Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kreator Berkarya, Penikmat Bicara

Tak ada karya yang jelek. Pasti ada sebuah proses di belakang penciptaan sebuah karya. Jaga kata-katamu’, demikian (kira-kira) bunyi sebuah pesan singkat dari seorang kawan yang masuk ke ponsel saya Rabu (11/3) malam lalu. Pernyataan tersebut menanggapi sms saya sebelumnya yang menyatakan bahwa pentas teater berjudul Mawut yang baru saja saya nikmati, jelek. Mawut merupakan adaptasi dari naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma. Pementasan yang digelar di Teater Kecil Institut Seni Indonesia Surakarta tersebut, digelar dalam rangka tugas akhir penciptaan seni seorang mahasiswa pasca sarjana (sekaligus staff pengajar Jurusan Pedalangan) ISI Surakarta, Tafsir Hudha.

Naskah yang semula berbahasa Indonesia oleh Hudha diadaptasi menjadi sebuah pementasan berbahasa Jawa. Tema yang dibahas dalam Mawut adalah tentang penculikan mahasiswa yang terjadi pada medio 1998. Kisah tersebut menceritakan kegalauan tokoh Bapak (diperankan Tasir Hudha sendiri) dan Ibu (Retno Dwi Intarti) yang kehilangan anaknya yang bernama Satria. Naskah ini sendiri dalam konsepnya hampir mirip dengan naskah Kereta Kencana karya Eugene Ionesco yang disadur oleh W.S Rendra. Selain terletak pada pada jumlah tokohnya yang hanya dua, kemiripan juga terletak pada ‘suasana menunggu’ yang menyelimuti perasaan tokoh-tokohnya sepanjang pementasan . Namun perbedaannya, dalam Kereta Kencana sang tertunggu dan terbincang adalah sebuah kereta kencana yang akan menjemput pasangan suami istri tersebut, sementara dalam Mawut yang ditunggu dan dibincangkan adalah anak sang tokoh yang diculik aparat.

Sebenarnya kata jelek yang saya gunakan dalam penilaian tidak mengacu pada sebuah pementasan yang benar-benar parah. Namun lebih dikarenakan mengingat pementasan tersebut digelar dalam rangka tugas akhir program pasca sarjana sebuah institut seni (yang dalam pikiran saya, pasti teramay Wah..). Menurut saya, penataan set panggung dan tata cahaya dalam Mawut belum tergarap secara optimal. Demikian juga akting sang aktor yang masih terlihat kurang greng. Dialog-dialog yang diucapkan Hudha terdengar masih terlalu datar. Gesture tubuhnya-pun juga terlihat ‘terlalu gagah’ dibanding make up wajahnya. Pun demikian juga dengan warna vokalnya. Sementara Retno yang memerankan tokoh Ibu bisa dibilang bermain cukup lumayan. Hingga kesan yang ditimbulkan, permainan Hudha terbanting oleh lawan mainnya. Padahal dalam naskah realis dengan jumlah tokoh minimalis semacam ini, kekuatan aktor adalah ujung tombak. Ping pong dan permainan dialog adalah daya tarik yang seharusnya bisa digunakan untuk memikat penikmat agar terhindar dari kebosanan.

Keberanian saya untuk menjelek-jelekkan pementasan tersebut mungkin bagi kawan saya terdengar agak berlebihan dan arogan. Namun bagi saya pribadi, tindakan semacam ini adalah hak seorang penikmat. Saya sebagai seorang penonton, merasa mempunyai kewenangan untuk menjustifikasi apakah sesuatu yang baru saya nikmati bagus, kurang bagus, atau bahkan tidak bagus sama sekali. Namun harap dicatat, hal tersebut tidak bisa langsung disamaartikan bahwa saya tidak menghargai proses yang terjadi di belakang penciptaannya. Bagi saya, proses penciptaan sebuah karya dan hasil jadinya adalah sesuatu yang berada dalam wilayah yang berbeda.

Saya secara pribadi teramat sangat bisa menghargai sebuah prosesi penciptaan sebuah karya. Terlebih lagi saya juga seringkali menciptakan karya (catatan: jika apa yang saya ciptakan bisa dikategorikan sebagai sebuah karya). Namun menghargai bukanlah berarti harus membohongi diri sendiri. Bagi saya, karya bagus adalah karya bagus. Dan demikian juga sebaliknya. Tindakan semacam ini menurut saya sama sekali bukan sebuah bentuk arogansi. Melainkan memang dikarenakan posisi saya yang memang berdiri sebagai seorang penikmat. Di mana seorang penikmat, memang tak seharusnya dipusingkan dengan proses yang terjadi di belakang penciptaan suatu karya. Bagaimanapun, publik penikmat adalah makhluk anonim yang tidak diharuskan membaca sebuah karya dengan pertimbangan-pertimbangan di luar apa yang dia lihat di atas panggung. Sekalipun di lain hari dia juga berperan sebagai kreator, namun dia harus memahami benar posisinya ketika duduk di bangku penonton.

Tak jarang ketika menghadapi kritik (terlebih dari seseorang yang di saat lain juga berperan sebagai kreator), seseorang akan berkata, ‘Buktikan dengan karyamu…’. Sebuah kalimat yang menurut saya terdengar lucu. Apa yang perlu dibuktikan, dan untuk apa? Karena sekali lagi, justifikasi yang dilontarkan tersebut adalah berasal dari seorang penikmat. Dan sejak kapan penonton diwajibkan membuktikan penilaian yang dia lontarkan melalui sebuah karya? Apakah seseorang harus menciptakan sebuah lagu yang lebih berkualitas hanya gara-gara dia mengatakan bahwa lagu-lagu Kangen Band adalah karya yang buruk? Sekali lagi mohon dicatat, yang berbicara adalah seorang penikmat. Hanya penikmat. Tak lebih.

5 komentar:

  1. nanoq da kansas mengatakan...
     

    Agak aneh dan risih rasanya mendengar ada suatu pementasan (dalam hal ini teater)yang tidak boleh dikatakan jelek. Lha, terus, apa semua pementasan teater itu harus dibilang bagus? Pokoke asal itu pementasan teater harus dibilang bagus?

    "Tak ada karya yang jelek. Pasti ada sebuah proses di belakang penciptaan sebuah karya." -- ini juga adalah sebuah alibi yang lebih aneh lagi. Justru karena kita tahu bahwa di balik suatu karya, di balik suatu pementasan pasti ada sebuah proses, maka kita (penonton) berhak bilang jelek atau bagus. Berhak memuji atau mengkritik. Lain misalnya jika sebuah karya atau pementasan "ujug-ujug ada" tanpa proses, maka barulah sulit mengatakannya jelek atau bagus.

    Biar gak berpanjang-panjang, saya yang kebetulan juga berteater, tidak pernah ragu mengatakan suatu pementasan jelek atau bagus. Saya juga tidak takut membatalkan sebuah karya sendiri bila karya itu saya anggap jelek walau sudah proses dan latihan berbulan-bulan. Dan sebagai insan teater, tugas kita yang utama adalah BAGAIMANA MEMBUAT SEBUAH PEMENTASAN BAGUS. Inilah tanggung jawab seorang kreator kepada publiknya. Persetan dengan proses dan tetek bengek di belakangnya, karena yang kita suguhkan toh bukan proses, tetapi HASIL. "Kalau gak bisa membuat pementasan (teater) yang bagus, GAK USAH BERTEATER!" kalimat ini pernah saya lontarkan setelah menonton sebuah pementasan teater di Surabaya.

  2. nona senja mengatakan...
     

    hmmm, mirip "penulis mati ketika karyanya dibaca para pembacanya" gt ya
    hmmm...

  3. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ nanoq da kansas:
    "Kalau gak bisa membuat pementasan (teater) yang bagus, GAK USAH BERTEATER!"

    wah3.. benar2 keras dan lugas.. he2..

    @ nona senja:
    yaa.. begitu mungkin..

    terima kasih semua..

  4. Anonim mengatakan...
     

    Saya juga melihat karya Mawut (Tafsir Huda)adaptasi dari Mengapa Kau Culik Anak Kami karya seno G A, masalah akting mereka bagus, beberapa ikon tercapai, tapi memang yang terlihat kurang tergarap adalah tata lampu, tapi yang lain cukup bagus, setidak-tidaknya konflik&transformasi ide tercapai -hakekat teater kan ini-.Barang kali lebih bijaksana, ketika kita mau menghakimi -sesuatu apapun-, entah itu jelek atau bagus, kita paham dulu tujuan dan kepentingannya. Karena ketika sudut pandang -tujuan dan kepentingan- berbeda maka tidak akan ketemu/gathuk. Salah satu hal misalnya, sudut pandang bagi orang-orang yang berkarya seni untuk lomba/festival,ujian,atau yang lain, bagi mereka yang terpenting adalah penilaian juri atau penguji, karena tujuannya untuk mencari nilai -selain karena karyanya juga dipengaruhi oleh pembimbing-,tidak peduli pendapat/keinginan/komentar penikmat yang lain (penonton)sebab tidak ada pengaruhnya buat mereka.Solusi yang terbaik adalah ajak mereka -yang menurut anda hasil karyanya jelek- untuk berdiskusi, kalau perlu bimbing -jika anda merasa lebih baik-. Ini menurut saya, penikmat teater yang masih awam dan mau menghargai setiap hasil karya sekecil apapun.
    Dan buat tafsir huda, KAMU HEBAT DI MATA SAYA.Saya lebih suka pementasan realis daripada yang sok absurd -karena lebih bisa dinilai-Bravo&selamat berkarya. Jika berkarya lagi, bisa undang saya di Jatuama@yahoo.com

  5. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ anonim:
    terima kasih atas tanggapan anda.. dan mengulang apa yang sudah saya ungkapkan di atas, menurut saya publik penikmat adalah makhluk anonim yang tidak diharuskan membaca sebuah karya dengan pertimbangan-pertimbangan di luar apa yang dia lihat di atas panggung. karena ketika sebuah karya seni dipertontonkan ke publik (tidak hanya di hadapan dosen pembimbing) berarti karya seni itu sudah 'menjadi milik' publik. dan publik adalah pihak yang saya rasa tak perlu dipusingkan apakah sebuah karya adalah diproduksi untuk 'festival' atau mungkin 'tugas akhir kuliah'.

    dan mengenai ajakan untuk berdiskusi dengan sang kreator (atau bahkan membimbingnya), saya menganggapnya sama sekali bukan wewenang saya. sekali lagi, 'saya hanya penikmat'. itu saja. sebagai contoh, saya merasa saya berhak untuk mengatakan sinetron2 produksi multivision plus berkualitas rendah. namun hak saya hanya sampai di situ. karena saya hanyalah 1 di antara publik. dan seperti yang sudah saya ungkap di atas, yang berhak menjustifikasi seni publik hanyalah publik. dan sedikit ralat, saya tidak pernah merasa bahwa saya 'lebih baik dari Tafsir Huda'. sama sekali tidak pernah. saya hanya penikmat. itu saja.

    sekali lagi terima kasih atas tanggapannya. salam hangat selalu.. :)

Posting Komentar