Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Seorang lelaki biasa. Suka menulis, membaca, menonton teater dan memotretnya.

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #11




Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #11



Hingga pada waktunya kau akan menyadari bahwa dirimu sedang berada di kondisi yang seperti ini: kau dikuasai keinginan untuk memeluk yang sedemikian membuncah. Kepalamu serupa bola yang dipompa sekuat tenaga: penuh darah dan rindu pecah. Dalam fase ini, segala sesuatu di sekelilingmu akan tampak sebagai bajingan yang layak untuk dimusnahkan. Kau akan melihat orang-orang yang berada di sekitarmu sebagai ancaman. Kau menyadari sepenuhnya bahwa kau sedang tidak baik-baik saja, namun kau tahu bahwa kehidupan juga seperti itu. Kau dan dunia seperti sepasang saudara tiri yang sama-sama memiliki kekuatan sama besar untuk saling membenci dan menelikung dan meracuni. Ada semacam keinginan untuk menyakiti yang tak habis-habis dan selalu terisi ulang. Kau mulai gemar mengutuk segala sesuatu yang berada di sekitarmu: termasuk kelahiranmu. Kau muak dengan dirimu yang tak sanggup melakukan apa-apa, bahkan untuk sekadar menghadapi semuanya seperti apa adanya. Kau bubur tajin yang lumer di cawan plastik. Kau serdadu rendahan yang gagal mempertahankan garis pertahanan. Kau bayi yang meringkuk di sudut kamar: rindu akan tetek ibu yang akan melemparkanmu ke tidur yang lelap dan mimpi yang lenyap. Kau nabi yang selalu gagal meyakinkan umat. Kau sampah kasta terendah yang tak layak berada di manapun. Kau malaikat yang dikhianati Tuhan. Kau serpihan pasir besi: terseret ke sana kemari oleh medan magnet ganjil yang belum pernah kau temui. Kau badut tua yang tak lagi sanggup memancing tawa. Kau tak lebih dari cinta yang pelan-pelan: diam dan jauh dari bising jalanan.


Utan Kayu, 23 Oktober 2013

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #10



"Satu-satunya yang mungkin dilakukan kaum buruh untuk melawan kejahatan korporat adalah dengan bekerja seenaknya," kau memonyongkan bibirmu yang selalu tampak ranum dan merah dan kenyal. Sementara segaris bulan sabit mengintip di celah langit. Kau dan aku dan wangi kopi tak henti-henti menghitung kerlip kunang di beranda.
"Maksudmu?"
"Kau tahu, kemenangan sejati kapitalisme adalah ketika lahir barisan pekerja berdedikasi: mereka yang bekerja dengan penuh pengorbanan demi secuil karir dan bonus tahunan dan kenaikan gaji. Mereka yang bersepakat bahwa tujuan hidup manusia hanyalah satu: mencari uang."

Ada derik jangkrik di tengah kegelapan. Sementara dingin angin membawa aroma purba yang sudah kita kenal sejak lama, sejak kita belum mengenal kata-kata.
"Dulu, penjajahan dilakukan dengan praktik kerja paksa semacam rodi atau romusha. Tapi sekarang, penjajahan dilakukan secara lebih sederhana. Alih-alih berontak, para korban justru tertawa-tawa dengan bangganya. Kaum buruh dipaksa memeras keringat hingga tetes terakhir dengan upah yang sebenarnya tak seberapa dibanding pendapatan perusahaan. Setelah itu mereka dibujuk dirayu oleh televisi dan majalah dan internet dan semacamnya agar dengan rela hati membelanjakan hasil keringatnya untuk sesuatu yang sebenarnya tak begitu mereka butuhkan untuk hidup: Apple, BlackbBerry, Honda, Calvin Klein, Starbucks, dan sebagainya dan sebagainya. Dan sekali lagi, siapa yang menang? Korporat! Bangsat bukan?"

Kau tak pernah tahu karena aku tak pernah memberi tahu: kau selalu lucu ketika sedang memaki seperti itu. Tentu saja aku tak menertawakan pemikiranmu. Aku hanya berpikir bahwa makian itu tak seharusnya keluar dari bibirmu.
"Satu hal lagi, mereka yang gemar mengepalkan tangan kiri menggelorakan perlawanan namun masih suka menghisap rokok pabrikan sebenarnya adalah omong kosong tak berguna. Mereka adalah individu tolol yang dengan sukarela menyerahkan diri menjadi mangsa empuk kapitalisme."
"Lho, kok bisa?"
"Jelas. Industri tembakau adalah salah satu industri terjahat di muka bumi. Ketika tak mendapat tempat di negara maju, mereka akan mencari negara miskin sebagai pasar. Menyebarkan propaganda di kalangan muda bahwa merokok itu keren, jantan, dewasa, dan sebagainya dan sebagainya. Mereka menjadi semakin kaya dan berpesta pora dari racun yang mereka jual kepada jelata. Bla bla bla..."

Aku sudah tak bisa lagi sungguh-sungguh mendengar apa yang kau katakan. Aku hanya mencium wangi shampo yang meruap dari rambutmu dan melihat bibirmu yang tak henti bergerak-gerak. Aku tahu bahwa malam masih jauh dari selesai. Dan aku benar-benar tak ingin ini semua usai.


Pulo Gadung, 18 Oktober 2013

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #9


Tak usah tertawa. Aku berani taruhan, jika dirimu berada di posisinya kau pasti juga akan melakukan hal yang sama: suka memperumit hal-hal yang sesungguhnya sederhana. Kau tak akan seketika menyebut kata "mata" untuk apa yang sedari kecil kau kenal sebagai mata. Kau mungkin akan menyebutnya sebagai: sepasang sesuatu serupa permata yang bisa kau gunakan untuk melihat dan merekam segala macam keindahan dan kebusukan kehidupan. Atau mungkin: butir hitam putih yang tampak lunak namun terkadang bisa setajam belati di mana dengan keduanya kau bisa mengintip segala yang ingin kau intip.

Begitu juga untuk menyebut hal-hal lain seperti merah, telinga, balon, kerikil, dan segala sesuatu yang sebenarnya kau tahu sudah memiliki nama yang lebih ringkas dan mudah dimengerti. Tanpa kau sadari, kau akan seketika gemar menggunakan rumus yang sama untuk menilai semua yang kau temui dengan kalimat-kalimat janggal yang terdengar sukar.

Kau tahu: cinta memang seperti itu. Dia sungguh asu. Kau yang biasanya selalu saja menemukan kedamaian dalam tidur terpaksa harus menanggalkan itu semua. Kau tak lagi menemukan jenak dalam dengkur atau pun jaga. Kau sadar sepenuhnya bahwa kau harus hidup lebih lama, namun di saat yang sama kau kesulitan untuk menelan segala macam jenis makanan.

Hingga pada suatu titik, kau sudah tak mungkin lagi untuk menyebut apa yang menderamu itu sebagai "cinta". Kau pasti akan menyebutnya dengan kalimat berbelit rumit yang sungguh panjang lebar seperti ini: sebuah gelisah yang tak habis-habis serupa debur yang terus berdebar bagai rindu seorang anak pada hangat dan lembap selangkangan ibunya yang mana perasaan itu sanggup membuat siapa saja yang mengalaminya akan dengan mudah melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah dia mimpikan dan bayangkan. Tak berhenti sampai di situ, kau mungkin masih akan melanjutkannya dengan barisan kalimat lain yang jika disatukan pasti akan mengalahkan tebal kitab-kitab suci karya para nabi baik yang asli maupun yang palsu. Begitulah. Kau tahu: dia sungguh asu.



Utan Kayu, 12 Oktober 2013

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #8


Tak usah kau tanyakan bagaimana aku bisa membayangkan semuanya dengan sangat-sangat nyata. Saat itu, segores sinar matahari pertama menusuk masuk di sesela gorden jendela kamar kita. Garis cahaya mencipta terang gelap di salah satu sudut dahimu: tempat bulu-bulu halus bersetia menanti kecup di ujung pagi. Sementara sisa hujan yang menguar tak henti menampar-nampar kesadaran yang kuyup usai persetubuhan semalaman. Kubayangkan rombongan codot di luar berputar-putar sebentar untuk kemudian meluncur mencari jalan pulang, bersembunyi mencari ruang gelap yang pengap: sebuah tempat di mana segala sesuatunya selalu mampat.

"Kenapa seorang komunis selalu berwajah murung?" kau menyurukkan wajahmu ke ketiakku. Sementara selimut tebal yang sedari malam menutupi tubuh telanjang kita masih saja menebarkan hangat yang sama. Menyimpan wangi tubuhmu dengan caranya yang sempurna: serupa kukusan yang menyekap uap lembab.
"Mungkin karena mereka tak pernah benar-benar yakin akan kemenangan."
Lalu kita menangkap suara anak-anak ayam yang berceloteh di sudut halaman depan. Kau dan aku selalu saja tak pernah sependapat, siapa di antara mereka yang akan menemukan cacing pertama di pojok kolam: tempat di mana dirimu menanam  warna-warni bunga yang tiap hari kau sirami dengan segelas cinta.

"Apakah seorang komunis pernah benar-benar meyakini sesuatu?" kau terus memeluk sambil mendongakkan kepala untuk kemudian menatap kedua mataku lekat-lekat. Ada setitik keringat yang mengembun di sudut alis. Ah, andai kau pernah benar-benar berkaca: betapa kau akan menemukan sekumpulan kunang-kunang yang tak pernah lelah beterbangan. Binar yang selalu saja sanggup membuat hantu-hantu tak henti gemetar.
"Aku hanya tahu apa yang sungguh aku yakini."
"Apa itu?"
Tak ada lagi perbincangan setelahnya. Karena yang terjadi kemudian adalah ini: bibir kita perlahan mendekat untuk kemudian bersilumat. Kau sempat mendesis perlahan untuk mengulang kembali pertanyaanmu. Namun kita sama-sama paham, kau tak pernah benar-benar membutuhkan jawaban. Seperti halnya kita yang sudah lama tak butuh Tuhan.


Utan Kayu, 10 Oktober 2013

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #7


Tentu saja kau boleh membayangkan suasana yang sedikit lebih dramatis:
Barisan petir bersikilat. Mengerjap di sebalik gorden yang cabik dimakan ngengat. Ibu memeluk kami di sudut ruang; aku yang belum genap sepuluh tahun dan adikku yang masih menetek sehari lebih dari lima kali. Sementara ayah berdiri gagah menghadap jendela. Janggut panjangnya sedikit berkibar sedang tangan kanan memegang tongkat kasti, serupa Musashi yang bersiap menyambut serangan pertama Arima Kihei.

Tapi seingatku, suasananya jauh lebih sederhana dari itu:
Hanya semacam pagi dan wangi kopi dan hujan yang tak juga kunjung berhenti. Tempias yang menjilati kaca jendela mengaburkan pandangan ke arah taman di sudut halaman depan. Ayah membaca koran bekas yang ditemukannya entah di mana. Adikku sudah tidur lagi usai dimandikan dan diguyur minyak telon dan dibedaki sekenanya. Sementara ibu; yang kuingat benar tampak anggun dengan gaun bebunga warna hijau limau; mulai menumpahkan kata-kata seperti biasanya. Kelas filsafat ringan yang harus kucerna bersama nasi goreng cabai hijau pedas buatannya.

"Ingat, kita tak mungkin kehilangan sesuatu yang tak pernah kita miliki," katanya sambil tak henti merajut entah apa. Mungkin sweter untuk adikku atau mungkin kerudung yang akan dikenakannya ketika jalan-jalan pagi ke pasar. Jemari itu tampak lincah memainkan dua jarum yang terbungkus benang wol warna ungu. "Cobalah hanya mempertahankan sesuatu yang memang harus dipertahankan. Menjaga sesuatu yang memang layak untuk dijaga."

Aku masih diam sambil membayangkan, betapa surga diciptakan bagi mereka manusia-manusia terpuji: termasuk mereka yang memilih sembunyi di balik selimut ketika hujan di pagi hari. Kau tahu, ibuku tentu bukan malaikat. Tapi dia adalah manusia paling lugas dan apa adanya sedunia. Dia akan mengatakan bahwa dia suka ketika dia benar-benar menyukai sesuatu. Dan sebaliknya, dia akan serta merta mengatakan benci jika dia memang membenci sesuatu itu.

Hujan masih saja menetes seperti ingus yang bandel ketika tiba-tiba ibu menghentikan rajutannya untuk kemudian menatap mataku dalam-dalam. Seketika aku berhenti mengunyah, berusaha mencerna arti tatapan yang hingga kini kadang masih singgah dalam mimpi-mimpi murungku, "Hidup bukan sekadar tentang seberapa banyak yang bisa kita kumpulkan. Tapi terkadang juga bagaimana cara kita melepas ikatan."

Di titik itu, aku mengambil keputusan: usai kuhabiskan susu cokelat hangat yang tinggal separuh gelas, aku akan kembali ke kamar. Menarik selimut untuk melupakan kalimat-kalimat ibu. Tentu saja aku tahu dan percaya sepenuhnya, bahwa menjadi tua adalah sesuatu yang sulit. Tapi sumpah mati, ketika itu umurku baru sepuluh tahun. Seperti halnya kematian, kerumitan pasti akan datang: tepat pada waktunya.

"Kau lelaki. Kau harus belajar kapan waktu yang tepat untuk beranjak pergi," kuliah ibu belum berhenti.


Utan Kayu, 13 Juli 2013

'Antara Kopi, Jazz dan Dirimu' Live @ Solo Radio



Petikan cerita pendek 'Antara Kopi, Jazz dan Dirimu' yang dibacakan secara langsung dalam program Sora is On The Air di 92,9 FM Solo Radio edisi Sabtu, 1 Oktober 2011. Cerpen ini adalah salah satu cerita yang termuat dalam antologi 'Suluk Lintang Lanang' karya Setyo A. Saputro. Untuk menyimak perbincangan lengkap dalam program tersebut silahkan kunjungi http://www.wix.com/lintanglanang/suluk#!audio-visual.