Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Mimpi Ludiro

; Kembali Menjadi Bayi. Masuk ke Rahim Lagi



Ludiro meliuk-liuk di depan ibunya. Sementara suara Slamet Gundono menyayat. Ludiro ingin sekali kembali menjadi bayi. Masuk ke rahim lagi.

Itu adalah sepenggal adegan dalam Opera Jawa. Film Garin Nugroho yang saya tonton beberapa waktu lalu. Hari terakhir Bulan Film Nasional 2010 yang diadakan Kineforum. 'Maaf Nang.., aku tak jadi nonton. Negara membutuhkanku', SMS seorang kawan ketika saya di jalan. Ya ya ya.. saya maklum. Abdi negara seperti dia memang harus selalu siap sedia. Apalagi departemennya belakangan memang banyak disorot media. Terkait Bu Menteri yang disebut-sebut terlibat kasus Century. Dan karena itulah, malam itu akhirnya saya resmi menjadi Bolang di TIM. Bocah Ilang :) Lontang lantung menikmati Opera Jawa sendirian.

Opera Jawa memang film lama. Produksi 2006. Sebenarnya sejak dulu saya ingin menontonnya. Tapi baru sekarang kesampaian. Film ini diadaptasi dari mitologi Ramayana. Dimainkan oleh Artika Sari Devi (Siti), Martinus Miroto (Setyo),Eko Supriyanto (Ludiro), dan Retno Maruti (Ibu Ludiro). Setting ceritanya di daerah Jogja. Sepanjang film, dialog antar tokoh disuarakan melalui tembang jawa. Seakan mengingatkan saya, agar secepatnya menyempatkan diri pulang ke rumah. Menghadapi segala kemungkinan dan pertanyaan-pertanyaan yang menunggu :)

Setyo dan Siti adalah sepasang suami istri. Representasi dari Rama dan Sinta. Sementara Ludiro adalah Rahwana yang datang untuk merusak stabilitas rumah tangga keduanya. Film ini film surealis. Tipikal seorang Garin. Mengingatkan saya dengan karya-karya Akira Kurosawa dan sutradara sejenisnya. Metafora bertebaran dimana-mana. Sangat detail. Termasuk pemilihan nama tokoh. Setyo yang artinya setia. Siti yang artinya tanah. Dan Ludiro yang artinya darah.

Setyo yang memang setia ini adalah seorang pengusaha gerabah. Siti adalah ibu rumah tangga yang seringkali ditinggal di rumah. Sementara Ludiro adalah seorang tukang jagal. Semuanya benar-benar berada di tempat yang seharusnya. Tak ada kontradiksi. Banyak tembang, dan pastinya; tari-tarian.

Adegan Ludiro yang ingin masuk ke rahim lagi itu terjadi ketika Ludiro merasa sakit hati ketika ditolak Siti. Sedemikian besar rasa sakit itu, hingga dia menginginkan sesuatu yang diyakininya bisa membuatnya tenteram. Menjadi bayi yang belum jadi. Berenang-renang di dalam rahim lagi. Lembab. Senyap. Lenyap.

Sepanjang film tak ada adegan yang tak menarik. Tapi adegan itulah yang memaksa saya untuk tersenyum. Saya seperti disindir. Sejak beberapa waktu yang lalu saya memang merindu rahim ibu. Ketika malam datang saya sering membayangkan, tubuh saya terjungkir melayang-layang. Dengan otak dan hati yang belum sempurna, saya yakin saya tak perlu banyak berpikir. Juga merasa.

'Kalian ingin menjadi apaaaa?', Bu Nanik, guru kelas 1 ketika saya SD dulu, bertanya tentang cita-cita. 'Polisi buuu...', seorang kawan saya mengacungkan jari. 'Dokter..', kata yang lain. Insinyur! Guru! Presiden! ABRI! Masing-masing menyuarakan pendapatnya. Dan saya hanya diam saja. Bukan apa-apa, saya ketika itu memang tidak tahu ingin menjadi apa. Seperti halnya saya yang (ketika itu) tidak tahu apa agama saya. ( He3.. Ketika itu saya ikut sebagian kecil kawan yang masuk ke ruang sebelah ketika pelajaran agama pertama. 'Lho, bukannya kamu Islam?', Bu Nanik kebingungan. Dan (sekali lagi) saya hanya diam. Ngikut dan manut saja ketika dituntun ke ruangan semula. Ya, Bu Nanik memang kenal dekat dengan keluarga saya. Kebetulan almarhum ayah saya juga seorang guru. Jadi beliau tahu persih, apa agama saya yang seharusnya :)

Ya, begitulah. Ketika kecil dulu saya tak tahu harus menjadi apa. Baru belakangan ini saja saya tahu jawabannya. Seperti halnya Ludiro, saya ingin menjadi bayi. Masuk ke rahim lagi. (Ah sayang..., saya tak tahu nomer HP Bu Nanik. Saya ingin menjawab pertanyaannya ketika itu)



***


Utan Kayu, 10 April 2010

2 komentar:

  1. gusmel riyadh mengatakan...
     

    saya baru melihat yang versi teater mas..

  2. eL mengatakan...
     

    waaaaaaaa.....! pengin nonton. sms e disensor wae. asem ki. hihi.

Posting Komentar