Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Celoteh Remeh Temeh

Hidup mengalir, kata seorang kawan. Dan kening saya berkerut. Berpikir.

Sumpah mati, saya lebih suka menjadi ikan. Ketimbang ranting kering yang berserakan. Mengambang ketika banjir datang, untuk lalu diantarkan ke selokan. 'Kenapa? Apa salahnya menjadi ranting?', pesan singkat di HP saya. Tak ada. Toh hidup tak selamanya melulu urusan benar salah. Tapi bukankah kelewat menyedihkan, ketika kita tak memiliki pilihan? Melaju mengikut arus, tanpa tahu kemana menuju? Akan indah mungkin jika kita terantarkan oleh kebetulan ke lautan. Yang biru. Yang sayu. Yang sendu. Tapi bagaimana jika waktu menentang kita? Untuk kemudian secara lancang mengantarkan diri kita ke lembab rawa-rawa?

'Memang kalo ikan gimana?', sepenggal tanya. Ikan beda. Tak sama. Ikan ber-otak. Meski tak sesempurna milik kita. Tapi setidaknya ikan punya hak, kemana dia ingin bertolak. Ada kalanya ketika lelah, ikan hanya diam. Tak mengaktifkan otot-otot siripnya. Ngikut saja kemana arus membawa. Namun ikan juga bisa berontak. Ketika arus mengantar kepada sesuatu yang dia tolak. Bisa ngikut arus, tapi juga bisa menentangnya. Tergantung situasi, kondisi, keinginan, dan kebutuhan.

'Tapi hidup itu misteri kawan...', kali ini saya setuju. Memang iya. Hidup itu misteri. Tapi bukan teka-teki. 'Apa bedanya?'. Jelas tak sama. Keindahan dan kekuatan misteri bukan pada jawaban. Tapi perjalanan. Sementara teka-teki menjanjikan jawaban yang pasti ada, misteri berada di ruang hampa udara. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada kepastian. Hanya ada kemungkinan-kemungkinan. 'Tapi banyak misteri yang bisa terungkap?' Itu teka-teki. Bukan misteri. 'Pernah dengar ada orang mengungkap jatidiri Tuhan? Belum kan? Bukankah yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan jawaban? Kenapa?' Karena Tuhan itu misteri. Bukan teka-teki. Jutaan perdebatan mungkin akan selalu terjadi. Islam – Kristen. Budha – Hindu. Atheis – Kong Hu Cu. Ini - Itu. Tapi semua (perdebatan) itu sesungguhnya cuma Tai Kuda yang Maha Sempurna. Takkan mungkin ada yang bisa membuktikan argumentasinya.

Itulah indahnya misteri. Indahnya ketidakpastian. Memungkinkan kita untuk mereka-reka jawaban. Yang tak akan pernah datang. Sementara teka-teki? Cuma masalah waktu kita bisa menyelesaikannya. Di titik inilah kita jadi tahu, kenapa para lelaki terlihat lebih bergairah ketika sedang mengejar-ngejar wanita pujaannya, ketimbang setelah memilikinya. Karena ketika wanita itu menjadi miliknya, tak ada lagi misteri yang tersisa. Kecuali segelintir wanita yang memang terlahir dengan kata 'Luar Biasa' sebagai nama tengahnya. Wanita bertato aksara 'Misteri Abadi' di tengkuknya :D



***



Utan Kayu, 23 April 2010
* Ditulis dengan penuh kesadaran tanpa campur tangan alkohol dan zat psikotropika apapun. Hanya ada My Melancholy Blues yang sayup menyusup.

0 komentar:

Posting Komentar