Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Ramadhan, Rabiah, dan Ketulusan

Jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, jauhkanlah surga itu dariku

Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, masukkanlah aku ke dalamnya

(Rabiah Al Adawiyah)


Suatu hari di keramaian Baghdad. Rabiah Al Adawiyah menenteng seember air dan sebuah obor.
'Mau kemanakah wahai kau, Rabiah?', seorang kenalan menyapa.
'Aku akan membakar surga. Juga memadamkan neraka', jawab Rabiah dalam senyumnya.

Begitulah. Rabiah muak dengan segala oportunisme yang merajalela. Umat menyembah Tuhan cuma karena berlandaskan janji dan ketakutan. Janji sepetak lahan di surga dan takut akan api neraka. 'Dimana ketulusan?'

Ramadhan telah datang. Mendadak aura menjadi begitu religi. Masjid-masjid penuh sesak. Takbir bersahut. 'Berlomba-lomba menjaring pahala', demikian katanya. Weleh? Cuma segitunya? Sekedar pahala? Lha apa dipikir Tuhan itu pedagang, kok diajak maen untung rugi? Kusembah diri-Mu, berikan surga-Mu.

Ini bulan seribu bulan, banyak yang bilang. Di bulan inilah pintu-pintu neraka untuk sementara ditutup, sementara pintu surga sebaliknya. Gusti Pangeran cuci gudang. Stock pahala yang tahun kemarin tak laku, kini dilempar ke pasaran dengan harga murah. 'Tak perlu dengan ibadah berat, cukup tidur saja; kalo kamu puasa; kamu dapet pahala', seorang da'i nggantheng propaganda di layar kaca.

Hakekat Ramadhan adalah pengendalian diri. Bagaimana kita melatih menahan hawa nafsu. Juga bagaimana kita memahami penderitaan mereka yang sehari-hari belum tentu bisa makan. Tapi apa bener puasa kita memang berdasarkan itu?Jika ternyata pengeluaran kita untuk belanja di bulan puasa justru lebih tinggidari hari biasa? Jika kita menahan lapar dahaga di siang hari untuk kemudian dilanjut dengan Starbucks, J-Co, Pizza Hut, KFC, atau apapun-lah namanya dimalam hari?

'Berikan aku surgamu ya Tuhan.. jauhkanlah aku dari panas neraka-Mu...', doa-doa berseliweran setiap malam. Begitu merindu surga. Begitu takut neraka. Sementara ribuan tahun lalu Rabiah berteriak lantang, 'Tai kuda itu surga neraka!!'. Segala penderitaan dan pengorbanan yang Rabiah jalani tak melulu demi secuil surga dan menghindar dari api neraka. Rabiah cinta Ilahi. Dimana hakekat cinta adalah memberi. Seperti halnya seorang ibu, yang hanya memberi tak harap kembali. Begitulah Rabiah. Surga neraka bukan prioritasnya. Memberi adalah tujuan akhirnya.

'Kematian bukanlah urusan kita', kata Epicurus, 'Karena selama kita hidup, kematian tidak ada di sini. Dan ketika kematian datang, kita tidak lagi hidup'. Begitu juga Rabiah. Dia tak mau pusing-pusing memikirkan tentang rumah masa depannya di surga. Karena dia percaya, itu urusan Tuhan. Sementara urusan-nya adalah hidup sebagai manusia yang baik dan menyembah Sang Gusti. Itu saja.

'Sapa mau petak lahan surgaku?', sayapun menawarkan. Kawan-kawan berebutan.
'Ambil semua untuk kalian. Tar biar aku yang bilang sama Tuhan'.
'Trus lu tinggal dimane, yo?'
'Gampang.... Tar biar aku backpacker-an aja... Nomaden... Katanya surga itu tempatnya asik... Banyak tebing-tebing indah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai... Kalo laper? Tinggal nyari buah-buahan..Kalau haus? Tinggal ke sungai.. Tinggal pilih, sungai madu, sungai susu, atau sungai bir.. He3..'

Di luar gerimis menyatu dengan kemacetan. Sementara di headphone Chrisye dan Dhani melantun pelan, 'Jika surga dan neraka tak pernah ada.. Masihkan kau bersujud kepada-Nya... Jika surga dan neraka tak pernah ada... Masihkah kau menyebut nama-Nya...'



***


Casablanca, 15 Agustus 2010

0 komentar:

Posting Komentar