Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Semacam Dialog dalam Sebuah Pertemuan (2)


‘Apa ini?’, kafe sedikit senyap. Di luar riuh mendekap.
‘Bukalah’
Amplop dibuka. Sepotong senja dikeluarkannya.
‘Dari mana?’
‘Tak penting’, gelas-gelas berdenting. Whisky-cola bikin pening.
‘Aku harus tahu’
‘Untuk apa. Sekarang kau bisa memasangnya di sebelah jendela’
Mata perempuan curiga.
Lelaki menghela nafas, ‘Aku membelinya’
‘Beli? Di mana?’
‘Kota Tua’
‘Memang ada yang jual?’
Lelaki mengangkat bahu.
‘Kamu bohong’
‘Kenapa?’
‘Mana ada yang menjual senja?’
‘Buktinya? Kata penjualnya itu dulu milik Alina’
‘Alina? Siapa?’
‘Alina-nya Sukab’
‘Sukab?’
‘Seno Gumira’, lelaki menyulut rokoknya.
‘Kok bisa dijual di Kota Tua?’
‘Mana aku tahu?’
‘Kamu bohong ya?’
‘Lho?’
‘Coba pikir, mana mungkin sepotong senja yang begitu berharga bisa beredar di pasar? Apalagi pemberian orang yang istimewa’
Lelaki itu memesan bir dingin lagi.
‘Alina memang tak menginginkannya dari dulu’
‘Siapa bilang?’
‘Kamu ga baca cerpennya ya?’
‘Cerpen yang mana?’
Ahhh.. Kenapa perempuan ini tak juga mulai mencoba menyukai fiksi dan imajinasi?
Bacalah. Alina sudah dari dulu mengaku. Dia tak menginginkan senja itu. Dia juga tidak mencintai Sukab. Menurut Alina, tindakan Sukab itu tolol dan kekanak-kanakan’
Perempuan menyulut rokok.
‘Sejak kapan kamu merokok?’
‘Sejak kamu mulai berbohong’
Gila! Perempuan ini memang selalu tak sama dengan lainnya!
‘Siapa tadi namanya?’
‘Yang mana?
‘Perempuan tadi?’
‘Perempuan?’
‘Ceweknya Sukab’
‘Mereka belum pernah jadian’
‘Iya. Siapa?’
‘Alina’
‘Oh ya. Semisal memang benar ini senja milik Alina, dan kau membelinya di Kota Tua, aku tetap tak mau menerimanya’
‘Lho?’
‘Lha lho lha lho!’
‘Katanya aku boleh melakukan apa saja untuk mendapatkannya?’
‘Siapa bilang?’
‘Kamu. Kalau perlu curi, begitu katamu’
‘Mencuri itu tak sama dengan membeli’
‘Iya. Itu lebih baik’
‘Kata siapa? Kadang mencuri justru jauh lebih lelaki’
Dueng!!! Menghadapi perempuan ini memang selalu butuh kamus lengkap yang memuat tigaribujutamilyar kata. Selalu saja ada yang tak sanggup diterjemahkannya.
‘Untuk mendapatkan sesuatu itu tak selalu harus dengan cara membeli. Apalagi meminta’
Trus gimana dengan doa?’
‘Doa yang meminta itu bodoh. Doa itu seharusnya memberi’
Beruntung tak ada pisau di sekitar sini. Lelaki itu benar-benar ingin mengiris nadi. Untuk kemudian mati.
‘Aku ingin sepotong senja yang benar-benar kau potong sendiri’
‘Lho?’
‘Lho lagi!’
‘Kemarin mintanya ga gitu?’
‘Oh ya?’
‘Iya’
‘Ok. Sekarang aku mintanya gitu’, asap pekat menggeliat.
Lampu jalanan mulai dinyalakan. Mobil-mobil merayap pelan. Macet yang jahanam.
‘Tapi aku benar-benar bukan penyair’
‘Lalu?’
‘Kan yang bisa memotong senja cuma penyair? Gimana sih?’
‘Tapi kamu kan juga sering menulis puisi”
‘Memang’
‘Terus?’
‘Tapi itu di belakangmu’
‘Apa bedanya?’
‘Dengar’, lelaki mulai frustrasi, ‘Selama ini aku selalu kehilangan kata-kata jika di depanmu. Jangankan menjadi penyair. Bahkan untuk sekadar menjadi manusia-pun aku tak pernah benar-benar bisa’
Di barat senja melenyap. Jazz tua mendayu sekarat.

...Come to me, my melancholy baby... Cuddle up and don't be blue... All your fears are foolish fancies, maybe... You know, honey, I'm in love with you... *




Casablanca, 17 januari 2011
* My Melancholy Baby - Frank Sinatra
** Baca kisah sebelumnya di sini

0 komentar:

Posting Komentar