Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Nurul dan Sejumlah Keganjilan*

Judul Buku: Semusim, dan Semusim Lagi
Penulis: Andina Dwifatma
Editor: Hetih Rusli
Isi: 232 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 8 April 2013

***
 
Satu hal yang ingin saya katakan di awal sebelum saya bicara panjang lebar: bahwa membaca novel Semusim, dan Semusim Lagi (selanjutnya akan disebut: Semusim) karya Andina Dwifatma mengingatkan saya pada banyak hal. Salah satunya adalah pada novel Misteri Soliter karya Jostein Gaarder. Memang tidak persis sama dan bahkan ada banyak hal yang berbeda, tapi kemunculan Sobron (ikan mas koki yang bisa bicara itu) membawa ingatan saya akan kartu-kartu remi yang hidup di novel tersebut. Setidaknya: ada semangat surealisme yang serupa.

Sementara di sisi lain, entah sebuah kebetulan atau memang sesuatu yang disengaja, alur pembuka Semusim ini juga memiliki kemiripan dengan novel Jostein yang lain, yaitu Dunia Sophie: di mana pada suatu hari seorang gadis remaja menerima sepucuk surat misterius. Jika di Dunia Sophie, sang gadis menerima sepucuk surat yang berisikan sebuah pertanyaan, “Siapa kamu?” sementara tokoh di Semusim menerima sepucuk surat dari seseorang yang mengaku sebagai ayahnya.

Adegan di rumah sakit jiwa juga mengingatkan saya pada novel Veronika Decides to Die karya Paulo Coelho, di mana sang tokoh utama diberi berbagai macam obat yang tak perlu hingga keadaannya justru semakin memburuk dan pada suatu ketika melihat pasien lain yang sedang disetrum oleh petugas.

Lalu, apa yang salah? Tidak ada. Saya cuma mau bilang, bahwa novel ini mengingatkan saya pada banyak hal, termasuk pada seorang kawan sekelas saya waktu SMA yang gemar menyendiri dan tak suka bergaul dengan banyak orang. Ketika itu, sementara gadis-gadis lain suka membaca majalah remaja semacam Aneka Yess! atau Kawanku, kawan perempuan saya itu lebih suka membaca majalah Misteri dan Liberty. Mungkin, dia memang tidak benar-benar memiliki masalah kejiwaan seperti tokoh ‘aku’ di novel Semusim, tapi setidaknya (saat itu) saya dan kawan-kawan yang lain menganggapnya begitu. Untuk itulah, mulai dari sekarang, saya (secara semena-mena dan tanpa persetujuan penulis) akan menyebut tokoh ‘aku’ dengan nama kawan saya itu: Nurul.

Tentu saja tindakan kurang ajar ini boleh digugat. Namun, saya terinspirasi sang tokoh ‘aku’ di novel Semusim yang gemar mengganti nama orang lain yang dirasanya kurang menarik atau menyematkan nama sesukanya ke orang yang tidak dia kenal. Lihat saja bagaimana dia menyebut ayahnya sebagai ‘Joe’, hanya karena nama sang ayah ternyata tidak sekeren yang dia bayangkan, sementara semua lelaki hebat dan keren yang diketahuinya (pasti) bernama Joe (hlm. 58). Juga, bagaimana dia menyebut seorang polisi wanita dengan nama ‘Maria’, karena perempuan itu memiliki wajah sedih seperti ibu yang anaknya disalib orang (hlm. 146). Toh, kata Barthes: ketika sebuah teks terlahir, maka sang pengarang sudah ‘mati’, bukan?

Secara garis besar, ide dasar novel Semusim ini terbilang sederhana: yaitu tentang kondisi kejiwaan seorang remaja perempuan yang tak pernah mengenal ayahnya sejak kecil. Namun, berkat kepiawaian penulis dalam bertutur dan memainkan alur, ide dasar yang sebenarnya sederhana itu menjelma sebuah kisah yang menarik dan lumayan menyenangkan untuk diikuti.

Diceritakan di novel Semusim, saat mempersiapkan diri untuk memulai kuliah di jurusan Sejarah di sebuah universitas swasta, Nurul menerima sebuah surat dari seseorang yang mengaku sebagai ayahnya. Memenuhi undangan sang ayah, dia meninggalkan rumah ibunya untuk kemudian tinggal di sebuah rumah yang dipersiapkan ayahnya di kota S. Di kota tersebut, Nurul bertemu sejumlah hal baru yang mengubah hidupnya, mulai dari jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seorang mahasiswa bernama Muara, hingga bertemu seekor ikan mas koki yang bisa bicara.

Secara asyik, Andina memasukkan fakta-fakta di dunia nyata yang jarang diketahui orang menjadi bagian dari isi cerita. Lihat saja halaman 24 yang membahas tentang larangan berambut gondrong bagi para lelaki yang pernah diberlakukan pemerintah Indonesia pada tahun ‘70-an. Juga, bagaimana Andina menyisipkan referensi tentang buku atau musik bagus di dalam kisahnya. Menurut saya, itu menyenangkan, tapi seperti hal-hal lain yang ada di dunia: tak ada kesenangan yang sempurna.

Novel dan pembacanya ibarat sepasang kekasih yang menjalin hubungan cinta. Dalam sebuah hubungan, satu atau dua kesalahan kecil tentu bisa dimaklumi dan bahkan dianggap sebagai semacam bumbu penyedap. Namun, jika kesalahan-kesalahan kecil itu muncul terlalu sering, tentu saja tak sehat untuk masa depan kedua belah pihak. Begitu juga yang terjadi ketika saya membaca novel Semusim ini.

Sebelum bicara lebih lanjut, mungkin perlu dijelaskan bahwa apa yang saya sampaikan sama sekali bukan didasari keinginan untuk mencari-cari kesalahan. Bahwa semua yang nanti akan saya kemukakan adalah murni apa yang saya temukan. Saya harap kita semua bisa bersepakat, bahwa mencari dan menemukan adalah dua proses yang sama sekali berbeda.

Di halaman 42, Andina menulis:

Satu hal paling lucu tentang orang dewasa adalah: kau bisa mengatakan hal paling konyol atau kebohongan paling musykil dan mereka tidak akan tertawa, bahkan memercayai apa yang kau katakan, selama kau bicara dengan gaya yang teramat meyakinkan.

Tokoh Nurul di novel ini mungkin benar, tapi sepertinya justru Andina yang lupa: bahwa yang memiliki sifat ‘lucu’ semacam itu sesungguhnya bukan hanya ‘orang dewasa’, tapi juga ‘pembaca’. Sebagai penulis, siapa pun punya hak mutlak untuk berbohong sesuka hati, asalkan ia tampil meyakinkan. Salah satu contoh penggambaran yang tidak meyakinkan adalah yang tertulis di halaman 43, di mana Nurul menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan JJ Henri, seorang karyawan sekaligus kawan dekat sang ayah:

Mobil yang dikendarai JJ Henri adalah Peugeot berwarna biru tua. Aku selalu suka mobil Peugeot karena mungil dan punya lampu depan seperti mata binatang, sehingga dengan plat mobil yang terletak di tengah-tengah bemper, ia seperti kumbang besar yang sedang nyengir.

Begini. Penulis kisah fiksi itu tak ubahnya tukang kibul. Ia boleh ngibul sesuka hati dengan menceritakan kisah yang paling absurd atau paling surealis, tapi (sekali lagi) intinya hanya satu: ia harus tetap meyakinkan, agar pembaca-pembacanya tersihir dan percaya dengan kibulannya. Sementara itu, yang saya temukan dalam kalimat-kalimat yang saya kutip tadi, tidak mencerminkan teori itu.

Sebagai produsen mobil, Peugeot berdiri sejak 1882 di Prancis. Sejak kelahirannya, tentu sudah berbagai jenis dan model mobil ini yang dilempar ke pasaran. Karena itu, jujur saja saya sedikit bingung: mobil Peugeot jenis apa yang sesungguhnya dikendarai JJ Henri—yang konon ‘mungil dan punya lampu depan seperti mata binatang’? Kebetulan saya bukan penggemar otomotif dan satu-satunya mobil Peugeot yang pernah saya tebengi adalah Peugeot 305 milik seorang kawan, yang menurut saya tidak lebih mungil jika dibanding mobil-mobil merek lain. Bahkan ketika saya nekat mencari-cari referensi di Google, ternyata saya tidak pernah menemukan alasan bahwa ‘sepasang lampu depan mobil Peugeot lebih tampak menyerupai mata binatang’ atau ‘lebih tampak seperti kumbang yang sedang nyengir’ dibanding mobil lain.

Tentu saja sebenarnya hal ini bisa diselamatkan andai Andina lebih detail dan spesifik dalam menyebut jenis dan tipe mobil yang dimaksud, atau memilih jenis mobil lain yang lebih memiliki karakter khas, seperti Cooper atau Morris yang memang berukuran mungil, atau Mercedes-Benz SLS AMG yang memiliki pintu layaknya sepasang sayap rajawali. Namun, tidak. Andina memilih mobil Peugeot berwarna biru tua. Itu saja.

Mungkin hal ini memang terdengar remeh dan sederhana. Namun, wajib diingat, bahwa tugas seorang penulis adalah terus-terusan memikat hati pembaca. Seorang pembaca punya kewenangan mutlak. Begitu dia merasa kecewa dan sadar sedang dikibuli dengan cara yang tidak meyakinkan, selalu terbuka kemungkinan dia akan menutup buku dan tak melanjutkan proses pembacaan. Padahal, kita sama-sama tahu, tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang penulis ketimbang sebuah karya yang tidak dibaca habis.

Menulislah buruk, lalu jadikan bagus saat proses penyuntingan. Saya pernah mendengar petuah ini dari seorang penulis handal (yang tidak saya ingat namanya). Jika kita pernah berusaha melahirkan sebuah karya tulisan, kita akan tahu bahwa ini adalah petuah yang sungguh bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ketika kita sudah berniat untuk melahirkan sebuah tulisan bagus sejak awal mulai menulis, hampir bisa dipastikan bahwa tulisan bagus yang kita gadang-gadang itu hanya akan berhenti di pikiran dan tak akan pernah tercipta. Sebaliknya, jika kita nekat menulis tanpa pernah benar-benar memikirkan baik atau buruk, tulisan itu akan sungguh-sungguh bisa dibaca (meski mungkin buruk) dan selanjutnya bisa diperbaiki menjadi tulisan bagus (dengan penyuntingan yang bisa saja dilakukan berkali-kali). Lalu, kapan sebuah proses penyuntingan itu harus dihentikan? Adalah saat segala sesuatunya sudah tampak sempurna dan tak ada lagi celah yang bisa membuat pembaca tak yakin akan kisah yang kita ceritakan.

Secara membabi buta saya menuduh bahwa Andina memiliki masalah dengan persoalan kapan seharusnya berhenti menyunting, hingga akhirnya hal-hal remeh yang seharusnya bisa diperbaiki hanya dengan menambahkan atau menghapus atau mengganti satu kata dengan kata lainnya, justru menjadi pengganggu yang tak perlu. Salah satu contohnya adalah yang tertulis di halaman 44:

Setelah meletakkan tas punggung di jok belakang dengan hati-hati, aku duduk di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman. JJ Henri memasukkan sekeping CD dalam stereo mobilnya. Sebentar kemudian terdengar alunan musik blues dan seorang kulit hitam menyanyi dengan nada memilukan:

Beberapa tahun lalu, sempat muncul kontroversi terkait metode aktivasi otak tengah, sebuah pelatihan berbiaya mahal yang dikhususkan bagi anak-anak kaum mampu. Dalam pelatihan yang belakangan terbukti penuh tipuan itu, anak-anak diajari teknik mencium warna: sebuah ilmu tingkat tinggi yang konon diadopsi dari kemampuan lumba-lumba (yang sebenarnya andaikan benar-benar bisa dipelajari manusia, tak pernah saya pahami apa fungsinya di kehidupan nyata). Dengan mata tertutup, sang anak yang sudah diaktifkan kemampuan otak tengahnya (yang konon secara medis, ‘otak tengah’ sendiri juga sekadar mitos) diharuskan bisa menyebutkan warna dari sebuah kertas yang ditempelkan di depan hidungnya. Dan rupanya, si Nurul di novel ini juga memiliki kemampuan yang kurang lebih sama: melihat suara. Dia bisa tahu apakah seorang penyanyi itu berkulit hitam atau tidak hitam hanya dengan mendengar suaranya. Mungkin saja hal ini bisa dibantah dengan pernyataan bahwa: mayoritas penyanyi blues adalah berkulit hitam atau orang kulit hitam punya karakter suara yang khas. Namun, tentu saja bantahan itu hanya sia-sia belaka.

Sebenarnya saya memiliki sekian catatan tentang hal remeh-temeh yang bisa saya permasalahkan di sini. Salah satunya adalah inkonsistensi kondisi sel di kantor polisi yang sempit berjeruji dan berisi sejumlah benda, termasuk di antaranya kasur tipis dan bantal yang belum-belum sudah menguarkan bau apak (hlm. 151). Sebuah kasur tipis, ditulis begitu. Namun, tanpa diduga, dalam penjelasan-penjelasan sesudahnya (salah satunya di hlm. 158), disebut bahwa di dalam sel itu ada sebuah dipan (benda yang tidak pernah ada dalam penjelasan sebelumnya).

Belum lagi perkara metafora yang terkadang terdengar berlebihan. Lihat saja yang tertulis di halaman 107:

Kepalaku berat dan mataku berkunang-kunang. Rasanya seperti ada rombongan gajah berlari-lari di dahiku.

Atau yang tertulis di halaman 116:

Kepalaku terasa sakit seperti ditusuk-tusuk dengan garpu panas.

Bahwa tak pernah ada batasan yang pasti terkait pemakaian metafora, itu benar. Dan mungkin banyak di antara kita yang pernah merasakan pening yang sungguh keterlaluan. Namun, menurut saya, dahi yang diinjak-injak sekumpulan gajah atau kepala yang ditusuk-tusuk dengan garpu panas sepertinya bukan perumpamaan yang tepat untuk kondisi sakit kepala (dan bahkan terdengar agak terlalu mengerikan). Namun, tentu saja saya tidak akan berlarut-larut dengan mengetengahkan kesalahan-kesalahan kecil semacam itu. Sekali lagi, saya tidak mau disebut-sebut sedang mencari-cari kesalahan orang lain: meski, jujur saja, saya sebenarnya mendapatkan sedikit kebahagiaan ketika melakukan itu.

Beruntung, kesalahan-kesalahan remeh itu diselamatkan dengan cara bertutur yang asyik. Andina sudah tidak memiliki masalah dengan hal teknik bercerita atau mengatur alur. Hal itu cukup membantu, membuat saya sebagai pembaca tak begitu menganggap serius kesalahan-kesalahan kecil yang sudah saya sebutkan tadi. Meski begitu, menurut saya ada satu lubang besar hingga agak sulit untuk ditambal dengan apa pun, yaitu penokohan sang tokoh utama sendiri.

Nurul di novel ini adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang sejak kecil memendam banyak tanda tanya di otaknya. Disebutkan bahwa dia adalah seseorang yang begitu ingin tahu tentang sejarah benda-benda dan awal mula segala sesuatu. Konon, ada sesuatu tentang sejarah yang selalu menarik minatnya (yang akhirnya membawanya untuk mendaftar ke jurusan Sejarah di sebuah universitas swasta). Ketika kecil, setiap kali menemukan benda-benda baru, maka yang akan muncul pertama di otaknya adalah: siapa yang pertama kali menemukan dan memberinya nama?

Seperti yang dia ungkapkan di halaman 10, bagaimana ketika dia berkenalan dengan benda bulat dengan gagang di pinggirnya dan bisa dipakai untuk minum (yang kemudian dia kenal sebagai gelas), maka yang muncul di otaknya adalah: siapa yang pertama kali memiliki ide untuk membuat gelas dan bagaimana ide itu datang? (Sekadar catatan: sebenarnya saya lebih mengenal alat minum yang disebut tadi, yang konon ada gagangnya itu, sebagai cangkir. Namun, sudahlah, mungkin Nurul dan saya memang dibesarkan dalam dua budaya yang sama sekali berbeda.) Juga, bagaimana Nurul kecil yang tak begitu berminat ketika diajak bermain petak umpet. Menurutnya petak umpet itu sia-sia semata, sebelum kita mengetahui siapa yang pertama kali memiliki ide tentang permainan tersebut.

Nah, di sinilah saya menemukan sebuah lubang yang agak mengganggu. Adalah sesuatu yang menarik bagi saya, ketika ada seseorang yang demikian kritis dan dipenuhi rasa ingin tahu tentang sejarah benda-benda dan awal mula segala sesuatu, tetapi di sisi lain justru abai terhadap sejarahnya sendiri. Di halaman 20 dikatakan:

Seumur hidup aku hanya tinggal bersama ibuku, berpura-pura bahwa kata ‘Ayah’, ‘Bapak’, dan sejenisnya tidak ada dalam kamus, dan aku merasa baik-baik saja.’

Seperti yang saya bilang, ini adalah sesuatu yang menarik (atau lebih tepatnya: janggal).

Descartes pernah bilang: cogito, ergo sum—aku berpikir, maka aku ada. Gagasan tentang aku-diri-ego itu jugalah yang melandasi ajaran Buddha tentang vipassanā, praktik menyadari pikiran untuk mencapai kondisi lepas dari penderitaan-annata-tanpa aku. Artinya adalah, bahwa sesungguhnya eksistensi diri itu berangkat dari pikiran. Segala sesuatu itu menjadi ‘ada’ ketika pikiran bergerak, dan sebaliknya: menjadi ‘tidak ada’ ketika pikiran berhenti. Ketika pikiran manusia mulai bergerak, maka yang kali pertama muncul adalah konsep ‘aku’—untuk kemudian membuat sebuah dinding tinggi yang membatasinya dengan ‘bukan aku’. Seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri, ‘aku’ yang lahir dari pikiran itu membuat sebuah pertanyaan pertama dan utama: siapa aku—dari mana kemunculanku? Hal ini bisa dibilang sebagai pikiran yang mempertanyakan pikiran. Untuk itulah, adalah sesuatu yang agak ganjil ketika tokoh Nurul bersedia repot-repot mempertanyakan sejarah benda-benda dan hal remeh yang ‘bukan aku’ semacam gelas dan permainan petak umpet, tetapi di lain sisi justru sama sekali tak mempertanyakan tentang ‘aku’: siapa sebenarnya ayahku, atau pertanyaan yang lebih besar: dari mana kemunculanku?

Apakah Nurul seorang religius atau tidak religius itu bukan sesuatu yang penting untuk dijawab. Yang jadi pertanyaan adalah: bagaimana bisa seorang Nurul yang terlahir dengan kapasitas otak berlebih untuk mempertanyakan asal muasal segala hal, justru sama sekali tidak mempertanyakan asal muasal tentang keberadaan dirinya sebagai manusia. Di halaman 187 hanya dijelaskan secara singkat, bagaimana Nurul cuma menggeleng ketika ditanya apa agamanya dan mengatakan bahwa ibunya tak pernah mengajarinya tentang Tuhan sehingga dia hanya belajar sendiri dari kitab suci. Tak ada penjelasan lebih lanjut tentang fase itu—tak ada bocoran kenapa dia akhirnya hanya percaya Tuhan kadang-kadang. Di titik inilah, saya merasakan suatu ketidakwajaran yang lumayan mengganggu.

Sejumlah pertanyaan yang sepertinya akan lebih baik jika dijawab ternyata juga dibiarkan mengambang begitu saja hingga akhir cerita. Alasan kenapa ayah dan ibu tokoh Nurul berpisah, misalnya. Atau berapa sebenarnya usia Nurul ketika Joe meninggalkannya? Tiga bulan atau 1,5 tahun? Lalu, apa hubungan novel ini dengan puisi Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang yang ditulis di sampul belakang?

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang novel ini, saya akan menjawabnya secara jujur: saya suka (meski sebenarnya tak pernah benar-benar membuat saya jatuh cinta). Ibarat sebuah bangunan rumah, novel ini dibuat dari bahan-bahan yang bermutu, dengan teknik pengerjaan yang mumpuni, dan desain yang indah. Namun, sayang, ada kekurangtelitian yang menyebabkan sejumlah paku masih menonjol di beberapa bagian sementara beberapa bagian lainnya justru lupa untuk dipaku. Cat yang kurang rata dan berlepotan juga tampak di beberapa sudut kamar, sementara ruangan utama yang seharusnya diberi jendela yang cukup lebar justru hanya diberi ventilasi kecil, hingga akhirnya agak terlalu gelap dan pengap. Namun, secara keseluruhan, rumah ini lumayan menyenangkan untuk dihuni. Sekarang masalahnya, tinggal bagaimana kita pintar-pintar memilih kawan serumah. Begitu saja.


Rawamangun, 29 September 2014

*Ditulis sebagai pemantik diskusi novel “Semusim, dan Semusim Lagi” karya Andina Dwifatma yang digelar oleh Para Penggerutu, Sarekat Pembenci Karya Buruk, dan Jumpa Lagi Book Club pada 30 September 2014.

'Antara Kopi, Jazz dan Dirimu' Live @ Solo Radio



Petikan cerita pendek 'Antara Kopi, Jazz dan Dirimu' yang dibacakan secara langsung dalam program Sora is On The Air di 92,9 FM Solo Radio edisi Sabtu, 1 Oktober 2011. Cerpen ini adalah salah satu cerita yang termuat dalam antologi 'Suluk Lintang Lanang' karya Setyo A. Saputro. Untuk menyimak perbincangan lengkap dalam program tersebut silahkan kunjungi http://www.wix.com/lintanglanang/suluk#!audio-visual.




TELAH TERBIT !!!



Buku antologi cerpen 'Suluk Lintang Lanang' karya Setyo A. Saputro. Memuat 24 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu antara 2006-2011.

Judul : Suluk Lintang Lanang
Penulis : Setyo A. Saputro
Penerbit : Indie Book Corner
ISBN : 978-602-9149-36-4
Tata Letak Isi : Retno Sayekti Lawu
Foto Cover : Dony Alfan
Ukuran Buku : 13 x 19 cm
Tebal : 154 (viii + 147) halaman
Harga : Rp 40.000 (+ ongkos kirim)

Cara pemesanan:
1. Transfer biaya ke Rekening Bank Permata No. 121 637 07 47 a/n Setyo Andi Saputro
2. Kirim bukti transfer, alamat pengiriman dan nomer HP ke lintang_lanang@yahoo.co.id

website:
http://www.wix.com/lintanglanang/suluk

Fan Page FB:
http://www.facebook.com/pages/Suluk-Lintang-Lanang/202119909844961


*Download tarif pengiriman via TIKI-JNE di sini

Segera Terbit...




Belajar Pesimis dari Muhammad

Selesai?? Anjing!! Melengking. Serapah menyumpah. Dan jaripun kembali mencari. Mata menyusur. Siapa tahu ada yang terlewati. Halaman depan, tengah, belakang. Nol besar. Memang tak ada. Cerita tentang Kashva memang cuma segitu adanya. Gila!!

Begitulah akhir cerita. Novel Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan yang hari-hari belakangan menemani saya, akhirnya selesai terbaca. Cuma satu kata yang ada: Kecewa. Ceritanya jelek? Sseorang kawan bertanya. Bukan. Lalu kenapa? Tak selesai. Tak usai.

Jadi begini. Secara garis besar, novel ini bercerita tentang (sepenggal) perjalanan hidup Sang Nabi ketika awal kelahiran Islam. Namun selain itu, Tasaro GK, sang pengarang, juga meramunya dengan kisah perjalanan Kashva, seorang cendekiawan muda Persia yang tertarik dengan ramalan kitab-kitab kuno tentang kedatangan nabi baru. Kashva adalah seorang intelektual yang berpikiran terbuka. Meski dia seorang pengikut Zardusht, dia sangat-sangat terbuka dengan agama-agama lain. ‘Mengetahui bagaimana agama-agama lain menerjemahkan bahasa Tuhan adalah sebuah proses yang mengasah otakmu, tidak selalu harus berakhir dengan pertukaran keimananmu’, kalimat-kalimat indah semacam inilah yang berserak di lembar-lembar novel ini.

Menurut saya pribadi, kisah Kashva-lah yang membuat novel ini jauh dari membosankan. Cerita nabi kalah menarik? Bukan begitu. Cuma kan kalo kisah nabi kita secara garis besar sudah tau sedikit kronologinya. Termasuk gimana ending dari Perang Badar, Perang Uhud, takluknya Madinah, dsb. Tapi kalo Kashva? Dia murni fiksi. Petualangannya meninggalkan Kuil Sistan di Persia, lalu tinggal di Gathas, lari ke perbatasan lalu mendaki menuju Tibet, menjadi tamasya imajinasi yang sungguh menyenangkan. Ditambah lagi dengan kalimat-kalimat puitis yang syahdu, cerita tentang pencarian dan ‘Sang Tercari’ ini menjadi sesuatu yang (pada awalnya saya kira) sempurna.

Bagaimana tidak, di tiap-tiap halaman kita akan dituntun untuk menyusuri ramalan kitab-kitab kuno tentang kedatangan nabi baru. Seorang Maitreya , begitu yang ada di ajaran Budha. Astvat-ereta, kitab Zardusht menyebut-nyebutnya. Juga yang di Kuntab Sukt disebut Mamah Rishi. Dia, yang juga sering diagung-agungkan Yohanes Pembabtis. Dia. Sang Himada. (Lalu apakah benar yang disebut-sebut dalam kitab-kitab ini adalah Muhammad? Wallahu’alam. Ini hubungannya dengan iman. Dan seperti halnya cinta, iman jarang-jarang butuh penjelasan)

Romantisme kisah cinta Kashva & Astu juga bumbu penyedap yang tak boleh diabaikan. Dimana mereka adalah korban-korban kondisi yang tak memungkinkan prosesi penyatuan adalah kisah tragis abadi yang tak habis-habis untuk selalu dieksplorasi.
‘Karena kupikir jika engkau bahagia, aku bisa rela’
Astu menoleh, rambutnya berkibaran. Wajahnya seperti puisi, 'Jadi, kau tidak pernah rela?'
'Aku sanggup hidup tanpa dirimu, bukan tanpa kenangan tentangmu.', jawab Kashva. Demikian Tasaro menceritakan cinta mereka. Romantis yang puitis. Namun tidak terjebak dalam kecengengan yang mendayu-dayu.

Tapi rupanya ekspektasi saya terlalu berlebihan. Saya terlalu berharap banyak terhadap novel ini. Dan endingnya ya itu tadi, serapah saya melengking ketika membaca kata ‘selesai’ di bagian belakang buku. Bukan apa-apa, saya cuma tak percaya saja. Bagaimana mungkin cerita yang belum selesai dipotong begitu saja?

Kisah Muhammad memang sudah usai. Madinah berhasil dikuasai. Tapi Kashva? Dia baru sampai di kaki Gunung Kailash, Tibet. Tak ada jawaban tentang siapa sebenarnya Biksu Tashidelek. Tak ada penjelasan tentang hubungan antara Mashya, pengawal Kashva, dengan Salman Al Farisi, pengikut sang nabi, yang sempat disinggung di halaman 182. Tak ada jawaban pasti tentang nasib Astu, Parkhida, dan penduduk Gathas. Juga kepastian nasib para penduduk perbatasan yang mereka tinggalkan dalam pertempuran. Dan semua itu cuma dijawab dengan adegan 'kebetulan', dimana tiba-tiba saja mereka bertemu Biksu Gyatso yang suka mengembara, dan ‘kebetulan’ baru saja kembali dari Persia. Karena itu dia bisa tahu bahwa kekuasaan Khosrou sudah tumbang, begitu juga nasib penduduk perbatasan, ‘hampir tak bersisa’, begitu katanya. Tak ada kelanjutan perjalanan Kashva. Cuma ada penutup seperti ini:

‘Menjelang petang, hari itu, rombongan Kashva berjalan lagi membelakangi arah terbitnya matahari. Ada perbedaan yang mencolok dibanding sebelum-sebelumnya. Kashva berjalan tegap dengan sorot mata yang misterius, dingin, dan berkuasa. Di depannya Vakhshur menjadi penunjuk arah yang teliti. Melihat tanda-tanda alam dan tak banyak bicara. Mashya kembali menjadi siapa dia yang dikenal orang-orang sebelumnya. Diam seribu bahasa. Menggendong Xerxes dalam kepatuhan seorang budak. Bedanya, kepala raksasanya menunduk. Seperti tengah menghitung pasir.
Matahari mencari jalan untuk pulang.’

Cuma itu. Cuma sampai di situ. Tak ada cerita tentang perjalanan mereka setelahnya. Tiba-tiba saja Kashva sudah berbincang dengan Elyas, sahabatnya, di pinggiran kota Madinah 8 tahun setelah Muhammad wafat. Tak ada cerita ketika rombongan Kashva di Cina (yang harusnya mereka lalui jika merujuk pada ‘Peta Perjalanan Jalur Kashva’ yang ada di halaman terakhir novel). Tak ada kelanjutan kisah Xerxes, bocah berpipi tembam, putra Astu yang dititipkan kepada Kashva. Juga Vakhshur, bocah kecil jago perang putra salah seorang penduduk perbatasan yang juga ikut dalam rombongannya. Begitu juga Mashya. Semuanya berhenti tak sempurna.

Tapi bagaimanapun, tak mungkin kita tak mendapatkan apa-apa dari apa yang kita lakukan. Selesai membaca novel ini, setidaknya saya mendapat satu pelajaran yang lumayan berharga. ‘Jangan terlalu berharap banyak terhadap akhir dari segala sesuatu’. Buku ini mengajari saya bagaimana caranya menjadi pesimis dengan cara yang sungguh-sungguh tidak manis.


***



Casablanca, 6 Agustus 2010

Hidup Ini Keras Maka Gebuglah !

Ipung. Bagi orang lain, kata ini mungkin tidak bermakna apa-apa. Tapi bagi saya, selalu saja mengingatkan akan sesuatu. Sesuatu yang sedikit banyak pernah membantu, ketika saya masih meraba-raba dalam proses pencarian (Apakah berarti saat ini saya sudah di dalam proses pertemuan? Sepertinya tidak juga :)

Ipung adalah sebuah judul novel karya budayawan asal Semarang, Prie GS. Buku bersampul hitam tersebut, saya pinjam (secara permanen) dari perpustakaan SMA saya beberapa tahun yang lampau. Berawal dari sebuah latihan teater di perpustakaan sekolah, yang berujung pada sebuah proses peminjaman (secara permanen) sebuah buku.

Dalam buku tersebut, diceritakan keberadaan tokoh bernama Ipung. Seorang remaja ‘kampungan’ asal Kepatihan, Solo. Namun berkat nasib baik (yang tentu saja tak seketika turun dari langit), dia terdampar di sebuah SMA favorit di kota Semarang. SMA Budi Luhur. Sebuah tempat, yang sebelumnya terdengar begitu keramat dan harus disebut dengan khidmat.

Pokok cerita dalam buku tersebut, sebenarnya tak ubahnya sebuah cerita remaja biasa. Yang dijejali dengan humor khas anak muda, sekaligus juga kisah cinta. Namun, kepiawaian Mas Prie dalam merangkai kata, telah berhasil membuat tema sederhana tersebut menjadi sesuatu yang berwibawa. Hingga jalinan cerita, tak sekedar bicara tentang canda dan cinta (Sebagai perbandingan ketika itu, adalah novel Lupus karya Hilman Hariwijaya).

Bahkan sampai sekarang, saya masih ingat benar sebagian kalimat-kalimat sakti yang tertulis di dalamnya. Yang secara tidak langsung, telah menjadi pelajaran pertama saya tentang ‘filsafat’. ‘Hidup bukanlah rangkaian kemustahilan – Masih banyak masalah yang lebih rumit daripada sekedar wanita – Tak semua cabang hidup harus kita menangkan – dan (seperti yang saya kutip sebagai judul di atas) Hidup ini keras maka gebuglah- adalah beberapa kalimat yang sampai saat ini masih melekat di benak saya. Bahkan mungkin bisa dikatakan, masih saya jadikan ‘pegangan’ sampai sekarang.

Apa sebenarnya yang membuat buku itu terlihat menarik (di mata saya)? Saya sendiri tak cukup memahami. Namun sepertinya, latar belakang budaya yang dijadikan setting cerita-lah, yang membuat cerita ini terlihat begitu ‘merakyat’. Bagaimanapun, Solo dan Semarang bukanlah tempat yang asing bagi saya. Dan (sepertinya), faktor inilah yang menjadikan saya merasa dekat dengan keberadaan Ipung.

Setelah merampungkan pembacaan novel tersebut, saya berusaha keras untuk mencari buku keduanya. Karena memang di sampul buku terbitan tahun 1995 tersebut, tertulis ‘Buku 1’. Namun semakin keras usaha saya untuk mencari, semakin jauh usaha saya menemukan keberhasilan. Perpustakaan sekolah sudah saya lucuti. Toko buku saya sambangi. Tapi hasilnya? Nihil. Nol besar. Hingga ketika itu, saya sempat berburuk sangka, ‘Jangan-jangan, buku 2 Ipung memang tak benar-benar ada’.

Namun bagaimanapun, hal tersebut tak mengurangi rasa hormat saya terhadap Mas Prie. Sosok yang membidani kelahiran tokoh Ipung. Seorang remaja miskin, yang dengan bangganya (dan gilanya) justru menikmati kemiskinannya. Ketika itu, saya sempat berandai-andai, bahwa tokoh Ipung memang benar-benar ada. Dan tentu saja, dengan senang hati saya bersedia menjadi salah seorang sahabatnya. Selain itu, saya juga berandai-andai, ‘andaikan saya bisa melihat (sekedar melihat) orang ‘cerdas’ yang berada di belakang proses penciptaannya’. Seseorang yang bagi saya (ketika itu), sama sekali tak tersentuh. Begitu jauh.

Hingga akhirnya, setelah sekian tahun terlewati, sebuah ‘keajaiban’ terjadi. Di sebuah toko buku, saya melihat sebuah buku bersampul agak ‘rame’ bertuliskan ‘ipung’. Ditambah tulisan ‘Prie GS’ tercetak di bawahnya. Sejenak hati saya berdesir. Jangan-jangan, ini adalah buku yang dulu sempat saya cari-cari. Buku yang berisi kelanjutan cinta segitiga, antara Ipung, Paulin, dan Surtini. Dan baru ketika saya membaca cover belakangnya, saya mendapatkan jawabannya. ‘Bukan’. Ini bukan buku kedua Ipung. Tapi, ini adalah buku Ipung versi baru. Dimana cerita yang dulu pernah saya ikuti, lebih dikembangkan lagi.

Namun karena keterbatasan budget, buku tersebut belum jadi saya miliki. Tapi setidaknya, judulnya sudah saya tulis sebagai salah satu kemungkinan anggaran pengeluaran bulan depan. Namun hal tersebut, sudah cukup membuat saya sedikit gembira. Dimana, saya merasa akan segera bisa mengetahui lanjutan kisah kehidupan Ipung.

Namun belum sempat buku tersebut saya miliki, ‘keajaiban’ lain kembali terjadi. Saya ‘melihat’ Prie GS. Ketika itu, dia ‘berorasi’ di acara pentas ulang tahun Teater Lingkar. Namun keberadaan antara saya dan dia, tak lebih dari sebuah subyek dan obyek. Saya penonton. Sementara dia, bertindak sebagai pengisi acara. Dan kondisi, masih tetap sama. Tetap masih tak tersentuh. Namun setidaknya, keinginan saya beberapa tahun lampau sudah terpenuhi. Saya, sudah ‘melihat’nya.

Namun (meminjam kalimat di novel Ipung) kehidupan sepertinya memang bukan rangkaian kemustahilan. Karena beberapa waktu sedudahnya, saya tidak hanya sekedar bisa ‘melihat’. Saya justru berkesempatan mengobrol dengan dia. Dimana tugas kantor, mengharuskan saya ikut menemani kawan saya interview dengan Mas Prie. Dan (lebih ajaibnya), tema interviewnya, adalah Ipung. Kejadian ini, sedikit banyak membuat saya merasa pesimis, akan keberadaan kosakata ‘kebetulan’.

Terang saja, kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan, untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan saya beberapa tahun lalu. ‘Sebenarnya buku 2 Ipung itu ada atau tidak?’. Sebuah pertanyaan, yang hanya dijawab Mas Prie dengan senyuman. Sebuah senyuman, yang langsung membuat rasa penasaran hilang. Ipung 2, memang tak pernah benar-benar ada.

Obrolan berjalan cukup normal. Mas Prie menjelaskan segala seluk beluk proses kelahiran Ipung. Mulai dari visi, misi, dan tujuan ‘kehidupan’nya. Pun juga, segala macam hal yang ada di balik penciptaannya. Bagi Mas Prie, Ipung tak ubahnya Monalisa-nya Da Vinci. Berburu Celeng-nya Joko Pekik. Atau Aku Ingin-nya Sapardi. Ipung adalah masterpiece bagi Prie GS. Dan menurutnya, saat ini adalah waktu untuk menseriusi pengelolaan keberadaan Ipung. Dengan kata lain, sebelumnya eksistensi Ipung memang belum begitu serius ‘dipelihara’.

Mas Prie sekali lagi hanya tersenyum ketika ditanya soal judul novel baru-nya. Ipung Novel Motivasi Pembangkit Kepercayaan Diri. Padahal di edisi yang lama, judulnya tertulis Ipung Hidup Ini Keras Maka Gebuglah ! Menurut Mas Prie, itu hanyalah strategi jualan. Yang ternyata, cukup berhasil. Itu hanyalah usulan dari penerbit. Dan menurutnya, apapun yang bisa membuat bukunya laku (yang berarti akan membuatnya lebih kaya), Mas Prie setuju-setuju saja. ‘Berarti idealisme seorang Prie GS dipertaruhkan?’ Dengan senyum yang khas dibalik kumisnya (yang juga khas), Mas Prie menjawab. “Idealisme tak harus selalu berjauhan dengan uang. Idealisme yang berjauhan dengan uang adalah idealisme yang bodoh’. Sebuah jawaban yang sempat membuat saya terhenyak. Namun bagaimanapun, hak saya memang cukup hanya terhenyak. Tak lebih dari itu. Karena ketika berbicara tentang ‘prinsip’, alangkah lebih baiknya jika kita lebih berhati-hati. Bukan apa-apa. Hanya sekedar menghindari konfrontasi. Jadi, meskipun saya (sepertinya) agak kurang setuju dengan pendapatnya, saya hanya diam saja. (Sebenarnya dalam hati saya bertanya-tanya. Apakah ini berarti bagi Mas Prie dunia sudah cukup ‘melunak’? Sehingga tak perlu lagi ‘digebug’? Entahlah.)

Hingga (akhirnya), setelah beberapa waktu sehabis obrolan siang itu, saya berkesempatan membaca Ipung versi baru. Buku ini, saya dapatkan dari meminjam (tidak secara permanen) dari salah seorang kawan. Yang telah berbaik budi, bersedia meminjamkannya kepada saya.

Awal cerita dalam buku ini, sama persis dengan buku versi yang terdahulu. Namun, tentu saja dengan beberapa penyesuaian. Diantaranya, kamar Paulin yang berhiaskan poster Ahmad Dhani (sosok yang tentunya belum begitu ‘wah’ ketika edisi pertama terbit), lalu keberadaan benda bernama telepon genggam, dan juga berita via telegram yang diganti dengan telepon. Tentu saja, semua hal itu bisa dimaklumi. Karena memang jaman sama sekali sudah berubah. Akan terlihat janggal jika (di hari ini) Ipung menerima kabar kecelakaan ibunya dari Lik Wur, melalui secarik telegram. Hanya saja, yang membuat saya sedikit heran, kalimat ‘Hidup Ini Keras Maka Gebuglah’, tak saya temukan sama sekali di buku ini. Tidak hanya ‘tidak tercetak di sampul’. Namun, juga tidak di keseluruhan cerita. Padahal, kalimat tersebut dalam edisi terdahulu mendapat kehormatan sebagai ‘sub judul’.

Satu hal yang membuat buku Ipung (baru) ini terlihat cukup istimewa. Yaitu, keberadaan special prolog dari Habiburrahman El Shirazy (atau biasa dipanggil Mang Abik). Sang penulis mega bestseller Ayat-Ayat Cinta. (Namun menurut saya, gelar ‘Novelis No.1 Indonesia’ yang tertulis di buku ini, agak terdengar lucu. Agak (sedikit) tidak elegan :) Keberadaan Mang Abik di sini tentu tak begitu mengherankan. Dimana Mas Prie dan Mang Abik, memang seperti kakak adik (ini menurut penuturan Mas Prie). Saat ini, keduanya (ditambah Anif Sirsaeba) terlibat dalam pendirian Pesantren Karya dan Wirausaha BASMALA INDONESIA. Sebuah pesantren unik yang fokus terhadap mahasiswa yang berminat dalam bidang tulis menulis dan kewirausahaan (saya mendapatkan informasi ini di lembaran terakhir buku Ipung :)

Yang (menurut saya) mengherankan, adalah sebagian isi prolog dari Mang Abik (Yang karena bernama prolog, tentu diletakkan di depan. Jika di belakang namanya epilog). Di sana, Mang Abik secara terang-terangan menghimbau kepada Mas Prie, alangkah lebih baiknya jika Ipung ditampilkan ‘lebih islami’. Bahkan jika perlu, secepatnya Ipung mengakhiri masa pacarannya. Dalam artian, segera ‘menikah’. Karena bagaimanapun, menurut Mang Abik, pacaran dilarang dalam islam. Mang Abik merasa khawatir, jika terlalu banyak bumbu-bumbu tentang pacaran dan juga ciuman (yang tampak biasa di lingkungan remaja), justru membuat novel Ipung tak ubahnya sebuah novel remaja biasa.

Terus terang usulan ini terdengar agak janggal bagi saya. Karena (sepengetahuan saya), sejak dulu Ipung memang ditampilkan secara ‘sekuler’. Dalam artian, meski dekat dengan ajaran norma-norma kehidupan, sisi religi Ipung (seingat saya) tak pernah disinggung. Ipung tak pernah sekalipun ditampilkan sedang melakukan ritual-ritual atau kegiatan yang agamis. Jadi kesimpulan saya, ide ini terdengar sedikit mengada-ada.

Namun ketika saya menyelesaikan proses pembacaan Ipung versi baru, baru saya menyadari. Bahwa ide yang menurut saya mengada-ada, ternyata (justru sudah) direalisasikan oleh Mas Prie. Ipung terlihat islami. Bahkan terlalu islami. Hingga Paulin (yang menurut buku ini sebelumya demikian sekuler), mulai tertarik kepada islam. Pun juga kedua orang tua Paulin (yang dalam cerita ini) adalah para pekerja keras, dimana dalam kehidupan mereka sama sekali tak ada waktu untuk berbicara tentang tuhan, selain hanya mengejar kekayaan). Sungguh luar biasa. Ending yang sama sekali tak pernah saya duga. Padahal, di halaman 145 tertulis :

‘Ipung Bergidik. Dan ia tak berani membayangkan, sanggupkah nanti ia memikul rasa berdosanya pada Rajab. Kali ini, Ipung terpaksa berdoa’

Bayangkan! Berdoa saja, Ipung ‘terpaksa’. Dari kalimat ini, terlihat bahwa sosok Ipung (sebenarnya) bukanlah seseorang yang lekat dengan dunia religi. Hal ini, tentu saja bukan langsung berarti bahwa Ipung adalah seorang atheis. Namun setidaknya, hal ini bisa diartikan, bahwa Ipung (sebetulnya) sama sekali tak ‘berbakat’ (ditampilkan) agamis. Namun di luar dugaan, dengan gesitnya Mas Prie memberikan sebuah hentakan di akhir cerita. Dimana diceritakan, seorang Ipung yang ‘tiba-tiba’ menjadi demikian islami. (Sekali lagi) agak mengherankan.

Seketika hati saya bertanya-tanya. Ada apa ini? Apakah ini dikarenakan Mas Prie yang sudah semakin ‘kyai’ :), hingga merasa harus menyisipkan pesan-pesan moral dalam bungkus agama? Ataukah ini atas usulan sang sahabat, Mang Abik? Tentu saja saya tak cukup punya keberanian untuk berspekulasi. Hanya (terus terang), ada satu hal yang saya khawatirkan. Dimana Mas Prie berencana membuat cerita Ipung ini menjadi trilogy. Saya khawatir, jika ending kisah ini akan tak jauh beda dengan Ayat-Ayat Cinta. Dimana poligami, diambil sebagai sebuah materi pelajaran tentang cinta. Tentu saja dugaan saya ini bukan sekedar dakwaan membabi buta. Karena di lembar-lembar terakhir, saya membaca sedikit indikasi menuju kesana. Dimana diantara Paulin dan Surtini, sama-sama menginginkan Ipung. Dan diantara keduanya, tidak begitu terlihat adanya api permusuhan karena saingan, namun justru memelihara sikap saling menghormati. (Mohon maaf untuk Mas Prie jika saya kurang ajar, karena telah menerka-nerka cerita yang; mungkin; belum jadi. Saya tidak bermaksud mengintervensi. Sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya )

Namun bagaimanapun, saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah seorang pembaca biasa. Segala hal tentang Ipung, adalah hak seorang Prie GS. Ending apapun yang akan Mas Prie tentukan, adalah hak seorang Prie GS pribadi. Tidak ada seorangpun yang berhak untuk mengintervensinya. Termasuk juga, saya :) Jadi andaikan Mas Prie memang membuat Ipung berpoligami, saya hanya berharap, bahwa itu adalah ide Mas Prie sendiri. Hanya saja (menurut saya), apakah hal itu justru tidak membuat Ipung tak jauh beda dengan novel-novel remaja (islami) lainnya. Yang akhir-akhir ini banyak kita jumpai, berjejalan di rak-rak toko buku?

Namun sudahlah. Keberadaan tulisan ini hanyalah sekedar pendapat pribadi. Yang (sekali lagi), tidak bermaksud mengintervensi. Hanya terus terang, ada beberapa hal yang bagi saya menjadi sebuah ganjalan. Diantaranya, adalah kesalahan ejaan yang tidak begitu diperhatikan. Memang, sebenarnya tidak terlalu signifikan. Keseluruhan cerita tetap masih bisa dinikmati. Namun menurut saya, untuk sebuah karya yang dilempar ke khalayak, alangkah lebih baiknya jika hal-hal kecil seperti ini lebih diperhatikan.

Satu hal lagi yang juga menjadi sebuah ganjalan. Yaitu keberadaan kotak-kotak kecil yang bertebaran di dalam buku. Kotak-kotak ini, berisi kalimat-kalimat bijak yang merupakan nukilan dari cerita. Bagi saya, keberadaan ‘aporisma’ semacam ini justru seperti bentuk ‘penghinaan’ kepada pembaca. Seakan, seorang pembaca tak bisa menangkap pesan yang tersirat dari sebuah cerita. Hingga harus tersurat dengan digarisbawahi seperti ini. Hal ini mengingatkan saya akan pementasan teater tradisional asal Jawa Timur. Yaitu, ludruk.

Dimana dalam pementasan ludruk, setiap di akhir cerita, seorang pemain akan mengatakan secara langsung, pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan. Lalu apakah ‘adopsi’ sistem ini dalam Ipung memang dimaksudkan sebagai ‘penghinaan’ seperti yang saya tuduhkan? Atau jangan-jangan, hal itu didasari niat mulia untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada? Dalam artian, menyesuaikan diri dengan ‘kemampuan’ olah pikir pembaca Indonesia yang (mungkin) dianggap ‘agak sedikit kurang’? Entahlah. Sekali lagi, entahlah. Saya juga kurang memahami. Namun bagaimanapun, keberadaan Ipung tetap (amat layak) untuk dihargai. Dimana kehidupan ‘perbukuan’ (khususnya novel remaja) negeri kita, didominasi cerita-cerita cinta irrasional yang jauh dari realita. Sekali lagi, keberadaan buku ini ‘amat layak’ untuk dihargai.

Dan untuk ke depan, (secara pribadi) saya akan tetap menantikan keberadaan kisah-kisah Ipung selanjutnya. Entah bagaimana alur ceritanya, dan juga apapun endingnya.

Salam…


*Matur sembah nuwun dumatheng Mas Prie GS

Rahasia Meede ;Menyusun Kembali Mata Rantai Yang Terputuskan

Bagi sebagian orang, sejarah mungkin tak lebih dari serpihan-serpihan kenangan yang tersembunyi dalam sebuah ruang tersendiri. Sebuah ruang yang terasing. Yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang terjadi hari ini. Bahkan mungkin ada, pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja memutus mata rantai yang harusnya saling berkait itu. Dengan sebuah motivasi, yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh para pelakunya sendiri.

Sebagai contoh, lihat saja perjalanan dunia arsitektur di negeri ini. Coba anda sempatkan untuk sekali-kali menyusup di sesela bangunan-bangunan tua di kota lama. Dan pasti, akan kita temukan sebuah kejanggalan. Gaya arsitektur belanda; negeri yang menjajah bangsa ini selama 350 tahun; tak lebih dari sekedar mata rantai yang terputus (atau terputuskan?). Para arsitek angkatan pasca kemerdekaan, rupanya memang tak bersedia menanggung sebah beban sejarah. Dalam artian, mereka berusaha mencari (atau menciptakan) sebuah jati diri; sebagai sebuah bangsa yang baru saja merdeka; dengan tidak bersedia mengadopsi apa yang ditinggalkan oleh bangsa yang pernah menjajah negerinya. Karakter bangunan-bangunan yang mereka ciptakan; sebisa mungkin; jangan sampai mencerminkan sebuah bangsa bekas koloni. Begitulah. Sebuah sejarah yang terkadang harus ‘ditinggalkan dan dilupakan’, karena didasari rasa muak yang lahir dari nasionalisme yang meledak-ledak.

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi E.S ITO. Seorang penulis ‘misterius’, yang melahirkan karya yang (menurut saya) sangat luar biasa. Kenapa ‘misterius’? Karena, sementara banyak penulis kita yang menghabiskan berlembar-lembar halaman di akhir bukunya, untuk membariskan karya-karya apa saja yang pernah mereka buat, E.S ITO justru melakukan yang sebaliknya. Dalam halaman Tentang Penulis, di bukunya Rahasia Meede; Misteri Harta Karun VOC, dia hanya menuliskan sebuah kalimat sederhana. ‘E.S ITO Lahir pada seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya adalah seorang petani, bapaknya adalah seorang pedagang’. Sebuah kalimat yang sangat simple. Bahkan terlalu simple.

Merasa tak mendapat informasi yang cukup dari penjelasan ini, saya pun mencoba googling untuk mengorek sedikit informasi lain tentangnya. Dan hasilnya? Nihil. Dalam blog dan website Rahasia Meede-pun ternyata tak jauh beda. Hanya penjelasan simple yang sama persis dengan yang tertulis di bukunya. Namun, secara tak sengaja saya mendapatkan kutipan interview salah satu media (?) yang berhasil menemuinya. Mengenai identitasnya yang seakan disembunyikan, dia mempunyai sebuah jawaban sederhana yang ‘sangat menarik’. Bunyinya (kira-kira) seperti ini : ‘Saya bukan seorang penulis murahan. Deretan CV itu hanya buat para pencari kerja’. Sebuah kalimat yang cukup telak. Dimana; seperti yang sudah saya katakan tadi; demikian banyak penulis kita saat ini, yang begitu membanggakan karya-karya mereka. Hingga harus selalu disebutkan satu persatu, dalam tiap-tiap karya barunya.

Entahlah. Apakah sikap E.S ITO itu masuk dalam kategori sombong, atau justru rendah hati. Namun kategori apapun, sepertinya memang bukan sebuah masalah. Bahkan andaikan dia memang ‘sombong’, saya rasa dia pantas mendapat sebuah permakluman. Karena dia memang punya ‘sesuatu’ yang pantas untuk disombongkan. Bagi anda, mungkin hal ini agak sulit diterima. Tapi anda pasti akan mendapatkan jawabannya, jika anda menyempatkan diri untuk membaca buku tersebut.

Rahasia Meede adalah karya E.S ITO yang kedua. Setelah sebelumnya, dia menulis Negara Kelima. Rahasia Meede, menceritakan tentang sebuah konspirasi tingkat tinggi untuk menyingkap sebuah tabir rahasia, di kota Jakarta. Bagi anda pembaca karya-karya Dan Brown, mungkin akan mendapatkan sedikit kemiripan dalam metode penceritaan. Hanya kemiripan. Bukan kesamaan.

Diceritakan, sebuah terowongan tua ditemukan di perut bumi Jakarta. Terowongan ini, diyakini menuju tempat persembunyian harta karun VOC. Ditambah lagi, kasus pembunuhan berantai yang menimpa orang-orang penting negeri ini. Mayat-mayat mereka, ditemukan di tempat-tempat yang berawalan huruf B. Setiap pembunuhan, selalu disertai sebuah pesan aneh. Yang berupa Tujuh Dosa Sosial, yang pernah dicetuskan Mahatma Gandhi.

Lalu keberadaan kelompok yang menamakan dirinya Anarki Nusantara. Sebuah kelompok rahasia yang eksistensinya benar-benar tak teridentifikasi. Kelompok ini tidak mempercayai kedaulatan Indonesia. Bagi mereka, anarki adalah satu-satunya cara untuk membawa negeri ini menuju sesuatu yang lebih baik. Mereka, menginginkan kehidupan yang tidak terikat hierarki. Bukan kanan. Tapi juga anti kiri. Mereka menyebutnya, anarki.

Hal ini masih ditambah lagi dengan konflik pribadi antar tokoh-tokohnya. Dimana sepasang sahabat, harus menempuh jalan hidup yang saling bertentangan. Dan karenanya, mereka harus saling berbenturan. Keduanya adalah sahabat karib sejak bersekolah di SMA Nusantara. Namun perjalanan waktu, ternyata menjadikan masing-masing dari mereka menjadi dua sosok yang sama sekali berbeda. Salah satu diantaranya mengabdikan diri kepada Negara., dengan menjadi seorang prajurit Sandi Yudha (Kopassus TNI AD). Sementara yang satu, memimpikan sebuah dunia tanpa hierarki bernama anarki.

Alur yang dimain-mainkan dengan liarnya (hingga berhasil memancing rasa penasaran tak berkesudahan), ditambah gaya penceritaan yang begitu detail, dengan pemilihan diksi yang tepat, membuat buku ini sulit diletakkan sejak saya membuka halaman pertama. Belum lagi ditambah informasi-informasi sederhana dan kehadiran fakta-fakta yang selama ini luput dari perhatian kita. Tentang rahasia masa lalu Jakarta, tato Mentawai, pasukan Kakehan, budaya Batak, rahasia operasi Kopassus, SMA Taruna Nusantara, dan lain-lainnya, semuanya dijalin sedemikian rupa menjadi sesuatu yang teramat menarik. Menjadi sebuah cerita, yang (sedikit banyak) bisa ‘mengingatkan’ bahwa kita bernafas di negeri bernama Indonesia.

Mungkin benar apa yang disampaikan M. Fadjroel Rahman, seperti yang tertulis di sampul buku ini. Bahwa Pramodya Ananta Toer muda, telah lahir. Terdengar berlebihan? Mungkin saja. Karena bagaimanapun, dalam hal tulis menulis, Pram masih terlalu digdaya diperbandingkan dengan siapa saja di negeri ini. Namun, menurut saya ucapan Fadjroel hanya ingin memberi sebuah gambaran. Bahwa buku ini, mempunyai tipikalitas yang nyaris mirip dengan karya-karya Pram. Dimana disini, bercerita tentang keberadaan kaum marjinal, berteriak tentang kebebasan yang harus diperjuangkan, dan dipermainkan dengan latar belakang sejarah yang dikelilingi fakta-fakta yang memang benar-benar ada. Hal-hal yang biasa kita temui dalam karya-karya Pram. Mungkin yang menjadi perbedaan hanya satu. Buku ini lebih kaya dan luwes ketika menentukan latar belakang budaya. Dimana, kebanyakan karya-karya Pram sedemikian Jawasentris. Entahlah. Mungkin hal ini didasari latar belakang E.S ITO yang memang bukan orang Jawa. Dan tentu saja, hal ini hanya perkiraan saya semata. Tanpa didasari tendensi apapun. Apalagi sentimen rasis. Sebuah sikap, yang selalu saja membuat saya tertawa. (Kenapa kita sebagai sama-sama manusia harus terlahir dengan kutukan kasta???)

Begitulah. Di tengah-tengah dunia perbukuan kita yang dibanjiri karya-karya chick lit dan teen lit, ternyata ada satu buah buku (novel) yang masih bisa bicara tentang ‘kualitas’. Sebuah buku yang tidak sekedar menghibur, namun juga mencerdaskan. Dalam (lanjutan) interview-nya, E.S ITO mengungkapkan satu hal. ‘Buku chick lit sama sekali tidak berbahaya. Yang berbahaya, adalah chick lit yang bersembunyi di balik kedok agama.’. Entahlah, saya sendiri tidak begitu paham, buku semacam apa yang dia maksudkan. Apakah termasuk salah satu buku laris yang beberapa waktu lalu sempat difilmkan itu (dan bahkan sampai disaksikan seorang Wakil Presiden dan dijadikan bahan kampanye peserta Pilkada)? Saya sendiri juga tidak mengerti. Karena terus terang, saya juga tidak tahu. Apakah buku yang difilmkan kemarin itu termasuk chick lit atau bukan. Karena saya sendiri memang sama sekali belum menyentuhnya. Juga membacanya. Apalagi menonton filmnya.

Namun apapun yang E.S ITO maksudkan dalam perkataannya, satu hal yang pasti saat ini. Saya secara pribadi, merekomendasikan buku ini. Silahkan membaca, dan selamat mendapatkan 'sesuatu'. Percayalah, apa yang akan anda dapatkan akan lebih banyak daripada anda membaca karya Moammar Emka, atau Raditya Dika. :)
 

different paths

college campus lawn

wires in front of sky

aerial perspective

clouds

clouds over the highway

The Poultney Inn

apartment for rent