Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #6


(+) Gila?!
(--) Kenapa?
(+) Masa aku sama Tuhan ga boleh mimpi lagi?!
(--) Hah?! Masa?!
(+) Iya!
(--) Kapan Dia bilang?
(+) Semalem.
(--) Di mana?
(+) Mimpi.
(--) Wallah.
(+) Sial!
(--) Gimana ceritanya?
(+) Aku mimpi.
(--) Trus?
(+) Di situ aku lagi mimpi.
(--) Maksudnya?
(+) Mimpi di atas mimpi.
(--) Jadi bingung?
(+) Kamu ga cerdas sih.
(--) Iya iya. Aku tolol.
(+) He he.
(--) Trus gimana?
(+) Apanya?
(--) Mimpi di atas mimpimu tadi.
(+) Ya gitu.
(--) Gitu gimana?
(+) Tiba-tiba Tuhan ngomong gitu.
(--) Ngomong gimana?
(+) 'Jangan sekali-kali kamu mimpi lagi'.
(--) Sial.
(+) Makanya.
(--) Mana bisa begitu?
(+) Itu dia. Masa mimpi kok dilarang.
(--) Iya.
(+) Emang siapa Dia?
(--) Tuhan.
(+) Iya, tau.
(--) Kenapa tanya?
(+) Emang Dia punya hak ngelarang-larang?
(--) Konon sih gitu.
(+) Kenapa ga semua orang dilarang?
(--) Maksudnya?
(+) Kenapa cuma aku?
(--) Iya ya?
(+) Kenapa ga ditulis di kitab aja?
(--) Bener.
(+) Dijelasin kek, 'Hai manusia, jangan sekali pun bermimpi', gitu.
(--) Itu lebih fair.
(+) Heran.
(--) Sama.
(+) Jadi Tuhan kok ga jelas.
(--) Kalo jelas ya bukan Tuhan lah.
(+) Terus aku musti gimana?
(--) Gimana, gimana?
(+) Aku bener-bener ga boleh mimpi nih?
(--) Lha kalo Tuhan ngomong gitu?
(+) Sinting!
(--) Hush!
(+) Kenapa?
(--) Tuhan kok disinting-sintingin?
(+) Bodo amat.
(--) Lho?
(+) Toh aku juga bakal masuk neraka.
(--) Kok bisa?
(+) Aku akan terus bermimpi.
(--) Hubungannya apa?
(+) Artinya aku ngelanggar larangannya.
(--) Trus?
(+) Katanya kalo nentang Dia bakal masuk neraka?
(--) Mending kamu coba komplain.
(+) Maksudnya?
(--) Ya komplain.
(+) Caranya?
(--) Temuin Dia, tanya maksud-Nya.
(+) Emang bisa?
(--) Apa salahnya nyoba?
(+) Bener juga ya?
(--) Tuntut kalo perlu.
(+) Pasal apa?
(--) Perbuatan tidak menyenangkan.
(+) Ngaco ah.
(--) Ya udah.
(+) Ya udah gimana?
(--) Kita temui Dia.
(+) Di mana?
(--) Ya mimpi lah.
(+) Berarti sekarang aku musti mimpi?
(--) Ya iya lah.
(+) Artinya aku ngelanggar larangannya kan?
(--) Abis gimana lagi.
(+) Kamu nemenin?
(--) Iya.
(+) Nanti ngebela aku kan?
(--) Pasti.
(+) Kalo Dia marah?
(--) Liat tar lah.
(+) Kalo aku dimasukin neraka?
(--) Aku ikut.
(+) Lho?
(--) Denganmu, neraka tak ubahnya hotel bintang lima.
(+) Gombal ah.
(--) Tanpamu, apa menariknya dunia?
(+) Gombaall.
(--) Hi hi hi. Tapi suka kan?
(+) Iya sih.
(--) Ya udah.
(+) Ya udah gimana?
(--) Ayo kalo gitu.
(+) Kemana?
(--) Tidur.
(+) He?
(--) Katanya mau menggugat Tuhan?
(+) Kok malah tidur?
(--) Ketemunya kan di mimpi?
(+) Oh.
(--) Gimana mo mimpi kalo ga tidur?
(+) Musti bareng ni?
(--) Apanya?
(+) Tidurnya?
(--) Katanya mo ditemenin ketemuan?
(+) Iya.
(--) Ya udah. Ayo.
(+) Kamu sebelah mana?
(--) Sini.
(+) Aku di sini?
(--) Iya.
(+) Jangan tinggalin aku lho.
(--) Ssttt.
(+) Bener lho.
(--) Udah. Merem.
(+) Kamu di sampingku kan?
(--) Selalu.


Casablanca, 14 Mei 2012
1:20 AM
* Judul dikutip dari lirik lagu Tentang Cinta - Melancholic Bitch

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #5


Malam pucat. Dan aku masih mencoba menulis selembar puisi untukmu. Puisi tentang sabtu terburuk dalam hidupku dan senin yang sabar menunggu, puisi tentang perjalanan maha panjang tanpa tujuan, puisi tentang perahu kertas di hujan yang menderas, puisi tentang setitik embun yang menyetubuhi rerumput di pagi hari, puisi tentang pendar lampu-lampu kota di malam yang gila, puisi tentang nada minor di sebait lagu lawas yang sungguh kau sukai, puisi tentang tuhan dan segala macam perang yang dia ciptakan, puisi tentang kelaparan dan usus terburai di seberang lautan, puisi tentang genangan kopi di malam-malam sepi, puisi tentang kupu-kupu bersayap biru di seprai ranjang tidurmu, puisi tentang nada sumbang di pentas jazz jalanan, puisi tentang laskar pembela tuhan dan tai kuda bernama kebenaran, puisi tentang gemericik sungai di sudut halaman rumah masa depan, puisi tentang hening yang menjelaga di dekat pusara, puisi tentang penyair sinting yang mengiris nadi di alun-alun kota, puisi tentang kain kafan dan kebahagiaan, puisi tentang sebuah negeri di atas awan, puisi tentang warna-warna pelangi di langit pagi, puisi tentang binar matamu yang menyesatkan, puisi tentang ransel tua yang teronggok di sudut gudang, puisi tentang langkah-langkah yang menapak di tanah basah, puisi tentang agama dan segala macam omong kosong sejenisnya, puisi tentang keparat-keparat tua yang terlahir bahagia, puisi tentang buku aneh yang kau beli di sudut pasar, puisi tentang arloji dan waktu yang tak pernah bisa terbeli, puisi tentang anjing yang menggonggong di pelupuk hari, puisi tentang kemacetan kota dan banjir bandang yang jahanam, puisi tentang kita dan segala macam tanda tanya sejenisnya, puisi tentang meletusnya balon hijau, puisi yang akan membuat hatimu sangat kacau.


Casablanca, 13 Februari 2012
* Judul dikutip dari lirik lagu Tentang Cinta - Melancholic Bitch

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #4


Lalu di suatu dini hari kau mulai bercerita tentang sepenggal masa lalu di mana kau masih cukup belia dan menganggap dunia ini semacam taman bermain raksasa. Asap rokok mengepul di sesela bibirmu yang bersih dari gincu. 'Aku dulu suka menyanyi', katamu, 'Juga menari', lanjutmu. Dan gerimis pecah. Kau bicara tentang berbagai macam bunga mulai dari melati yang sungguh kau sukai hingga kamboja yang kau benci setengah mati hingga kini. Juga tentang sesemak tanpa nama yang merimbun di sudut halaman rumah masa kecilmu tempat di mana kau biasa berbaring menatap benih-benih bintang saat adzan maghrib menelusup di sesela awan yang mulai menghitam. Nenekmu; katamu; ketika itu akan memanggilmu dengan panggilan lembut memintamu untuk segera mengambil air wudhu dan minum segelas susu. 'Ketika pagi aku sering pergi ke pasar sendiri', tiba-tiba kau mengubah tema pembicaraan. Sementara aku tak berhenti menatap matamu yang telah berhasil memaksaku mengemas tas ransel secara serampangan, menyambar peta buta dan kompas rusak untuk kemudian memulai petualangan meski tak mengenal jalan. 'Pasar itu berada di dekat terminal', kau mulai bercerita tentang tempat itu. Tempat di mana hampir tiap hari ratusan orang berjejalan, penjual ikan membuka lapak di dekat pedagang kaset bekas, poster artis berdampingan dengan cabai merah, bawang putih dan kaos kaki, daging sapi dan terasi, tembakau cincang dan es lilin. 'Aku suka es lilin', katamu, 'Yang merah muda', kau bilang sambil tertawa, 'Rasanya seperti cinta'. Sementara gerimis makin menderas, aku tak ingin ceritamu tuntas...




Casablanca, 13 Februari 2012
* Judul dikutip dari lirik lagu Tentang Cinta - Melancholic Bitch

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #3


'Ceritakan tentang sejarahmu', dan kaupun menelan sebutir kepompong yang dalam waktu singkat akan menjelma denyar yang tak henti bergeletar di dalam perutmu saat insomnia menyergapmu. Kau mulai melemparkan sebutir kerikil ke tengah danau yang sebelumnya tenang sepi gelombang. Kau mulai membongkar tumpukan kaset-kaset usang dan memutar lagu-lagu sumbang yang tiba-tiba saja terdengar jauh lebih merdu di telingamu. Kau mulai menyukai suara hujan dan bau tanah basah yang mengingatkanmu akan suasana petang dan suara adzan di kampung halaman. Kau mulai menyulut sebatang gelisah dan menyesap asapnya pelan-pelan untuk kemudian kau diamkan dalam waktu lama di dasar paru-paru. Kau mulai mencoba menulis puisi tentang gaun pengantin dan sesobek senja yang yang akan kau simpan di dalam dompetmu. Kau mulai merasakan kelaminmu berkedut ketika dengan malu-malu membayangkan kelaminku melesak ke dalamnya di gigil malam yang gulita. Kau mulai suka menjemput pagi seperti semangat anak kelas lima sekolah dasar yang mulai belajar menggambar dengan warna yang benar. Kau mulai menyadari bahwa tiba-tiba langit di atas atap kamarmu terlihat jauh lebih biru dari hari-hari yang lalu. Kau mulai paham bahwa kau sedang berada di ambang masalah sementara di saat yang sama kau merasa sanggup menguasai dunia dengan sekadar tertawa. Kau mulai teringat kembali dengan setumpuk mimpi yang bertahun lalu kau taruh di laci kecil yang kini teronggok di gudang belakang rumah kedua orang tuamu. Kau mulai merasa tiba-tiba menjadi sangat-sangat tua sekaligus kembali menjadi seperti remaja yang hobi bersolek di depan kaca. Kau mulai bertanya-tanya tentang hal-hal kecil seperti kenapa kunang-kunang lebih suka berkeliaran di waktu malam dan kemana mereka pergi waktu siang datang menjelang. Kau mulai berpikir tentang peti mati dan bagaimana caranya untuk hidup seribu tahun lagi. Kau mulai bla bla bla bla bla bla. Kau mulai bla bla bla bla bla bla.


Casablanca, 25-26 Januari 2011
* Judul dikutip dari lirik lagu Tentang Cinta - Melancholic Bitch

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #2


‘Dengarkan’, lalu kau mulai membaca puisimu. Yang kau bilang kau tulis beberapa waktu lalu, suatu dini hari ketika kau merasa terlalu lelah dan sungguh ingin muntah. Bibirmu bergerak-gerak, dan baru kusadari ternyata suaramu agak-agak serak. Ah, kemanakah aku selama ini? Tapi bukankah sebenarnya tak cukup mengherankan? Tidakkah selama ini kita memang lebih sering bertukar pikiran melalui tulisan?

Kau bercerita panjang lebar tentang sebuah pintu di puisimu. Yang terbuka dan ada seseorang yang lupa untuk menutupnya. Kau bilang, ‘Yang selalu lupa menutup pintu itu cuma asu’. Ah, betapa sebenarnya aku ingin tertawa. Asal kau tahu, betapa dirimu tak cukup pantas melemparkan makian semacam itu.

Lalu di paragraf kedua kau mulai membaca cerita tentang senja. 'Kau suka senja bukan?', kau bertanya di sesela tawa. Sementara aku hanya tersenyum sambil menghembuskan asap rokokku. Seandainya kau tahu, aku sudah cukup lama berhenti menyukai dan membenci sesuatu.

Dan setelah terdiam sesaat; tepat ketika rintik mulai menitik; kau pun kembali membaca. Kali ini tentang komidi putar dan jalan sempit yang teramat pengap. Jembatan yang tinggal tiang-tiang. Mayat-mayat berserakan. Tak juga habis-habis... Tak kan juga habis-habis...*




Casablanca, 30 Nov. 2011
* Judul dan kalimat terakhir dikutip dari lirik lagu Tentang Cinta - Melancholic Bitch

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #1


Asal kau tahu, aku sebenarnya sudah lama jatuh cinta denganmu. Tapi mau bagaimana lagi, ketika suatu hari tiba-tiba kau bercerita bahwa kau sendiri juga sedang jatuh cinta? Bukan denganku tentu saja. Dan selang beberapa hari kau datang lagi, ‘Dia juga jatuh cinta denganku!’, teriakmu sambil ketawa-ketiwi. Permen lollypop di tangan kiri. Dan begitulah, kau dan lelakimu itu kemudian saling jatuh menjatuhi cinta. Senyummu mekar tiap hari. Semakin lebar tiap datang mentari. Lalu suatu sore kau menemuiku untuk kemudian bercerita panjang lebar, bahwa lelaki yang kau jatuhi cinta itu dulu juga pernah jatuh cinta dengan orang lain yang juga jatuh cinta dengannya. Tapi karena suatu hal, perempuan yang dulu sempat dijatuhi cinta oleh sosok yang sekarang menjatuhi cinta dirimu sekaligus kau jatuhi cinta itu justru menjatuhi cinta orang lain yang kebetulan juga jatuh cinta dengannya. ‘Dia takut kehilangan lagi’, katamu, ‘Dia takut aku jatuh cinta padamu’, lanjutmu. Ah, jaman boleh saja berganti. Tapi betapa cinta selalu saja berhasil menakut-nakuti. Giliran aku yang ketawa-ketiwi.





Casablanca, 20 Juli 2011
* Judul dikutip dari salah satu bagian lirik lagu Tentang Cinta - Melancholic Bitch

Kisah Tak Penting atau Semacamnya


Senja padam. Lalu kelam.
‘Kenapa malam selalu hitam’, kau membuka percakapan. Dan aku memilih diam. Bukan apa-apa sebenarnya. Tapi tahukah kau bagaimana rasanya ketika seribu kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu? Kau akan sangat malas mengobral bahasa dan kata-kata. Denyar bergeletar seperti ketika bulu kudukmu meremang saat seseorang meniup pelan lubang kupingmu. Seperti itu. Ah, tapi adakah yang pernah sekurang ajar itu padamu? Menyebul sebul untuk kemudian mungkin membisikkan sesuatu? Kalau boleh tahu, kalimat apakah itu?
‘Kenapa?’, kau kembali bertanya.
‘Hmm.. Entahlah. Mungkin jawaban yang sama untuk pertanyaan Kenapa senja seringkali berwarna jingga. Begitu’

Lalu malam kembali seragam. Ada bintang terbang. Juga bulan sabit sipit. Seperti matamu. Mata yang berkantung. He he he.. Kau mencubitku kemarin lalu ketika kukatakan itu. Tapi bagaimana tidak, kebiasaan begadangmu itu benar-benar tak sehat.
‘Bukankah kau juga begitu?’
Iya. Tapi insomniaku bukanlah sesuatu yang disengaja. Aku bukan tipe orang yang percaya kalau kopi mampu membuatku tidur cepat-cepat. Tak seperti dirimu. Bergelas kopi tiap malam hari. Aku lebih suka memilih anggur sebelum tidur.

‘Lalu kenapa senja seringkali berwarna jingga?’
Ah, andaikan kau tahu. Pertanyaan-pertanyaanmu itu sebenarnya kadang tak bermutu. Tapi point-nya bukan itu. Entah kenapa aku selalu suka caramu bertanya. Ah, tapi tidak juga. Aku selalu suka saat kau bicara. Hmmm, tapi bukan juga sebenarnya. Aku hanya suka tiap dirimu ada. Meski kau tak bicara, tak bertanya bahkan tak melakukan apa-apa.

‘Kenapa?’
‘Hmmm… Mungkin takdir kali ya?’, aku benar-benar tak tahu jawabnya.
Tai ah.. Jawabanmu ga mutu’
Lho? Mana ada pertanyaan ga mutu punya jawaban yang mutu, batinku begitu.
‘Kau punya mimpi?’
Walah, bicara soal mimpi. Hari Minggu lalu aku mimpi siang-siang. Menemukan sebuah rumah kos di tengah kota yang busuk ini. Anehnya, jalan menuju kesana harus melewati petak-petak sawah yang menghijau (Ini benar-benar hijau. Kali ini aku bisa benar-benar tahu kalau mimpiku berwarna. Tak seperti yang sebelum-sebelumnya). Sementara di samping kanan rumah itu ada dipan tempat di mana aku bisa leluasa memandang. Barat, aku benar-benar ingat. Karena di kejauhan ada jingga yang semburat. Ya, memang ketika itu settingnya senja (Kenapa sih selalu senja, keponakanku pernah bertanya. Dan aku cuma tertawa-tawa. Kenapa ya? Mungkin karena aku tak pernah jatuh cinta dengan pagi ataupun siang. Sementara malam bagiku terlalu menakutkan)

‘Semua yang ada ini hanyalah dunia di mimpi saya. Percayalah. Saat ini saya sedang tidur di kamar saya. Sekarang hari Minggu siang. Tanggal 3 Februari’, kataku pada beberapa orang dalam mimpiku itu. Dan mereka semua diam. Mungkin aku dianggap gila. Tapi memang begitu adanya. Aku sadar jika aku sedang bermimpi. Meski tanggal yang kusebutkan ternyata tidak tepat (Mungkin karena di situ tak kulihat kalender. Dan aku juga tak membawa hape. Jadi wajar jika konsep waktuku agak keliru).

‘Kau punya?’
‘Hmmmmmm… Apa ya? Aku tidak tahu’
‘Lho?’
‘Aku sudah lupa cara bermimpi’
Lalu kau tertawa. Seperti tokoh-tokoh dalam mimpiku, pasti kau anggap diriku gila. Tak apa. Aku sendiri juga kadang berpikiran begitu.
‘Katanya kau ingin ke Kathmandu?’
‘Ya’
‘Berarti itu mimpimu?’
‘Hmmmm… Mungkin’, ada sekelebat angin.
‘Ahhh.. Berbincang denganmu sama sekali tak menarik. Mendingan dengerin jengkerik’
He he he.. Asal kau tahu. Kau orang kesekian ribu yang mengatakan itu. Tak pernah ada sesuatu yang menarik dari diriku. Tidak seperti dirimu. Hingga melihat sekumpulan babi terbang di awang-awang jauh lebih memungkinkan dibanding menemukan alasan kenapa aku harus tidak meminatimu. Sungguh asu.


***


Casablanca, 9 Februari 2011
03.46

Semacam Dialog dalam Sebuah Pertemuan (3)

* Kisah sebelumnya ada di sini dan di sini



Tok tok tok.
Lalu langkah kaki. Dan pintu terbuka.
Mata-mata bersitatap. Jantung-jantung berderap.
‘Kamu?’
‘Aku’, bibir bergetar. Rambut mawut. Janggut runggut.
Lalu diam yang jancuk. Sunyi yang layak dikutuk.
‘Masuk’, keduanya duduk.
‘Duapuluh tahun?’
‘Lebih satu bulan’
‘Kemana saja?’
‘Sembunyi’
‘Dari?'
‘Polisi. FBI. Negara. Dunia. Semua’
‘Kenapa tak menyerah saja?’
‘Tidak. Aku tak mau ini disita’, lelaki keluarkan amplop. Cahaya jingga memancar dari celahnya.
‘Kupotong sendiri. Dengan tanganku’
Perempuan menerima. Lalu air mata.
Ah, pipi itu masih sama, Sepasang cekung di tengahnya. Meski sedikit keriput kini menghiasinya.
Sinar berdenyar ketika lembar itu sepenuhnya keluar. Debur ombak menyeruak. Ceracau burung-burung laut mengacau.
‘Pasanglah di kamarmu. Seperti yang kau inginkan dulu’
Tangis pecah, ‘Kenapa kau sebodoh itu?’, gerimis menjelma hujan, ‘Tak seharusnya kau penuhi permintaan tololku’
‘Aku bahagia’
‘Gara-gara permintaanku kini manusia di dunia tak bisa lagi menikmati senja yang seharusnya‘
Perempuan menatap jendela. Barat yang terluka. Persegi warna hitam menjadi noda.
‘Lihat. Anak-anak kita kini tak lagi mungkin menikmati langit yang seutuhnya’, perempuan menatap lembaran di tangan, ‘Karena sebagian sudutnya ada di sini’.
‘Keindahan ini cuma layak untukmu’
Mata menyipit, ‘Asu. Kau asu’.
‘Berapa kini anakmu?’
‘Tiga. Satu lelaki. Dua wanita’
‘Yang bernama Senja?’
‘Yang kedua’
Jarum jam menajam. Seperti hukuman rajam.
‘Baiklah. Aku kesini cuma mau memberi ini. Sekarang aku pergi’
‘Kemana?’
‘Entah. Mungkin menyerah. Lari itu bikin lelah’
‘Jangan! Kau pasti dihukum mati!’
Lelaki hanya tersenyum.
Itu tak penting lagi. Tugasku sudah selesai kini.
Lelaki berdiri, ‘Satu hal lagi’
‘Apa?’
‘Aku minta maaf’
‘Untuk?’
‘Menginginkanmu’
Hening sesaat.
‘Asal kau tahu. Menginginkanmu adalah di luar rencana. Semua terjadi begitu saja. Tiba-tiba’
Butir-butir kembali bergulir, ‘Mengakulah salah. Mungkin hukumanmu akan dikurangi’
Lelaki tersenyum lagi, ’Kau tak berubah. Tak henti mengajariku bagaimana bermimpi. Meski tak sekalipun tentang mewujudkannya’
Drdrdrdrdrdr.. Hape bergetar. Cahaya berdenyar.
…Just in time you've found me just in time… Before you came my time was running low… I was lost the losing dice were tossed… My bridges all were crossed nowhere to go…
Nina Simone terdengar. Ingin kirim kabar.
‘Aku pergi’
Lelaki keluar. Melangkah menuju barat.
Tiada lagi beban berat.
‘Halo’, memendam isak.
‘Ma, Papa dah sampai hotel ni.. Ga begitu jauh dari Seine.. Tar malem mungkin nyempetin jalan-jalan kesana.. Perjalanan dari Roissy lancar.. Kamu mo dibawain oleh-oleh apa? Oh iya, bilang sama Dewa, kalo memang mo ambil jurusan grafis mending di Belanda aja.. Bla bla bla..
Tiada lagi yang singgah di telinga. Cuma air mata dan sepotong senja. Selebihnya gulita.



***


Casablanca, 23 Januari 2011
* Foto dicuri dari sini

Hari Ini Tak Ada Bangkai Anjing Untukmu


'Heningmu secantik hantu'
Perempuan itu tersipu
Malu-malu asu
'Salahkah?'
'Tidak. Cuma kecantikanmu terlalu kejam bagiku'
Daun randu jatuh
Bumi berpeluh
'Ah.. Bagaimana jika secangkir coklat? Ayolah, hari ini aku janji tak akan membahas tentang bangkai anjing maupun dunia yang semakin pesing'
Keduanya berangkat
Menuju barat
Kiblat.



***


Casablanca, 1 Januari 2010
*Foto: AP Photo/ Markus Schreiber

Semacam Dialog Dalam Sebuah Pertemuan


'Tapi aku bukan penyair’
‘Apa hubungannya?’
‘Lalu gimana caranya?’
‘Cari tau.. kau kan lelakiku?’
Asu.

***

’Semalam aku ketemu Tuhan’
‘Di mana?
‘Mimpi’
‘Lalu’
‘Aku bilang.. Tuhan, bolehkah saya minta sepotong senja
‘Apa jawab-Nya?’
Buat apa?
‘Lalu?’
Pacar saya ingin memasangnya di dinding kamar. Cuma sedikit kok. Sepotong saja
‘Terus?’
‘Dia marah’
‘Gimana marah-Nya?’
Lambemu! Apa Aku bapakmu?! Begitu’
‘Lalu?’
‘Aku bangun’
‘Yahhhh….’, perempuan itu mendesah.
‘Abis sudah pagi. Aku kan harus kerja’
Perempuan diam saja.
‘Terus gimana sekarang?’
‘Ya kamu usaha lagi dong. Kalo perlu.. curi!’
‘Lho?’
‘Lho kenapa?’
‘Mencuri kan dosa?’
‘Tidak peduli! Pokoknya aku mau se-po-tong sen-ja! Es-e-en-je-a! Titik!’
Perempuan keras kepala.
‘Tapi aku benar-benar bukan Seno Gumira?’
‘Tapi kamu kan juga lelaki. Dia saja berani’, matanya mulai berkaca-kaca, ‘Kenapa sih kamu ga pernah mau tau apa yang aku inginkan?’
Sumpah mati. Lelaki itu benar-benar tak mengerti.
Masih kurang lagi? Bahkan segala sesuatu tentang diriku sudah sepenuhnya dia miliki?
‘Aku pulang dulu kalo begitu’
‘Aaahhh.. Selalu begituuu?’, bibir perempuan mecucu.
‘Bukan apa-apa. Tapi bir-ku keburu dingin’, lelaki mencari mata angin.



***


Casablanca, 25 Desember 2010

Secangkir Anarki di Pagi yang Mati


‘Anarki!! Anarki!!’
Mereka berteriak dan mulai bergerak
Ke Starbucks
Memesan secangkir espresso panas sambil dengarkan Jason Mraz
‘Kuingin miliki dia’
Lalu tawa
Dua pasang mata melirik mereka
Di seberang dekat jendela
‘Siapa’
‘Makhluk indah tak terjamah. Puisi terindah yang pernah digubah’
Suara itu terdengar berdenyar
Seperti merpati yang kirim kabar
‘Ah. Kupikir kau sudah cukup tua untuk menyadari. Bahwa hidup lebih suka berkata tidak untuk sesuatu yang ingin kita miliki’


***

‘Anarki!! Anarki!!’
Marlboro Menthol menyala merah
Tak sekental darah
‘Secangkir coklat pekat sepertinya nikmat. Meski bikin sedikit melarat’
Steelheart menyayat
‘Gimana ya rasanya mati?’
Semesta tak henti
Tak sunyi-sunyi
’Mungkin seperti pingsan. Entahlah. Aku juga belum pernah merasakan’
Asap bergumpal
Berkelebat waitress bertubuh sintal
(Sepertinya kenyal?)
‘Apa kematian benar-benar akan menyatukan?’
Putaran bumi tak berhenti
Jarum jam berjalan merajam
‘Sudahlah. Tiada satupun perempuan yang senilai dengan bunuh diri’ *
Ave Maria membahana.




Casablanca, 22 Desember 2010
* kata-kata disadur dari The Fall

Lalu Tentang Mata Angin


‘Aku berangkat dulu’, katamu
‘Kesana aku menuju’, kau maju
Ah, betapa kaki-kaki kita begitu lemah ternyata
Bahkan sekadar mencari cerita yang seharusnya-pun tak punya daya
‘Bukankah seharusnya kesana? Sepintas tadi kulihat jalan keluarnya?’
Lalu kau todongkan matamu, ‘Kenapa ikuti aku?’
Bukan apa-apa
Tapi membiarkanmu dalam ketersesatan adalah dosa besar bagiku
‘Lebih mudah menelan batu’



***

Casablanca, 18 Desember 2010

Dadu - Dadu



‘Mainkan dadumu.. Ada satu diantara enam yang akan jadi milikmu’
Awan berarak pinak
Mimpi-mimpi manak
‘Tapi waktu kadang asu’
Pesimis bau amis
Tapi hanya untuk banci. Kau laki-laki?’

***

‘Mainkan dadumu... Tuhan di belakangmu’
Kuda sembrani putih pucat
Melesat tak kenal sekarat
‘Bumi bundar bukan?’
Pohon pisang bergoyang-goyang
‘Tak usah dipikirkan. Kau tak sendirian’

***

‘Mainkan dadumu.. Sisi atas itu takdirmu’
Dering hape memecah malam
Sinatra mengalun pelan
‘Tiba-tiba aku ingin menjadi penyair lagi. Tai’
Jendela terbuka. Tiada malaikat di sana.
‘Cuma ada dua. Kau sudah gila, atau kau sedang jatuh cinta?’
Air jatuh dari angkasa. Kata ibu hujan namanya.
‘Sumpah mati, bunuh aku malam ini. Dinihari nanti aku akan mulai tulis puisi’



Casablanca, 17 Desember 2010

Gambar Kupu-Kupu di Seprai Ranjang Tidurmu



Ini kaleng keempat
Dan kau pasti tahu, mustahil ada penjual bir keliling yang lewat
Tak mungkin juga ada swalayan yang buka di tengah hujan yang membangsat.

‘Hujan itu indah’, katamu kemarin lalu, ‘Seperti seribu anak panah perak yang mencabut nyawa Abimanyu ketika Baratayudha. Mati yang sempurna’
‘Ya’
Tapi bukankah keindahan; kadang-kadang; di satu sisi berarti penderitaan?
Lalu hening mengerling
Jazz tua berdenting.

‘Venesia. Aku ingin menikmati kecipak air dengan gondola’
Tak ada yang tertawa
Keinginan mungkin memang tak akan pernah bisa membebaskan
Tapi setidaknya impian yang slalu membuat manusia sanggup bertahan.

‘Ah entahlah, ingin rasanya menjadi gambar kupu-kupu yang menghiasi seprai di ranjang tidurmu itu. Menyesap hangat keringat dan menelanmentah semua airmata yang tumpah’
(Bedebah! Sumpah!)



***


Casablanca, 16 Desember 2010

Senja & Perempuan Pengejarnya

‘Percayalah.. Di kota ini tak ada senja..’, lelaki terengah. Namun tak berhenti cipta langkah. Sementara keringat terus mengucur. Anjing. Kota ini memang sudah mendekati hancur. Kereta bawah tanah proyek pemerintah cuma sedikit lebih baik dari sampah. Air Conditioner-nya lebih parah dari kipas angin tua di kantor kepala desa. Kursi besi warna karat berkeriut-keriut sekarat. Sementara manusianya? Mirip robot buta yang bergerak mekanis. Dengan bibir yang tak lagi bisa tersenyum manis.

‘Tak mungkin senja tak ada.. Senja ada di mana-mana..’, perempuan itu kian bersemangat. Kaki melangkah cepat. Tas hitam di punggung terayun anggun. ‘Satu-satunya tempat dimana senja tak ada adalah neraka’, lanjutnya. Serombongan keluarga terlihat melangkah menuju pulang. Mereka tahu, tak ada lagi yang bisa ditunggu. Mereka sudah paham, di kota ini; termasuk di pantai ini; senja dan segala macam keindahan sejenisnya hanyalah milik para pemimpi. Jangankan di musim hujan dimana mendung lebih sering menggantung, di hari paling cerah sekalipun, asap knalpot dan cerobong pabrik sudah cukup untuk menyembunyikan warna-warna lembayung.

‘Ya.. Kau benar.. Cuma di neraka tak ada senja..’ lelaki masih terengah, ‘Dan inilah neraka itu, kalau kau belum tahu..’, sneakers tua terantuk batu.
Sementara sang perempuan justru tertawa, ‘Jangan terlalu pesimis. Badai di sini belum seberapa’.
Ah.. Baru di sini dua minggu dia sudah mulai berani membanding-bandingkan sesuatu. Lelaki menggaruk kepala.
‘Kita kesana..’, perempuan berteriak lalu menjejak. Berlari sambil menenteng DSLR-nya.
‘Tunggu…’, lelaki mengikuti.

Di satu sudut pantai mereka berhenti. Pasir putih dan sampah plastik. Tak tersisa manusia.
‘Kita tunggu di sini’, perempuan lalu duduk.
‘Percayalah.. Senja itu tak mungkin ada..’, lelaki keluarkan kamera. Duduk sambil menata nafas. Mengintip si perempuan dari viewvender, lalu.. cepret.. cepret.. cepret..
‘Sudahlah.. Kita buktikan saja..’, perempuan menatap barat. Di mana langit pucat sepi semburat.

Waktu berdetak. Jarum jam menjejak. Tapi langit kelabu tak menampakkan tanda apa-apa. Yang ada, tanpa aba-aba, suasana pelan-pelan menggulita. Hembusan nafas keduanya membaur dengan laut yang berdebur. Warna nyiur mulai kabur.
‘Apa kubilang…’, lelaki berkata sambil menyulut sebatang rokok, ‘Di kota ini..Tak pernah lagi ada senja..’
Dalam remang, perempuan itu menyungging senyum, ‘Besok kita coba ke pantai sebelah sana..’

Lelaki terbatuk. Perempuan keras kepala, hatinya mengumpat. Menggugat. Bertahun-tahun paru-paruku diracuni udara laknat kota ini, berliter-liter keringatku yang menetes di tanah busuk ini, dan dia masih meragukan apa yang kukata?

‘Besok kita kesana..’, perempuan mengacungkan jari dengan mata jenaka. Menunjuk sebuah sudut di kejauhan. Dimana siluet perahu nelayan tampak bergoyang-goyang.
‘Untuk apa? Kan sudah kubilang.. Senja tidak ada di sini.. Tidak juga di sana..’, si lelaki tampak pasrah. Dia terlihat lelah. Mencoba berdiri dengan lungkrah.
Dan tanpa diduga, tiba-tiba perempuan itu berdiri tepat di hadapannya. Jarak kedua mata mereka mungkin cuma 15 centi 3 mili. Sumpah mati, mata itu benar-benar jenaka.
‘Percayalah…’, perempuan menggumam, ‘Aku tak peduli apakah aku akan menemukannya atau tidak..’, tatapannya tajam, ‘Tapi aku cukup bahagia karena aku sudah mencoba untuk mengejarnya..’. Lalu bibir itu tersenyum. Lesung pipit menyipit. Anjrit!!

‘Ayo kita pulang..’, perempuan balik badan. Kemasi kamera. ‘Sepertinya menikmati malam dari jendela busway terdengar menyenangkan’.
Lelaki cuma diam. Menghisap rokok dan tiba-tiba merasakan asap pekat yang menyesap. ‘Laknat.. Kenapa aku harus terus-terusan mempercepat kematianku sendiri’, benak lelaki melengking. Lalu membuang puntung yang masih sepanjang kelingking. Tanpa alasan yang diketahui, tiba-tiba dia ingin hidup seribu tahun lagi.

‘Kita lanjutkan perjalanan…’, perempuan lincah memulai langkah. Sementara di belakang, si lelaki masih terdiam dalam remang. Tersenyum kecut sembari menyadari, dirinya tak lebih dari kura-kura tua yang terseok di belakang elang betina muda yang bersiap merentangkan sayapnya.



***


Casablanca, 28 November 2010

Malam dan Percakapan

‘Kenapa dulu kau tak menghampiriku?’
Angin berhembus pelan. Daun cemara kering bergesekan. Dan lalu asap rokok bergumpal-gumpal. Melayang tak berkesudahan. Batang yang kesekian.
‘Kenapa?’, perempuan itu mengulang tanya. Sementara kesekian kali lelaki meneguk Bintang. Kaleng keempat. Alkohol tersesap. Lumat.
‘Bukankah dulu kita tak saling mengenal?’, asap tembakau bakar kembali menguar.
‘Apa Tuhan tak memang tak mengijinkan kita saling bertemu? Ketika itu?’, mata itu mengerjap. Seperti tokoh putri di kartun Disney.
‘Aku tak tahu’, lelaki itu menggeleng, ‘Tapi sepertinya selalu menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam bukanlah cara yang bijak’.
Langit makin hitam. Tiada satupun kerlip gemintang. Sementara bulan sabit cuma mengintip sipit. Seperti mata cina yang kriyip-kriyip.
‘Aku di pojok belakang ketika itu’, angin lembut sentuh rambut.
‘Aku tahu. Sudah seribu kali kau mengatakannya’
‘Lalu kenapa kau tak menghampiriku?’
Sesaat keduanya diam. Sebungkam malam. Dan baru pecah ketika lelaki menyalakan rokoknya, ‘Sudahlah. Aku bukan Nobita’, katanya, ‘Yang punya laci Doraemon di kamarnya’
‘Ahhh... Aku bosan mendengar itu. Tak adakah kau punya perumpamaan lain?’
Lelaki tersenyum. Menatap mata si putri Disney, ‘Karena tema pembicaraan kita memang selalu sama. Dan tak akan pernah ada yang beda untuk hal yang sama’
Malam diam. Tak sedikitpun bergumam. Dan seperti yang lalu-lalu, tak ada pelukan. Kecupan. Apalagi lumatan. Mereka kembali tenggelam.


***


Utan Kayu, 23 Oktober 2010

Seorang Lelaki dan Senja yang Selalu Asu

‘Kuingin donorkan hati. Kau mau?’. Senja sama saja. Masih asu.

‘Kuingin donorkan hati. Kau mau?’. Itu patung batu. Sidharta namanya.

‘Kuingin donorkan hati. Kau mau?’. Ini pohon Bodhi. Pohon suci.


‘Kuingin donorkan hati. Kau mau?’. Di sini hati mati. Sejak dinihari.



***

Casablanca, 28 Agustus 2010

*foto dicuri dari sini

Tak Ada Adzan di Pasar Kembang

'Di sini ada Tuhan', perempuan itu membuka kutang
'Lalu bolehkah aku sembahyang?', lenguh mengeluh
Peluh luruh
Lupakan kisah teladan para nabi
Toh bukankah sejak tragedi khuldi bumi tak lagi suci?
'Hallah.. agama kan tak lebih dari selinting ganja..', mereka tertawa-tawa
Batang-batang bersitegang
Menyerang liang
Untuk kemudian menyerang
(Setan! Tak terdengar adzan!)


***


Semarang, 19 Mei 2010

Seppuku di Hari Sabtu

'Atas nama bahagia. Aku lakukan ini', perempuan itu memakan hatinya sendiri. Pagi-pagi.
'Atas nama bahagia. Aku lakukan ini', lelaki itu menusuk mimpinya sendiri. Dengan belati.
'Atas nama bahagia. Kami lakukan ini', keduanya seppuku . Di hari sabtu.




Semarang, 10 Mei 2010

Mati di Pagi

Di pagi
Otak beranak pinak
Manak
‘Kau tahu? Kau asu'
Tiba-tiba niat memati
Harakiri dan belati
'Di sana kau kutunggu. Di dekat Rizvan di depan pintu. Kita selesaikan satu-satu'



Semarang, 2 mei 2010
 

different paths

college campus lawn

wires in front of sky

aerial perspective

clouds

clouds over the highway

The Poultney Inn

apartment for rent