Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

(sedikit) menalar tuhan

‘Tuhan’ mungkin adalah satu-satunya topik yang selalu relevan untuk selalu diperbincangkan dalam tiap jaman. Sejak jaman batu hingga jaman serba internet seperti sekarang ini, tema ‘tuhan’ tak pernah terlihat kuno untuk terus diperdebatkan. Lihat saja dengan fenomena yang ada di sekeliling kita belakangan ini, dimana di tengah-tengah perkembangan jaman yang melesat maju secepat peluru ini, kita dengan mudah mendapati keberadaan aliran-aliran kepercayaan yang memaknai tuhan dengan caranya sendiri-sendiri. Bahkan karena apa yang mereka percayai dan ritual mereka yang kadangkala dirasa janggal serta agak berseberangan dengan agama-agama ‘resmi’ yang diakui negeri ini, tak jarang mereka harus rela ketika diberi stigma ‘sesat dan menyesatkan’ oleh lembaga resmi yang merasa mempunyai wewenang untuk mendominasi kebenaran.

Kita tentu masih ingat dengan keberadaan Kerajaan Tuhan yang dipimpin oleh Lia Eden, seorang ‘nabi’ yang akhirnya harus mendekam di balik jeruji yang banyak diperbincangkan orang beberapa waktu yang lalu. Begitu juga dengan anggota Jamaah Ahmadiyah yang harus rela ketika rumah mereka dibakar karena mereka dianggap menyebarkan aliran sesat dengan mempercayai bahwa masih ada nabi yang akan lahir setelah Muhammad. Dan yang baru-baru ini sering muncul di layar tivi adalah keberadaan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah yang juga dikecam oleh beberapa pihak karena mempercayai kemungkinan turunnya Al Masih Al Mau’ud sebagai nabi yang baru.

Beberapa kasus yang tersebut diatas menjadi salah satu bukti, bahwa keberadaan ‘tuhan’ adalah sesuatu yang vital bagi eksistensi seorang manusia, hingga masing-masing dari mereka berusaha menemukan jalan ‘terbaik dan terdekat’ dalam rangka memaknai dan menuju kepada kebesaran-Nya. Bahkan tak sedikit pula para pakar yang berusaha menjabarkan fenomena ‘tuhan’ dalam beberapa buku yang ditulisnya dari sudut pandang mereka masing-masing. Mulai dari sisi filsafat, ilmu pengetahuan atau (pastinya) agama. Dan tentu saja, perbedaan sudut pandang semacam ini juga melahirkan pemahaman yang berbeda-beda pula. Bagi seorang ahli agama, ‘tuhan’ mungkin dipersepsikan sebagai suatu zat maha agung yang tak terjabarkan yang mencipta segala yang ada di muka bumi ini dan menggariskan garis-garis nasib siapapun yang ada di sini. Tapi mungkin bagi seorang ilmuwan, ‘tuhan’ tak ubahnya hanyalah sebuah tokoh rekaan yang diciptakan sendiri oleh manusia yang mempunyai keterbatasan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi dalam kehidupan ini. Dan tak menutup kemungkinan obyek yang sama juga akan menghasilkan kisah yang berbeda jika yang melihatnya adalah seorang ahli filsafat.

Lalu manakah yang dianggap paling benar dari ketiga sudut pandang diatas? Entahlah. Tapi bukankah seperti halnya kata sifat lainnya, ‘benar’ atau ‘salah’ adalah sesuatu yang relatif? Mungkin dalam hal ini, saya agak menentang kepercayaan kaum pragmatis yang menganggap kebenaran adalah sesuatu yang mutlak dan karena itu tak bisa diperdebatkan. Saya hanya berusaha menghargai masing-masing individu yang ;saya pikir; mempunyai keunikannya sendiri-sendiri, tergantung dari latar belakang kehidupannya yang berbeda, mulai dari asal geografis, etnis, pendidikan, usia, jenis kelamin, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan fenomena keberadaan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai seorang ‘atheis’? Berbeda halnya dengan pemahaman awam yang menganggap seorang atheis adalah sekedar orang yang tidak mempercayai keberadaan tuhan, sebenarnya ‘atheisme’ bisa dikategorikan dalam beberapa jenis. Pertama adalah seorang atheis yang menjadi atheis karena dia berpikir. Dalam pemahaman pemikirannya, dia mendapatkan jawaban akhir yang menyatakan tentang ketidakberadaan tuhan. Dan oleh karena itu dia menjadi seorang atheis. Yang kedua adalah 'atheis munafik’. Rata-rata orang semacam ini memilih menjadi atheis karena mereka marah dengan ‘ketidakadilan’ yang diberikan tuhan. Dan karena itu dia marah kepada tuhan dan memilih jalan hidup sebagai seteru tuhan yang berusaha menyangkal keberadaannya. Namun tanpa disadari penyangkalan semacam ini justru menampakkan keyakinannya akan keberadaan tuhan. Dan oleh karena itu disebut sebagai ‘atheis munafik’. Dan yang ketiga adalah seorang ‘atheis ngawur’. Yaitu seorang atheis yang semata tidak mempercayai tanpa mempunyai alasan dan pedoman yang jelas. (Kaum jenis ini bisa disejajarkan dengan kaum yang mengaku beragama tapi hanya sekedar ‘mempercayai’ tanpa mampu menjabarkan sebuah alasan, karena rata-rata mereka sekedar menganut agama yang diturunkan oleh orang tua.)

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memilih untuk tidak berafiliasi dengan satu agama tertentu, karena konsepsi tuhan menurut mereka berbeda dengan konsepsi tuhan yang ada di agama-agama? Apakah mereka juga bisa dikategorikan sebagai seorang atheis? Kaum semacam ini lebih mempercayai bahwa ‘tuhan’ adalah sebuah kebenaran hakiki yang bersemayam jauh di keheningan masing-masing individu yang bisa dijadikan refleksi dalam betingkah laku, dan bukan sekedar sebagai zat maha agung pencipta segala rupa yang menggariskan tiap-tiap jalan kehidupan bagi tiap-tiap makhluknya. Kaum semacam ini lebih menganggap ‘tuhan’ adalah sesuatu yang ada ‘di dalam’, dan oleh karena itu selalu lebih berhati-hati dalam bertindak. Dalam hal ini saya tak bermaksud mengatakan bahwa kaum agama lebih rendah derajatnya dibanding kaum ‘abstain’ semacam ini, tapi bukankah fenomena yang ada di sekeliling kita mencerminkan sebuah ironi? Bagaimana tidak, jika sebuah negeri yang rata-rata para pejabatnya sudah bergelar haji masih dipusingkan dengan kasus korupsi? Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa rata-rata umat beragama kita menganggap keberadaan ‘tuhan’ adalah di luar dari diri kita, dan oleh karena itu mudah untuk dikelabui. Puasa dilaksanakan, tapi korupsi juga tidak berhenti. hal semacam inilah yang membedakan kaum (yang mengaku) beragama dengan kaum ‘abstain’.

Terlepas mana yang benar dan mana yang salah, yang jelas belakangan ini semakin banyak manusia yang berusaha untuk bisa mendominasi kebenaran seakan suara mereka adalah suara tuhan. Mulai dari FPI yang gemar menegakkan kebenaran dengan sebilah pedang sampai MUI yang dengan mudahnya memberikan fatwa haram, sesat dan menyesatkan.

Saya tidak menyangkal bahwa agama adalah sebuah hukum yang mengajarkan kebaikan (saya bilang kebaikan, bukan ‘kebenaran’), tapi jika kita menilik jauh ke belakang ke masa lahirnya agama-agama yang saat ini ada, bukankah kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa agama-agama itu tak lain sebagai ‘sebuah hasil budaya’? Bukankah hal ini bisa dilihat dari keberadaan agama Islam, Nasrani, dan Yahudi, dimana ketiganya mempunyai akar yang sama dan karena itu bisa dikelompokkan sebagai agama-agama ‘abrahamic’? Lalu salahkah, jika kebudayaan (yang memang bukan sesuatu yang harus stagnan) memilih untuk berkembang? Bukankah islam sendiri juga merupakan perkembangan dari kristen dan yahudi, dimana islam berhenti di masa Muhammad, sedangkan kristen dan yahudi memilih berhenti di titik isa dan musa? Jika hal ini adalah sebuah kebenaran, lalu adakah yang salah ketika belakangan ini muncul nabi-nabi baru semacam Lia Eden, Al Masih Al Mau’ud atau siapapun namanya? Entahlah. Tapi yang jelas, mereka yang lahir belakangan ini adalah nabi-nabi yang lahir di masa yang salah, karena mereka lahir ketika umat manusia sudah (merasa) bisa berpikir kritis, meski sebenarnya mereka belum terlalu kritis untuk bisa mengkritisi apa yang mereka percayai saat ini, karena mereka masih menganggapnya sebatas sebagai sebuah dogma.

Satu hal yang perlu saya tekankan, saya disini sama sekali tidak bermaksud menyerang agama-agama apapun yang ada. Saya hanya melemparkan sebuah wacana, agar kita mau belajar untuk mencari tahu apa yang menjadi pilihan kita dalam kehidupan. Karena yang membuat manusia menjadi 'Manusia' adalah berpikir.
salam..




*semua teori yang tertulis disini adalah pendapat pribadi

4 komentar:

  1. Ali mengatakan...
     

    Malah diusir, Bung. He he he...

  2. Joell de Franco mengatakan...
     

    Bro, masalah yang berkaitan dengan spiritual seperti ini memang adalah sebuah pilihan. Setiap orang berhak mempunyai pilihannya sendiri. kalo saya, meskipun agama yang saya anut sekarang ini adalah warisan dari orang tua, namun ketika saya sudah mulai bisa (sok) berpikir, saya jadi benar-benar meyakininya, karena semua konsep yang dipertanyakan semua ada jawabannya dalam agama saya ini. Agama, terlebih lagi Tuhan menurut saya, skali lagi menurut saya lho, adalah sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan. Kita hanya perlu percaya, meyakini, dan menjalankannya. Bukan berarti kita seperti robot yang tidak bisa berpikir,tapi kalo menyangkut agama dan Tuhan ya memang seharusnya begitu menurut saya, karena sepintar-pintarnya otak manusia berpikir, ketika dia mempertanyakan Tuhan, maka akan sampai pada suatu titik dimana dia akan mengalami kebuntuan. Itu menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan, dan itulah kenapa manusia tidak boleh menyandang gelar "Maha", yang itu hanya diperuntukkan buat Tuhan saja.
    Kalo ndak percaya silakan pikir ini : Manusia, bumi, dan alam semesta adalah ciptaan Tuhan, sampeyan sebagai orang beriman dan beragama pasti percaya itu kan? Manusia boleh saja memiliki pemikiran dan berkesimpulan mengenai asal mula bumi terbentuk, dan planet2 juga. tapi ketika diajukan pertanyaan mengenai Tuhan yang menciptakan semua itu, darimanakah Dia ada, siapakah yang menciptakannya (astaghfirullah), maka apa bisa ditemukan jawabannya??
    Mungkin hal itu bisa sebagai penguat rukun iman yang mengharuskan penganut agama saya untuk percaya (beriman) kepada beberapa hal yang tidak akan bisa dibuktikan/dinalar keberadaannya melalui akal pikir manusia namun harus dipercayai termasuk tentang Tuhan tadi.

    Wah jadi kaya numpang posting ni, sori mas Andik kalo kepanjangen...saya memang suka nggunem gak jelas dan gak ada isinya kaya gitu e, mohon dimaafkan...hahahaha...

  3. como mengatakan...
     

    wah, bahasan yang cukup membuat kening saya mengkernyit. Em..sebenarnya atribut2 yang tertempel pada kita untuk mencari eksistensi so called "tuhan", gak akan pernah ada habisnya jika kita telaah. mulai dari animisme, dinamisme, mitologi, new age, samawi, kejawen dan apapun alternatif2 yang ada. menurut saya, hal2 yang saya sebut di atas itu sebagai sebuah institusi, sebagai organisasi, sebagai wadah yang seolah -olah memunculkan "imagined community". Saya akan merasa satu keluarga dengan sesama pemeluk Kristen, ato sampeyan akan merasa sebagai saudara karena sama-sama Muslim. Menurut saya, agama itu muncul dari sebuah kultur. Dalam kultur itu masing2 individu mempunyai space untuk saling berkomunikasi. Dari komunikasi muncul dialektika. Dari dialektika muncul perdebatan tentang hal yang paling hakiki, yaitu keberadaan tuhan. wah, pake ilmu paling logis sekalipun, pake teori relativitaspun, gak akan ketemu. jadi sekarang, kalo kita terus -menerus mempertanyakan keberadaanya, kita gak akan maju. Tuhan2 kekinian lebih canggih bos, serba online, mobile, urban, e-lifestyle dsb. ha.ha.sori, aku dadi mumet ki...kalo mau menalar Tuhan, tuh ada buku judulnya "SEMIOTIKA TUHAN" terbitan mana aku lupa...silahkan dibaca, barangkali bisa jadi referensi menarik. salam...

  4. lintang lanang mengatakan...
     

    buat mas ali : terima kasih, sudah bersedia mampir... kebetulan kemarin saya abis baca buku tentang jamaah ahmadiyah.

    buat mas joel : bener mas joel, seperti apapun konsepsi tentang tuhan yang saya percayai, ga usah diperdebatkan. dan karena itu saya ga akan mendebat anda. he2... bukan apa2, karena saya yakin, apapun konsepsi kita, tujuannya adalah demi kebaikan. itu yang penting... (tapi ngomong2 kok nyebut nama aseli ya? he2...)

    buat mas como : betul mas.. saya lebih percaya bahwa agama itu muncul dari sebuah kultur. tentang 'SEMIOTIKA TUHAN', itu terbitan dari PINUS karangan Audifax. kebetulan saya punya. mungkin buat referensi lain bisa dibaca 'MENALAR TUHAN' karya Frans Magnis Suseno.

    buat semuanya, terima kasih sekali...

Posting Komentar