Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Yang Tersisa dari Keping-Keping Ingatan


Alarm ber-tulalit. Bergetar-getar. Biru pucat berdenyar. Saatnya kerja. Cari uang katanya.
(Dia sedang apa ya? Sholat subuh? Ah, betapa tololnya aku. Sekarang tujuh tigapuluh. Dan dia tak se-kafir aku)

***

Indomie dan pagi. Adakah yang lebih sempurna dibanding dua hal ini? Kawan-kawan seperjuangan. Pembicaraan tentang pekerjaan. Omong kosong tak berkesudahan.
‘Kau benar-benar tak merokok sekarang?’
Kugelengkan kepala.
‘Kenapa?’
‘Calon mertuaku tak tega anaknya jadi janda muda’
Lalu meledak tawa. Inilah kota gila. Asap bajaj dan teh botol. Pagi indah yang selalu tolol.
(Apakah dia sedang sarapan juga? Indomie jugakah? Tak mungkin. Dia selalu bilang, ini tak sehat. Dia lebih suka makanan barat. Semacam spaghetti atau pizza hut)

***

‘Ini milikmu?’, satu pertanyaan. Lantai empat kantorku.
‘Iya’
Buku tebal kado kawan-kawanku di kantor terdahulu.
‘Kathmandu? Ini mimpimu?’
‘Selalu. Cuma itu’
Seorang kawan masuk, ‘Mahalkah kesana?’
‘Entahlah. Tapi aku yakin aku bisa’
(...jika dengannya. Dan lagi, masih adakah keindahan yang bisa dinikmati tanpa dirinya?)

***

‘Ini mas pesanannya’
Sepasang cincin di atas kaca. Dua ukuran berbeda. Ada namaku di salah satunya.
‘Nanti kalo ga pas gimana ya, mbak?’
‘Kenapa ga diajak aja, mas?’
‘Hmmm.. Saya pengen ngasih dia kejutan. Tepat di ulang tahunnya minggu depan’
‘Mas-nya ini gondrong tapi romantis ya?’
Tak berlama-lama kubayar harganya. Sebelum perempuan itu lebih jauh menggoda.
(Tinggal seminggu lagi. Tiket kereta sudah kubeli kemarin pagi. Ah, kenapa aku jadi deg-degan?)

***

‘Halo’
Ah, akhirnya diangkat juga.
‘Lagi di mana?’, pertanyaan wajib pertama.
‘Di kos aja’
‘Ohhh… Kok SMS ga dibales?’
‘Lagi ga ada pulsa’
‘Lha… Gajimu yang besar itu buat apa coba?’, mencoba bercanda.
Tapi hening. Ada sesuatu yang asing.
‘Kok lama ga telepon?’, pertanyaan.
‘Hmmm… Aku pengen ngomong sesuatu?’
Ada yang tak biasa.
‘Apa?’
Tepat setelah itu, sebilah pisau tajam tiba-tiba merajam. Menusuk tepat di dada kiri. Sebelum sempat berteriak, pisau itu sudah ditarik lagi untuk bersarang di ulu hati. Terakhir kali, logam berkilat itu berakhir di pangkal tenggorokan. Memutus pangkal lidah yang terkulai lemah. Entahlah. Aku tak ingat apakah ketika itu ada darah. Tak sempat aku tanya, ‘Kenapa?’, dunia gelap seketika.



***


Casablanca, 9 Januari 2011
* Foto karya Navid Baraty (dicuri dari sini)

0 komentar:

Posting Komentar