Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Seni Publik; antara ekspresi dan komoditi

Sebuah kebanggaan menyelinap ketika mendengar bahwa ‘Denias, Senandung di Atas Awan’, sebuah film karya anak negeri ini diikutsertakan di Academy Award untuk memperebutkan gelar film berbahasa asing terbaik. Di tengah kepungan karya-karya film low quality yang diproduksi sineas-sineas muda kita, ternyata masih ada satu dua yang benar-benar bisa diuji kualitasnya. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa belakangan ini dunia film kita memang sedang bangkit dari mati surinya. Bahkan ketika libur lebaran yang lalu, jaringan 21 memutar 100% film produksi Indonesia. Sebuah fenomena yang benar-benar jarang terjadi. Lalu apakah peningkatan kuantitas ini mempengaruhi kualitas?
Bagi kita yang pernah hidup di era 90-an, tentu masih ingat dengan film-film yang dibintangi aktor dan aktris Reynaldi, Kiki Fatmala, Inneke Koesherawati, dan MalvinShayna. Ketika itu dunia perfilman kita sedang mengalami masa-masa kritis, sehingga para sineas kita memilih cara-cara instant dengan membuat karya-karya yang berkualitas rendah namun diminati masyarakat. Oleh karena itu tak mengherankan ketika muncul film-film yang mengeksploitasi seksualitas sejenis Ranjang Ternoda, Malam Pertama dan lain sebagainya. Masa itulah yang menjadi fase awal kematisuri-an film kita, karena ketika masyarakat sudah merasa jenuh dengan film-film yang melulu bercerita tentang seks dan hal-hal lain di sekitarnya, pihak produsen lebih memilih untuk tidak memproduksi film lagi.
Lalu setelah beberapa waktu berselang, lahirlah Petualangan Sherina dan disusul dengan Ada Apa Dengan Cinta, dua karya yang menjadi pembuka celah kekosongan dan menyadarkan masyarakat kita, bahwa bangsa kita sebenarnya mampu membuat sebuah ‘film’. Dan sejak itu, bagaikan cendawan di musim hujan, produksi film kita meningkat secara pesat. Bahkan FFI yang sempat vakum kini sudah mulai diadakan lagi. Namun sayang, peningkatan kuantitas ini tak dibarengi dengan kualitas. Dan seperti halnya dengan yang seringkali terjadi di negeri ini, kebanyakan pihak hanya ikut-ikutan latah dengan memproduksi sebuah film yang ber-genre sama dengan film yang sudah sukses terlebih dahulu.
Para sineas ini beralasan bahwa memang film-film semacam itulah yang diinginkan masyarakat kita. Dan sebuah kewajaran ketika mereka memproduksi film yang diinginkan oleh masyarakat. Lihat saja fenomena booming film horror yang belakangan ini marak diproduksi oleh para pemilik modal. Sutradara Garin Nugroho pernah mengatakan, bahwa fenomena ini berkaitan dengan budaya anak-anak negeri ini yang kehilangan orientasi kehidupan, mereka disebut sebagai jiwa-jiwa yang gentayangan yang merasa menemukan sebuah pelarian ketika menonton film-film yang menunjukkan arwah-arwah yang ‘juga’ gentayangan.
Namun terlepas dari pendapat ‘apapun’ dan dari ‘siapapun’ juga, tak dapat dipungkiri bahwa selera masyarakat kita memang sebuah fenomena aneh. Lihat saja keberadaan film-film semacam Pocong, Kuntilanak, dan Jelangkung yang sedemikian ‘sukses’ hingga sampai dibuat sekuelnya. Coba bandingkan dengan film semacam Pasir Berbisik, Opera Jawa, Daun di Atas Bantal, dan Denias, Senandung di atas Awan yang justru jeblok di pasaran, meski sudah mengantongi banyak penghargaan di pentas internasional. Lalu sebenarnya siapa yang bisa disalahkan, ketika masyarakat kita lebih menyukai film-film ‘sampah’ semacam itu?
Fenomena ini mengingatkan saya dengan keberadaan Kangen Band yang saat ini sedang berada di puncak popularitasnya. Meski menuai banyak protes dari berbagai pihak karena rendahnya kualitas musik mereka dianggap merusak selera masyarakat kita, mereka tetap tak bergeming dan justru semakin menunjukkan taringnya. Begitu juga ketika beredar sebuah lagu (rap) yang menjelek-jelekkan mereka beredar di pasaran, mereka tetap tak mempermasalahkannya.
Dan begitulah memang yang terjadi dengan sebuah karya yang hidup di ranah seni publik. Apapun bentuk karyanya dan seberapa tinggi kualitasnya, yang berhak menjustifikasi adalah publik itu sendiri. Masing-masing pihak boleh mempunyai pendapat sendiri-sendiri tentang selera mereka, namun mereka sama sekali tak mempunyai hak untuk mengharuskan pihak lain juga harus mempunyai selera yang sama dengan mereka.
Pada hakikatnya berkarya itu mempunyai dua tujuan, yaitu ‘sekedar berkspresi’ dan ‘menjual’. Kalau kita hanya sekedar ingin berekspresi, kita tak perlu mempermasalahkan ketika karya kita tak diterima oleh masyarakat. Seperti halnya onani, mencipta karya dengan metode semacam ini hanya demi mencari kepuasan pribadi. Namun jika kita berniat ‘menjual’ karya, kita harus peka dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat yang kita sasar. Dan hal semacam inilah yang seringkali membuat para produsen terlihat melacurkan diri. Fenomena sinetron di televisi kita bisa dijadikan salah satu contohnya.
Lalu; sekali lagi; siapa yang bisa disalahkan ketika karya-karya low quality justru lebih bisa diterima oleh pasar? Apakah produsen atau justru konsumen? Diantara kita pasti banyak yang mengetahui keberadaan sinetron ‘Para Pencari Tuhan’ yang ditayangkan SCTV pada bulan ramadhan yang lalu. Secara teori karya ini bisa dibilang ‘tak mengikuti selera masyarakat’, karena tak menceritakan tentang kisah cinta remaja picisan dan tak dihiasi dengan wajah-wajah cantik kebule-bulean. Namun ternyata amat diluar dugaan, rating program ini mencapai angka 40 lebih. Hal ini menjadi salah satu bukti, bahwa apa yang diucapkan oleh pihak production house, bahwa mereka membuat sinetron-sinetron kacangan karena hanya sekedar memenuhi permintaan pasar, adalah sebuah pendapat yang tidak beralasan.
Namun terlepas dari itu semua segala sesuatunya kembali kepada diri kita pribadi. Kita harus sadar dimana posisi kita berdiri saat ini. Ketika kita berdiri sebagai salah satu bagian dari publik, berusahalah menjadi publik yang cerdas. Yaitu publik yang bisa membedakan mana karya yang ‘bagus’ dan mana karya ‘sampah’. Ketika kita menganggap sebuah karya itu bagus, ‘silahkan dinikmati’. Namun ketika kita menemukan sebuah karya yang menurut kita busuk, ‘ya jangan dinikmati’. Apalagi membuat sebuah karya tandingan yang berusaha menjelek-jelekan dan menghujat mereka. Karena publik bukanlah diri kita sendiri. Begitu juga halnya ketika kita berperan sebagai produsen, kita juga harus bisa menjadi produsen yang cerdas. Yang bisa membuat sebuah karya yang tidak hanya membodohi masyarakat, namun juga mencerdaskannya. Dan satu kata kuncinya, jangan sampai uang menjadi tujuan utama dalam berkarya.

2 komentar:

  1. Joell de Franco mengatakan...
     

    Kayaknya sudah menjadi sifat orang Indonesia, bahwa ketika ada sesuatu yang dianggap jelek/tidak sesuai, mereka hanya sibuk mengkritik dan menjelek-jelekkan, tapi tidak pernah berpikir untuk membuat karya yang lebih baik dari yang mereka anggap jelek itu tadi. Dan mungkin saya juga termasuk orang2 seperti itu. Hanya bisa ngecrohi tanpa bisa nandangi.

  2. koboi urban mengatakan...
     

    tampaknya kita dirisaukan oleh masalah yang sama. pertanyaannya, kita yang 'salah', atau mereka yang 'benar'?
    buat beberapa orang yang hari ini masih mikir besok bisa makan apa nggak, masalah kualitas itu nomer sekian. bisa mendapatkan hiburan saja udah bagus.
    mungkin memang kita yang salah karena berbeda dari perspektif mayoritas. ah, itu hanya masalah sudut pandang ndes.
    be different and proud!

Posting Komentar