Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang Cinta yang Membusuk di Lagu-lagu #9


Tak usah tertawa. Aku berani taruhan, jika dirimu berada di posisinya kau pasti juga akan melakukan hal yang sama: suka memperumit hal-hal yang sesungguhnya sederhana. Kau tak akan seketika menyebut kata "mata" untuk apa yang sedari kecil kau kenal sebagai mata. Kau mungkin akan menyebutnya sebagai: sepasang sesuatu serupa permata yang bisa kau gunakan untuk melihat dan merekam segala macam keindahan dan kebusukan kehidupan. Atau mungkin: butir hitam putih yang tampak lunak namun terkadang bisa setajam belati di mana dengan keduanya kau bisa mengintip segala yang ingin kau intip.

Begitu juga untuk menyebut hal-hal lain seperti merah, telinga, balon, kerikil, dan segala sesuatu yang sebenarnya kau tahu sudah memiliki nama yang lebih ringkas dan mudah dimengerti. Tanpa kau sadari, kau akan seketika gemar menggunakan rumus yang sama untuk menilai semua yang kau temui dengan kalimat-kalimat janggal yang terdengar sukar.

Kau tahu: cinta memang seperti itu. Dia sungguh asu. Kau yang biasanya selalu saja menemukan kedamaian dalam tidur terpaksa harus menanggalkan itu semua. Kau tak lagi menemukan jenak dalam dengkur atau pun jaga. Kau sadar sepenuhnya bahwa kau harus hidup lebih lama, namun di saat yang sama kau kesulitan untuk menelan segala macam jenis makanan.

Hingga pada suatu titik, kau sudah tak mungkin lagi untuk menyebut apa yang menderamu itu sebagai "cinta". Kau pasti akan menyebutnya dengan kalimat berbelit rumit yang sungguh panjang lebar seperti ini: sebuah gelisah yang tak habis-habis serupa debur yang terus berdebar bagai rindu seorang anak pada hangat dan lembap selangkangan ibunya yang mana perasaan itu sanggup membuat siapa saja yang mengalaminya akan dengan mudah melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah dia mimpikan dan bayangkan. Tak berhenti sampai di situ, kau mungkin masih akan melanjutkannya dengan barisan kalimat lain yang jika disatukan pasti akan mengalahkan tebal kitab-kitab suci karya para nabi baik yang asli maupun yang palsu. Begitulah. Kau tahu: dia sungguh asu.



Utan Kayu, 12 Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar