Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Semacam Dialog dalam Sebuah Pertemuan (3)

* Kisah sebelumnya ada di sini dan di sini



Tok tok tok.
Lalu langkah kaki. Dan pintu terbuka.
Mata-mata bersitatap. Jantung-jantung berderap.
‘Kamu?’
‘Aku’, bibir bergetar. Rambut mawut. Janggut runggut.
Lalu diam yang jancuk. Sunyi yang layak dikutuk.
‘Masuk’, keduanya duduk.
‘Duapuluh tahun?’
‘Lebih satu bulan’
‘Kemana saja?’
‘Sembunyi’
‘Dari?'
‘Polisi. FBI. Negara. Dunia. Semua’
‘Kenapa tak menyerah saja?’
‘Tidak. Aku tak mau ini disita’, lelaki keluarkan amplop. Cahaya jingga memancar dari celahnya.
‘Kupotong sendiri. Dengan tanganku’
Perempuan menerima. Lalu air mata.
Ah, pipi itu masih sama, Sepasang cekung di tengahnya. Meski sedikit keriput kini menghiasinya.
Sinar berdenyar ketika lembar itu sepenuhnya keluar. Debur ombak menyeruak. Ceracau burung-burung laut mengacau.
‘Pasanglah di kamarmu. Seperti yang kau inginkan dulu’
Tangis pecah, ‘Kenapa kau sebodoh itu?’, gerimis menjelma hujan, ‘Tak seharusnya kau penuhi permintaan tololku’
‘Aku bahagia’
‘Gara-gara permintaanku kini manusia di dunia tak bisa lagi menikmati senja yang seharusnya‘
Perempuan menatap jendela. Barat yang terluka. Persegi warna hitam menjadi noda.
‘Lihat. Anak-anak kita kini tak lagi mungkin menikmati langit yang seutuhnya’, perempuan menatap lembaran di tangan, ‘Karena sebagian sudutnya ada di sini’.
‘Keindahan ini cuma layak untukmu’
Mata menyipit, ‘Asu. Kau asu’.
‘Berapa kini anakmu?’
‘Tiga. Satu lelaki. Dua wanita’
‘Yang bernama Senja?’
‘Yang kedua’
Jarum jam menajam. Seperti hukuman rajam.
‘Baiklah. Aku kesini cuma mau memberi ini. Sekarang aku pergi’
‘Kemana?’
‘Entah. Mungkin menyerah. Lari itu bikin lelah’
‘Jangan! Kau pasti dihukum mati!’
Lelaki hanya tersenyum.
Itu tak penting lagi. Tugasku sudah selesai kini.
Lelaki berdiri, ‘Satu hal lagi’
‘Apa?’
‘Aku minta maaf’
‘Untuk?’
‘Menginginkanmu’
Hening sesaat.
‘Asal kau tahu. Menginginkanmu adalah di luar rencana. Semua terjadi begitu saja. Tiba-tiba’
Butir-butir kembali bergulir, ‘Mengakulah salah. Mungkin hukumanmu akan dikurangi’
Lelaki tersenyum lagi, ’Kau tak berubah. Tak henti mengajariku bagaimana bermimpi. Meski tak sekalipun tentang mewujudkannya’
Drdrdrdrdrdr.. Hape bergetar. Cahaya berdenyar.
…Just in time you've found me just in time… Before you came my time was running low… I was lost the losing dice were tossed… My bridges all were crossed nowhere to go…
Nina Simone terdengar. Ingin kirim kabar.
‘Aku pergi’
Lelaki keluar. Melangkah menuju barat.
Tiada lagi beban berat.
‘Halo’, memendam isak.
‘Ma, Papa dah sampai hotel ni.. Ga begitu jauh dari Seine.. Tar malem mungkin nyempetin jalan-jalan kesana.. Perjalanan dari Roissy lancar.. Kamu mo dibawain oleh-oleh apa? Oh iya, bilang sama Dewa, kalo memang mo ambil jurusan grafis mending di Belanda aja.. Bla bla bla..
Tiada lagi yang singgah di telinga. Cuma air mata dan sepotong senja. Selebihnya gulita.



***


Casablanca, 23 Januari 2011
* Foto dicuri dari sini

0 komentar:

Posting Komentar