Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

That's Life....

; Tentang SMS Vivi, Memberi, dan Sakit Hati



'Sakit hatikah kau, ketika apa yang kau buat dengan sepenuh hati untuk kemudian kau berikan kepada seseorang ternyata hanya ditertawakan, dianggap angin lalu, bahkan tanpa pembicaraan?', Vivi, keponakan saya yang duduk di kelas satu SMA kirim sebuah pesan. Beberapa hari yang lalu.
'Pasti sakit', jawab saya. 'Tapi apakah itu penting? Bukankah yang terpenting adalah keikhlasan kita?'

Daripada tangan di bawah, lebih mulia tangan di atas. Apalagi jika ikhlas. Almarhum Bapak saya dulu mengajari saya. 'Jangan menanyakan tentang balasan... Yang penting kita memberi... Itu saja...
Dan bicara tentang memberi, saya selalu ingat dengan satu kata. Cinta. (He3... Melankolis to? :)

'Cinta itu memberi...'
, saya pernah baca deklamasi.
'Bull Shit!!', seorang kawan angkat bicara. 'Cinta itu take and give. Omong kosong kalau kau bilang cinta cuma masalah memberi..'
'Terserah kau mau bilang apa. Bagiku memang begitu..'
'Ah kau itu.. Mungkin kau terlalu sering membaca puisi cinta jaman purba.. Hingga terbuai dengan kisah kasih romantis cinta platonis...'
, saya diserang habis-habisan.
'Yaaa... whatever you say lah...', saya pun menghisap rokok saya.
'Coba jelaskan argumentasimu...'
'Hmmmm... Jadi begini... Menurutku cinta itu memang cuma masalah memberi... Mencintai sesuatu, berarti hak kita adalah memberi kepada sesuatu itu... Kita tak punya hak untuk meminta sesuatu darinya.. .'

'Omong kosong... Lalu bagaimana kita bisa sekedar memberi tanpa meminta sesuatu? Andaikan saja ini cinta sepasang kekasih, bukankah hubungan mereka hanya akan berlanjut ketika ada simbiosis mutualisme? Saling memberi dan menerima?
', kawan saya gegap gempita.
'Iya. Itu benar. Hubungan mereka hanya akan berlanjut ketika mereka saling mencintai. Yang dalam pengertianku adalah, saling memberi. Di mana hal itu berarti juga, saling menerima... Jadi kesimpulannya begini, ketika kita mencintai sesuatu, pikirkan saja bagaimana cara kita memberi. Jangan berpikir tentang apa yang diberikan ke kita. Letakkan balasan yang mungkin kita terima di nomor kesekian dalam daftar skala prioritas...', kawan saya diam, 'Kita tak bisa memaksa orang lain mencintai kita.. Kita hanya bisa mencintai.. Sekaligus membuat diri kita menjadi orang yang layak dicintai...', saya melanjutkan.
Kawan saya bisu. Pembicaraan kamipun berhenti sampai di situ.

'Tapi bukankah menyakitkan mas... Ketika benda yang kita buat dari hati, dengan mengorbankan apa yang kita miliki, ternyata hanya dicampakkan begitu saja?', Vivi membalas SMS saya.
'Ya. Memang menyakitkan. Lalu kenapa? Sakit itu biasa nduk.. Sakit itu sesuatu yang sangat sangat biasa..', saya ketik kalimat saya, dan.... send. Saya bayangkan kalimat itu melayang-layang serupa kunang-kunang, lalu melesat secepat kilat menuju Semarang. Tempat di mana keponakan saya mungkin sedang berbaring di ranjangnya sambil berlinang airmata.

Begitulah. Berani memberi, berarti harus juga berani tersakiti. (Menurut saya) itu hukum alam. Semua orang pernah sakit. Pernah tersakiti. Pernah menyakiti. Lalu apa yang spesial? Tidak ada. Semua itu biasa-biasa saja. Seperti apa yang dikata Sinatra, 'That's life.... That's what all the people saaaayyy...'




Rata Penuh***


Utan Kayu, 4 April 2010
*Ditulis bersama R.E.M (Everybody Hurts) dan Frank Sinatra (That's Life) sembari menunggu SMS balasan dari Vivi.

0 komentar:

Posting Komentar