Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

antara candu, rakyat, dan ketidakadilan

‘dalam kerendahan hati ada keluhuran budi…
dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa…
hidup ini indah jika ada maaf diantara kita…’

Tiga larik kalimat diatas saya temukan tertulis di selembar kartu lebaran yang disebarkan oleh salah satu pejabat pemerintahan kota Semarang. Sepintas tak ada satu hal-pun yang terlihat salah dari kumpulan kalimat diatas. Namun jika kita bersedia menelisik lebih dalam, mungkin kita; terutama yang sehari-hari hidup terlalu dekat dengan penderitaan; akan menemukan sebuah ironi dalam rangkaian kata-kata tersebut.

Benarkah kekayaan jiwa jauh lebih berarti dari kemiskinan harta? Entahlah. Tapi yang jelas, secuil kalimat diatas dibuat oleh orang yang sehari-harinya hidup berkecukupan dan tak mungkin merasakan kelaparan dalam setiap detak kehidupan. Menurut saya, sepenggal kalimat diatas tak ubahnya seperti selinting daun ganja yang diharapkan bisa membawa penikmatnya melayang diantara awan-awan melupakan penderitaan yang mendera kehidupan. Mengapa?

Karena seperti yang kita lihat di sekeliling kita, selama ini rakyat miskin selalu saja dijejali dengan pemahaman bahwa tak ada yang salah dengan kemiskinan mereka. Mereka tak henti-hentinya selalu dibuai dengan kata-kata yang mengatakan bahwa di dalam kemiskinan harta tersimpan sebuah kekayaan jiwa. Lalu salahkah jika saat ini saya menganggap kalimat semacam ini tak ubahnya sebagai candu yang dipropagandakan oleh orang-orang kaya yang sehari-harinya tak mengenal arti kata lapar dan proletar, agar para miskin tak begitu mempedulikan ketidakadilan dan kesenjangan yang terbentang diantara keduanya?

Lalu benarkah kehidupan akan menjadi sesuatu yang lebih indah jika ada maaf diantara kita, ketika hak yang seharusnya menjadi milik kita sebagai rakyat justru dinikmati dan dikorupsi ria oleh sebagian mereka yang memegang tampuk kekuasaan? Bukankah lebih baik; dan lebih indah; jika permintaan maaf tak hanya sekedar sebatas kata, tapi juga disertai dengan ketulusan hati untuk bersedia menjadi pemimpin yang bisa mengayomi, dan sukur-sukur bagi yang pernah berkorupsi, bersedia mengembalikan hartanya kembali untuk negara?

Kalimat-kalimat semacam yang tertulis diatas inilah yang membuat Marx memiliki pemikiran bahwa agama adalah candu. Candu yang membuat rakyat miskin melupakan kemiskinannya hingga tak ada sedikitpun keinginan untuk menggugat ketidakadilan yang seharusnya diperjuangkan, karena mereka terlanjur percaya bahwa segala sesuatunya sudah digariskan sedemikian rupa oleh yang diatas sana.

Percayalah, bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan ketika kita bersedia memperjuangkan. Bukankah seorang Ken Arok yang notabene seorang bajingan jalanan-pun ternyata bisa merebut Ken Dedes dan Tumapel dari kekuasaan Tunggul Ametung? Berhentilah memejamkan mata dan mulailah bangun dari mimpi siang ini juga. Dan mari kita berjuang bersama untuk mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan.

Salam…

4 komentar:

  1. Iki aku meneh bro... mengatakan...
     

    Hahaha...tipikal anak muda banget...selalu curiga dan kritis terhadap apapun juga, gak salah memang...Kaya miskin itu kan relatif. Ada koruptor bajingan tengik yang seluruh keluarganya terlibat perongrongan harta suatu negara pun masih bilang kalo dirinya miskin, bahkan satu rupiah pun tidak punya. Ada orang yang bisa kita judge kalo dia miskin, tapi pada kenyataannya dia tidak merasa miskin...knapa? ya karena itu tadi, kaya dan miskin itu relatif, tidak melulu kedua hal tadi dikaitkan dengan banyak tidaknya harta yang dimiliki. Dan tidak melulu juga orang yang punya harta jauh lebih sedikit merasa harus mempermasalahkan kesenjangan yang dia miliki dengan orang kaya. Itulah yang namanya ilmu ikhlas kawan. Seseorang ikhlas menerima nasibnya, ikhlas bukan berarti tanpa usaha. Dia tetap berusaha, namun sekeras2nya dia berusaha taraf hidupnya hanya segitu2 aja, ya sudah dia menerima aja apa yang sudah digariskan (seperti yang dibilang di postingan ini), Berarti Tuhan memang hanya mempercayakan dia harta yang segitu jumlahnya pada dirinya. Percayalah, Tuhan selalu punya cara untuk menjaga umat-Nya, salah satunya dengan harta tadi. Apakah semua orang harus jadi bajingan pemberontak yang mendapatkan kekuasaan(harta) dan kenikmatan duniawi dengan tidak jujur dan harus bergelimang darah seperti Ken Arok? tentu tidak kan...

  2. lintang lanang mengatakan...
     

    terima kasih atas komentarnya mas joel....ya mungkin memang saya yang masih terlalu bodoh untuk memahami ilmu ikhlas mas... he2... dan mohon maaf kalau saya termasuk orang yang tidak mempercayai garis nasib.. bukan saya tidak mempercayai keberadaan tuhan, tapi mungkin konsepsinya saja yang agak berbeda.. sekali lagi terima kasih...

  3. Dony Alfan mengatakan...
     

    Yang paling enak tentu kaya harta dan kaya jiwa. Tapi, kita nggak bisa milih tho?
    Klo ada yang miskin, ya kita bantu supaya dia bisa memperbaiki kualitas hidupnya, jangan sampai miskin itu menjadi semacam penyakit turunan yang akan menurun ke anak-anaknya.

    Mari bangkit dari kemiskinan! Miskin harta maupun moral...

  4. lintang lanang mengatakan...
     

    setuju don, mari kita bantu mereka. membantu kualitas hidup tidak harus langsung dalam bentuk materi. karena biasanya itu justru semakin merusak mentalitas mereka menjadi 'mentalitas kere' yang sekedar terus2an mengharapkan bantuan tanpa pernah mau berusaha.
    memang agak sulit. jadi serba salah.

Posting Komentar