Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Indonesia dan Hal-Hal Tak Dewasa yang Menyertainya


3-0 untuk Malaysia. Indonesia teriak seketika. Bla bla bla bla bla bla!!! Laser-lah, serbuk gatal-lah, petasan beracun-lah, tai kuda-lah.. Banyak yang menyumpah. Serapah-serapah. Sampah.

Dalam pertandingan, peperangan, pertempuran, kejuaraan dan bahkan dalam hidup, konsekuensinya itu cuma dua. Kalo tidak kalah ya menang. Kalo tak siap menghadapi salah satunya, buat apa maju ke lapangan?
‘Lha tapi kan bisa juga seri?’
‘Lha opo sampeyan sufi?’
Yang bisa seri dalam kehidupan itu cuma segelintir orang yang benar-benar tercerahkan. Budha, Jalaluddin Rumi, Siti Jenar dan mereka-mereka yang mampu mengeja kata Tuhan dengan benar. Masa kita yang ngakunya manusiawi tapi seringkali mengedepankan naluri ini mau akhir pertandingan yang seri? Tai.

Mencari kambing hitam itu paling gampang. Tak perlu keluar duit dan tenaga, tinggal pilih mana yang layak dipersalahkan, tunjuk, selesai. Indonesia kalah, harusnya sudah. Namanya juga permainan. Tapi wong ya sudah tradisi, tak afdol rasanya kalo tidak mendayu-dayu sendu menyanyikan lagunya Exist, mencari sebab serta mencari alasan... Mencari-cari apa yang bisa disalahkan.

Trus kalo masyarakat kita tidak pernah mau belajar untuk menjadi ksatria dan menerima kekalahan dengan lapang dada, apa ya mungkin Indonesia akan bisa menjadi pemain yang diperhitungkan di dunia? Kedengarannya kok utopis ya? Tiba-tiba saya ingat Jepang. Seppuku. Harakiri. Sebuah tindakan berani untuk mempertahankan harga diri. Masyarakat kita mana berani? Jangankan mati. Mengaku kalah dan salah saja tak pernah. Coba, kapan kita dengar permintaan maaf atas kasus HAM di Aceh, Papua, penjajahan Timtim, pembunuhan Munir, hilangnya Wiji Thukul, pembantaian ’65, dan sebagainya-dan sebagainya.

‘Kamu itu ga nasionalis ya? Yang lain itu mati-matian membela Timnas kita!’, seorang kawan bicara.
Dan saya cuma tertawa. Bagi saya nasionalisme itu cukup sederhana. Yaitu jauh-jauh merantau ke Jakarta, melepaskan semua kenyamanan kampung halaman untuk memasrahkan diri pada kebusukan asap knalpot ibukota dan keruwetan jalanan yang jahanam, agar saya bisa membuat ibu saya di rumah tersenyum bangga, bisa punya uang untuk membawanya berobat ke rumah sakit, dan bisa memperbaiki rumah milik keluarga. Bukan jauh-jauh datang ke Jakarta untuk antri tiket di Stadion GBK dan ketika tak kebagian ngamuk-ngamuk, mengeroyok salah satu panitia yang tidak tahu apa-apa yang cuma berusaha nyari duit buat anak istrinya, terus mendobrak pintu stadion lalu merusak apa-apa yang ada di depannya.

Bukan pula sekedar ngopi di sudut taman budaya, sibuk berretorika, ngalor ngidul berwacana, berdialektika tai kuda, menyalahkan pemerintahan yang memang sudah tak terselamatkan atas semua keruwetan, lalu klepas klepus menghisap Dji Sam Soe sampai mampus. Bukan juga cuma duduk diam di depan layar TV, mengkritisi segala isi berita atas semakin parahnya dunia, merasa seakan-akan semua beban dunia ditimpakan Tuhan di pundaknya, lalu berkicau di Twitter, Facebook, dan jejaring sosial di dunia maya yang lainnya, mengomentari semua yang ada tapi tak pernah ada usaha apa-apa demi memperjuangkan kehidupan yang lebih baik; bahkan untuk dirinya sendiri; tiap hari cuma sibuk mengkritik sampai jadi trending topic. Jangkrik.
‘Nasionalisme itu gerakan, Bung... Bukan sekedar filsafat…’

Natal kemarin saya dipaksa malu mengaku Islam oleh statement MUI dan segelintir umat yang meneriaki sebuah Misa Natal yang saya saksikan di layar TV. Dan sekarang saya dipaksa malu (lagi) untuk mengaku sebagai orang Indonesia gara-gara ketidakksatriaan kita atas kekalahan. Njuk piye? Apa saya harus ganti agama dan pindah warga negara sekarang juga? Entahlah. Satu-satunya pikiran menyenangkan adalah membayangkan kalo Anarki Nusantara-nya ES Ito itu benar-benar nyata dan meluluhlantakkan semua yang ada. Anarki. Tak ada hierarki. Tak ada apa-apa. Cuma manusia. Bukankah daripada menjadi tua tapi tak dewasa lebih baik menjadi bayi lagi? Jika kecewa dan terluka tinggal meratap, ‘Yaowooohhh… Ampuni kami yaowoooohhhh….’. Ah sudahlah. Sudah pagi. Waktunya tahajud, minum bir dingin dan Tolak Angin.



***


Casablanca, 27 Desember 2010

0 komentar:

Posting Komentar