Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Senja & Perempuan Pengejarnya

‘Percayalah.. Di kota ini tak ada senja..’, lelaki terengah. Namun tak berhenti cipta langkah. Sementara keringat terus mengucur. Anjing. Kota ini memang sudah mendekati hancur. Kereta bawah tanah proyek pemerintah cuma sedikit lebih baik dari sampah. Air Conditioner-nya lebih parah dari kipas angin tua di kantor kepala desa. Kursi besi warna karat berkeriut-keriut sekarat. Sementara manusianya? Mirip robot buta yang bergerak mekanis. Dengan bibir yang tak lagi bisa tersenyum manis.

‘Tak mungkin senja tak ada.. Senja ada di mana-mana..’, perempuan itu kian bersemangat. Kaki melangkah cepat. Tas hitam di punggung terayun anggun. ‘Satu-satunya tempat dimana senja tak ada adalah neraka’, lanjutnya. Serombongan keluarga terlihat melangkah menuju pulang. Mereka tahu, tak ada lagi yang bisa ditunggu. Mereka sudah paham, di kota ini; termasuk di pantai ini; senja dan segala macam keindahan sejenisnya hanyalah milik para pemimpi. Jangankan di musim hujan dimana mendung lebih sering menggantung, di hari paling cerah sekalipun, asap knalpot dan cerobong pabrik sudah cukup untuk menyembunyikan warna-warna lembayung.

‘Ya.. Kau benar.. Cuma di neraka tak ada senja..’ lelaki masih terengah, ‘Dan inilah neraka itu, kalau kau belum tahu..’, sneakers tua terantuk batu.
Sementara sang perempuan justru tertawa, ‘Jangan terlalu pesimis. Badai di sini belum seberapa’.
Ah.. Baru di sini dua minggu dia sudah mulai berani membanding-bandingkan sesuatu. Lelaki menggaruk kepala.
‘Kita kesana..’, perempuan berteriak lalu menjejak. Berlari sambil menenteng DSLR-nya.
‘Tunggu…’, lelaki mengikuti.

Di satu sudut pantai mereka berhenti. Pasir putih dan sampah plastik. Tak tersisa manusia.
‘Kita tunggu di sini’, perempuan lalu duduk.
‘Percayalah.. Senja itu tak mungkin ada..’, lelaki keluarkan kamera. Duduk sambil menata nafas. Mengintip si perempuan dari viewvender, lalu.. cepret.. cepret.. cepret..
‘Sudahlah.. Kita buktikan saja..’, perempuan menatap barat. Di mana langit pucat sepi semburat.

Waktu berdetak. Jarum jam menjejak. Tapi langit kelabu tak menampakkan tanda apa-apa. Yang ada, tanpa aba-aba, suasana pelan-pelan menggulita. Hembusan nafas keduanya membaur dengan laut yang berdebur. Warna nyiur mulai kabur.
‘Apa kubilang…’, lelaki berkata sambil menyulut sebatang rokok, ‘Di kota ini..Tak pernah lagi ada senja..’
Dalam remang, perempuan itu menyungging senyum, ‘Besok kita coba ke pantai sebelah sana..’

Lelaki terbatuk. Perempuan keras kepala, hatinya mengumpat. Menggugat. Bertahun-tahun paru-paruku diracuni udara laknat kota ini, berliter-liter keringatku yang menetes di tanah busuk ini, dan dia masih meragukan apa yang kukata?

‘Besok kita kesana..’, perempuan mengacungkan jari dengan mata jenaka. Menunjuk sebuah sudut di kejauhan. Dimana siluet perahu nelayan tampak bergoyang-goyang.
‘Untuk apa? Kan sudah kubilang.. Senja tidak ada di sini.. Tidak juga di sana..’, si lelaki tampak pasrah. Dia terlihat lelah. Mencoba berdiri dengan lungkrah.
Dan tanpa diduga, tiba-tiba perempuan itu berdiri tepat di hadapannya. Jarak kedua mata mereka mungkin cuma 15 centi 3 mili. Sumpah mati, mata itu benar-benar jenaka.
‘Percayalah…’, perempuan menggumam, ‘Aku tak peduli apakah aku akan menemukannya atau tidak..’, tatapannya tajam, ‘Tapi aku cukup bahagia karena aku sudah mencoba untuk mengejarnya..’. Lalu bibir itu tersenyum. Lesung pipit menyipit. Anjrit!!

‘Ayo kita pulang..’, perempuan balik badan. Kemasi kamera. ‘Sepertinya menikmati malam dari jendela busway terdengar menyenangkan’.
Lelaki cuma diam. Menghisap rokok dan tiba-tiba merasakan asap pekat yang menyesap. ‘Laknat.. Kenapa aku harus terus-terusan mempercepat kematianku sendiri’, benak lelaki melengking. Lalu membuang puntung yang masih sepanjang kelingking. Tanpa alasan yang diketahui, tiba-tiba dia ingin hidup seribu tahun lagi.

‘Kita lanjutkan perjalanan…’, perempuan lincah memulai langkah. Sementara di belakang, si lelaki masih terdiam dalam remang. Tersenyum kecut sembari menyadari, dirinya tak lebih dari kura-kura tua yang terseok di belakang elang betina muda yang bersiap merentangkan sayapnya.



***


Casablanca, 28 November 2010

0 komentar:

Posting Komentar