Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #7


Tentu saja kau boleh membayangkan suasana yang sedikit lebih dramatis:
Barisan petir bersikilat. Mengerjap di sebalik gorden yang cabik dimakan ngengat. Ibu memeluk kami di sudut ruang; aku yang belum genap sepuluh tahun dan adikku yang masih menetek sehari lebih dari lima kali. Sementara ayah berdiri gagah menghadap jendela. Janggut panjangnya sedikit berkibar sedang tangan kanan memegang tongkat kasti, serupa Musashi yang bersiap menyambut serangan pertama Arima Kihei.

Tapi seingatku, suasananya jauh lebih sederhana dari itu:
Hanya semacam pagi dan wangi kopi dan hujan yang tak juga kunjung berhenti. Tempias yang menjilati kaca jendela mengaburkan pandangan ke arah taman di sudut halaman depan. Ayah membaca koran bekas yang ditemukannya entah di mana. Adikku sudah tidur lagi usai dimandikan dan diguyur minyak telon dan dibedaki sekenanya. Sementara ibu; yang kuingat benar tampak anggun dengan gaun bebunga warna hijau limau; mulai menumpahkan kata-kata seperti biasanya. Kelas filsafat ringan yang harus kucerna bersama nasi goreng cabai hijau pedas buatannya.

"Ingat, kita tak mungkin kehilangan sesuatu yang tak pernah kita miliki," katanya sambil tak henti merajut entah apa. Mungkin sweter untuk adikku atau mungkin kerudung yang akan dikenakannya ketika jalan-jalan pagi ke pasar. Jemari itu tampak lincah memainkan dua jarum yang terbungkus benang wol warna ungu. "Cobalah hanya mempertahankan sesuatu yang memang harus dipertahankan. Menjaga sesuatu yang memang layak untuk dijaga."

Aku masih diam sambil membayangkan, betapa surga diciptakan bagi mereka manusia-manusia terpuji: termasuk mereka yang memilih sembunyi di balik selimut ketika hujan di pagi hari. Kau tahu, ibuku tentu bukan malaikat. Tapi dia adalah manusia paling lugas dan apa adanya sedunia. Dia akan mengatakan bahwa dia suka ketika dia benar-benar menyukai sesuatu. Dan sebaliknya, dia akan serta merta mengatakan benci jika dia memang membenci sesuatu itu.

Hujan masih saja menetes seperti ingus yang bandel ketika tiba-tiba ibu menghentikan rajutannya untuk kemudian menatap mataku dalam-dalam. Seketika aku berhenti mengunyah, berusaha mencerna arti tatapan yang hingga kini kadang masih singgah dalam mimpi-mimpi murungku, "Hidup bukan sekadar tentang seberapa banyak yang bisa kita kumpulkan. Tapi terkadang juga bagaimana cara kita melepas ikatan."

Di titik itu, aku mengambil keputusan: usai kuhabiskan susu cokelat hangat yang tinggal separuh gelas, aku akan kembali ke kamar. Menarik selimut untuk melupakan kalimat-kalimat ibu. Tentu saja aku tahu dan percaya sepenuhnya, bahwa menjadi tua adalah sesuatu yang sulit. Tapi sumpah mati, ketika itu umurku baru sepuluh tahun. Seperti halnya kematian, kerumitan pasti akan datang: tepat pada waktunya.

"Kau lelaki. Kau harus belajar kapan waktu yang tepat untuk beranjak pergi," kuliah ibu belum berhenti.


Utan Kayu, 13 Juli 2013