Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Antara Kopi, Jazz dan Dirimu

*Bacalah sambil mendengarkan The Fragrance of Dark Coffee


Kekasih,
Telah kukirimkan selembar kartu pos bergambar saxophone untukmu. Kutulis kemarin sore ketika semburat jingga menjelaga di barat sana; saat semilir angin menggugurkan dedaun cemara di sudut taman kota; ketika warna pucat merayap di lekuk bangunan-bangunan tua yang sekarat. Dan baru dini hari tadi kertas warna senja itu kumasukkan ke dalam kotak pos di sudut alun-alun; tepat di seberang kafe di mana sebelumnya kunikmati sisa malam yang hambar; jazz yang menguar; dan secangkir kopi yang membuat jantungku tak henti berdenyar.

Kekasih,
Kau tahu kenapa aku memilih membeli kartu pos bergambar saxophone itu ketika kemarin lusa aku berjalan-jalan di sebuah toko buku renta? Bukan masalah harga tentu saja, tapi karena mimpiku malam sebelumnya. Dalam mimpiku itu, aku adalah musisi sementara dirimu adalah saxophone yang menggelayut di leherku. Jangan tanya kenapa saxophone dan bukan biola, karena aku cuma manusia biasa yang tak cukup punya hak untuk mendikte apa yang bisa dan tidak bisa kuimpikan. Di dalam tidurku itu, berdua kita berkeliling di senyap kafe-kafe gelap, dan ketika pekat mulai merayap, bibir kita tak henti menyatu untuk saling mencumbu; mengalunkan harmoni yang menyayat bagai sembilu; menemani manusia-manusia yang selalu datang dan pergi; pasangan-pasangan bahagia penuh cinta; pun juga seseorang yang ingin menghabiskan malam terakhir sebelum dia memutuskan untuk bunuh diri di jembatan yang membelah kota menjadi dua; setelah sebelumnya gagal mengiris nadi dengan pisau berkarat di kamar hotel murahan yang ranjang kayunya dilumat rayap.

Kekasih,
Kita hidup di jaman yang salah. Sebuah titik waktu di mana cinta adalah semacam tai kuda yang keras kepala; iman adalah selalu berarti legalnya pembunuhan; darah dan amarah adalah amanah. Entahlah. Kita berdua memang makhluk-makhluk peragu yang sangat jarang benar-benar meyakini sebuah kebenaran. Termasuk Tuhan.
‘Benarkah Tuhan itu ada?’, pertanyaan yang selalu terucap dari bibirmu. Dulu. Tapi bukankah kini kita berdua sudah sama-sama lelah? Jawaban atas pertanyaan itu sudah menjadi semacam nasi basi; berkeringat dan mengeluarkan aroma yang melekat.
‘Hidup adalah jazz. Improvisasi tak berhenti’, kau menulis di surat terakhirmu kemarin lalu. Dan ya, mungkin memang benar begitu. Tak ada yang baku di dunia yang semakin asu.

Kekasih,
Berapa cangkir kopi yang sudah kau sesap hari ini? Tiga, lima, atau tidak sama sekali? Ah… Tak mungkin sepertinya, bukankah kau tidak seperti diriku yang tak bakat menjadi pecandu?
‘Kopi itu seperti hidup’, begitu falsafahmu, ‘Di mana manis dan pahit saling berbelit. Melilit rumit. Senang dan sakit’
Ya begitulah. Dan mungkin memang aku yang tak berbakat untuk kehidupan ini. Karena ternyata secangkir kopi saja sudah cukup membuat jantungku tak henti bergeletar. Berdebar-debar. Tak bubar-bubar.

Kekasih,
Kita sudah sepakat bukan, bahwa hidup tak sesederhana opera sabun yang biasa ditayangkan di kotak busuk penebar mimpi bernama televisi. Di mana hampir semua ceritanya berakhir bahagia. A dan B membentuk sebuah keluarga, beranak pinak, dan lalu ditutup dengan musik ceria yang membahana. Hidup yang sebenarnya tak seperti itu. Tak semerdeka itu. Ada politik di muka bumi ini. Di mana pihak satu dan pihak lain saling berebut kursi untuk saling menguasai. Keadilan menjadi sesuatu yang abstrak. Bahkan kebaikan-pun menjadi sesuatu yang sulit untuk dideskripsikan. Bagaimana tidak, bahkan seseorang yang membunuh ratusan orang dengan satu ledakan pun sekarang bisa disebut pahlawan. Dunia macam apa yang kita tinggali ini?

Kekasih,
Dini hari tadi kukirim selembar kartu pos bergambar saxophone untukmu, dan kuharap benda itu benar-benar bisa sampai di tanganmu. Meski sepertinya aku harus berdoa keras untuk hal itu. Bukan apa-apa sebenarnya, hanya saja baru saja kudengar dari kabar yang beredar, pihak oposisi akan mulai bergerak sore nanti. Gerakan bawah tanah akan keluar menantang matahari. Menjadikan alun-alun kota sebagai basis perjuangan mereka. Dan aku sendiri tak cukup yakin apa yang akan terjadi nanti, apakah tukang pos tua berjanggut kelabu yang sering kutemui di kedai kopi itu cukup punya keberanian untuk tetap bekerja, ketika ratusan ribu massa mulai bergerak untuk mencoba merebut negara.

Kekasih,
Jagalah dirimu baik-baik. Berhentilah bertanya, ‘Apakah Tuhan itu ada?’. Anggap saja Dia memang benar-benar ada. Karena hanya dengan begitu kita akan punya cukup kekuatan untuk bertahan hidup di dunia yang semakin hari semakin gila. Hanya dengan begitu kita memiliki harapan.

Kekasih,
Saat ini tak ada sesuatupun yang kuinginkan dari dirimu. Kecuali satu. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa satu-satunya kebenaran yang kuimani tak pernah berubah dari dulu. Adalah mencintaimu.


***


Sersan Ali berhenti membaca. Teringat salah satu mayat lelaki muda yang pagi tadi dia lempar ke dalam truk tentara.
‘Dia bukan pemberontak’, Sersan Ali bicara pada diri sendiri. Teringat gelegar suara Jenderal, ‘Tembak semua pengacau!!’.
Tiba-tiba bibir prajurit itu tergetar, membayangkan andaikan peluru yang bersarang di tubuh lelaki itu berasal dari AK 47 yang kini dipanggulnya, ‘Lalu bagaimana dengan sang kekasih itu? Siapa dia?’.
Sersan Ali menatap ke seberang, sisa-sisa kotak pos yang terbakar. Dia yakin, kartu pos bergambar saxophone itu tak mungkin lagi ditemukan. Tak akan ada alamat yang bisa dia dapat. Kini kertas di tangannya adalah bukan apa-apa dan bukan milik sebuah nama. Dengan tatapan tajam Sersan Ali meremas kertas, lalu membuangnya, 'Tak ada jerit bagi prajurit!'. Angin musim gugur membawa kabur. Sepatu lars berderap tegap. Panser melintas. Aspal mengeras. Sersan Ali sebenarnya ingin berdoa, tapi tak tahu kepada siapa.



***


Casablanca, 22 Februari 2011
01.06

0 komentar:

Posting Komentar