Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Rahasia Meede ;Menyusun Kembali Mata Rantai Yang Terputuskan

Bagi sebagian orang, sejarah mungkin tak lebih dari serpihan-serpihan kenangan yang tersembunyi dalam sebuah ruang tersendiri. Sebuah ruang yang terasing. Yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang terjadi hari ini. Bahkan mungkin ada, pihak-pihak tertentu yang dengan sengaja memutus mata rantai yang harusnya saling berkait itu. Dengan sebuah motivasi, yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh para pelakunya sendiri.

Sebagai contoh, lihat saja perjalanan dunia arsitektur di negeri ini. Coba anda sempatkan untuk sekali-kali menyusup di sesela bangunan-bangunan tua di kota lama. Dan pasti, akan kita temukan sebuah kejanggalan. Gaya arsitektur belanda; negeri yang menjajah bangsa ini selama 350 tahun; tak lebih dari sekedar mata rantai yang terputus (atau terputuskan?). Para arsitek angkatan pasca kemerdekaan, rupanya memang tak bersedia menanggung sebah beban sejarah. Dalam artian, mereka berusaha mencari (atau menciptakan) sebuah jati diri; sebagai sebuah bangsa yang baru saja merdeka; dengan tidak bersedia mengadopsi apa yang ditinggalkan oleh bangsa yang pernah menjajah negerinya. Karakter bangunan-bangunan yang mereka ciptakan; sebisa mungkin; jangan sampai mencerminkan sebuah bangsa bekas koloni. Begitulah. Sebuah sejarah yang terkadang harus ‘ditinggalkan dan dilupakan’, karena didasari rasa muak yang lahir dari nasionalisme yang meledak-ledak.

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi E.S ITO. Seorang penulis ‘misterius’, yang melahirkan karya yang (menurut saya) sangat luar biasa. Kenapa ‘misterius’? Karena, sementara banyak penulis kita yang menghabiskan berlembar-lembar halaman di akhir bukunya, untuk membariskan karya-karya apa saja yang pernah mereka buat, E.S ITO justru melakukan yang sebaliknya. Dalam halaman Tentang Penulis, di bukunya Rahasia Meede; Misteri Harta Karun VOC, dia hanya menuliskan sebuah kalimat sederhana. ‘E.S ITO Lahir pada seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya adalah seorang petani, bapaknya adalah seorang pedagang’. Sebuah kalimat yang sangat simple. Bahkan terlalu simple.

Merasa tak mendapat informasi yang cukup dari penjelasan ini, saya pun mencoba googling untuk mengorek sedikit informasi lain tentangnya. Dan hasilnya? Nihil. Dalam blog dan website Rahasia Meede-pun ternyata tak jauh beda. Hanya penjelasan simple yang sama persis dengan yang tertulis di bukunya. Namun, secara tak sengaja saya mendapatkan kutipan interview salah satu media (?) yang berhasil menemuinya. Mengenai identitasnya yang seakan disembunyikan, dia mempunyai sebuah jawaban sederhana yang ‘sangat menarik’. Bunyinya (kira-kira) seperti ini : ‘Saya bukan seorang penulis murahan. Deretan CV itu hanya buat para pencari kerja’. Sebuah kalimat yang cukup telak. Dimana; seperti yang sudah saya katakan tadi; demikian banyak penulis kita saat ini, yang begitu membanggakan karya-karya mereka. Hingga harus selalu disebutkan satu persatu, dalam tiap-tiap karya barunya.

Entahlah. Apakah sikap E.S ITO itu masuk dalam kategori sombong, atau justru rendah hati. Namun kategori apapun, sepertinya memang bukan sebuah masalah. Bahkan andaikan dia memang ‘sombong’, saya rasa dia pantas mendapat sebuah permakluman. Karena dia memang punya ‘sesuatu’ yang pantas untuk disombongkan. Bagi anda, mungkin hal ini agak sulit diterima. Tapi anda pasti akan mendapatkan jawabannya, jika anda menyempatkan diri untuk membaca buku tersebut.

Rahasia Meede adalah karya E.S ITO yang kedua. Setelah sebelumnya, dia menulis Negara Kelima. Rahasia Meede, menceritakan tentang sebuah konspirasi tingkat tinggi untuk menyingkap sebuah tabir rahasia, di kota Jakarta. Bagi anda pembaca karya-karya Dan Brown, mungkin akan mendapatkan sedikit kemiripan dalam metode penceritaan. Hanya kemiripan. Bukan kesamaan.

Diceritakan, sebuah terowongan tua ditemukan di perut bumi Jakarta. Terowongan ini, diyakini menuju tempat persembunyian harta karun VOC. Ditambah lagi, kasus pembunuhan berantai yang menimpa orang-orang penting negeri ini. Mayat-mayat mereka, ditemukan di tempat-tempat yang berawalan huruf B. Setiap pembunuhan, selalu disertai sebuah pesan aneh. Yang berupa Tujuh Dosa Sosial, yang pernah dicetuskan Mahatma Gandhi.

Lalu keberadaan kelompok yang menamakan dirinya Anarki Nusantara. Sebuah kelompok rahasia yang eksistensinya benar-benar tak teridentifikasi. Kelompok ini tidak mempercayai kedaulatan Indonesia. Bagi mereka, anarki adalah satu-satunya cara untuk membawa negeri ini menuju sesuatu yang lebih baik. Mereka, menginginkan kehidupan yang tidak terikat hierarki. Bukan kanan. Tapi juga anti kiri. Mereka menyebutnya, anarki.

Hal ini masih ditambah lagi dengan konflik pribadi antar tokoh-tokohnya. Dimana sepasang sahabat, harus menempuh jalan hidup yang saling bertentangan. Dan karenanya, mereka harus saling berbenturan. Keduanya adalah sahabat karib sejak bersekolah di SMA Nusantara. Namun perjalanan waktu, ternyata menjadikan masing-masing dari mereka menjadi dua sosok yang sama sekali berbeda. Salah satu diantaranya mengabdikan diri kepada Negara., dengan menjadi seorang prajurit Sandi Yudha (Kopassus TNI AD). Sementara yang satu, memimpikan sebuah dunia tanpa hierarki bernama anarki.

Alur yang dimain-mainkan dengan liarnya (hingga berhasil memancing rasa penasaran tak berkesudahan), ditambah gaya penceritaan yang begitu detail, dengan pemilihan diksi yang tepat, membuat buku ini sulit diletakkan sejak saya membuka halaman pertama. Belum lagi ditambah informasi-informasi sederhana dan kehadiran fakta-fakta yang selama ini luput dari perhatian kita. Tentang rahasia masa lalu Jakarta, tato Mentawai, pasukan Kakehan, budaya Batak, rahasia operasi Kopassus, SMA Taruna Nusantara, dan lain-lainnya, semuanya dijalin sedemikian rupa menjadi sesuatu yang teramat menarik. Menjadi sebuah cerita, yang (sedikit banyak) bisa ‘mengingatkan’ bahwa kita bernafas di negeri bernama Indonesia.

Mungkin benar apa yang disampaikan M. Fadjroel Rahman, seperti yang tertulis di sampul buku ini. Bahwa Pramodya Ananta Toer muda, telah lahir. Terdengar berlebihan? Mungkin saja. Karena bagaimanapun, dalam hal tulis menulis, Pram masih terlalu digdaya diperbandingkan dengan siapa saja di negeri ini. Namun, menurut saya ucapan Fadjroel hanya ingin memberi sebuah gambaran. Bahwa buku ini, mempunyai tipikalitas yang nyaris mirip dengan karya-karya Pram. Dimana disini, bercerita tentang keberadaan kaum marjinal, berteriak tentang kebebasan yang harus diperjuangkan, dan dipermainkan dengan latar belakang sejarah yang dikelilingi fakta-fakta yang memang benar-benar ada. Hal-hal yang biasa kita temui dalam karya-karya Pram. Mungkin yang menjadi perbedaan hanya satu. Buku ini lebih kaya dan luwes ketika menentukan latar belakang budaya. Dimana, kebanyakan karya-karya Pram sedemikian Jawasentris. Entahlah. Mungkin hal ini didasari latar belakang E.S ITO yang memang bukan orang Jawa. Dan tentu saja, hal ini hanya perkiraan saya semata. Tanpa didasari tendensi apapun. Apalagi sentimen rasis. Sebuah sikap, yang selalu saja membuat saya tertawa. (Kenapa kita sebagai sama-sama manusia harus terlahir dengan kutukan kasta???)

Begitulah. Di tengah-tengah dunia perbukuan kita yang dibanjiri karya-karya chick lit dan teen lit, ternyata ada satu buah buku (novel) yang masih bisa bicara tentang ‘kualitas’. Sebuah buku yang tidak sekedar menghibur, namun juga mencerdaskan. Dalam (lanjutan) interview-nya, E.S ITO mengungkapkan satu hal. ‘Buku chick lit sama sekali tidak berbahaya. Yang berbahaya, adalah chick lit yang bersembunyi di balik kedok agama.’. Entahlah, saya sendiri tidak begitu paham, buku semacam apa yang dia maksudkan. Apakah termasuk salah satu buku laris yang beberapa waktu lalu sempat difilmkan itu (dan bahkan sampai disaksikan seorang Wakil Presiden dan dijadikan bahan kampanye peserta Pilkada)? Saya sendiri juga tidak mengerti. Karena terus terang, saya juga tidak tahu. Apakah buku yang difilmkan kemarin itu termasuk chick lit atau bukan. Karena saya sendiri memang sama sekali belum menyentuhnya. Juga membacanya. Apalagi menonton filmnya.

Namun apapun yang E.S ITO maksudkan dalam perkataannya, satu hal yang pasti saat ini. Saya secara pribadi, merekomendasikan buku ini. Silahkan membaca, dan selamat mendapatkan 'sesuatu'. Percayalah, apa yang akan anda dapatkan akan lebih banyak daripada anda membaca karya Moammar Emka, atau Raditya Dika. :)

0 komentar:

Posting Komentar