Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Ternyata Bukan Lekra

*Kritik Atas Pementasan Wayang Gethuck 'Shinta Obong' oleh SOSIALTEATRIKAL

Lekra
. Kata inilah yang pertama kali singgah di benak saya ketika mendengar frase SOSIALTEATRIKAL beberapa bulan yang lalu. Keberadaan kata ini sendiri saya ketahui dari beberapa pesan singkat yang dikirimkan Gepeng Nugroho, seorang sutradara teater di Magelang, kepada beberapa rekan teater di Semarang. Ketika itu arti kata ini sendiri sempat kami bahas dan menjadi pembicaraan seru di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Baru setelah sekian bulan berlalu (dan hampir terlupakan), kata ini kembali muncul dalam sebuah baliho berwarna hijau yang dipasang di depan Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta beberapa waktu lalu.

SOSIALTEATRIKAL mempersembahkan Wayang Gethuck ‘SHINTA OBONG’, demikian (seingat saya) bunyi kalimat yang tertera di baliho tersebut. Didasari rasa penasaran terhadap bentuk pementasan ‘teater (yang namanya berbau) sosialis’ ini , akhirnya saya menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan yang digelar di Teater Arena TBJT, Sabtu (7/3) malam lalu itu.

Ketika pertama kali tiba di lobi Teater Arena, batin saya langsung berteriak, ‘Ini sejarah!’. Karena berdasar pengalaman saya menikmati pertunjukan teater (modern) di sarang-sarang kebudayaan (semacam TBJT ini), belum pernah sekalipun saya melihat sebuah pementasan yang dihadiri banyak ‘orang awam’ (catatan: ‘pengalaman saya’ tidak mewakili pengalaman orang lain). Frase orang awam di sini sama sekali bukan bermaksud untuk merendahkan siapapun, namun lebih untuk menyebut mereka yang tidak begitu terbiasa menikmati pertunjukan teater (modern). Di lobi TBJT, saya menemukan ibu-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek, kakek-kakek, serta anak-anak yang turut antri tanda tangan di buku tamu dan meminta katalog pertunjukan. Setelah sempat mengobrol dengan seorang ibu-ibu salah satu di antara mereka, baru saya mengerti bahwa mereka adalah para pecinta seni tradisi yang seringkali menikmati pertunjukan wayang, ketoprak, maupun keroncong yang seringkali digelar di TBJT.

SOSIALTEATRIKAL adalah gabungan dari beberapa kelompok dan lembaga kesenian di Magelang, yaitu Teater Fajar, Teater Bias 17, Rupadatu Percution, Dewan Kesenian Kota Magelang, Bengkel Seni, Teater Violet, Teater Kejora, Esa Kata, dan Teater Waktu. Sementara pementasan mereka yang disebut sebagai Wayank Gethuck adalah sebuah konsep pertunjukan wayang tiga dimesi (mirip wayang golek) yang terbuat dari gethuk (makanan khas Magelang yang terbuat dari ketela pohon). Hal ini agak mirip dengan konsep Wayang Suket yang dipopulerkan Slamet Gundono. Perbedaannya, permainan wayang yang terbuat dari rumput memang sudah ada di beberapa daerah di Jawa sejak jaman dulu. Sementara wayang yang terbuat dari gethuk adalah sesuatu yang benar-benar baru. Selain itu, wayang suket juga bisa (dan boleh saja) diartikan sebagai sebuah pemberontakan terhadap suatu kemapanan (atau mungkin juga kekuasaan) yang diwakili wayang-wayang yang lebih dulu ada seperti wayang kulit, wayang golek, dsb. Kesimpulan ngawur saya, wayang suket adalah wayang yang menyuarakan suara para kaum akar rumput. Sementara wayang gethuck tak lebih dari usaha segelintir masyarakat Magelang untuk mempopulerkan makanan khasnya. Itu saja.

Tapi menurut saya masih ada sesuatu yang jauh lebih parah. Yaitu adalah penggunaan gethuk sebagai bahan pembuatan wayang. Menurut saya, hal ini justru merendahkan derajat gethuk itu sendiri. Di mana gethuk yang sebenarnya adalah makanan (kebutuhan primer) disia-siakan hanya untuk dijadikan bahan pembuatan wayang. Tindakan ini terkesan tak toleran terhadap penderitaan sebagian masyarakat Indonesia yang masih menderita kelaparan di pelosok-pelosok penjuru negeri. Berkebalikan dengan wayang suket yang justru mengangkat derajat rumput yang sebelumnya mini-guna atau bahkan nir-guna.

Pementasan gratis yang waktu pertunjukannya molor satu jam tepat ini, digelar dalam durasi lebih dari satu jam. Begitu memasuki ruang pertunjukan (setelah diminta mengikuti ‘ruwatan gethuk’, yaitu mencicipi gethuk yang disediakan), saya sempat terkaget. Karena meski memasuki ruangan di barisan depan, ternyata kursi di sisi muka panggung sudah dipenuhi penonton (menurut informasi ‘rahasia’, ternyata yang berada di tempat tersebut adalah para ‘supporter’ yang dibawa dari Magelang).

Sejak memasuki gedung pertunjukan dan selama babak pertama, penonton disuguhi pemandangan dua orang perupa yang membuat instalasi patung yang terbuat dari gethuk di suatu sudut space. Menurut katalog yang saya baca, dua patung tersebut adalah proyeksi dari ‘tokoh tertentu yang menjadi sentral cerita’. Namun setelah menikmati pertunjukan sampai selesai, prosesi ‘berpatung ria’ itu terpaksa saya kategorikan sebagai sebuah tindakan nirmotivasi. Karena (sekali lagi menurut saya) keberadaan ‘adegan’ itu sama sekali tak sedikitpun menjadi faktor yang mendukung pementasan. Tak ada motivasi apapun selain hanya ‘agar terlihat artistik’.

Lakon yang dibawakan di sini bukanlah Shinta Obong yang ada dalam Ramayana, melainkan sebuah adaptasi penafsiran dari cerita karya Walmiki tersebut. Di sini Shinta bukanlah tawanan melainkan istri setia Rahwana. Rahwana yang memboikot permainan dalang keluar dari kotak wayang, sehingga membuat sang dalang marah. Selain itu cerita juga dibumbui dengan keberadaan Laksmana (yang dalam cerita sesungguhnya adalah tokoh yang menjaga kehormatan Shinta) yang berkeinginan merebut hati Shinta kemudian menculiknya dari tangan Rahwana. Lalu ada Hanoman yang menggerakkan kaum bawah untuk melawan penguasa (Rahwana). Cerita diakhiri dengan terbunuhnya Rahwana di tangan Kumbakarna (tokoh yang dalam cerita aslinya sangat setia terhadap Rahwana) yang diprovokasi oleh dalang setelah sakit hati karena ‘pemberontakan’ Rahwana terhadap pertunjukannya.

Entah mengapa, setelah membaca jalan cerita ini saya melihat sebuah kejanggalan. Karena menurut saya, alangkah lebih tepat (dan sesuai dengan nama kelompok SOSIALTEATRIKAL), jika di ending cerita justru dalang yang terkalahkan. Karena bagaimanapun, sosok dalang lebih tepat untuk dijadikan sebagai simbol kekuasaan yang tak terpatahkan. Bukan justru Rahwana yang hanyalah wayang (meski memberontak). Karena dengan terbunuhnya Rahwana, yang terbaca justru pematahan sebuah pemberontakan yang melawan tiran (kecuali jika memang ini yang dimaksudkan SOSIALTEATRIKAL, yang jika benar berarti lebih tepat memakai nama KAPITALTEATRIKAL :).

Permainan di panggung menjadi riuh rendah karena keinginan sang sutradara untuk mengawinkan banyak hal dalam satu pementasan. Ada pertunjukan wayang, ada tari-tarian, ada slide video, dan (seperti sudah dibahas) ada pematung. Selain itu juga terdapat aktor (yang menjadi proyeksi permainan wayang) yang memakai topeng yang terbuat dari gethuk (sebuah tindakan yang ‘sekali lagi’ nirmotivasi).

Musik dalam pementasan ini dimainkan seperti halnya musik ilustrasi dalam sinetron-sinetron Indonesia yang selalu diputar terus-menerus mengiringi dialog. Hal ini tak jarang menenggelamkan vocal sang aktor hingga dialog yang diucapkan tak ‘sampai’ ke penikmat. Selain itu, konsep musik sendiri juga terdengar tak berada di jalur yang sama. Terkadang terdengar musik perkusi yang berbau tradisi, lalu kemudian Jazz, aroma Reggae, bahkan musik mellow khas Letto.

Sementara slide video menampilkan potongan-potongan adegan perang yang diambil dari film-film Hollywood dan visualisasi grafis yang diedit secara kasar. Kostum yang dipakai para aktor pun juga terlihat seadanya. Bahkan prajurit kurus yang memakai celana hijau super pendek dan baret pramuka serta membawa senapan mainan anak-anak di bahunya kembali mengingatkan saya akan sinetron Indonesia produksi keluarga besar Punjabi. Yang mana dalam sinetron-sinetron tersebut selalu ditampilkan paling tidak satu tokoh konyol sebagai pemanis dan pemancing tawa. Belum lagi konsep teater rakyat yang komunikatif dengan penonton (seperti tertulis dalam katalog) yang gagal total. Para aktor dan seluruh kru terlihat bermain sendiri tanpa mengikutsertakan penonton. Bahkan ada salah satu adegan dimana para aktor dan kru membahas tentang tema GTT (Guru Tidak Tetap). Usut punya usut, Gepeng Nugroho sang sutradara ternyata tercatat sebagai Guru Tidak Tetap sebuah SMA di Magelang. Bagaimanapun, mengetengahkan guyonan internal kepada publik yang lebih luas adalah sebuah keteledoran.

Tak mengherankan, gabungan dari berbagai macam ketidaksempurnaan ini membuat ibu-ibu yang sempat saya temui di lobi depan (beserta rombongannya) meninggalkan gedung pertunjukan sebelum pementasan selesai. Tapi sudahlah, bagaimanapun semangat dan usaha kawan-kawan dari Magelang untuk mengetengahkan yang terbaik ini harus kita hargai. Oleh karena itu, saya akan menyudahi tulisan ini sebelum menjadi barisan caci maki yang keji. Yang jelas, ini adalah pertama kalinya saya menonton sebuah pementasan teater dengan memendam perasaan tidak tega. Maaf.

4 komentar:

  1. masmpep mengatakan...
     

    mendengar kata lekra seringkali membuat ngeri. terutama stigma yang dulu-dulu. kalo kata joebar ajoeb lekra bukanlah onderbouw salah satu 'partai itu' sebagaimana ditulisnya dalam 'mocopat kebudayaan indonesia'.

    salam blogger.

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ masmpep:
    sejarah memang bukan milik yg kalah mas..

    salam..

  3. Anonim mengatakan...
     

    biasanya tukang kritik yang seperti ini takpernah berkarya, hanya cuman ngomong didasarkan pada pengetahuan yang baru saja dia baca

  4. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ anonim:
    ya3.. mungkin ada baiknya jika anda membaca tulisan saya yang ini:

    http://lintanglanang.blogspot.com/2009/03/kreator-berkarya-penikmat-bicara.html

    terima kasih...

Posting Komentar