Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Secangkir Anarki di Pagi yang Mati


‘Anarki!! Anarki!!’
Mereka berteriak dan mulai bergerak
Ke Starbucks
Memesan secangkir espresso panas sambil dengarkan Jason Mraz
‘Kuingin miliki dia’
Lalu tawa
Dua pasang mata melirik mereka
Di seberang dekat jendela
‘Siapa’
‘Makhluk indah tak terjamah. Puisi terindah yang pernah digubah’
Suara itu terdengar berdenyar
Seperti merpati yang kirim kabar
‘Ah. Kupikir kau sudah cukup tua untuk menyadari. Bahwa hidup lebih suka berkata tidak untuk sesuatu yang ingin kita miliki’


***

‘Anarki!! Anarki!!’
Marlboro Menthol menyala merah
Tak sekental darah
‘Secangkir coklat pekat sepertinya nikmat. Meski bikin sedikit melarat’
Steelheart menyayat
‘Gimana ya rasanya mati?’
Semesta tak henti
Tak sunyi-sunyi
’Mungkin seperti pingsan. Entahlah. Aku juga belum pernah merasakan’
Asap bergumpal
Berkelebat waitress bertubuh sintal
(Sepertinya kenyal?)
‘Apa kematian benar-benar akan menyatukan?’
Putaran bumi tak berhenti
Jarum jam berjalan merajam
‘Sudahlah. Tiada satupun perempuan yang senilai dengan bunuh diri’ *
Ave Maria membahana.




Casablanca, 22 Desember 2010
* kata-kata disadur dari The Fall

0 komentar:

Posting Komentar