Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Narasi Panjang Soal Ganyang-Ganyangan

‘Ganyang malaysia!!’, seseorang teriak di telinga.
‘Tai kuda. Ga da kerjaan apa?’.
‘Nasionalisme bro…’, kata dia. Weks? Nasionalisme? Lagi?
‘Kita harus mempertahankan harga diri bangsa kita. Bla bla bla… Indonesia itu bangsa yang besar.. Bla bla bla.. Sementara apa itu Malaysia.. Bla bla bla…’
‘Hallah… Entut berut..’, sebatang rokok saya selipkan di mulut.

Sebagian Indonesia belakangan panas. Biasa.., soal Malaysia. Ada bakar-bakaran bendera. Ada aksi lempar kotoran manusia.
‘Nasionalisme! Nasionalisme!’, mantra itu bergema di mana-mana. Di jalanan Jakarta, di warung kopi, di angkringan, di fesbuk, di twitter, di mana-mana pokoknya. Tiba-tiba banyak orang semangat perang, ‘Ganyang!!’, teriaknya garang, ‘Kami siap angkat parang!’. Ckckckck.. Kasihan Tuhan.. Sudah repot-repot ngasih akal buat masing-masing manusia, kok malah diterlantarkan.

‘Malaysia kenapa?’, saya tanya.
‘Mereka sudah memasuki wilayah NKRI tanpa izin! Sudah gitu mereka malah menangkap petugas kita! Apa ga bajingan itu namanya?!’, kawan saya semangat sekali.
‘Lha ada buktinya ga kalo itu masuk wilayah kita? Ada saksi yang netral?’, saya tanya lagi.
Diam sebentar, ‘Pokoknya itu wilayah kita!’.

Naaa… ini masalahnya. Ga ada saksi dan ga ada bukti. Masing-masing pihak saling klaim kalo itu masuk wilayah mereka. Petugas Indonesia mengaku nelayan Malaysia masuk wilayah kita. Sementara petugas Malaysia bilang sebaliknya. Masing-masing dari mereka menjadi saksi, tersangka, sekaligus jaksa. Apa ya mungkin sebuah proses pengadilan kok pihak yang menuntut itu juga dituntut, sekaligus menjadi orang yang menguatkan/ meringankan tuntutan?

Presumption of Innocence. Azas praduga tak bersalah. Harusnya kita sebagai manusia yang ngerti hukum harus menjunjung itu. Jangan langsung main hakim sendiri, ketuk palu kalo Malaysia itu pihak yang asu. Kan ya tolol kalo kita membela petugas kita semata karena mereka warga Indonesia. Sementara pihak yang berseberangan justru mengatakan petugas kita yang salah, petugas kita sering melakukan pungli ke nelayan-nelayan Malaysia, dsb dsb. Apa ada yang berani menjamin 100% pernyataan itu salah? Lihat saja di sekeliling kita, polisi, satpol PP, atau siapapun mereka yang diseragami negara dengan gampangnya memeras saudaranya sendiri sesama orang Indonesia, apalagi orang negara lain? Pernyataan mereka logis ta?

‘Mereka sudah mencuri budaya kita!’, ada lagi suara.‘Oh ya? Kalo Malaysia itu maling budaya, maka Indonesia itu mbahnya maling..’, kata saya.‘Lho?! Kok bisa?!’‘Lha sampeyan pikir Ramayana & Mahabharata itu produk mana? Sementara selama ini kita maen klaim kalo wayang itu budaya leluhur produksi Jawa? Budaya itu sesuatu yang berjalan.. Berproses.. Bukan barang mati hasil jadi…’

Seseorang berak di pinggir jalan, ‘Kau gila?’
‘Ini tai untuk mereka!’, Wallahh.. Kadang cinta memang seperti obat tetes mata yang sudah kadaluarsa. Bisa bikin buta.
‘Mereka itu habis manis sepah dibuang! Dulu mereka import guru-guru dari Indonesia! Sekarang berani kurang ajar! Pengkhianat!’
We?? Ga pernah belajar PSPB apa? Kalo tindakan seperti itu dituduh pengkhianat, lha terus negara kita ini disebut apa? Soekarno dulu juga belajar di sekolahan-sekolahan produk Belanda, Europeesche Lagere School, Hoogere Burger School, juga Technische Hoge School. Hatta juga, bahkan kuliah di Nederland Handelshogeschool. Sjahrir? Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Tan Malaka? Sama saja. Dan apa balasan Bapak-Bapak Negara itu untuk Belanda? Memimpin pemberontakan! Membebaskan jerat penjajahan! Itu fakta.

‘Kemerdekaan Indonesia itu hasil perjuangan! Kita mengusir Belanda! Sementara mereka?! Ini bambu runcingku! Mana senapanmu?!’, seseorang menyala-nyala.Ckckck… Mungkin dia terlalu sering menonton film perang produksi dalam negeri. Di mana dunia tak lebih dari dua kubu yang saling berseberangan. Hitam dan putih. Abu-abu? Ah, mana disebut di situ. R.E. Elson dalam ‘The Idea of Indonesia’ - A History (Cambridge University Press – 2008) menulis, ‘Dalam sekejap mata kolonialisme Belanda dan sesungguhnya seluruh basis moral kekuasaan Belanda berakhir dengan kemenangan total Jepang dan mempesonakan dalam bulan Maret 1942’. Artinya apa? Artinya Belanda meninggalkan negeri ini karena kalah dengan Jepang. Tanpa mengesampingkan kegigihan perjuangan prajurit-prajurit kita, fakta itulah yang nyata. Belanda bukan kalah dengan bambu runcing kita. Belanda kalah oleh Jepang yang datang mengaku sebagai saudara tua.

‘Tapi kita menang bertempur lawan Jepang!’, Weks? Salah lagi. Buku sejarah bilang, bom atom sekutu yang membuat Kaisar Hirohito menunduk kalah. Menyerah. Kita cuma mengambil moment ketika pemerintahan sedang kosong kala itu. ‘Tapi pasukan kita itu gagah berani!’, itu lain soal. Kemarahan yang sudah mendarah daging setelah ditindas selama sekian abad tentu mampu menjelma menjadi kemarahan yang luar biasa. Saya juga percaya. Tapi soal ‘menang kalah’ itu yang sepertinya harus kita kritisi lagi. Percayalah, sejarah negeri ini tidak seheroik yang kita baca di komik-komik. Tapi bangsa ini bisa saja jadi besar kalo kita mau berpikir dan berusaha.

‘Ganyang malaysia!!!’, nyaring. Seseorang berdandan a la Soekarno. Oalaahhh… Bahkan ayat-ayat Al Qur’an saja harus dipahami sesuai konteks turunnya, apalagi ucapan Soekarno? Bayangkan kalo tidak, betapa tiap hari kita dihalalkan untuk menenggak darah mereka yang dianggap kafir. Berapa banyak ayat-ayat perang yang kita temui di Qur’an? Berserakan. Semua menyuruh kita mengangkat pedang atas nama keyakinan.

‘Nasionalisme!’, kata itu lagi. ‘Nasionalisme adalah proyeksi kejiwaan dari semangat rendah diri dalam sikap kolonial antara penjajah dan kaum terjajah’, begitu kata Sjahrazad a.k.a Soetan Sjahrir dalam Indonesische Overpeinzingen (1945). Kita itu sebenernya kalah sama Malaysia. Kita yang lebih dulu merdeka, tapi justru rakyat kita yang jadi babu di sana.

‘Kita tarik TKI dan TKW kita!’
Wong edan!! Emangnya dia siap ngasih makan anak dan keluarga para pekerja itu? Warga kita rela jadi babu di sana, itu adalah potret kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Kalo ada pilihan, tentu mereka juga memilih untuk bekerja di negeri sendiri. Tapi mau gimana lagi? Di negeri sendiri manusia berserakan. Sarjana tak kurang-kurang jumlahnya. Pilihannya? Ya ke Malaysia. Kalo mereka ditarik pulang, trus gimana perut mereka dan juga keluarganya? Ngomong kok ngawur.

‘Indonesia itu berangkat dari sesuatu yang besar! Dari Sabang sampai Merauke! Suatu saat pasti akan menjadi kiblat peradaban dunia!’, Hallah. Utopis. Apa ga ada hal lain yang bisa dibanggakan selain luas wilayah? Kok kaya Prancis pas era kolonialisme, yang seringkali mengagung-agungkan diri melalui pemetaan daerah teritorial yang membentang dari Dunkirk di Pantai Utara Prancis sampai Tamanraset, di Sahara Selatan, Aljazair. Ukuran kok dijadikan jaminan. Kaya Mak Erot.. :))

‘Jika nasionalisme dan patriotisme rakyat sedang menggebu, biarkan saja’, kata Machiavelli. Dulu. Kenapa dia bilang begitu? Karena dengan itulah rakyat bisa diikat. Ada musuh bersama yang layak untuk dilawan. Saya masih ingat adegan dalam Armageddon, di mana umat berbagai agama di belahan dunia masing-masing berdoa menurut caranya. Di masjid, di gereja, di Sinagog.. ahh.. adegan itu begitu syahdu. Tak ada perpecahan di antara mereka. Tak ada peperangan. Kenapa? Karena ada musuh bersama. Apa? Asteroid yang sedang menuju bumi. Sementara di kasus kita, tokoh antagonis yang (konon) layak dimusuhi adalah Malaysia. Tapi apakah nasionalisme selalu bisa dihalalkan karena urusan praktis itu?

‘Ganyang! Ganyang! Ganyang!’, sekelompok manusia melakukan sweeping. Apa mereka ga punya kerjaan ya? Saya bertanya-tanya. Dan baru sadar, kalo Indonesia itu gudangnya pengangguran. Dan sayapun mulai berpikir, bahwa mungkin sebenarnya mereka itu adalah manusia-manusia yang putus asa. Hidup di negeri busuk, di mana korupsi menggerogoti semua lini, di mana Menkominfo cuma sibuk ngurusi situs porno, Menag secara ngawur mengecap label sesat kepada kelompok-kelompok minoritas, pembela tuhan berkeliling bawa pentungan sok pahlawan, DPR sibuk memperjuangkan gedung baru dengan fasilitas spa dan kolam renang, dll dll. Mereka muak dengan itu semua. Tapi tak cukup punya nyali untuk bunuh diri. Kenapa? Karena mereka bukan siapa-siapa yang jika mati dengan cara biasa tetap bukan apa-apa. Sementara jika Indonesia perang melawan Malaysia dan mereka ikut serta, ada kemungkinan mereka akan dikenang sebagai pahlawan. Selain itu, jika pemerintah mencanangkan wajib militer berarti akan ada yang menanggung kebutuhan perut mereka. Siapa? Negara.

‘Merdekaaa!!’, masih saja ada suara-suara. Kemacetan tak terelakkan. Klakson-klakson berbunyi. Media tayangkan mereka. Kompor semua. He3.. Pada ga sadar kalo dipanas-panasi. Latihan perang rutin TNI dikait-kaitkan dengan persiapan invasi, artikel panjang tentang perbandingan kekuatan perang masing-masing negara, berita tentang TKI yang siap dihukum mati, dsb. He he he.. mbok ya ditanggapi wajar saja, kalo memang jualan narkoba trus divonis mati di sana ya apa anehnya? Orang kita juga sering memvonis mati warga asing yang berani jualan narkoba di sini kok. Waspada juga, jangan-jangan ini cuma permainan politik. Kemarahan rakyat atas kegagalan negara digunakan oleh mereka yang berkepentingan untuk menggoyang kekuasaan? Siapa? Ah, sebaiknya tak usah sebut nama.

Jadi gimana dong? Ya sudah. Buat apa kita teriak-teriak perang? Warga di Israel dan Palestina sana, juga di Pakistan dan India, tiap hari berdoa biar perang cepat usai. Sementara kita malah bersiap menjemputnya. Dipikir perang itu cuma kaya tawuran antar SMP apa? Kalo semisal jadi perang, gimana nasib TKI kita di sana? Dipulangkan? Trus gimana ekonomi keluarganya? Kalo malah dijadikan tawanan perang? Kita tahu, negara penghasilannya dari pajak dan devisa. Kalo kita perang, mana ada negara yang mau berinvestasi ke sini? Mana ada juga turis yang mau wisata ke negeri ini? Sudahlah, daripada merelakan diri dipanas-panasi, mending masing-masing menjalani perannya dengan baik. Yang guru ya mendidik murid yang baik, yang polisi ya mengayomi masyarakat dengan baik, yang arsitek ya membangun gedung yang tidak merusak lingkungan, yang produser TV ya menciptakan tayangan yang mencerdaskan masyarakat, dsb dsb. Saya pikir itu jauh lebih nasionalis. Kalo semua menjalankan perannya secara baik, saya yakin ga bakal ada yang namanya warga kita yang mbabu di negeri tetangga.



***



Casablanca, 2 September 2010
*Tulisan lama tentang nasionalisme juga ada di sini

6 komentar:

  1. kelleykatz mengatakan...
     

    posting anda saya share di facebook saya, gak papa ya pak..
    demi membuk Mata temen-temen di kampung saya yang tiap hari di FB postinganya gak edukatif...

    salam kenal dr saya,
    tapi blog saya isinya makan-makan doang, nggak sekualitas punya pak suluk

  2. Anonim mengatakan...
     

    ganyang malaysia itu....kerana msia enggan merdeka bersama indonesia raya cita2 nafsu bung karno......... blapang dada lah kalian... indonesia

  3. kelleykatz mengatakan...
     

    hampir samda dgn cerita timor-timur to mas..
    dalam PSPB kan dibilang, timor-timur ingin bergabung dgn Indonesia,
    tp sy pikir kok kita yg maksa,
    dengan gempur sana-gempur sini..

    alhasil,
    minta pisah lagi..

    bentar lagi Papua juga mo pisah sy pikir,

    irian jaya = ikut republik indonesia anti netherland

  4. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ kelleykatz:
    silahkan dishare.. :) ya begitulah, kadangkala kita tak bisa membedakan antara 'sejarah' dengan 'tulisan ttg sejarah'..

    @ anonim: saya tidak paham maksud anda..

  5. aie mengatakan...
     

    Benar kata kamu...

    Di Malaysia ini ada ribuan warga Indonesia yang sedang mencari rezeki. Kami sangat mengalu-alukan kedatangan mereka dan mereka hidup aman di sini. Ke mana saya pergi, pasti ada saja warga Indonesia. Dan kami warga Malaysia, tidak pernah ada rasa benci sekali pun terhadap mereka biar di Indonesia sekarang, ada yang ingin melancar perang dengan Malaysia. Ganyang sana, ganyang sini... sedangkan jika ada masalah yang timbul, bukankah ia boleh diselesaikan dengan cara baik, cara yang aman.

    Bagi saya, kita umpama adik-beradik. Indonesia dan Malaysia bersaudara. Kita ini serumpun. Biar ada sengketa sekali pun, 'air yang dicincang pasti tidak akan putus'. Cuma penyelesaian ke atas semua sengketa itu adalah dengan cara yang baik...

    saudaramu,
    bakal guru dari Malaysia.

  6. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ aie:

    terima kasih kunjungannya bung.. salam damai selalu.. :)

Posting Komentar