Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #8


Tak usah kau tanyakan bagaimana aku bisa membayangkan semuanya dengan sangat-sangat nyata. Saat itu, segores sinar matahari pertama menusuk masuk di sesela gorden jendela kamar kita. Garis cahaya mencipta terang gelap di salah satu sudut dahimu: tempat bulu-bulu halus bersetia menanti kecup di ujung pagi. Sementara sisa hujan yang menguar tak henti menampar-nampar kesadaran yang kuyup usai persetubuhan semalaman. Kubayangkan rombongan codot di luar berputar-putar sebentar untuk kemudian meluncur mencari jalan pulang, bersembunyi mencari ruang gelap yang pengap: sebuah tempat di mana segala sesuatunya selalu mampat.

"Kenapa seorang komunis selalu berwajah murung?" kau menyurukkan wajahmu ke ketiakku. Sementara selimut tebal yang sedari malam menutupi tubuh telanjang kita masih saja menebarkan hangat yang sama. Menyimpan wangi tubuhmu dengan caranya yang sempurna: serupa kukusan yang menyekap uap lembab.
"Mungkin karena mereka tak pernah benar-benar yakin akan kemenangan."
Lalu kita menangkap suara anak-anak ayam yang berceloteh di sudut halaman depan. Kau dan aku selalu saja tak pernah sependapat, siapa di antara mereka yang akan menemukan cacing pertama di pojok kolam: tempat di mana dirimu menanam  warna-warni bunga yang tiap hari kau sirami dengan segelas cinta.

"Apakah seorang komunis pernah benar-benar meyakini sesuatu?" kau terus memeluk sambil mendongakkan kepala untuk kemudian menatap kedua mataku lekat-lekat. Ada setitik keringat yang mengembun di sudut alis. Ah, andai kau pernah benar-benar berkaca: betapa kau akan menemukan sekumpulan kunang-kunang yang tak pernah lelah beterbangan. Binar yang selalu saja sanggup membuat hantu-hantu tak henti gemetar.
"Aku hanya tahu apa yang sungguh aku yakini."
"Apa itu?"
Tak ada lagi perbincangan setelahnya. Karena yang terjadi kemudian adalah ini: bibir kita perlahan mendekat untuk kemudian bersilumat. Kau sempat mendesis perlahan untuk mengulang kembali pertanyaanmu. Namun kita sama-sama paham, kau tak pernah benar-benar membutuhkan jawaban. Seperti halnya kita yang sudah lama tak butuh Tuhan.


Utan Kayu, 10 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar