Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Cerita Jelek dari Negeri Brengsek

Tolani ngglethak. Bagaimana tidak, lengan kekar berbulu itu tadi menempeleng tengkorak, ‘Plakkk!!!’.
‘Kenapa kamu lari?!’, sepatu PDL penuh lumpur menjejak. Punggung Tolani berkeretak, ‘Ampun paakk…’.
Tiba-tiba tangan kekar itu menjambak, ‘Kan sudah dibilang, jangan berjualan di taman ini!! Kamu pikir taman ini punya kakek moyang mu apa??!! Ini milik negara!!’, mulut berkumis itu bergerak-gerak. Bau amis menyeruak.
‘Maaf paakk.. Keluarga saya butuh makannn..’, Tolani bersyukur jantungya masih berdetak.
‘Cangkemmu ituu.. Lha kok malah curhat!!’, lelaki berseragam hijau itu menggertak. Setelah menengok kiri kanan, raksasa itu mendekatkan wajahnya. Berbisik. ‘Sudah… Ga usah lama-lama.. Sini uang keamanan, dan kamu ngga saya tahan… ‘.

Tangan Tolani bergetar merogoh kantong. Limapuluhduariburupiah berpindah tangan.
‘Sekarang pergi sana.. Jangan sampai temen-temenku liat kamu..’, tangan raksasa itu mendorong Tolani, ‘Kecuali kamu masih punya duit…’, mulut busuk merenges.
Tolani perlahan pergi. Gerobaknya tak mungkin terselamatkan lagi. Si bungsu Budi tak jadi ke dokter sore ini. Mencretnya sudah lima hari tak berhenti.



***


‘Jadi anak-anak…’, Bu Guru Ndari memonyongkan mulutnya. Lipstik murahan menjadikannya merah menyala, ‘Sila kelima itu menegaskan bahwa negara ini menjamin keadilan buat tiap-tiap warga negaranya.. Tidak hanya yang kaya, tapi semua… Semuanya… Termasuk yang miskin..’, parfum Bu Ndari menyeruak. Sengak. ‘Bahkan jaminan terhadap fakir miskin ini juga dibahas di salah satu pasal undang-undang dasar kita…’, ruang kelas panas. Bau sampah masuk dari jendela dengan bebas.

‘Hayooo.. siapa yang tau pasal berapa yang mengatur soal fakir miskin iniii.. Trus bunyinya apaaa..’. Kelas hening. Kepala-kepala kecil itu terlihat pening. ‘Kalo ada yang tau, boleh pulang duluan’, Bu Ndari melirik jam. Tak ada salahnya sekali-kali membuat muridnya gembira. Tetap sunyi. ‘Generasi ini memang generasi tai!’, Bu Ndari mengumpat dalam hati.

Tapi tiba-tiba, satu jari teracung. Di ujung. Gadis kecil mengerjap-ngerjap. Baju putih kumal rambut kusut. Mia namanya.
‘Iya Miaaa…’, Bu Ndari memusatkan perhatiannya.
‘Pasal 34 ayat 1 bu…’, Mia tegas berkata. Bu Ndari tersenyum, ‘Ternyata ada juga yang masih bisa diharapkan’.
‘Bunyinya?’, Bu Ndari bertanya.
‘Ehhhmmm… Fakir Miskin dan anak – anak yang terlantar dipelihara oleh negara..’
Senyum Bu Ndari mengembang. Di tengah-tengah kelas 6 yang meranggas ini ternyata masih ada juga rumput yang hijau. Tak semuanya kacau.
‘Baiklah Mia.. kamu boleh pulang duluan…’
‘Huuuuu…’, seisi kelas bersorak iri. Tapi meski asu-asu tak setuju, bukankah kafilah berhak untuk tetap berlalu?

Setelah mengemasi buku-bukunya, Mia berlari keluar ruangan. Di sudut halaman, siswa kelas lima latihan paduan suara untuk upacara bendera.
‘….Indonesiaaaa… tanah airkuuuu... Tanah tumpah darahkuuuu... Di sanalah aku berdiriii... Jadi pandu ibukuuu.….‘.
Sayup suara sumbang semakin tertinggal di belakang. Hati Mia berbunga. Dia memang ingin pulang cepat siang ini. ‘Aku bisa lebih lama membantu bapak jualan rokok dan aqua di taman kota... Si Budi kecil mencret sejak hari Selasa...’, pita merah muda berbentuk kura-kura menari-nari di rambutnya.



***



Solo – Casablanca, 11-12 Desember 2010

0 komentar:

Posting Komentar