Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Merapi dan Pikiran-Pikiran

‘Lha kemarin-kemarin itu pada kemana? Kenapa baru sekarang ketika ada bencana tiba-tiba mengaku saudara? Ubyang-ubyung kirim nasi bungkus, ngamen penggalangan dana, dan sebagainya dan sebagainya’, pertanyaan tak penting melengking nyaring. Gonggongan anjing.

Negeri kita digulung bencana. Wasior, Mentawai, Merapi. Alam tunjukkan kekuatan. Mayat-mayat bergelimpangan. Dan lalu orang-orang baik bermunculan. Wajar saya kira. Karena bagaimanapun manusia bukan sembarang binatang. Kita primata bernurani. Masih punya hati.

Tapi yang mengherankan, di tengah anyir darah dan nyawa yang sedemikian murah kok ya masih ada orang yang sempat-sempatnya sibuk mendebat dengan dalil-dalil filsafat. Berlagak sok budayawan. Nongkrong di sudut taman budaya sambil mengumbar kata-kata & berdialektika. Curiga kepada mereka yang memilih untuk 'bekerja'.
‘Berbuat baik kok temporary’, nyinyir.
‘Niat membantu kok sibuk mempublikasi’, anyir.
‘Niat membantu itu dari dulu-dulu’, mencibir.
Lalu klepuss.. Dji Sam Soe menggumpal di udara. Srupuuuttt… Kopi kental tanpa gula. Tai kuda tanpa kepala.

Memang tak tertutup kemungkinan, ada di antara mereka yang terlibat huru-hara bencana itu cuma ngikut arus saja. Membantu pengungsi biar tampak peduli. Sibuk berdoa di febuk karna trend-nya memang begitu. Berangkat jadi relawan sembari dirasuki arwah Narcissus. Update status biar keliatan heroik. Berpikir bahwa foto profil yang memperlihatkan potret diri yang tertutup masker di tengah jalan berselimut debu itu terlihat gagah. Seperti halnya mereka yang mengaku kiri dengan cara selalu pake kaos Tan Malaka & Guevara. Poto jepret.. Upload via BB.. Trus nunggu comment-comment dan acungan jempol berseliweran. Sekali lagi, mungkin memang ada yang seperti itu. Tapi apa trus cuma nyacat dan nyocot* di kedai kopi jauh lebih baik dari itu semua?

Hidup itu proses. Bukan hasil jadi. Secara pribadi saya percaya itu. Tak mungkin orang laer ceprot langsung menjadi manusia yang ‘sempurna’, yang peduli dengan kanan kiri, yang mengerti mana yang baik dan tidak, yang toleran terhadap sesama, yang bisa bicara fasih tentang apa itu kapitalisme global, dan sebagainya dan sebagainya.

Jadi bisa dikata, kalau ada orang-orang yang ‘baru bergerak sekarang dan tidak dari dulu-dulu’ itu kemungkinan mereka sedang berproses. Mereka sedang dalam perjalanan menuju. Menuju menjadi sesuatu yang lebih baik dari kemarin, dari yang awalnya tak peduli menjadi peduli, dari yang mulanya buta menjadi tidak buta, dari yang kemarin tuli menjadi tidak tuli, dari yang bla bla bla menjadi bla bla bla… Aaassshhh sudahlah, tak penting mikir mereka yang tak penting. Selamat bekerja.



***



Casablanca, 7 November 2010

* mencela dan berkoar-koar

** Foto: ANTARA/ Wihdan Hidayat


0 komentar:

Posting Komentar