Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang Natal dan Ulama-Ulama Bebal



...Klo bikin status tu g usah yg mslh agama,jjr aj aq sbg orang muslim ngrasa tersinggung ma status n komen temenmu tentang adzan subuh...


Duengggg!!! Sebuah pesan dari seorang kawan. Siang-siang. Dan saya cuma garuk-garuk kepala. Kok bisa ya?

Sebelumnya saya memang nulis sebuah status di akun FB,

...Kalo simbol Natal di mall2 dianggap berlebihan, trus gimana dengan simbol2 Lebaran? Ulama kok bodoh...
(Kalo ga bodoh ya ga jadi ulama)

Lalu sebuah komentar singgah,

...kalo suara lagu puji-pujian di HKBP itu berisik, trus gimana dg suara puji-pujian dan adzan di subuh buta? (toleransi itu bukan telo yg tinggal dikunyah trus tercerna dg sendirinya di perut, nggak usah pake mikir) :P...

Dan selang sekian detik, pesan itu mampir di inbox saya.

Facebook itu ranah publik. Apa yang kita tulis di situ nantinya tidak hanya dibaca orang-orang yang kita tuju. Tapi semua. Dunia. Saya cukup paham hal itu. Karena itulah, seseorang harus siap mempertanggungjawabkan apapun yang dilakukan di situ kepada massa. Begitu juga halnya dengan saya. Karena sebagai manusia yang syukur alhamdulillah punya otak (meski kecil dan sudah mulai berkeriput), saya berusaha untuk tak pernah lupa melakukan filterisasi sebelum mengungkapkan sesuatu di situ.

...silahkan tersinggung. itu hak anda. dan tidak usah terlalu repot mendikte apa yang harus saya lakukan. terima kasih...

Kita manusia merdeka. Sejak lahir ceprot manusia sudah diikat norma-norma dan segala sesuatu yang membelenggu. Saya pikir tak ada gunanya menambah belenggu itu. Kawan saya berhak tersinggung dengan kalimat saya. Seperti halnya saya yang juga berhak tersinggung dengan ulah Noordin N. Tot dan jaringannya yang hobi membunuh orang-orang tak berdosa dan membuat banyak umat Islam yang memilih menundukkan kepala sambil bergumam pelan, ‘Islam’, ketika ditanya apa agamanya. Malu mengakui ajaran nabi yang dipercayai? Sungguh tai.

Semua berawal dari Natal dan MUI. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba lembaga tertinggi umat Islam ini mengeluarkan statement konyol bin tolol.

...Simbol-simbol Natal di beberapa mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya itu berlebihan, dan kepada para pengelolanya agar arif dan peka menjaga perasaan umat beragama...

Sekali lagi kumpulan ulama ini berpikiran seperti anak TK. Yang takut dan curiga akan ada anak lain yang merebut permen miliknya. Mungkin saya tak akan peduli kalo yang bicara seperti ini Om Rizieq pimpinan preman-preman bersurban itu. Tapi ini MUI. Majelis Ulama Indonesia. Lembaga tertinggi umat Islam yang (harusnya) suci?

Coba bayangkan, betapa bodohnya masyarakat kita jika para kyai haji ini menganggap bahwa umat di negeri ini merasa terganggu dengan Santa Claus dan pohon cemara sintetis yang berkeliaran di mall-mall dan pusat perbelanjaan? Kenapa sih mereka tak pernah angkat suara untuk membahas keberadaan terorisme di tubuh Islam tapi malah sibuk main haram-haraman? Bahkan mengurusi perayaan umat agama lain? Jika memang berpikir cerdas dan mencoba adil, kenapa mereka diam saja ketika tiap Ramadhan tiba stasiun TV kita gila-gilaan mengeksplorasinya? Ustadz-ustadz ganteng berkeliaran, gambar-gambar ketupat berseliweran, musik timur tengah riuh gaduh, band menye-menye keluarkan album religi, dan sebagainya dan sebagainya. Belum lagi diskon belanja gede-gedean yang menggiurkan, memaksa masyarakat kita memasrahkan diri dalam karnaval akbar bernama kapitalisme global. What the hell, Mr. Kyai? Itukah Ramadhan?

Jujur saja saya tak cukup mengerti, kenapa kawan saya tersinggung dengan status saya itu. Karena pesan balasan yang saya kirimkan sampai detik ini dicueki. Begitu juga, dia tak mampir di wall saya untuk terlibat dalam diskusi terbuka. Karena itulah saya cuma bisa mengira-ira, dia mungkin menganggap bahwa saya (dan kawan-kawan lain yang terlibat diskusi itu) adalah seorang Nasrani yang muak dengan MUI. Bukan. Sama sekali bukan. Meski ada kawan yang bilang wajah saya semenderita Isa (waktu disalib, katanya), saya tak pernah sekalipun berpikir untuk mengimaninya. Apa ga boleh, kalo seorang lelaki memberi masukan kepada perempuan yang dicintainya untuk mengoleskan lipstick merah muda di bibirnya, ‘Biar lebih cantik’, katanya. Sah-sah saja to? Lha wong cinta kok?

Menurut saya pribadi, hangar bingar Natal memang berpotensi menyesatkan. Gemerlap Santa dan pohon-pohon cemara itu sama sekali tak merepresentasikan kelahiran Isa. Seperti kita tahu, bayi Yesus dipercayai umat Nasrani lahir dari rahim Perawan Maria di sebuah kandang domba di Betlehem. Dalam kesunyian, kesendirian, dan penderitaan. Malam yang kudus. Lalu spirit Yesus semacam apa yang bisa dipetik dari riuh rendah perayaan gila-gilaan yang kita saksikan belakangan?
‘Lho, brarti MUI bener dong?’, seorang kawan menodong.
Dlondong!!
Perayaan Natal semacam ini tak jauh beda dengan Ramadhan kita. Siang berlapar-lapar puasa sambil menikmati khotbah-khotbah religi dari ustadz-ustadz funky di layar TV, tapi begitu Maghrib tiba banyak yang berbondong-bondong ke Starbucks, Mc' D, dan KFC untuk berbuka dan melancarkan aksi balas dendam. Disusul dengan menghabiskan isi dompet berbelanja baju dan celana yang akan dikenakan ketika Lebaran tiba. Gesek gesek gesek. Pulang-pulang tangan dipenuhi tas belanja. Tai kuda. ‘Pengendalian dirinya dimana?’

Toleransi. Itu masalahnya. Sejak kecil kita sudah didoktrin tentang apa itu eksklusivitas.

...Agama di dalam pengajaran sekolah, adalah soal lama dan terus-menerus persoalan sulit...

begitu Ki Hajar Dewantara pernah bilang.
‘Yang Islam di ruang ini. Yang Kristen disitu. Yang Katholik di sana. Lalu yang Hindu. Juga yang Budha’.
Mungkin memang inilah salah satu faktor yang membuat masyarakat kita terkotak-kotak. Melahirkan diskriminasi dan kesaligcurigaan. Agama bukan matematika. Di mana lima kali lima seluruh dunia sepakat untuk menjawabnya duapuluhlima. Agama itu bicara tentang kebenaran sekaligus ketidakpastian. Benar tapi tak pasti. Lha siapa coba yang bisa membuktikan kalo akhirat itu benar-benar ada?

Karena itulah, saling mencurigai semacam itu sepertinya sudah tak penting lagi. Sekarang tak ada salahnya jika kita mulai mencoba untuk berpikir, bagaimana cara terbaik untuk menghadapi hidup yang seperti pelangi ini. Warna warni. Bersama-sama belajar mengeja kata toleransi dengan lafal yang benar. Masalah siapa yang salah dan siapa yang lebih salah, apakah surga atau neraka yang akan kita temui nanti ketika sudah mati, serahkan saja sama Ahlinya. Saya pikir; meski guyonannya kadang berlebihan; Tuhan itu ga sebodoh yang sering kita pikirkan.

Selamat Natal. Damai di bumi damai di hati.
Sadhu.. sadhu.. sadhu..


***

Casablanca, 24 Desember 2010
* Foto: AP Photo/ Bela Szandelszky

4 komentar:

  1. soclose29 mengatakan...
     

    saya sepakat sekali dengan petikan ini :

    "Kenapa sih mereka tak pernah angkat suara untuk membahas keberadaan terorisme di tubuh Islam tapi malah sibuk main haram-haraman? ".

    sungguh saya juga menunduk malu mengakui keislaman saya.

    apakah sesungguhnya kita ini belum berdamai antara satu sama lain , agama yang menjadi minoritas musti tunduk kepada yang mayoritas, dimana persamaan hak yang digemborgemborkan di undangundang itu?. maka persamaan , kebebasan hanya sebuah pelangi di negeri utopia, indah dan sungguh tak nyata.

    Hari ini saya membaca postingan blog berbeda tapi memiliki korelasi dengan postingan anda ini, seperti kata dee (http://dee-idea.blogspot.com/2007/10/dicari-pahlawan-sejati-will-be.html):

    "Perdamaian yang kita kenal adalah perdamaian yang berbasiskan toleransi, bukan apreasiasi. Perdamaian toleransi adalah perdamaian yang rapuh, karena diberlakukan syarat di sana. Saat syarat itu disinggung, si ‘aku’ disinggung, perdamaian pun luruh seketika."

    maap mas Seto :D jadi mbulet dan ruwet. intermezo : saya mengikuti cerpen petualangan ttg sepotong senja sampean lo , meski sampean bukan SGA saya suka cara berceritanya :D

    salam peace, love and gaul
    :D

  2. Setyo mengatakan...
     

    @ soclose29:

    terima kasih kunjungannya.. :) ya bgtulah Indonesia, kita lihat saja bagaimana nanti kelanjutannya..

    *ngmong2 soal senja & Indonesia, jadi inget Negeri Senja-nya SGA? :D

  3. lelakipantangmenyerah mengatakan...
     

    hahaha... ASU!!!!

  4. Anonim mengatakan...
     

    Memang begitulah kenyataan yang kita semua hadapi. Ulama yang seharusnya memberi contoh kearifan kepada umatnya, justru menunjukkan sifat yang paling kekanak-kanakan, paling egois, dan paling bodoh. Saya pribadi sudah terbiasa menghadapi orang-orang bebal yang mencoba "menyadarkan" saya agar "bertobat". Tapi sayangnya, data di beberapa sumber menunjukkan Islam adalah agama yang paling cepat pertumbuhannya. Anda bisa lihat di Wikipedia dan media lain (termasuk media barat / non-Muslim). Harus kita akui bahwa teror dan tekanan mental adalah metode yang paling efektif dalam menyebarkan agama. Pantas saja mereka jadi arogan.

Posting Komentar