Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

‘Mengapa hanya hitam yang kau lihat?’

Sejenak hati saya tersentil melihat pentas monolog Jose Rizal Manua yang berjudul Hitam Putih Indonesiaku dalam malam penghargaan Eagle Award 2007 yang baru saja saya nikmati di layar televisi. Di layar terlihat Jose yang mengenakan kostum hitam; sebagai penggambaran sosok yang pesimis dalam melihat negeri ini, sedang berdialog dengan Jose yang berkostum putih, yang sosoknya terproyeksikan di sebuah layar di belakang panggung; sebagai representasi sosok yang penuh dengan optimisme. ‘Mengapa hanya hitam saja yang kau lihat?’, tanya Jose ‘putih’ kepada Jose ‘hitam’.

Saya pribadi tak cukup berani menyangkal, bahwa memang negeri ini sedang berada di dalam jurang keterpurukan. Berbagai krisis multidimensi terus-menerus menghempaskan bahtera kehidupan kita dan menjadikannya semakin kacau balau dalam ketercarutmarutan. Tapi adakah itu sebuah alasan bagi kita untuk memelihara rasa pesimis, yang secara tidak sadar justru semakin memperparah keadaan? Bukankah sebenarnya ‘niat’ adalah limahpuluh persen menuju keberhasilan sebuah proses? Lalu bagaimana jika di dada setiap anak-anak negeri ini yang ada hanya sekedar rasa rendah diri, pesimis, merasa terpuruk, terasing, dan; meminjam istilah Jose; tak henti-hentinya melihat sisi yang hitam?

Kata-kata saya ini bukan tanpa alasan. Terus terang saja saya agak-agak tersinggung ketika mendengar kalimat-kalimat yang merendahkan negeri ini, seakan-akan negeri kita ini adalah tempat sampah. Betapa sering kita dengar sebuah ungkapan, ‘wah…. Indonesia sekali…’, ketika melihat sesuatu yang dirasa tidak benar. Seakan-akan kata ‘Indonesia’ adalah berarti ketidakbenaran itu sendiri.

Lihat saja, ketika melihat kasus korupsi yang tak terselesaikan, sebagian dari kita mengatakan, ‘Inilah Indonesia…’. Ketika kita dengar polisi menerima uang dari para pelanggar lalu lintas, kita katakan, ‘Ya seperti ini Indonesia….’. Ketika musibah menimpa transportasi darat, laut, dan udara negeri ini, seketika itu juga kita menyebut-nyebut ‘Indonesia’ sebagai biang keladinya. Bahkan ketika kita menemukan manusia-manusia yang saling berebut dan tidak mau antri ketika membeli minyak murah, dengan entengnya kita bilang, ‘Itulah tipikal orang Indonesia….’. Mengapa selalu saja kita jadikan Indonesia sebagai kambing hitam?

Sekali lagi saya menyadari, bahwa memang penyakit yang diderita Indonesia tercinta ini memang sudah terlalu kritis. Tapi apakah sesuatu yang terlalu kritis harus segera kita bunuh saat ini juga? Kenapa selama ini kita lebih sering memandang dengan kacamata kuda, memandang dari sisi yang ‘hitam’? Bukankah sebenarnya banyak hal yang bisa kita banggakan? Lihat saja Aceh yang saat ini mulai berhenti bergolak. Coba bandingkan dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu. Lihat juga keberhasilan Kabupaten Jembrana, Bali yang saat ini mampu membebaskan biaya sekolah bagi anak-anak didiknya. Lihat juga keberhasilan tim olimpiade fisika kita yang mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional. Dan yang baru saja terjadi, film ‘Tiga Hari Untuk Selamanya’ karya Riri Reza telah berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik di dalam ajang London International Film Festival. Juga film ‘Denias, Senandung di Atas Awan’ yang untuk pertama kalinya mewakili karya negeri ini di kancah Academy Award. Belum lagi dengan film Opera Jawa, Suster Apung, dsb. Bukankah sebenarnya masih ada; untuk tidak mengatakan ‘banyak’; yang bisa kita banggakan dari Indonesia kita ini?

Percayalah, bangsa ini tak akan beranjak kemana-mana ketika anak-anak negerinya tidak bisa memupuk rasa bangga terhadap keberhasilan bersama. Memupuk rasa bangga tidaklah berarti harus buta dengan menutup mata terhadap ‘kegagalan-kegagalan’ yang ditemui. Justru rasa bangga-lah yang menjadi amunisi kita dalam prosesi perbaikan diri. Dan lagi; tanpa bermaksud mencari apologi; bukankah di dunia ini tiada satupun kesempurnaan selain ketidaksempurnaan itu sendiri?
Sekali lagi, ‘Mengapa hanya hitam yang kau lihat?’ bukanlah sekedar pertanyaan yang menuntut jawaban segera dari kita semua. Mulailah bergerak untuk berperan serta dalam proses penyembuhan republik tercinta. Saat ini juga.



*memperingati 79 tahun Sumpah Pemuda

6 komentar:

  1. NN mengatakan...
     

    bacanya sampe merinding, ‘Mengapa hanya hitam yang kau lihat?’ bagus banget kata2nya

  2. Joell de Franco mengatakan...
     

    Mas Lintang, saya bangga banget sama anak muda seperti panjenengan, memiliki rasa nasionalitas tinggi dan care banget dengan Negara sendiri. Saya melihat sosok calon pemimpin dalam kalimat-kalimat sampeyan...saya yang bodo ini mencoba menilai bahwa akar dari semua perkambinghitaman Endonesa ini adalah karena kita sebagai orang Indonesia sudah kurang punya rasa malu akan keadaan negara sendiri. Coba kalau masih punya rasa malu, pasti deh berusaha nutup2i borok negeri sendiri, gak gampang lagi bilang "namanya juga Endonesa". Tapi dari kalimat tersebut tersirat juga keputusasaan menghadapi situasi dan kondisi negara kita ini. Tapi jujur saya masih bangga kok jadi orang Endonesa. Walau kadang saya desperate juga melihat keadaan negeri kita ini sekarang. Tapi apa yang bisa saya lakukan coba Mas??
    Mungkin semua orang harus punya rasa nasionalisme dan kepedulian yang tinggi seperti sampeyan dulu, baru setelah itu saya yakin Indonesia ini bakal berubah. Dan nanti kalimat "namanya juga Indonesia" jadi akan berubah konotasi jadi positif.

  3. lintang lanang mengatakan...
     

    terima kasih atas komentarnya...
    mas joel... menurut saya prosesi penyembuhan diri ga harus dimulai dari sesuatu yang besar. contohnya : buang sampah di tempatnya, tidak melanggar lampu merah di jalan raya, waktu kena tilang memilih sidang daripada memberi 'uang damai' ke polisi nakal, (mengingat banyak diantara saudara kita yang masih kekurangan air) ada baiknya kalo kita membatasi jumlah air waktu mandi, mengurangi batangan rokok yang kita hisap untuk ngisi kotak infak, dsb dsb.

    sekali lagi, nasionalisme tidaklah harus ditunjukan dengan cara berdiri gagah dengan dada membusung di bawah kibaran sang merah putih. tapi cukup dengan kemauan dari masing2 pribadi untuk memperbaiki diri...

  4. koboi urban mengatakan...
     

    ah, nasionalisme..kalo kata Koil, nasionalisme di negara ini adalah tanda tanya..

    semua yang terjadi sekarang, pola pikir kita, mentalitas kita, adalah peninggalan dari generasi terdahulu dan orang tua2 kita..entah apa dosa negara ini

    ya emang sih, sesuatu yang besar dimulai dari satu langkah kecil..tapi masalahnya belum selesai, balik lagi ke 'namanya juga indonesia' lagi itu..ketika kita mau berubah ke sesuatu yang lebih baik, tidak jarang banyak tekanan2 dari luar,seperti cemoohan 'sok suci lo!' dsb..

    sekali lagi pilihannya ada di kita, to be or not to be..

  5. lintang lanang mengatakan...
     

    mungkin memang benar mbol, kalo semua ini adalah warisan dari para pendahulu kita. tapi apa masalah akan selesai kalo kita cuma diam dan terus2an mencari kambing hitam? yang penting bukan siapa yang salah, karena semuanya sudah terlanjur basah. tapi yang jadi masalah adalah 'siapa yang masih punya keinginan untuk bergerak memperbaiki keadaan ini'.

    mengenai stigma sok suci, 'anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.' yang punya hak untuk menentukan kualitas diri kita adalah kita sendiri. dan lagi, kalo kita masih memperhitungkan persepsi orang lain, berarti apa yang kita lakukan adalah ketidaktulusan. karena jika kita tulus, apapun kata siapapun, semua itu hanyalah omong kosong !! karena cinta hanya memberi...

  6. Ely Meyer mengatakan...
     

    setuju sama mas Joell, rasa malu sudah nggak ada di negeri ini terutama para petinggi kita. kita perlu belajar malu, belajar mau menerima kritikan dari siapapun.
    Tapi ya itu, biasanya ngomong memang gampang, mraktekkannya sulit sekali, apalagi sudah membudaya.

Posting Komentar