Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #11



Hingga pada waktunya kau akan menyadari bahwa dirimu sedang berada di kondisi yang seperti ini: kau dikuasai keinginan untuk memeluk yang sedemikian membuncah. Kepalamu serupa bola yang dipompa sekuat tenaga: penuh darah dan rindu pecah. Dalam fase ini, segala sesuatu di sekelilingmu akan tampak sebagai bajingan yang layak untuk dimusnahkan. Kau akan melihat orang-orang yang berada di sekitarmu sebagai ancaman. Kau menyadari sepenuhnya bahwa kau sedang tidak baik-baik saja, namun kau tahu bahwa kehidupan juga seperti itu. Kau dan dunia seperti sepasang saudara tiri yang sama-sama memiliki kekuatan sama besar untuk saling membenci dan menelikung dan meracuni. Ada semacam keinginan untuk menyakiti yang tak habis-habis dan selalu terisi ulang. Kau mulai gemar mengutuk segala sesuatu yang berada di sekitarmu: termasuk kelahiranmu. Kau muak dengan dirimu yang tak sanggup melakukan apa-apa, bahkan untuk sekadar menghadapi semuanya seperti apa adanya. Kau bubur tajin yang lumer di cawan plastik. Kau serdadu rendahan yang gagal mempertahankan garis pertahanan. Kau bayi yang meringkuk di sudut kamar: rindu akan tetek ibu yang akan melemparkanmu ke tidur yang lelap dan mimpi yang lenyap. Kau nabi yang selalu gagal meyakinkan umat. Kau sampah kasta terendah yang tak layak berada di manapun. Kau malaikat yang dikhianati Tuhan. Kau serpihan pasir besi: terseret ke sana kemari oleh medan magnet ganjil yang belum pernah kau temui. Kau badut tua yang tak lagi sanggup memancing tawa. Kau tak lebih dari cinta yang pelan-pelan: diam dan jauh dari bising jalanan.


Utan Kayu, 23 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar