Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Malam dan Percakapan

‘Kenapa dulu kau tak menghampiriku?’
Angin berhembus pelan. Daun cemara kering bergesekan. Dan lalu asap rokok bergumpal-gumpal. Melayang tak berkesudahan. Batang yang kesekian.
‘Kenapa?’, perempuan itu mengulang tanya. Sementara kesekian kali lelaki meneguk Bintang. Kaleng keempat. Alkohol tersesap. Lumat.
‘Bukankah dulu kita tak saling mengenal?’, asap tembakau bakar kembali menguar.
‘Apa Tuhan tak memang tak mengijinkan kita saling bertemu? Ketika itu?’, mata itu mengerjap. Seperti tokoh putri di kartun Disney.
‘Aku tak tahu’, lelaki itu menggeleng, ‘Tapi sepertinya selalu menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam bukanlah cara yang bijak’.
Langit makin hitam. Tiada satupun kerlip gemintang. Sementara bulan sabit cuma mengintip sipit. Seperti mata cina yang kriyip-kriyip.
‘Aku di pojok belakang ketika itu’, angin lembut sentuh rambut.
‘Aku tahu. Sudah seribu kali kau mengatakannya’
‘Lalu kenapa kau tak menghampiriku?’
Sesaat keduanya diam. Sebungkam malam. Dan baru pecah ketika lelaki menyalakan rokoknya, ‘Sudahlah. Aku bukan Nobita’, katanya, ‘Yang punya laci Doraemon di kamarnya’
‘Ahhh... Aku bosan mendengar itu. Tak adakah kau punya perumpamaan lain?’
Lelaki tersenyum. Menatap mata si putri Disney, ‘Karena tema pembicaraan kita memang selalu sama. Dan tak akan pernah ada yang beda untuk hal yang sama’
Malam diam. Tak sedikitpun bergumam. Dan seperti yang lalu-lalu, tak ada pelukan. Kecupan. Apalagi lumatan. Mereka kembali tenggelam.


***


Utan Kayu, 23 Oktober 2010

0 komentar:

Posting Komentar