Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Sutradara atau Arsitek?

‘Allah sebenernya sudah nunjukin jalan yg terbaik buat aku.. Tapi jalan itu terputus sejak kamu pergi..’ (Kalimat Anissa kepada Khudori; Perempuan Berkalung Surban)



‘Salah milih bojo, cerai, terus mereka bilang INI SUDAH DIGARISKAN TUHAN. Salah jurusan kuliah, bilang INI TAKDIR TUHAN. Kehilangan HP terus mengamini, INI JALAN TERBAIK YANG DIBERIKAN TUHAN. Lebih konyol lagi langsung deh, ketika tertimpa penderitaan panjang berucap SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA! Wakakakakak, glogok tenan!’, seorang kawan memaki-maki. Dan saya tertawa ngga brenti-brenti. Mengamini. ‘Lha iya to, manusia itu suka sekali dikasihani. Tapi kok ga sedikitpun mencoba empati sama Tuhan. Ga nyadar apa kalo Tuhan itu urusannya banyak. Malah terus-terusan dijadikan kambing hitam. Apa-apa takdir.. Apa-apa keputusan Gusti..’, saya-pun terpancing. Ikut mencak-mencak. Terus ngakak-ngakak.

’Takdir itu apa sih, Pak?’, seorang anak bertanya pada bapaknya. Dan sang bapak menjelaskan panjang lebar tentang qada dan qadhar. Secuil bab dari buku agama ketika dia duduk di sekolah dasar. ’Qada itu rumusan Tuhan yang bersifat pasti. Contohnya, semua makhluk itu pasti akan mati. Sementara qadhar itu rumusan yang lebih rinci. Misalnya, si makhluk A akan mati kapan dan di mana’. Dan si anak mengangguk-angguk.

Kapan dan dimanapun, perbincangan tentang takdir itu sesuatu yang sangat-sangat menarik. Gimana enggak, sejak jaman renaisans, aufklarung sampai era blackberry seperti saat ini, takdir masih saja sering diperdebatkan. Benarkah? Adakah? Dan sejauh ini tak ada satupun di antara mereka yang saling berdebat itu sanggup membuktikan argumen-argumennya. Perdebatan yang percuma? Belum tentu juga. Toh jika percuma sekalipun tak pernah ada salahnya bukan? Bukankah itu gunanya logika?

Baiklah. Daripada kepala kita senut-senut ngurusi sisminbakum atau kasus rekening bengkak jenderal-jenderal polisi itu, mari kita sedikit membincang tentang takdir (Toh sama-sama tak penting :)) Dan karena sejak kecil saya lebih dekat dengan dunia Islam, ya mohon dimaklumi kalo dasar-dasar obrolan saya juga dari sudut pandang Islam. Begini, konon konsep takdir sendiri sebenarnya belum ada ketika jaman Rasulullah. 'Pemikiran sesat' yg mengatakan bahwa segala sesuatu yg terjadi pada manusia sudah ditentukan Tuhan itu, baru ada pada jaman Khalifah II (Umar bin Khatab). Jadi ceritanya begini. Dulu ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib wafat, dia digantikan putranya, Hasan bin Ali. Pengangkatan Hasan ini tidak disetujui sebagian umat ketika itu. Akhirnya umat islam pecah. Karena itulah Hasan memilih mengundurkan diri. Selanjutnya Hasan digantikan adiknya Husein bin Ali. Nah... Husein ini kemudian dibunuh Bani Ummayyah. Kemudian berkuasalah Muawiyah bin Abu Sufyan (Khalifah Umayyah I). Demi kepentingan politik, Muawiyah memberikan wacana kepada Umat Islam, bahwa terbunuhnya Husein itu SUDAH TAKDIR TUHAN. Husein tidak dibolehkan memerintah oleh Tuhan. Buktinya? Husein tewas. Itu artinya Husein tidak direstui Tuhan sebagai pemimpin umat Islam. Dengan kata lain, Bani Ummayah-lah yang diridhoi Tuhan.

Sejak itulah wacana takdir semakin berkembang. Segala sesuatu yang menimpa manusia selalu dikait-kaitkan dengan takdir. Cerai dengan pasangan? Takdir. Gagal lulus kuliah? Takdir. Kehilangan harta? Takdir. ’Sesungguhnya Tuhan telah mengadakan ukuran bagi tiap-tiap sesuatu (Q.S. 65:3)’. Ayat itulah yang seringkali dijadikan pembelaan beberapa dari mereka yang pasrah dengan kekalahan. Tapi benarkah (selalu) begitu?

Tuhan punya ukuran, mungkin memang iya. Matahari itu terbit dari timur, air laut itu asin, makhluk hidup itu pasti mati, bumi ber-revolusi sekali dalam setahun, mungkin itu memang sudah ’ukuran’ Tuhan. Semesta tak punya alasan untuk tidak mengikuti aturan itu. Sementara rezeki manusia, jodoh, lulus kuliah, dsb dsb? Tentu saja manusia punya kebebasan untuk mendapatkan itu semua. Semesta jelas beda dengan manusia. Semesta tak punya pilihan, sementara manusia punya kebebasan.

Michael Newman (Adam Sandler) sempat menggugat Morty si malaikat (Christopher Walken) dalam Click, ’Kenapa kau buat hidupku jadi begini?’. Michael marah karena remote universal pemberian Morty (dianggap) merusak hidupnya. Donna (Kate Beckinsale), istri Michael memilih menikah dengan lelaki lain. Michael-pun tak sempat mendatangi pemakaman ayahnya karena terlalu sibuk bekerja. Dan Morty-pun cuma tersenyum, ’Bukan aku yang merusak hidupmu. Kau sendiri yang melakukannya’. Begitulah. Remote yang bisa mengontrol segala sesuatu itu digunakan Michael secara sembarangan. Michael memilih sendiri apa yang ingin terjadi padanya dan menghindari apa yang tidak ingin dihadapinya. Semua pilihan itu ditentukan sendiri oleh Michael. Jika ternyata pilihan-pilihan itu membuat hidup Michael berantakan, kenapa dia harus menyalahkan Tuhan; yang dalam hal ini diwakili kaki tangan-Nya (/malaikat)?

Begitulah. Kita ini masing-masing sudah diberi remote universal yang bisa dipakai untuk menentukan jalan hidup kita sendiri. Hati, logika, tubuh, dan segala sesuatu yang kita punya, itu remote kita. Lalu kenapa tiap kali bertemu kegagalan beberapa di antara kita selalu berdiri di punggung Tuhan? Ini sudah jalanNya-lah, ini takdirNya-lah, ini keputusanNya-lah.. Jika kita manusia saja sudah sangat-sangat sibuk dengan urusan kita sendiri, apa kita tak pernah membayangkan, betapa sibuknya Tuhan jika harus mengurus segala sesuatu itu sendirian?

Tuhan itu sutradara. Bukan arsitek. Saya percaya itu. Saya bayangkan, Tuhan itu seperti sutradara teater yang membuka casting terbuka. Memberi kebebasan pilihan kepada calon aktor, mereka tertarik dengan peran apa. Lalu dalam casting itu Tuhan memberi penilaian, si A memang pantas dengan peran tentara. Karena si A ini posturnya tinggi besar dan berwajah brutal. Sementara si B, tak pantas dengan peran guru. Dia lebih cocok jadi penyair, karena wajahnya yang sendu dan suaranya yang merdu. Juga si C. Dia lebih layak jadi jurnalis saja. Karena perawakan dan gesture-nya lebih pantas untuk peran itu. Begitu juga ketika proses latihan. Tuhan akan membiarkan aktor-aktornya untuk eksplorasi akting mereka seliar mungkin. Baru jika dirasa tak cocok digunakan dalam pertunjukan, Tuhan akan memberi masukan, ’Sebaiknya begini... Jangan begitu... dsb’

Secara pribadi saya menolak konsep bahwa Tuhan itu arsitek yang menuliskan segala sesuatu rancangannya di atas kertas. Yang merasa sok tahu tentang bahan apa yang terbaik untuk sebuah rumah, bentuk jendela dan pintu untuk rumah itu, termasuk juga letak taman dan kolam ikan. Bukankah penghuni rumah juga punya hak untuk menentukan bentuk jendela yang mungkin akan membuatnya jauh lebih nyaman? Bukankah manusia juga punya hak untuk memilih dengan siapa dia akan menjalani sisa hidup dan beranak pinak? Lalu apakah ketika kita menjatuhkan sebuah pilihan, apakah hal itu melulu keputusan Tuhan? Tentu saja tidak. Itu pilihan kita. Yang (mungkin) direstui Tuhan. Tapi mungkin juga tidak.

Sampai di sini saya ingat Chris Gardner (Will Smith). Dalam salah satu adegan The Pursuit of Happynes, Chris bercerita kepada anaknya, Christopher (Jaden Christopher Syre Smith). Diceritakan ada seseorang yang mengapung-apung sendirian di tengah lautan. Tiba-tiba ada sebuah kapal yang menawarkan pertolongan. Namun orang itu menolaknya, dia bilang, ‘Tuhan akan menolongku’. Datanglah kapal kedua yang juga menawarkan bantuan, ‘Tuhan akan menolongku’. Jawaban yang sama. Akhirnya orang itu tenggelam, mati, dan masuk di surga. Di surga, orang itu menggugat Tuhan, ’Wahai Tuhan, kenapa Kau tidak menolongku?’. Dan Tuhan-pun menjawab, ’Siapa bilang Aku tak menolongmu? Aku sudah kirimkan dua kapal untukmu’.


***


Utan Kayu – Casablanca, 12 Juni 2010

1 komentar:

  1. Anonim mengatakan...
     

    hehehe...maaf baru sempet mampir ke blognya

    betul masbro Andi...kita harusnya lebih bijak saat berkata "ini takdir Tuhan...".

    Allah memang maha tahu dan maha kuasa atas setiap detail jalannya hidup dan kehidupan ini,baik masa lampau, sekarang atau di masa depan. tentu bukan Tuhan kalau Allah tidak tahu dan tidak kuasa atas segalanya.

    tapi Allah Maha Adil, Allah tidak membebankan hukum pada manusia trhdp hal2 atau kejadian2 diluar kuasa kita. Allah juga memberikan kita potensi akal untuk berpikir, menimbang dan memilih, Allah juga menyediakan risalah, petunjuk bagaimana menjalani hidup yg benar di dunia.

    di akhirat tidak dipersoalkan jika saat ini kentut yg kita punya baunya tidak sedap, tp akan jadi persoalan jika kita sengaja tidak menahan hasrat kentut dan iseng mengeluarkannya ditengah2 kerumunan orang yg sedang butuh udara segar...

    bahkan soal jodoh, tidak bisa seenaknya kita salahkan Tuhan jika suami/istri kita saat ini ternyata tidak sesuai harapan, misal: buruk kelakuannya, karena mungkin dulu kita kurang jeli waktu milihnya. lewat Rasulnya, Allah dah kasih clue bgaimana sebaiknya memilih calon pasangan hidup: krn rupanya, hartanya, keturunannya dan ahlaknya...kalo bisa, ya pilih yg bagus semuanya, kalo ga nemu pilih yg minimal bagus ahlaknya...tp boleh juga milih yg sesuai selera dan kebutuhan, pokoknya masing2 ada konsekuensinya...

Posting Komentar