Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Mata Telaga Tara

Sebut saja namanya Tara. Itu nama sebenarnya. Tapi ibu di rumah biasa memanggilnya Ulil. Keponakan-keponakan saya lainnya memanggilnya Aurel. Sementara kakak saya ada yang memanggilnya Bintang. Apapun. Quenna Aurellia Bintang Nusantara nama panjangnya. Salah satu keponakan saya. Tiga setengah tahun usianya.

(Mungkin) seperti saya dulu, anak usia segitu memang sedang lucu-lucunya. Mata jenaka. Senyum tulus. Tawa lepas. Tak terbersit kecemasan besok akan makan apa. Tak terpikir untuk ikut-ikutan menghujat busuknya dunia. Bahkan tak mungkin menangis tolol gara-gara ditakdirkan hidup di negeri bobrok yang dipimpin pelawak-pelawak konyol.

Entah kenapa Tara selalu bisa membuat saya dan anggota keluarga lainnya selalu tertawa. Tingkahnya. Celetukannya. Polahnya. Bahkan mungkin saat ini cuma dia yang bisa membuat bibir ibu saya di rumah terkembang riang. Sungguh tak bisa dibandingkan dengan kebrengsekan saya yang selama ini justru lebih sering membuat bibir ibu tergetar karena tangis.

Mata telaga. Demikian saya sering mengasosiasikan tatapan Tara. Seperti telaga bening tempat Narcissus jatuh cinta pada dirinya sendiri, begitu pula mata Tara. Cuma dengan menatapnya, saya selalu bisa menemukan alasan untuk tidak cepat-cepat mati hari ini. Saya ingin melihatnya tumbuh menjadi besar, menjadi gadis cantik yang digilai lelaki-lelaki sebayanya, menjadi sarjana komputer mungkin. Atau menjadi penari? Penulis? Atau mungkin menjelma perempuan petualang yang tak lepas dari sneakers, backpack, jeans sobek-sobek, plus kamera yang akan dia gunakan untuk membekukan dunia-dunia asing dalam sebuah pigura yang sampai saat ini baru bisa saya angankan? Kathmandu mungkin? Madinah? Bhaktapur? Malta? Ah…

Membayangkan Tara menjadi dewasa dan menua seperti menelan pil pahit obat sakit kepala. Menyembuhkan. Tapi tetap saja tak terasa manis. Tetap saja ada sedikit kekhawatiran, bagaimana nanti ketika pil itu menyentuh pangkal lidah. Pahitnya pasti pekat. Pasti menyengat. Pasti lekat.

Bagaimana tidak. Dunia tempat kita berada tak beda jauh dengan kosakata gila. Di mana untuk bertahan hidup, kadang manusia saling memakan satu sama lain. Di mana kita seringkali cuma diberi dua pilihan, antara menjadi pemenang atau pecundang. Kalah atau menang. Membunuh atau dibunuh. Tak ada pilihan ‘diam’. Tak ada kosakata ‘tenang’. Semua memburu. Waktu seperti asu. Mengejar-ngejar tanpa peduli nafas kita cuma tinggal satu. Berlari atau mati.

Saya bukan meragukan Tara. Dia mungkin akan kuat menghadapinya. Seperti halnya saya yang masih bertahan hidup sampai detik ini. Tapi sungguh terlalu berat membayangkan mata telaga itu menjelma hujan yang tak berkesudahan, ketika suatu waktu mungkin dia merasa lelah dicekoki janji seorang lelaki muda sebangsat saya yang cuma bisa memberi angan-angan palsu tentang masa depan dan awang-awang, atau mungkin ketika cintanya dikhianati seorang lelaki bajingan yang menelantarkan hatinya untuk menikah dengan perempuan lain, atau mungkin ketika sebutir kekecewaan membuatnya suatu malam duduk terdiam sendirian berjam-jam di sudut café dengan berteman kaleng-kaleng bir dan alunan jazz yang merajam, atau mungkin ketika bla bla bla bla bla bla..

Saya juga tak bisa membayangkan suatu ketika mata telaga itu tiba-tiba meredup lelah ketika harus terjaga sampai pagi buta karena pekerjaan rumah yang diberikan guru sekolah, menghapalkan nama-nama ibukota negara di dunia, menghapalkan rumus matrik, logaritma, dan segala tetekbengek tai kuda matematika, lalu teori kuantum, hukum kekekalan energi, teori relativitas, persamaan kimia, geofisika, dan hal-hal tak penting lainnya, dan sebagainya dan sebagainya….

Belum lagi jika dia harus dibingungkan dengan ayat-ayat agama yang katanya suci tapi kenyataanya justru dijadikan legalisasi oleh sebagian orang untuk membunuh manusia lain, mengebom hotel, atau mungkin menganiaya sesama. Seruan Allahuakbar yang suci diteriakkan oleh kaum bar-bar yang tai. Puji-pujian diperlakukan seolah adalah seruan perang. Dan sejenisnya dan sejenisnya…

Lalu bagaimana juga jika ternyata suatu waktu Tara saya yang lucu mau tak mau harus bekerja dan mengejar apa yang disebut sebagai kesejahteraan di belantara gila bernama Jakarta, di mana gedung tinggi menjulang berserakan, mall-mall gemerlap berjejalan, sementara di sekitarnya gelandangan dan para jelata melata mencari remah-remah apapun yang bisa dimakan? Belum lagi jika tiba masanya ketika Tara mulai menulis ejaan namanya menjadi qUeeNa AureElia ImOeTt&LoetcU di akun jejaring sosial miliknya, lalu mulai minta dibelikan hot pants & tanktop warna pinky seperti yang biasa dilihat di tayangan sinetron televisi negeri ini...

Sungguh. Saya tak bisa membayangkan bagaimana nanti ketika semua itu benar-benar terjadi. Saya benar-benar tak tahu. Yang jelas, telaga itu suatu waktu nanti pasti akan menjadi berbeda. Entah menjadi seperti apa. Karena saya yakin, mata saya (dan kita semua) pasti juga 'pernah' seindah matanya. Dan sekarang kenyataannya? Mungkin cuma cermin yang cukup jujur untuk menjawabnya.




***



Casablanca, 3 Desember 2010

2 komentar:

  1. Lina mengatakan...
     

    mata telaga tara, semoga tidak akan meredup, dan kalaupun harus meredup, semoga berbinar kembali.

    what a beautyful eyes

  2. Setyo mengatakan...
     

    @ Lina: semoga3... :) saya yakin kok, dia akan baik.. selalu baik..

Posting Komentar