Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Mati di Merapi

Siang

Yuniawan Nugroho namanya. Biasa dipanggil Wawan. Itupun baru saya tahu belakangan. Sebelumnya saya tak mengenalnya secara pribadi. Dia seorang editor senior di Redaksi, sementara saya baru empat bulan bekerja di divisi Multimedia.Dia datang ke meja saya bersama Mas Jono (Redaktur) dan Pak Teguh (Wapemred), minta tolong saya untuk menyiapkan handycam.
‘Untuk dibawa liputan ke Merapi’, katanya.
Ada dua handycam di laci. Tapi yang satu tak ada baterainya sementara satu lagi tak ada charger-nya. Kamipun mencari-cari. Saya telepon Edli, koordinator Multimedia.
‘Dibawa Rizal (Camera Person).. Buat cadangan’, jawab Edli.
Lalu saya telepon Rizal. ‘Aku lagi liputan banjir di Cawang’.
Kami kebingungan. Saya coba telepon Edli lagi, menanyakan charger handycam satunya. Tapi tak bisa. Pulsa saya habis. Dan mas Wawan meminjamkan HP-nya. Nexian. Saya ingat benar merknya.
‘Handycam yang itu chargernya hilang yo..’, jawab Edli, ‘Minta Rizal antar ke kantor aja’.
‘Ok..’.
Dan ketika saya mencoba akan menghubungi Rizal, Wawan melarang, ‘Ga usah aja mas.. Nanti malah aku ketinggalan pesawat’.
Sesuatu melintas di matanya. Entahlah. Kekesalan mungkin? Saya tak yakin benar. Ya. Saya memang melihat matanya. Untuk pertama kali. Dan (juga) terakhir kali.

***

Sore

Di layar TV saya dan kawan-kawan menikmati Merapi yang mulai menggelegak. Warga di kaki gunung panik. Sirene ambulans. Evakuasi. Terdengar Pak Teguh mengabarkan, Wawan tadi ikut menjemput Mbah Maridjan. Sempat telepon rekan yang di bawah, namun tiba-tiba terdengar teriakan, ‘Api!! Api!! Panass!!’, dan kemudian telepon putus. Seorang rekan menghubungi kantor untuk mengabarkan. Seketika, pikiran yang belakangan saya istirahatkan mulai berantakan. Vipassana.

***

Malam

Saya buka FB via HP. Seorang kawan share link sebuah berita, ‘Jemput Mbah Maridjan, Editor VIVAnewsTerjebak’. Dia belum ketemu, pikir saya. Dan untuk sekedar mengalihkan perhatian, saya nyalakan laptop. Saya nikmati film Across the Universe yang sudah lama saya simpan di dalamnya. Sesaat lagu-lagu Beatles menampar-nampar hati saya. Mengalihkan pikiran dari Merapi. Sambil menikmati film itu saya tetap aktifkan FB di HP. Bukan karena kecanduan, tapi lebih karena saya tahu, jejaring sosial adalah media komunikasi tercepat saat ini. Di media ini, citizen journalism benar-benar menemukan tempatnya. Up date berita dari kawan-kawan mengenai kemacetan Jakarta, tsunami Mentawai, juga letusan Merapi jauh lebih cepat dari media resmi tercepat sekalipun. Hingga sebuah comment seorang kawan singgah di wall saya, ‘ternyata jadi korban yo...semoga amal ibadahnya diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan...nonton metro tv...kasian...…’. Dan seketika saya ingat mata yang tadi. Yang tak bisa saya jabarkan hingga kini.

***

Semingguan yang Lalu

‘Mau bengi aku browsing soal Merapi’, kata keponakan saya.
‘Lha ngopo?’, Tanya saya.
‘Aku wedi nde…’, jawabnya, ‘Merapi Waspada’.
Dan sayapun tertawa.
Saya dan dia (bersama dua kawan lainnya) memang akan berangkat ke Vihara Mendut untuk meditasi selama tiga hari. Mendut sendiri terletak di Mungkid, Magelang. Sebuah daerah di lereng Gunung Merapi.
‘Kematian itu di tangan Tuhan’, seorang kawan ikut menertawakan, ‘Tak perlu ke Merapi jika memang sudah waktunya binasa’, lanjutnya.

***

Suatu Waktu. Dulu.

‘Setelah ini kamu jangan bunuh diri’, suara di seberang melarang.
‘Kenapa?’, Tanya saya.
‘Aku tak mau jadi orang terakhir yang berkomunikasi denganmu sebelum kamu mati’, jawabnya.
Ketika itu saya tertawa. Dan baru sekarang saya mengerti benar alasan dia mengatakannya.Baru sekarang saya memahaminya.


***


Casablanca, 27 Oktober 2010
* Foto: Antara/ Wahyu Putro

1 komentar:

  1. Joell mengatakan...
     

    sudahkah memilih cara sampeyan sendiri untuk mati?

    untuk mas Wawan, semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya..

Posting Komentar