Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Nasionalisme Apa?

‘Ganyang Malaysia!!’, kalimat yang dipopulerkan Soekarno beberapa dasawarsa lampau ini belakangan memenuhi ruang publik kita. Mulai dari kolom-kolom status di situs jejaring sosial macam facebook, blog-blog pribadi, berbagai ruang lain di dunia ‘maya’, hingga aksi ‘nyata’ seperti yang dilakukan beberapa kawan penyair, sastrawan, dan juga jurnalis di Semarang.

Kalimat provokatif tersebut lahir sebagai sikap perlawanan terhadap aksi Malaysia yang diduga melakukan klaim terhadap budaya 'milik' Indonesia (Catatan: tulisan ini hanya menyoroti tentang konflik Malaysia dilihat dari sudut pandang KLAIM BUDAYA. bukan KLAIM TERITORI). Seperti diketahui beberapa waktu lalu pemerintah Malaysia memproduksi sekaligus menyiarkan sebuah iklan promosi budaya Malaysia, di mana di dalamnya memuat adegan tari Pendhet dan juga animasi wayang kulit yang notabene dipercaya sebagai budaya ‘milik’ Indonesia.

Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu ‘buddhayah’, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (akal). Berbagai macam definisi ‘budaya’ muncul dari berbagai tokoh, diantaranya Melville J. Herskovits, Bronislaw Malinowski, Andreas Eppink, Edward Burnett Tylor, Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. (Sementara untuk definisi dari tokoh-tokoh lain, silahkan anda browsing di internet. Bukan apa-apa, hanya saja tulisan ini memang bukan makalah diskusi) . Namun meski didefinisikan dengan bahasa berbeda-beda pada intinya muaranya sama, bahwa budaya adalah satu kosakata yang identik dengan kata ‘kompleks’ dan ‘abstrak’.

Ketika membincang tentang 'budaya / kebudayaan', sulit bagi kita untuk menghindari pertemuan dengan 2 arus besar pemahaman tentang budaya yang saling bertentangan. Di mana kubu (yang lebih konservatif) menganggap bahwa budaya adalah sebuah hasil jadi yang tak mungkin diubah lagi, sementara kubu lain lebih memandang budaya sebagai sebuah proses yang tidak akan pernah selesai. Dalam artian budaya bukanlah ‘karya jadi’ melainkan proses ‘menjadi’ itu sendiri.

Saya secara pribadi khawatir gerakan massal penghujatan Malaysia sehubungan dengan ‘klaim budaya’ kali ini tak lebih dari sebuah tindakan konyol nir-alasan (saya katakan klaim budaya, bukan klaim teritori). Bukan karena sekedar menyadari fakta bahwa negeri kita sendiri penuh dengan maling (lihat saja lagu-lagu jiplakan musisi negeri ini; mulai musisi campursari hingga musisi wangi nan funky) yang jelas-jelas melakukan tindakan ilegal pelecehan hak cipta sebuah karya. Belum lagi sederet MP3 yang hampir tiap hari kita nikmati. Pun juga film-film yang di Hollywood baru rilis beberapa hari. Sekali lagi, bukan sekedar karena itu. Namun lebih karena saya secara pribadi mengakui, bahwa saya adalah termasuk salah satu orang yang menganggap bahwa budaya itu jauh untuk bisa disebut sebagai hasil jadi. Budaya adalah sesuatu yang terus berproses. Manusia tumbuh dan berevolusi. Dan saya kebetulan percaya, dari proses itulah terlahir apa yang disebut sebagai ‘kebudayaan’.

Saya yakin semua orang tahu bahwa 'barongsai/liong' berasal dari Cina. Kira-kira adakah sebuah kesalahan ketika ada imigran asal Cina yang lalu mengenalkan dan mengembangkan hasil budaya ini tempat tinggalnya yang baru? Dan ketika barongsai itu berkembang di negara tersebut, bukankah sebenarnya hal itu justru sebuah kebanggaan bagi negara asal? Begitu juga halnya ketika ada sebuah lagu yang di satu negara dianggap sebagai langgam keroncong biasa, namun justru dijadikan lagu kebangsaan di negara lain. Bukankah itu justru meninggikan derajat kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya?

Jujur saja saya belum pernah mendengar pihak Cina marah-marah ketika kita menampilkan barongsai dalam sebuah karnaval budaya. Saya menduga mereka justru merasa bangga karena hasil cipta budaya mereka berhasil mendunia. Mungkin ada di antara kita yang lalu berteriak, ‘Tapi kita kan tak pernah melakukan klaim terhadap barongsai!!’. Ya, anda benar. Kita tak pernah melakukannya. Seperti halnya Malaysia yang tak pernah meng-klaim bahwa Pendhet, wayang kulit, reog ponorogo, dan kawan-kawannya sebagai ‘milik’ mereka. Mereka ‘hanya’ mengembangkannya’ dan ‘mencantumkannya’ dalam iklan budaya negara mereka. Itu saja. Sekali lagi, budaya adalah sesuatu yang maha abstrak. Bahkan wayang kulit yang selama ini diklaim sebagai budaya Jawa-pun jika dirunut juga berakar dari India. Di mana kitab babon kisah-kisah yang termuat di dalamnya ditulis di sana. Tidakkah kita akan tertawa dan menganggap lucu ketika tiba-tiba masyarakat India berteriak-teriak kepada dunia, bahwa Indonesia tak berhak mengklaim wayang kulit sebagai ‘milik pribadi’, karena Ramayana dan Mahabharata adalah ‘milik’ India?

Di titik inilah saya secara pribadi menyadari bahwa kualitas masing-masing bangsa memang sama sekali berbeda. Jika seperti ini yang terjadi, saya terpaksa menyangsikan gagasan dan impian beberapa orang yang meyakini bahwa suatu waktu nanti Indonesia akan sanggup menjadi bangsa yang besar. Masing-masing di antara kita pasti pernah mendengar tentang penetrasi kebudayaan . Yaitu masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan biasa terjadi dengan dua cara, yaitu 'penetrasi damai' dan 'penetrasi kekerasan'. Salah satu contoh penetrasi damai adalah masuknya budaya Hindu dan Islam ke Indonesia. Penetrasi tanpa kekerasan ini berpotensi melahirkan akulturasi, asimilasi, atau sintesis. Namun apapun jenis penetrasi itu, pada hakekatnya dasarnya sama. Yaitu keinginan dari pihak yang melakukan penetrasi untuk membudayakan budaya mereka ke negeri target. Namun yang terjadi dalam kasus Indonesia dan Malaysia kali ini justru sesuatu yang sama sekali berkebalikan. Tanpa disadari, ternyata kita sama sekali tak berbakat sebagai ‘negara besar’. Kita masih terlalu ‘timur’ dan ‘alim’ untuk bisa menjadi ‘penjajah’. Nyatanya kita sama sekali tak punya keinginan untuk menduniakan ‘kebudayaan’ kita, dan sebagian besar dari kita justru marah-marah ketika sebagian ‘hasil budaya’ kita ditumbuhkembangkan di negara lain.

Mungkin ada di antara kita yang tetap bersikukuh bahwa tindakan Malaysia adalah benar-benar sebuah prosesi pencurian. Baiklah, anggap saja seperti itu. Namun bersediakah kita melakukan sedikit introspeksi, apa yang selama ini sudah kita lakukan untuk ‘hasil budaya’ (yang diyakini) milik kita ini? Berapa kali dalam hidup anda, anda menikmati pentas wayang kulit semalam suntuk? Seberapa sering anda masuk taman hiburan rakyat dan membeli tiketnya yang hanya seharga 7.500 rupiah untuk menikmati pentas wayang orang atau kethoprak? Berapa helai kain batik tulis yang anda beli atas kemauan dan uang anda sendiri, yang anda kenakan bukan hanya sekedar karena kewajiban sebagai seragam kerja kantor? Jika ternyata kita tak cukup sanggup menjawabnya dengan membusungkan dada, lalu kenapa kita harus dibingungkan ketika ada negara lain yang ‘mencomot’ untuk lalu ‘mengembangkan’ sesuatu yang selama ini tak kita hiraukan itu?

‘Ini salah pemerintah!! Mereka tak serius menghargai kebudayaan kita!!’ , salah seorang berteriak lantang. Kenapa harus pemerintah yang selalu salah? Dan pertanyaan yang sama akan muncul lagi dari mulut saya, ‘Berapa kali dalam hidup anda, anda menikmati pentas wayang kulit semalam suntuk? Dst dst…??’ . Bukankah beberapa di antara kita justru merasa lebih hebat dengan mengenakan kostum lucu a la harajuku? Toh Jepang bersikap asik-asik aja dengan itu. Justru itu adalah sebuah kebanggaan bagi mereka.

‘Anda tidak nasionalis..’ , mungkin ada yang berniat menulis kalimat itu dalam kolom komentar. Tapi bukankah terlalu picik memandang nasionalisme hanya seremeh itu? Meneriakkan slogan ‘Ganyang Malaysia!!’ lalu tiba-tiba berubah menjadi nasionalis. Jangan-jangan ada juga yang menilai bahwa orang yang mengenakan kaos Tan Malaka berarti lebih nasionalis dari mereka yang mengenakan kaos Che Guevara.

‘Nasionalis itu adalah ketika kita menikmati Bir Bintang dan Djarum Super…’ , begitu kata seorang kawan. Saya tak begitu tertarik untuk membenarkan maupun menyalahkan. Saya hanya curiga bahwa Syahrir benar. Dalam Indonesische Overpeinzingen (1945) Syahrir mengatakan, ‘Nasionalisme adalah proyeksi kejiwaan dari semangat rendah diri dalam sikap kolonial antara penjajah dan kaum terjajah’ . Ya, jangan-jangan nasionalisme yang belakangan ini kita gembar-gemborkan sebenarnya tak lebih didasari sifat inferior kita terhadap kemajuan dan keberhasilan Malaysia. Jangan-jangan ini adalah sikap pertahanan diri bawah sadar kita terhadap kekalahan negeri ini, dimana kita yang merdeka lebih dulu ternyata hanya sanggup menyediakan stock tenaga kerja wanita (dan band-band melankolis) ke sana? Atau jangan-jangan memang ada yang mengatur ini semua untuk mengalihkan perhatian kita semua dari masalah-masalah domestik? Semacam pengalihan isu? Bukankah untuk sebuah negara ‘kalah’, nasionalisme adalah topik menarik yang mudah disulut?

Jadi silahkan saja jika anda berniat mengganyang Malaysia. Tapi saran saya, lakukan nanti senja ketika sudah tiba waktu berbuka. Seperti itu…

2 komentar:

  1. alfalink mengatakan...
     

    Asa; cuma maen seh gak papa, tapi kalau sudah menklaim?

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ alfalink:
    waduh.. sepertinya anda kurang meresapi maksud tulisan saya.. :) tapi tak apalah, ini ada referensi tulisan menarik dari Remy Silado tentang kasus ini.. http://elexyoben.wordpress.com/2009/09/07/sesama-penyolong-di-larang-saling-mendahului/
    terima kasih...

Posting Komentar