat ulah tetangga yang berprasangka buruk, Mansoor dalam situasi yang tidak menguntungkan. Agen CIA menciduknya dan melemparkan tuduhan dia terlibat dengan Osama dan Al Qaeda.

Sementara itu ada lagi tokoh Mariam (Iman Ali). Gadis London keturunan Pakistan ini dikawinkan paksa oleh ayahnya. Semua bermula karena sang ayah tidak setuju Mariam menikah dengan lelaki kulit putih non muslim. Sang ayah merasa, jika tidak menikahkan anaknya dengan pria muslim maka ia telah menodai agamanya sendiri. Karena itulah, sang ayah lalu mengawinkan Mariam dengan Sarmad yang sudah menjadi pejuang Taliban di perbatasan Pakistan dan Afghanistan.

Kisah-kisah itu berkelindan dalam film yang berdurasi hampir tiga jam. Tema menarik, sekali lagi saya kata. Tapi jujur saja, alurnya membosankan. Selama pertunjukan nyaris tak ada pergolakan yang memancing keingintahuan. Butuh tenaga ekstra untuk bisa menikmati film ini hingga tuntas. Alur yang sedemikian lambat, ditambah lagi dengan acting para pemain yang tidak spesial (kata lain untuk mengatakan: kaku), membuat beberapa penonton sesekali terlihat asik dengan Blackberry-nya ketimbang mengikuti alur cerita.

Film ini mengingatkan saya dengan produk dalam negeri yang dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra. 3 Doa 3 Cinta. Film inipun mengangkat tema yang sama. Islam cerdas vs Islam tolol. Setting cerita di sebuah pesantren di Yogyakarta. Tiga sahabat. Terorisme. Islam. Amerika. Tema itulah yang menjadi acuannya. Tapi hasilnya? Sama. Tidak (begitu) istimewa.

Tapi bagaimanapun, saya sama sekali tak merasa rugi menyisihkan sedikit waktu, tenaga, dan biaya untuk bisa menikmati film ini. Karena bagaimanapun banyak yang bisa kita ambil dari sini. Kalimat-kalimat pedas berseliweran. Mungkin bisa saja memerahkan kuping sebagian orang.
‘Percayalah, aku akan mengutukmu di alam baka. Orang yang punya banyak waktu untuk sholat tapi tak punya waktu untuk membela mereka yang benar’, kata Mariam kepada seorang ulama liberal yang (awalnya) tidak bersedia membantunya di pengadilan.
‘Saya bisa membaca tulisan Arab. Tapi tidak tahu artinya. Di Pakistan itu biasa’, kata Mansoor kepada agen CIA yang menyiksanya. Sentilan-sentilan halus bagi mereka yang seringkali terjebak pada iman yang cuma permukaan.

Akhir kata, buat anda yang punya waktu luang dan uang cobalah untuk menikmati film ini. Kecuali kalo anda adalah salah satu dari pengikut Taliban yang menganggap bahwa XXI, 21, Cineplex, bioskop, atau bahkan film adalah produk kafir Amerika yang hukumnya haram. Kalo memang begitu, saya sarankan anda sebaiknya memutuskan mati sekarang saja. ‘Surga’ sudah menunggu anda di sana. Begitu saja.


***


Casablanca, 13 November 2010

Merapi dan Pikiran-Pikiran

‘Lha kemarin-kemarin itu pada kemana? Kenapa baru sekarang ketika ada bencana tiba-tiba mengaku saudara? Ubyang-ubyung kirim nasi bungkus, ngamen penggalangan dana, dan sebagainya dan sebagainya’, pertanyaan tak penting melengking nyaring. Gonggongan anjing.

Negeri kita digulung bencana. Wasior, Mentawai, Merapi. Alam tunjukkan kekuatan. Mayat-mayat bergelimpangan. Dan lalu orang-orang baik bermunculan. Wajar saya kira. Karena bagaimanapun manusia bukan sembarang binatang. Kita primata bernurani. Masih punya hati.

Tapi yang mengherankan, di tengah anyir darah dan nyawa yang sedemikian murah kok ya masih ada orang yang sempat-sempatnya sibuk mendebat dengan dalil-dalil filsafat. Berlagak sok budayawan. Nongkrong di sudut taman budaya sambil mengumbar kata-kata & berdialektika. Curiga kepada mereka yang memilih untuk 'bekerja'.
‘Berbuat baik kok temporary’, nyinyir.
‘Niat membantu kok sibuk mempublikasi’, anyir.
‘Niat membantu itu dari dulu-dulu’, mencibir.
Lalu klepuss.. Dji Sam Soe menggumpal di udara. Srupuuuttt… Kopi kental tanpa gula. Tai kuda tanpa kepala.

Memang tak tertutup kemungkinan, ada di antara mereka yang terlibat huru-hara bencana itu cuma ngikut arus saja. Membantu pengungsi biar tampak peduli. Sibuk berdoa di febuk karna trend-nya memang begitu. Berangkat jadi relawan sembari dirasuki arwah Narcissus. Update status biar keliatan heroik. Berpikir bahwa foto profil yang memperlihatkan potret diri yang tertutup masker di tengah jalan berselimut debu itu terlihat gagah. Seperti halnya mereka yang mengaku kiri dengan cara selalu pake kaos Tan Malaka & Guevara. Poto jepret.. Upload via BB.. Trus nunggu comment-comment dan acungan jempol berseliweran. Sekali lagi, mungkin memang ada yang seperti itu. Tapi apa trus cuma nyacat dan nyocot* di kedai kopi jauh lebih baik dari itu semua?

Hidup itu proses. Bukan hasil jadi. Secara pribadi saya percaya itu. Tak mungkin orang laer ceprot langsung menjadi manusia yang ‘sempurna’, yang peduli dengan kanan kiri, yang mengerti mana yang baik dan tidak, yang toleran terhadap sesama, yang bisa bicara fasih tentang apa itu kapitalisme global, dan sebagainya dan sebagainya.

Jadi bisa dikata, kalau ada orang-orang yang ‘baru bergerak sekarang dan tidak dari dulu-dulu’ itu kemungkinan mereka sedang berproses. Mereka sedang dalam perjalanan menuju. Menuju menjadi sesuatu yang lebih baik dari kemarin, dari yang awalnya tak peduli menjadi peduli, dari yang mulanya buta menjadi tidak buta, dari yang kemarin tuli menjadi tidak tuli, dari yang bla bla bla menjadi bla bla bla… Aaassshhh sudahlah, tak penting mikir mereka yang tak penting. Selamat bekerja.



***



Casablanca, 7 November 2010

* mencela dan berkoar-koar

** Foto: ANTARA/ Wihdan Hidayat


Mati di Merapi

Siang

Yuniawan Nugroho namanya. Biasa dipanggil Wawan. Itupun baru saya tahu belakangan. Sebelumnya saya tak mengenalnya secara pribadi. Dia seorang editor senior di Redaksi, sementara saya baru empat bulan bekerja di divisi Multimedia.Dia datang ke meja saya bersama Mas Jono (Redaktur) dan Pak Teguh (Wapemred), minta tolong saya untuk menyiapkan handycam.
‘Untuk dibawa liputan ke Merapi’, katanya.
Ada dua handycam di laci. Tapi yang satu tak ada baterainya sementara satu lagi tak ada charger-nya. Kamipun mencari-cari. Saya telepon Edli, koordinator Multimedia.
‘Dibawa Rizal (Camera Person).. Buat cadangan’, jawab Edli.
Lalu saya telepon Rizal. ‘Aku lagi liputan banjir di Cawang’.
Kami kebingungan. Saya coba telepon Edli lagi, menanyakan charger handycam satunya. Tapi tak bisa. Pulsa saya habis. Dan mas Wawan meminjamkan HP-nya. Nexian. Saya ingat benar merknya.
‘Handycam yang itu chargernya hilang yo..’, jawab Edli, ‘Minta Rizal antar ke kantor aja’.
‘Ok..’.
Dan ketika saya mencoba akan menghubungi Rizal, Wawan melarang, ‘Ga usah aja mas.. Nanti malah aku ketinggalan pesawat’.
Sesuatu melintas di matanya. Entahlah. Kekesalan mungkin? Saya tak yakin benar. Ya. Saya memang melihat matanya. Untuk pertama kali. Dan (juga) terakhir kali.

***

Sore

Di layar TV saya dan kawan-kawan menikmati Merapi yang mulai menggelegak. Warga di kaki gunung panik. Sirene ambulans. Evakuasi. Terdengar Pak Teguh mengabarkan, Wawan tadi ikut menjemput Mbah Maridjan. Sempat telepon rekan yang di bawah, namun tiba-tiba terdengar teriakan, ‘Api!! Api!! Panass!!’, dan kemudian telepon putus. Seorang rekan menghubungi kantor untuk mengabarkan. Seketika, pikiran yang belakangan saya istirahatkan mulai berantakan. Vipassana.

***

Malam

Saya buka FB via HP. Seorang kawan share link sebuah berita, ‘Jemput Mbah Maridjan, Editor VIVAnewsTerjebak’. Dia belum ketemu, pikir saya. Dan untuk sekedar mengalihkan perhatian, saya nyalakan laptop. Saya nikmati film Across the Universe yang sudah lama saya simpan di dalamnya. Sesaat lagu-lagu Beatles menampar-nampar hati saya. Mengalihkan pikiran dari Merapi. Sambil menikmati film itu saya tetap aktifkan FB di HP. Bukan karena kecanduan, tapi lebih karena saya tahu, jejaring sosial adalah media komunikasi tercepat saat ini. Di media ini, citizen journalism benar-benar menemukan tempatnya. Up date berita dari kawan-kawan mengenai kemacetan Jakarta, tsunami Mentawai, juga letusan Merapi jauh lebih cepat dari media resmi tercepat sekalipun. Hingga sebuah comment seorang kawan singgah di wall saya, ‘ternyata jadi korban yo...semoga amal ibadahnya diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan...nonton metro tv...kasian...…’. Dan seketika saya ingat mata yang tadi. Yang tak bisa saya jabarkan hingga kini.

***

Semingguan yang Lalu

‘Mau bengi aku browsing soal Merapi’, kata keponakan saya.
‘Lha ngopo?’, Tanya saya.
‘Aku wedi nde…’, jawabnya, ‘Merapi Waspada’.
Dan sayapun tertawa.
Saya dan dia (bersama dua kawan lainnya) memang akan berangkat ke Vihara Mendut untuk meditasi selama tiga hari. Mendut sendiri terletak di Mungkid, Magelang. Sebuah daerah di lereng Gunung Merapi.
‘Kematian itu di tangan Tuhan’, seorang kawan ikut menertawakan, ‘Tak perlu ke Merapi jika memang sudah waktunya binasa’, lanjutnya.

***

Suatu Waktu. Dulu.

‘Setelah ini kamu jangan bunuh diri’, suara di seberang melarang.
‘Kenapa?’, Tanya saya.
‘Aku tak mau jadi orang terakhir yang berkomunikasi denganmu sebelum kamu mati’, jawabnya.
Ketika itu saya tertawa. Dan baru sekarang saya mengerti benar alasan dia mengatakannya.Baru sekarang saya memahaminya.


***


Casablanca, 27 Oktober 2010
* Foto: Antara/ Wahyu Putro

Narasi Panjang Soal Ganyang-Ganyangan

‘Ganyang malaysia!!’, seseorang teriak di telinga.
‘Tai kuda. Ga da kerjaan apa?’.
‘Nasionalisme bro…’, kata dia. Weks? Nasionalisme? Lagi?
‘Kita harus mempertahankan harga diri bangsa kita. Bla bla bla… Indonesia itu bangsa yang besar.. Bla bla bla.. Sementara apa itu Malaysia.. Bla bla bla…’
‘Hallah… Entut berut..’, sebatang rokok saya selipkan di mulut.

Sebagian Indonesia belakangan panas. Biasa.., soal Malaysia. Ada bakar-bakaran bendera. Ada aksi lempar kotoran manusia.
‘Nasionalisme! Nasionalisme!’, mantra itu bergema di mana-mana. Di jalanan Jakarta, di warung kopi, di angkringan, di fesbuk, di twitter, di mana-mana pokoknya. Tiba-tiba banyak orang semangat perang, ‘Ganyang!!’, teriaknya garang, ‘Kami siap angkat parang!’. Ckckckck.. Kasihan Tuhan.. Sudah repot-repot ngasih akal buat masing-masing manusia, kok malah diterlantarkan.

‘Malaysia kenapa?’, saya tanya.
‘Mereka sudah memasuki wilayah NKRI tanpa izin! Sudah gitu mereka malah menangkap petugas kita! Apa ga bajingan itu namanya?!’, kawan saya semangat sekali.
‘Lha ada buktinya ga kalo itu masuk wilayah kita? Ada saksi yang netral?’, saya tanya lagi.
Diam sebentar, ‘Pokoknya itu wilayah kita!’.

Naaa… ini masalahnya. Ga ada saksi dan ga ada bukti. Masing-masing pihak saling klaim kalo itu masuk wilayah mereka. Petugas Indonesia mengaku nelayan Malaysia masuk wilayah kita. Sementara petugas Malaysia bilang sebaliknya. Masing-masing dari mereka menjadi saksi, tersangka, sekaligus jaksa. Apa ya mungkin sebuah proses pengadilan kok pihak yang menuntut itu juga dituntut, sekaligus menjadi orang yang menguatkan/ meringankan tuntutan?

Presumption of Innocence. Azas praduga tak bersalah. Harusnya kita sebagai manusia yang ngerti hukum harus menjunjung itu. Jangan langsung main hakim sendiri, ketuk palu kalo Malaysia itu pihak yang asu. Kan ya tolol kalo kita membela petugas kita semata karena mereka warga Indonesia. Sementara pihak yang berseberangan justru mengatakan petugas kita yang salah, petugas kita sering melakukan pungli ke nelayan-nelayan Malaysia, dsb dsb. Apa ada yang berani menjamin 100% pernyataan itu salah? Lihat saja di sekeliling kita, polisi, satpol PP, atau siapapun mereka yang diseragami negara dengan gampangnya memeras saudaranya sendiri sesama orang Indonesia, apalagi orang negara lain? Pernyataan mereka logis ta?

‘Mereka sudah mencuri budaya kita!’, ada lagi suara.‘Oh ya? Kalo Malaysia itu maling budaya, maka Indonesia itu mbahnya maling..’, kata saya.‘Lho?! Kok bisa?!’‘Lha sampeyan pikir Ramayana & Mahabharata itu produk mana? Sementara selama ini kita maen klaim kalo wayang itu budaya leluhur produksi Jawa? Budaya itu sesuatu yang berjalan.. Berproses.. Bukan barang mati hasil jadi…’

Seseorang berak di pinggir jalan, ‘Kau gila?’
‘Ini tai untuk mereka!’, Wallahh.. Kadang cinta memang seperti obat tetes mata yang sudah kadaluarsa. Bisa bikin buta.
‘Mereka itu habis manis sepah dibuang! Dulu mereka import guru-guru dari Indonesia! Sekarang berani kurang ajar! Pengkhianat!’
We?? Ga pernah belajar PSPB apa? Kalo tindakan seperti itu dituduh pengkhianat, lha terus negara kita ini disebut apa? Soekarno dulu juga belajar di sekolahan-sekolahan produk Belanda, Europeesche Lagere School, Hoogere Burger School, juga Technische Hoge School. Hatta juga, bahkan kuliah di Nederland Handelshogeschool. Sjahrir? Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Tan Malaka? Sama saja. Dan apa balasan Bapak-Bapak Negara itu untuk Belanda? Memimpin pemberontakan! Membebaskan jerat penjajahan! Itu fakta.

‘Kemerdekaan Indonesia itu hasil perjuangan! Kita mengusir Belanda! Sementara mereka?! Ini bambu runcingku! Mana senapanmu?!’, seseorang menyala-nyala.Ckckck… Mungkin dia terlalu sering menonton film perang produksi dalam negeri. Di mana dunia tak lebih dari dua kubu yang saling berseberangan. Hitam dan putih. Abu-abu? Ah, mana disebut di situ. R.E. Elson dalam ‘The Idea of Indonesia’ - A History (Cambridge University Press – 2008) menulis, ‘Dalam sekejap mata kolonialisme Belanda dan sesungguhnya seluruh basis moral kekuasaan Belanda berakhir dengan kemenangan total Jepang dan mempesonakan dalam bulan Maret 1942’. Artinya apa? Artinya Belanda meninggalkan negeri ini karena kalah dengan Jepang. Tanpa mengesampingkan kegigihan perjuangan prajurit-prajurit kita, fakta itulah yang nyata. Belanda bukan kalah dengan bambu runcing kita. Belanda kalah oleh Jepang yang datang mengaku sebagai saudara tua.

‘Tapi kita menang bertempur lawan Jepang!’, Weks? Salah lagi. Buku sejarah bilang, bom atom sekutu yang membuat Kaisar Hirohito menunduk kalah. Menyerah. Kita cuma mengambil moment ketika pemerintahan sedang kosong kala itu. ‘Tapi pasukan kita itu gagah berani!’, itu lain soal. Kemarahan yang sudah mendarah daging setelah ditindas selama sekian abad tentu mampu menjelma menjadi kemarahan yang luar biasa. Saya juga percaya. Tapi soal ‘menang kalah’ itu yang sepertinya harus kita kritisi lagi. Percayalah, sejarah negeri ini tidak seheroik yang kita baca di komik-komik. Tapi bangsa ini bisa saja jadi besar kalo kita mau berpikir dan berusaha.

‘Ganyang malaysia!!!’, nyaring. Seseorang berdandan a la Soekarno. Oalaahhh… Bahkan ayat-ayat Al Qur’an saja harus dipahami sesuai konteks turunnya, apalagi ucapan Soekarno? Bayangkan kalo tidak, betapa tiap hari kita dihalalkan untuk menenggak darah mereka yang dianggap kafir. Berapa banyak ayat-ayat perang yang kita temui di Qur’an? Berserakan. Semua menyuruh kita mengangkat pedang atas nama keyakinan.

‘Nasionalisme!’, kata itu lagi. ‘Nasionalisme adalah proyeksi kejiwaan dari semangat rendah diri dalam sikap kolonial antara penjajah dan kaum terjajah’, begitu kata Sjahrazad a.k.a Soetan Sjahrir dalam Indonesische Overpeinzingen (1945). Kita itu sebenernya kalah sama Malaysia. Kita yang lebih dulu merdeka, tapi justru rakyat kita yang jadi babu di sana.

‘Kita tarik TKI dan TKW kita!’
Wong edan!! Emangnya dia siap ngasih makan anak dan keluarga para pekerja itu? Warga kita rela jadi babu di sana, itu adalah potret kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Kalo ada pilihan, tentu mereka juga memilih untuk bekerja di negeri sendiri. Tapi mau gimana lagi? Di negeri sendiri manusia berserakan. Sarjana tak kurang-kurang jumlahnya. Pilihannya? Ya ke Malaysia. Kalo mereka ditarik pulang, trus gimana perut mereka dan juga keluarganya? Ngomong kok ngawur.

‘Indonesia itu berangkat dari sesuatu yang besar! Dari Sabang sampai Merauke! Suatu saat pasti akan menjadi kiblat peradaban dunia!’, Hallah. Utopis. Apa ga ada hal lain yang bisa dibanggakan selain luas wilayah? Kok kaya Prancis pas era kolonialisme, yang seringkali mengagung-agungkan diri melalui pemetaan daerah teritorial yang membentang dari Dunkirk di Pantai Utara Prancis sampai Tamanraset, di Sahara Selatan, Aljazair. Ukuran kok dijadikan jaminan. Kaya Mak Erot.. :))

‘Jika nasionalisme dan patriotisme rakyat sedang menggebu, biarkan saja’, kata Machiavelli. Dulu. Kenapa dia bilang begitu? Karena dengan itulah rakyat bisa diikat. Ada musuh bersama yang layak untuk dilawan. Saya masih ingat adegan dalam Armageddon, di mana umat berbagai agama di belahan dunia masing-masing berdoa menurut caranya. Di masjid, di gereja, di Sinagog.. ahh.. adegan itu begitu syahdu. Tak ada perpecahan di antara mereka. Tak ada peperangan. Kenapa? Karena ada musuh bersama. Apa? Asteroid yang sedang menuju bumi. Sementara di kasus kita, tokoh antagonis yang (konon) layak dimusuhi adalah Malaysia. Tapi apakah nasionalisme selalu bisa dihalalkan karena urusan praktis itu?

‘Ganyang! Ganyang! Ganyang!’, sekelompok manusia melakukan sweeping. Apa mereka ga punya kerjaan ya? Saya bertanya-tanya. Dan baru sadar, kalo Indonesia itu gudangnya pengangguran. Dan sayapun mulai berpikir, bahwa mungkin sebenarnya mereka itu adalah manusia-manusia yang putus asa. Hidup di negeri busuk, di mana korupsi menggerogoti semua lini, di mana Menkominfo cuma sibuk ngurusi situs porno, Menag secara ngawur mengecap label sesat kepada kelompok-kelompok minoritas, pembela tuhan berkeliling bawa pentungan sok pahlawan, DPR sibuk memperjuangkan gedung baru dengan fasilitas spa dan kolam renang, dll dll. Mereka muak dengan itu semua. Tapi tak cukup punya nyali untuk bunuh diri. Kenapa? Karena mereka bukan siapa-siapa yang jika mati dengan cara biasa tetap bukan apa-apa. Sementara jika Indonesia perang melawan Malaysia dan mereka ikut serta, ada kemungkinan mereka akan dikenang sebagai pahlawan. Selain itu, jika pemerintah mencanangkan wajib militer berarti akan ada yang menanggung kebutuhan perut mereka. Siapa? Negara.

‘Merdekaaa!!’, masih saja ada suara-suara. Kemacetan tak terelakkan. Klakson-klakson berbunyi. Media tayangkan mereka. Kompor semua. He3.. Pada ga sadar kalo dipanas-panasi. Latihan perang rutin TNI dikait-kaitkan dengan persiapan invasi, artikel panjang tentang perbandingan kekuatan perang masing-masing negara, berita tentang TKI yang siap dihukum mati, dsb. He he he.. mbok ya ditanggapi wajar saja, kalo memang jualan narkoba trus divonis mati di sana ya apa anehnya? Orang kita juga sering memvonis mati warga asing yang berani jualan narkoba di sini kok. Waspada juga, jangan-jangan ini cuma permainan politik. Kemarahan rakyat atas kegagalan negara digunakan oleh mereka yang berkepentingan untuk menggoyang kekuasaan? Siapa? Ah, sebaiknya tak usah sebut nama.

Jadi gimana dong? Ya sudah. Buat apa kita teriak-teriak perang? Warga di Israel dan Palestina sana, juga di Pakistan dan India, tiap hari berdoa biar perang cepat usai. Sementara kita malah bersiap menjemputnya. Dipikir perang itu cuma kaya tawuran antar SMP apa? Kalo semisal jadi perang, gimana nasib TKI kita di sana? Dipulangkan? Trus gimana ekonomi keluarganya? Kalo malah dijadikan tawanan perang? Kita tahu, negara penghasilannya dari pajak dan devisa. Kalo kita perang, mana ada negara yang mau berinvestasi ke sini? Mana ada juga turis yang mau wisata ke negeri ini? Sudahlah, daripada merelakan diri dipanas-panasi, mending masing-masing menjalani perannya dengan baik. Yang guru ya mendidik murid yang baik, yang polisi ya mengayomi masyarakat dengan baik, yang arsitek ya membangun gedung yang tidak merusak lingkungan, yang produser TV ya menciptakan tayangan yang mencerdaskan masyarakat, dsb dsb. Saya pikir itu jauh lebih nasionalis. Kalo semua menjalankan perannya secara baik, saya yakin ga bakal ada yang namanya warga kita yang mbabu di negeri tetangga.



***



Casablanca, 2 September 2010
*Tulisan lama tentang nasionalisme juga ada di sini

Ramadhan, Rabiah, dan Ketulusan

Jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, jauhkanlah surga itu dariku

Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, masukkanlah aku ke dalamnya

(Rabiah Al Adawiyah)


Suatu hari di keramaian Baghdad. Rabiah Al Adawiyah menenteng seember air dan sebuah obor.
'Mau kemanakah wahai kau, Rabiah?', seorang kenalan menyapa.
'Aku akan membakar surga. Juga memadamkan neraka', jawab Rabiah dalam senyumnya.

Begitulah. Rabiah muak dengan segala oportunisme yang merajalela. Umat menyembah Tuhan cuma karena berlandaskan janji dan ketakutan. Janji sepetak lahan di surga dan takut akan api neraka. 'Dimana ketulusan?'

Ramadhan telah datang. Mendadak aura menjadi begitu religi. Masjid-masjid penuh sesak. Takbir bersahut. 'Berlomba-lomba menjaring pahala', demikian katanya. Weleh? Cuma segitunya? Sekedar pahala? Lha apa dipikir Tuhan itu pedagang, kok diajak maen untung rugi? Kusembah diri-Mu, berikan surga-Mu.

Ini bulan seribu bulan, banyak yang bilang. Di bulan inilah pintu-pintu neraka untuk sementara ditutup, sementara pintu surga sebaliknya. Gusti Pangeran cuci gudang. Stock pahala yang tahun kemarin tak laku, kini dilempar ke pasaran dengan harga murah. 'Tak perlu dengan ibadah berat, cukup tidur saja; kalo kamu puasa; kamu dapet pahala', seorang da'i nggantheng propaganda di layar kaca.

Hakekat Ramadhan adalah pengendalian diri. Bagaimana kita melatih menahan hawa nafsu. Juga bagaimana kita memahami penderitaan mereka yang sehari-hari belum tentu bisa makan. Tapi apa bener puasa kita memang berdasarkan itu?Jika ternyata pengeluaran kita untuk belanja di bulan puasa justru lebih tinggidari hari biasa? Jika kita menahan lapar dahaga di siang hari untuk kemudian dilanjut dengan Starbucks, J-Co, Pizza Hut, KFC, atau apapun-lah namanya dimalam hari?

'Berikan aku surgamu ya Tuhan.. jauhkanlah aku dari panas neraka-Mu...', doa-doa berseliweran setiap malam. Begitu merindu surga. Begitu takut neraka. Sementara ribuan tahun lalu Rabiah berteriak lantang, 'Tai kuda itu surga neraka!!'. Segala penderitaan dan pengorbanan yang Rabiah jalani tak melulu demi secuil surga dan menghindar dari api neraka. Rabiah cinta Ilahi. Dimana hakekat cinta adalah memberi. Seperti halnya seorang ibu, yang hanya memberi tak harap kembali. Begitulah Rabiah. Surga neraka bukan prioritasnya. Memberi adalah tujuan akhirnya.

'Kematian bukanlah urusan kita', kata Epicurus, 'Karena selama kita hidup, kematian tidak ada di sini. Dan ketika kematian datang, kita tidak lagi hidup'. Begitu juga Rabiah. Dia tak mau pusing-pusing memikirkan tentang rumah masa depannya di surga. Karena dia percaya, itu urusan Tuhan. Sementara urusan-nya adalah hidup sebagai manusia yang baik dan menyembah Sang Gusti. Itu saja.

'Sapa mau petak lahan surgaku?', sayapun menawarkan. Kawan-kawan berebutan.
'Ambil semua untuk kalian. Tar biar aku yang bilang sama Tuhan'.
'Trus lu tinggal dimane, yo?'
'Gampang.... Tar biar aku backpacker-an aja... Nomaden... Katanya surga itu tempatnya asik... Banyak tebing-tebing indah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai... Kalo laper? Tinggal nyari buah-buahan..Kalau haus? Tinggal ke sungai.. Tinggal pilih, sungai madu, sungai susu, atau sungai bir.. He3..'

Di luar gerimis menyatu dengan kemacetan. Sementara di headphone Chrisye dan Dhani melantun pelan, 'Jika surga dan neraka tak pernah ada.. Masihkan kau bersujud kepada-Nya... Jika surga dan neraka tak pernah ada... Masihkah kau menyebut nama-Nya...'



***


Casablanca, 15 Agustus 2010

Sutradara atau Arsitek?

‘Allah sebenernya sudah nunjukin jalan yg terbaik buat aku.. Tapi jalan itu terputus sejak kamu pergi..’ (Kalimat Anissa kepada Khudori; Perempuan Berkalung Surban)



‘Salah milih bojo, cerai, terus mereka bilang INI SUDAH DIGARISKAN TUHAN. Salah jurusan kuliah, bilang INI TAKDIR TUHAN. Kehilangan HP terus mengamini, INI JALAN TERBAIK YANG DIBERIKAN TUHAN. Lebih konyol lagi langsung deh, ketika tertimpa penderitaan panjang berucap SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA! Wakakakakak, glogok tenan!’, seorang kawan memaki-maki. Dan saya tertawa ngga brenti-brenti. Mengamini. ‘Lha iya to, manusia itu suka sekali dikasihani. Tapi kok ga sedikitpun mencoba empati sama Tuhan. Ga nyadar apa kalo Tuhan itu urusannya banyak. Malah terus-terusan dijadikan kambing hitam. Apa-apa takdir.. Apa-apa keputusan Gusti..’, saya-pun terpancing. Ikut mencak-mencak. Terus ngakak-ngakak.

’Takdir itu apa sih, Pak?’, seorang anak bertanya pada bapaknya. Dan sang bapak menjelaskan panjang lebar tentang qada dan qadhar. Secuil bab dari buku agama ketika dia duduk di sekolah dasar. ’Qada itu rumusan Tuhan yang bersifat pasti. Contohnya, semua makhluk itu pasti akan mati. Sementara qadhar itu rumusan yang lebih rinci. Misalnya, si makhluk A akan mati kapan dan di mana’. Dan si anak mengangguk-angguk.

Kapan dan dimanapun, perbincangan tentang takdir itu sesuatu yang sangat-sangat menarik. Gimana enggak, sejak jaman renaisans, aufklarung sampai era blackberry seperti saat ini, takdir masih saja sering diperdebatkan. Benarkah? Adakah? Dan sejauh ini tak ada satupun di antara mereka yang saling berdebat itu sanggup membuktikan argumen-argumennya. Perdebatan yang percuma? Belum tentu juga. Toh jika percuma sekalipun tak pernah ada salahnya bukan? Bukankah itu gunanya logika?

Baiklah. Daripada kepala kita senut-senut ngurusi sisminbakum atau kasus rekening bengkak jenderal-jenderal polisi itu, mari kita sedikit membincang tentang takdir (Toh sama-sama tak penting :)) Dan karena sejak kecil saya lebih dekat dengan dunia Islam, ya mohon dimaklumi kalo dasar-dasar obrolan saya juga dari sudut pandang Islam. Begini, konon konsep takdir sendiri sebenarnya belum ada ketika jaman Rasulullah. 'Pemikiran sesat' yg mengatakan bahwa segala sesuatu yg terjadi pada manusia sudah ditentukan Tuhan itu, baru ada pada jaman Khalifah II (Umar bin Khatab). Jadi ceritanya begini. Dulu ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib wafat, dia digantikan putranya, Hasan bin Ali. Pengangkatan Hasan ini tidak disetujui sebagian umat ketika itu. Akhirnya umat islam pecah. Karena itulah Hasan memilih mengundurkan diri. Selanjutnya Hasan digantikan adiknya Husein bin Ali. Nah... Husein ini kemudian dibunuh Bani Ummayyah. Kemudian berkuasalah Muawiyah bin Abu Sufyan (Khalifah Umayyah I). Demi kepentingan politik, Muawiyah memberikan wacana kepada Umat Islam, bahwa terbunuhnya Husein itu SUDAH TAKDIR TUHAN. Husein tidak dibolehkan memerintah oleh Tuhan. Buktinya? Husein tewas. Itu artinya Husein tidak direstui Tuhan sebagai pemimpin umat Islam. Dengan kata lain, Bani Ummayah-lah yang diridhoi Tuhan.

Sejak itulah wacana takdir semakin berkembang. Segala sesuatu yang menimpa manusia selalu dikait-kaitkan dengan takdir. Cerai dengan pasangan? Takdir. Gagal lulus kuliah? Takdir. Kehilangan harta? Takdir. ’Sesungguhnya Tuhan telah mengadakan ukuran bagi tiap-tiap sesuatu (Q.S. 65:3)’. Ayat itulah yang seringkali dijadikan pembelaan beberapa dari mereka yang pasrah dengan kekalahan. Tapi benarkah (selalu) begitu?

Tuhan punya ukuran, mungkin memang iya. Matahari itu terbit dari timur, air laut itu asin, makhluk hidup itu pasti mati, bumi ber-revolusi sekali dalam setahun, mungkin itu memang sudah ’ukuran’ Tuhan. Semesta tak punya alasan untuk tidak mengikuti aturan itu. Sementara rezeki manusia, jodoh, lulus kuliah, dsb dsb? Tentu saja manusia punya kebebasan untuk mendapatkan itu semua. Semesta jelas beda dengan manusia. Semesta tak punya pilihan, sementara manusia punya kebebasan.

Michael Newman (Adam Sandler) sempat menggugat Morty si malaikat (Christopher Walken) dalam Click, ’Kenapa kau buat hidupku jadi begini?’. Michael marah karena remote universal pemberian Morty (dianggap) merusak hidupnya. Donna (Kate Beckinsale), istri Michael memilih menikah dengan lelaki lain. Michael-pun tak sempat mendatangi pemakaman ayahnya karena terlalu sibuk bekerja. Dan Morty-pun cuma tersenyum, ’Bukan aku yang merusak hidupmu. Kau sendiri yang melakukannya’. Begitulah. Remote yang bisa mengontrol segala sesuatu itu digunakan Michael secara sembarangan. Michael memilih sendiri apa yang ingin terjadi padanya dan menghindari apa yang tidak ingin dihadapinya. Semua pilihan itu ditentukan sendiri oleh Michael. Jika ternyata pilihan-pilihan itu membuat hidup Michael berantakan, kenapa dia harus menyalahkan Tuhan; yang dalam hal ini diwakili kaki tangan-Nya (/malaikat)?

Begitulah. Kita ini masing-masing sudah diberi remote universal yang bisa dipakai untuk menentukan jalan hidup kita sendiri. Hati, logika, tubuh, dan segala sesuatu yang kita punya, itu remote kita. Lalu kenapa tiap kali bertemu kegagalan beberapa di antara kita selalu berdiri di punggung Tuhan? Ini sudah jalanNya-lah, ini takdirNya-lah, ini keputusanNya-lah.. Jika kita manusia saja sudah sangat-sangat sibuk dengan urusan kita sendiri, apa kita tak pernah membayangkan, betapa sibuknya Tuhan jika harus mengurus segala sesuatu itu sendirian?

Tuhan itu sutradara. Bukan arsitek. Saya percaya itu. Saya bayangkan, Tuhan itu seperti sutradara teater yang membuka casting terbuka. Memberi kebebasan pilihan kepada calon aktor, mereka tertarik dengan peran apa. Lalu dalam casting itu Tuhan memberi penilaian, si A memang pantas dengan peran tentara. Karena si A ini posturnya tinggi besar dan berwajah brutal. Sementara si B, tak pantas dengan peran guru. Dia lebih cocok jadi penyair, karena wajahnya yang sendu dan suaranya yang merdu. Juga si C. Dia lebih layak jadi jurnalis saja. Karena perawakan dan gesture-nya lebih pantas untuk peran itu. Begitu juga ketika proses latihan. Tuhan akan membiarkan aktor-aktornya untuk eksplorasi akting mereka seliar mungkin. Baru jika dirasa tak cocok digunakan dalam pertunjukan, Tuhan akan memberi masukan, ’Sebaiknya begini... Jangan begitu... dsb’

Secara pribadi saya menolak konsep bahwa Tuhan itu arsitek yang menuliskan segala sesuatu rancangannya di atas kertas. Yang merasa sok tahu tentang bahan apa yang terbaik untuk sebuah rumah, bentuk jendela dan pintu untuk rumah itu, termasuk juga letak taman dan kolam ikan. Bukankah penghuni rumah juga punya hak untuk menentukan bentuk jendela yang mungkin akan membuatnya jauh lebih nyaman? Bukankah manusia juga punya hak untuk memilih dengan siapa dia akan menjalani sisa hidup dan beranak pinak? Lalu apakah ketika kita menjatuhkan sebuah pilihan, apakah hal itu melulu keputusan Tuhan? Tentu saja tidak. Itu pilihan kita. Yang (mungkin) direstui Tuhan. Tapi mungkin juga tidak.

Sampai di sini saya ingat Chris Gardner (Will Smith). Dalam salah satu adegan The Pursuit of Happynes, Chris bercerita kepada anaknya, Christopher (Jaden Christopher Syre Smith). Diceritakan ada seseorang yang mengapung-apung sendirian di tengah lautan. Tiba-tiba ada sebuah kapal yang menawarkan pertolongan. Namun orang itu menolaknya, dia bilang, ‘Tuhan akan menolongku’. Datanglah kapal kedua yang juga menawarkan bantuan, ‘Tuhan akan menolongku’. Jawaban yang sama. Akhirnya orang itu tenggelam, mati, dan masuk di surga. Di surga, orang itu menggugat Tuhan, ’Wahai Tuhan, kenapa Kau tidak menolongku?’. Dan Tuhan-pun menjawab, ’Siapa bilang Aku tak menolongmu? Aku sudah kirimkan dua kapal untukmu’.


***


Utan Kayu – Casablanca, 12 Juni 2010

Ketika Sajadah Terganti Blackberry

; Eksibisionisme Religiusitas Sebagai Upaya Memperjuangkan Eksistensi


Menarik. Sesuatu yang menarik ketika kita memperhatikan fenomena yang terjadi belakangan. Semakin hari semakin banyak saja do'a-do'a yang berseliweran di situs jejaring sosial (dalam hal ini Facebook). Kalimat semacam ‘Ya Allah.. Hanya kepada-Mu aku menuju.. Terima kasih untuk semua yang Kau beri untukku…’ atau ‘Bapa aku butuh bahu-Mu untuk menopang bebanku… Beri aku kekuatan untuk menghadapi hari ini..’ menjadi semacam menu wajib yang kita temui setiap hari. Inilah titik di mana kepercayaan ketemu materi. Tuhan ketemu teknologi. Seperti sepasang rel yang awalnya berjalan beriringan, tiba-tiba di satu waktu mengerucut… dan ... bertemu. Menyatu.

'Kenapa ya kira-kira?', seorang kawan bertanya. Menurut saya kemungkinannya hanya tiga. Pertama, mereka yang berdoa dengan cara itu mempunyai harapan agar orang lain tahu apa yang mereka inginkan. Kedua, mereka berharap orang lain tahu bahwa mereka adalah umat yang shaleh. Ketiga, mereka pikir Tuhan adalah pengangguran yang punya banyak waktu luang untuk membuka-buka acount FB, lalu membaca status yang ditulis manusia, untuk kemudian mengabulkannya. Atau kalau tidak, minimal jempol Tuhan teracung untuk status mereka, God Like It !!!'. Seorang kawan terbahak. Sementara yang lain memerah, 'Ngeliatnya positif aja bro...'. Lha?? Positif?? Kurang positif apa coba??

Baiklah. Mari kita telaah. Yang namanya situs jejaring sosial kan tidak sama dengan diary (oldschool nii... :)). Kalo diary itu kan yang baca kita sendiri, makanya banyak dijual diary yang berkunci (saya kurang tahu apakah di jaman serba transparan ini buku harian semacam itu masih tersedia di toko buku atau tidak). Tapi kalau situs jejaring sosial? Siapa saja bisa membacanya. Yang ada di sana adalah ketelanjangan. Lalu motivasi apalagi selain 'agar orang lain tahu sesuatu yang kita pikirkan / rasakan' ketika kita menuliskan sesuatu di sana? Termasuk juga do'a-do'a tadi? (Ah, jadi teringat si Narcissus yang dikutuk untuk mencintai bayangannya sendiri)

'Aku juga muak dengan status-status alay kayak gitu... Caper...', seorang kawan lantang berkata. Dan giliran saya yang terbahak. Menyadari bahwa dia benar. Situs pertemanan ini sudah menjelma menjadi situs per-caper-an. Semua orang (termasuk saya tentu saja :) berebut untuk menjadi pusat perhatian. Ingin diperhatikan. Tapi tak cukup berani untuk telanjang (Tak seperti Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari). Di titik inilah saya tiba-tiba ingat Sartre. ‘L'existence précède l'essence’, katanya. ‘Eksistensi mendahului esensi’. Ajaran Descartes untuk berpikir-pun tak penting lagi. Yang ada cuma Updato Statuso Ergo Sum. Saya update status maka saya ada.

Saya masih ingat benar pengalaman masa kecil dulu dengan almarhumah nenek saya. Suatu malam, secara tak sengaja saya masuk ke kamar beliau yang gelap. Jengkerik mengerik di luar kamar. Di samping nyala lentera yang berkedip-kedip (saya tinggal di pelosok desa yang ketika itu belum terjamah listrik), saya temukan beliau mengenakan mukena putih pudar terduduk di atas sajadah kumal. Mata terpejam (samar terlihat sesuatu yang berkilat di sana, serupa tetes hujan), sementara jemari memetik butir tasbih. Bibir tuanya yang berkeriput komat kamit mengucap sesuatu. Subhanallah subhanallah subhanallah…. mungkin kira-kira begitu. Di atas sajadah kuning kumal, nenek saya menikmati sunyi. Berdoa. Tiada siapa-siapa. Hanya dia. Dan Tuhan (tentu saja).

Sementara beberapa waktu yang lalu, saya duduk di sebuah gerai Mc Donalds bersama seorang kawan. Autisme yang diakibatkan oleh teknologi telah menjangkiti kami. Meski berdua di tempat yang sama, tiada kata-kata. Hanya suara cetak cetik keypad yang mengisi udara. ‘Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menghadapi semua ini. Hanya Kau yang mampu mengerti aku…’, status terbaru kawan saya muncul di wall. Dan saya tersenyum. Teringat cara almarhumah nenek saya berdo'a. Sunyi, sepi, dan sendiri. Tak ada satupun di dunia ini yang tahu apa yang ketika itu nenek saya harapkan. Selain Tuhan. Sementara do'a kawan saya? Dilakukan di riuh gerai Mc D, dengan backsound musik sember entah band apa namanya, dan yang pasti: isi do’anya diketahui semua orang yang ada di friendlist-nya!!

'Orang berdo'a kok dilarang?', ada suara sumbang. Puji Tuhan! Saya menepuk jidat. Terkutuklah saya jika melakukan itu. Sumpah mati, saya sama sekali tidak melarang. Saya belum cukup gila untuk melakukan itu. Orang mau bunuh diri saja tidak akan saya larang (dengan catatan: dia melakukannya dengan penuh kesadaran), apalagi orang berdo'a. 'Berdo'a kan bisa di mana saja', suara yang lain lagi. 'Yup, anda benar'. Bisa di mana saja. Bisa dengan cara apa saja. Benar sekali. Dan saya juga sama sekali tidak menyalahkan cara berdo'a yang baru semacam itu. Kenapa? Pertama, saya menyadari tidak punya cukup kapabilitas untuk menjustifikasi sesuatu itu salah atau benar. Kedua, benar salah adalah sesuatu yang sangat-sangat relatif dan subyektif. Seperti yang dibilang Imam Syafi’i, ‘Pendapatku benar, tapi mungkin mengandung kesalahan. Sementara pendapat orang lain salah, tetapi mungkin mengandung kebenaran.'

'Jadi gimana nih? Disebut melarang ga mau.. disebut menyalahkan, juga gitu.. Maunya gimana?'. Ya ga gimana-gimana. Lha wong saya itu cuma iseng-iseng berpikir. 'Berpikirlah terus sampai kau mual anak muda...', kawan saya tertawa melihat saya nyaris muntah. 'He he he.. Saya itu cuma berusaha untuk tetap sadar di tengah arus yang berkelebat di sekeliling kita. Itu saja. Meski seringkali gagal juga, tapi apa salahnya berjuang untuk tidak menjadi satu di antara individu-individu pingsan yang hanyut dalam arus yang menggempur dunia sekitar kita? Terseret arus tanpa mengerti akan dibawa kemana?', Kawan saya diam. Angin sore membawa aroma kuburan. 'Terberkatilah mereka yang hanyut... Semoga Tuhan bersama mereka'.



***



Utan Kayu, 9 Juni 2010

Soliloqui Kedai Kopi

25 April 2010. Dekati pergantian hari. Planet Esprezzo Manahan Solo. Tiga manusia. Lelaki semua. Saya dan kawan-kawan lama. The Spirit Carries On isi udara. Sementara rel berderak, ketika kereta memperpendek jarak. Lampu kota buat segala tampak sephia.

Kukira kau tak lagi berani menginjak ini kota.. Juga Jogja..’, seorang kawan secara kurang ajar berkata. ‘Anjing..’, serapah saya melengking, ‘Kukira juga begitu..’. Lalu selanjutnya, pagar yang selama ini saya pelihara tiba-tiba tak dianggap ada. Secara (lumayan) liar dan brutal, sesuatu yang membuat saya nyaris mati menjadi bahan lawakan. Dan anehnya, saya tertawa juga mendengarnya. Meski getir. Anyir.

Kedatanganku untuk menghadapi ketakutan itu’, saya membuka kartu. Memang begitu. Ketakutan memiliki eksistensi adalah untuk dihadapi, bukan diikuti. Terlebih ditinggal lari. ‘Jangan ditolak.. Sadari…’, seorang kawan seringkali berkata. Ya. Saya sadar. Sesadar misi saya untuk menghadapi ketakutan ini.

Cuma masalah waktu’, kalimat semacam itu sering saya dengar. Dulu. Mungkin memang begitu. Sesuatu yang di suatu waktu dirasa terlalu asu, di kemudian hari tiba-tiba menjadi basi untuk ditangisi. Bukan karena yang sakit telah terobati, tapi justru karena mata air air mata telah mati. Berhenti ber-reproduksi. ‘Air mata itu perlu, tapi tak pernah terbukti bisa menyelesaikan sesuatu’, sepenggal pesan singkat menyengat. Sepertinya dari akhirat.

‘…If I die tomorrow... I’d be allright because I believe.. That after we’re gone.. The spirit carries on…’



***


Mojogedang, 28 April 2010

Celoteh Remeh Temeh

Hidup mengalir, kata seorang kawan. Dan kening saya berkerut. Berpikir.

Sumpah mati, saya lebih suka menjadi ikan. Ketimbang ranting kering yang berserakan. Mengambang ketika banjir datang, untuk lalu diantarkan ke selokan. 'Kenapa? Apa salahnya menjadi ranting?', pesan singkat di HP saya. Tak ada. Toh hidup tak selamanya melulu urusan benar salah. Tapi bukankah kelewat menyedihkan, ketika kita tak memiliki pilihan? Melaju mengikut arus, tanpa tahu kemana menuju? Akan indah mungkin jika kita terantarkan oleh kebetulan ke lautan. Yang biru. Yang sayu. Yang sendu. Tapi bagaimana jika waktu menentang kita? Untuk kemudian secara lancang mengantarkan diri kita ke lembab rawa-rawa?

'Memang kalo ikan gimana?', sepenggal tanya. Ikan beda. Tak sama. Ikan ber-otak. Meski tak sesempurna milik kita. Tapi setidaknya ikan punya hak, kemana dia ingin bertolak. Ada kalanya ketika lelah, ikan hanya diam. Tak mengaktifkan otot-otot siripnya. Ngikut saja kemana arus membawa. Namun ikan juga bisa berontak. Ketika arus mengantar kepada sesuatu yang dia tolak. Bisa ngikut arus, tapi juga bisa menentangnya. Tergantung situasi, kondisi, keinginan, dan kebutuhan.

'Tapi hidup itu misteri kawan...', kali ini saya setuju. Memang iya. Hidup itu misteri. Tapi bukan teka-teki. 'Apa bedanya?'. Jelas tak sama. Keindahan dan kekuatan misteri bukan pada jawaban. Tapi perjalanan. Sementara teka-teki menjanjikan jawaban yang pasti ada, misteri berada di ruang hampa udara. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada kepastian. Hanya ada kemungkinan-kemungkinan. 'Tapi banyak misteri yang bisa terungkap?' Itu teka-teki. Bukan misteri. 'Pernah dengar ada orang mengungkap jatidiri Tuhan? Belum kan? Bukankah yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan jawaban? Kenapa?' Karena Tuhan itu misteri. Bukan teka-teki. Jutaan perdebatan mungkin akan selalu terjadi. Islam – Kristen. Budha – Hindu. Atheis – Kong Hu Cu. Ini - Itu. Tapi semua (perdebatan) itu sesungguhnya cuma Tai Kuda yang Maha Sempurna. Takkan mungkin ada yang bisa membuktikan argumentasinya.

Itulah indahnya misteri. Indahnya ketidakpastian. Memungkinkan kita untuk mereka-reka jawaban. Yang tak akan pernah datang. Sementara teka-teki? Cuma masalah waktu kita bisa menyelesaikannya. Di titik inilah kita jadi tahu, kenapa para lelaki terlihat lebih bergairah ketika sedang mengejar-ngejar wanita pujaannya, ketimbang setelah memilikinya. Karena ketika wanita itu menjadi miliknya, tak ada lagi misteri yang tersisa. Kecuali segelintir wanita yang memang terlahir dengan kata 'Luar Biasa' sebagai nama tengahnya. Wanita bertato aksara 'Misteri Abadi' di tengkuknya :D



***



Utan Kayu, 23 April 2010
* Ditulis dengan penuh kesadaran tanpa campur tangan alkohol dan zat psikotropika apapun. Hanya ada My Melancholy Blues yang sayup menyusup.

Like a Rollercoaster

11 September 2001. Dua armada United Airlines menggempur menara WTC. 3000 nyawa melayang tiada. Selanjutnya, hanya tersisa airmata dan bunga duka. The Great Disruption, istilah Francis Fukuyama - kekacauan, chaos, longsor akbar yang mengubah segala sesuatunya.

Titik balik adalah kutukan abadi. Menyerang semua pribadi. Tak hanya berlaku bagi Amerika (dengan 11/9-nya). Seperti halnya rollercoaster, yang kadang di atas kadang di bawah. Begitulah hidup. ‘Roda itu berputar.. Kalau berdering itu namanya HP..’, seorang kakek tua berkhotbah di sunyi mushola. Begitulah. Atas - Bawah. Hitam - Putih. Hidup – Mati. Dualisme yang tak henti-henti. Yin Yang. Keseimbangan. Yang kadang dijembatani The Great Disruption tadi. Bencana besar yang sanggup mengubah sesuatu yang awalnya berwarna menjadi sesuatu yang cuma sephia. Yang mulanya tawa-tawa tiba-tiba menjadi hampa. Yang membuat hari ini dan kemarin tak lagi sama.

Yang kuatlah yang akhirnya bertahan’, kata Darwin. Karena itu kita musti selalu siap dengan evolusi. Bahkan sekali-kali; revolusi.Bagaimana biar tak kalah? Biar tak mati dengan berdarah-darah?’. Mimikri, iritabilita, oportunisme, berdoa, banyak jawabannya. Tinggal cari mana yang kita bisa.

Menjadi mati itu gampang..’, kata seorang komandan perang. Beretta 92FS terselip di pinggang. Begitulah. Tinggal beli racun tikus, tenggak, tak sampai 3 detik nyawa pasti bergolak. Atau kalau mau sedikit lebih irit, cari mall terdekat. Naik ke lantai tertinggi, bungee jumping tanpa tali. Dijamin; pasti mati. Tapi selesaikah? Tidak!! Kenapa? ’Masalahnya bukan bagaimana cara untuk mati.. tapi bagaimana cara untuk hidup...’, sepenggal kalimat dari rahim akal sehat.


***



Utan Kayu, 18 April 2010
('Life is a rollercoaster just gotta ride it...', speaker tua bersuara lagu entah siapa. Ronan Keating kayaknya..)

Mimpi Ludiro

; Kembali Menjadi Bayi. Masuk ke Rahim Lagi



Ludiro meliuk-liuk di depan ibunya. Sementara suara Slamet Gundono menyayat. Ludiro ingin sekali kembali menjadi bayi. Masuk ke rahim lagi.

Itu adalah sepenggal adegan dalam Opera Jawa. Film Garin Nugroho yang saya tonton beberapa waktu lalu. Hari terakhir Bulan Film Nasional 2010 yang diadakan Kineforum. 'Maaf Nang.., aku tak jadi nonton. Negara membutuhkanku', SMS seorang kawan ketika saya di jalan. Ya ya ya.. saya maklum. Abdi negara seperti dia memang harus selalu siap sedia. Apalagi departemennya belakangan memang banyak disorot media. Terkait Bu Menteri yang disebut-sebut terlibat kasus Century. Dan karena itulah, malam itu akhirnya saya resmi menjadi Bolang di TIM. Bocah Ilang :) Lontang lantung menikmati Opera Jawa sendirian.

Opera Jawa memang film lama. Produksi 2006. Sebenarnya sejak dulu saya ingin menontonnya. Tapi baru sekarang kesampaian. Film ini diadaptasi dari mitologi Ramayana. Dimainkan oleh Artika Sari Devi (Siti), Martinus Miroto (Setyo),Eko Supriyanto (Ludiro), dan Retno Maruti (Ibu Ludiro). Setting ceritanya di daerah Jogja. Sepanjang film, dialog antar tokoh disuarakan melalui tembang jawa. Seakan mengingatkan saya, agar secepatnya menyempatkan diri pulang ke rumah. Menghadapi segala kemungkinan dan pertanyaan-pertanyaan yang menunggu :)

Setyo dan Siti adalah sepasang suami istri. Representasi dari Rama dan Sinta. Sementara Ludiro adalah Rahwana yang datang untuk merusak stabilitas rumah tangga keduanya. Film ini film surealis. Tipikal seorang Garin. Mengingatkan saya dengan karya-karya Akira Kurosawa dan sutradara sejenisnya. Metafora bertebaran dimana-mana. Sangat detail. Termasuk pemilihan nama tokoh. Setyo yang artinya setia. Siti yang artinya tanah. Dan Ludiro yang artinya darah.

Setyo yang memang setia ini adalah seorang pengusaha gerabah. Siti adalah ibu rumah tangga yang seringkali ditinggal di rumah. Sementara Ludiro adalah seorang tukang jagal. Semuanya benar-benar berada di tempat yang seharusnya. Tak ada kontradiksi. Banyak tembang, dan pastinya; tari-tarian.

Adegan Ludiro yang ingin masuk ke rahim lagi itu terjadi ketika Ludiro merasa sakit hati ketika ditolak Siti. Sedemikian besar rasa sakit itu, hingga dia menginginkan sesuatu yang diyakininya bisa membuatnya tenteram. Menjadi bayi yang belum jadi. Berenang-renang di dalam rahim lagi. Lembab. Senyap. Lenyap.

Sepanjang film tak ada adegan yang tak menarik. Tapi adegan itulah yang memaksa saya untuk tersenyum. Saya seperti disindir. Sejak beberapa waktu yang lalu saya memang merindu rahim ibu. Ketika malam datang saya sering membayangkan, tubuh saya terjungkir melayang-layang. Dengan otak dan hati yang belum sempurna, saya yakin saya tak perlu banyak berpikir. Juga merasa.

'Kalian ingin menjadi apaaaa?', Bu Nanik, guru kelas 1 ketika saya SD dulu, bertanya tentang cita-cita. 'Polisi buuu...', seorang kawan saya mengacungkan jari. 'Dokter..', kata yang lain. Insinyur! Guru! Presiden! ABRI! Masing-masing menyuarakan pendapatnya. Dan saya hanya diam saja. Bukan apa-apa, saya ketika itu memang tidak tahu ingin menjadi apa. Seperti halnya saya yang (ketika itu) tidak tahu apa agama saya. ( He3.. Ketika itu saya ikut sebagian kecil kawan yang masuk ke ruang sebelah ketika pelajaran agama pertama. 'Lho, bukannya kamu Islam?', Bu Nanik kebingungan. Dan (sekali lagi) saya hanya diam. Ngikut dan manut saja ketika dituntun ke ruangan semula. Ya, Bu Nanik memang kenal dekat dengan keluarga saya. Kebetulan almarhum ayah saya juga seorang guru. Jadi beliau tahu persih, apa agama saya yang seharusnya :)

Ya, begitulah. Ketika kecil dulu saya tak tahu harus menjadi apa. Baru belakangan ini saja saya tahu jawabannya. Seperti halnya Ludiro, saya ingin menjadi bayi. Masuk ke rahim lagi. (Ah sayang..., saya tak tahu nomer HP Bu Nanik. Saya ingin menjawab pertanyaannya ketika itu)



***


Utan Kayu, 10 April 2010

That's Life....

; Tentang SMS Vivi, Memberi, dan Sakit Hati



'Sakit hatikah kau, ketika apa yang kau buat dengan sepenuh hati untuk kemudian kau berikan kepada seseorang ternyata hanya ditertawakan, dianggap angin lalu, bahkan tanpa pembicaraan?', Vivi, keponakan saya yang duduk di kelas satu SMA kirim sebuah pesan. Beberapa hari yang lalu.
'Pasti sakit', jawab saya. 'Tapi apakah itu penting? Bukankah yang terpenting adalah keikhlasan kita?'

Daripada tangan di bawah, lebih mulia tangan di atas. Apalagi jika ikhlas. Almarhum Bapak saya dulu mengajari saya. 'Jangan menanyakan tentang balasan... Yang penting kita memberi... Itu saja...
Dan bicara tentang memberi, saya selalu ingat dengan satu kata. Cinta. (He3... Melankolis to? :)

'Cinta itu memberi...'
, saya pernah baca deklamasi.
'Bull Shit!!', seorang kawan angkat bicara. 'Cinta itu take and give. Omong kosong kalau kau bilang cinta cuma masalah memberi..'
'Terserah kau mau bilang apa. Bagiku memang begitu..'
'Ah kau itu.. Mungkin kau terlalu sering membaca puisi cinta jaman purba.. Hingga terbuai dengan kisah kasih romantis cinta platonis...'
, saya diserang habis-habisan.
'Yaaa... whatever you say lah...', saya pun menghisap rokok saya.
'Coba jelaskan argumentasimu...'
'Hmmmm... Jadi begini... Menurutku cinta itu memang cuma masalah memberi... Mencintai sesuatu, berarti hak kita adalah memberi kepada sesuatu itu... Kita tak punya hak untuk meminta sesuatu darinya.. .'

'Omong kosong... Lalu bagaimana kita bisa sekedar memberi tanpa meminta sesuatu? Andaikan saja ini cinta sepasang kekasih, bukankah hubungan mereka hanya akan berlanjut ketika ada simbiosis mutualisme? Saling memberi dan menerima?
', kawan saya gegap gempita.
'Iya. Itu benar. Hubungan mereka hanya akan berlanjut ketika mereka saling mencintai. Yang dalam pengertianku adalah, saling memberi. Di mana hal itu berarti juga, saling menerima... Jadi kesimpulannya begini, ketika kita mencintai sesuatu, pikirkan saja bagaimana cara kita memberi. Jangan berpikir tentang apa yang diberikan ke kita. Letakkan balasan yang mungkin kita terima di nomor kesekian dalam daftar skala prioritas...', kawan saya diam, 'Kita tak bisa memaksa orang lain mencintai kita.. Kita hanya bisa mencintai.. Sekaligus membuat diri kita menjadi orang yang layak dicintai...', saya melanjutkan.
Kawan saya bisu. Pembicaraan kamipun berhenti sampai di situ.

'Tapi bukankah menyakitkan mas... Ketika benda yang kita buat dari hati, dengan mengorbankan apa yang kita miliki, ternyata hanya dicampakkan begitu saja?', Vivi membalas SMS saya.
'Ya. Memang menyakitkan. Lalu kenapa? Sakit itu biasa nduk.. Sakit itu sesuatu yang sangat sangat biasa..', saya ketik kalimat saya, dan.... send. Saya bayangkan kalimat itu melayang-layang serupa kunang-kunang, lalu melesat secepat kilat menuju Semarang. Tempat di mana keponakan saya mungkin sedang berbaring di ranjangnya sambil berlinang airmata.

Begitulah. Berani memberi, berarti harus juga berani tersakiti. (Menurut saya) itu hukum alam. Semua orang pernah sakit. Pernah tersakiti. Pernah menyakiti. Lalu apa yang spesial? Tidak ada. Semua itu biasa-biasa saja. Seperti apa yang dikata Sinatra, 'That's life.... That's what all the people saaaayyy...'




Rata Penuh***


Utan Kayu, 4 April 2010
*Ditulis bersama R.E.M (Everybody Hurts) dan Frank Sinatra (That's Life) sembari menunggu SMS balasan dari Vivi.
 

different paths

college campus lawn

wires in front of sky

aerial perspective

clouds

clouds over the highway

The Poultney Inn

apartment for rent