Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #10



"Satu-satunya yang mungkin dilakukan kaum buruh untuk melawan kejahatan korporat adalah dengan bekerja seenaknya," kau memonyongkan bibirmu yang selalu tampak ranum dan merah dan kenyal. Sementara segaris bulan sabit mengintip di celah langit. Kau dan aku dan wangi kopi tak henti-henti menghitung kerlip kunang di beranda.
"Maksudmu?"
"Kau tahu, kemenangan sejati kapitalisme adalah ketika lahir barisan pekerja berdedikasi: mereka yang bekerja dengan penuh pengorbanan demi secuil karir dan bonus tahunan dan kenaikan gaji. Mereka yang bersepakat bahwa tujuan hidup manusia hanyalah satu: mencari uang."

Ada derik jangkrik di tengah kegelapan. Sementara dingin angin membawa aroma purba yang sudah kita kenal sejak lama, sejak kita belum mengenal kata-kata.
"Dulu, penjajahan dilakukan dengan praktik kerja paksa semacam rodi atau romusha. Tapi sekarang, penjajahan dilakukan secara lebih sederhana. Alih-alih berontak, para korban justru tertawa-tawa dengan bangganya. Kaum buruh dipaksa memeras keringat hingga tetes terakhir dengan upah yang sebenarnya tak seberapa dibanding pendapatan perusahaan. Setelah itu mereka dibujuk dirayu oleh televisi dan majalah dan internet dan semacamnya agar dengan rela hati membelanjakan hasil keringatnya untuk sesuatu yang sebenarnya tak begitu mereka butuhkan untuk hidup: Apple, BlackbBerry, Honda, Calvin Klein, Starbucks, dan sebagainya dan sebagainya. Dan sekali lagi, siapa yang menang? Korporat! Bangsat bukan?"

Kau tak pernah tahu karena aku tak pernah memberi tahu: kau selalu lucu ketika sedang memaki seperti itu. Tentu saja aku tak menertawakan pemikiranmu. Aku hanya berpikir bahwa makian itu tak seharusnya keluar dari bibirmu.
"Satu hal lagi, mereka yang gemar mengepalkan tangan kiri menggelorakan perlawanan namun masih suka menghisap rokok pabrikan sebenarnya adalah omong kosong tak berguna. Mereka adalah individu tolol yang dengan sukarela menyerahkan diri menjadi mangsa empuk kapitalisme."
"Lho, kok bisa?"
"Jelas. Industri tembakau adalah salah satu industri terjahat di muka bumi. Ketika tak mendapat tempat di negara maju, mereka akan mencari negara miskin sebagai pasar. Menyebarkan propaganda di kalangan muda bahwa merokok itu keren, jantan, dewasa, dan sebagainya dan sebagainya. Mereka menjadi semakin kaya dan berpesta pora dari racun yang mereka jual kepada jelata. Bla bla bla..."

Aku sudah tak bisa lagi sungguh-sungguh mendengar apa yang kau katakan. Aku hanya mencium wangi shampo yang meruap dari rambutmu dan melihat bibirmu yang tak henti bergerak-gerak. Aku tahu bahwa malam masih jauh dari selesai. Dan aku benar-benar tak ingin ini semua usai.


Pulo Gadung, 18 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar