Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

August Rush: Drama (Bukan) Kumbara

‘Metal. Mellow total’, sayapun nyeruput susu Ultra dan membakar sebatang rokok. August Rush. Film lama sebenernya. Karya Kirsten Sheridan tahun 2007. Hasil merampok bandwidth kantor tadi siang. Tak menghargai seni? Mungkin. Saya memang pembajak.

Film produksi Warner Bros ini bukan film jelek. Memang sih, terlalu Hollywood. Happy ending dan serba kebetulan. Tapi setidaknya lagu-lagunya bisa jadi pengantar minum bir yang cukup lumayan.

Kisah dibuka dengan narasi seorang anak bernama Evan Taylor (Freddie Highmore). Dihiasi gambar ketika dia berdiri di tengah padang ilalang sambil mendengarkan ‘musik’ dunia. Dialah si ‘yatim piatu’ yang tinggal di sebuah panti asuhan. Seorang anak ‘haram’ hasil one night stand antara seorang musisi rock bernama Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers ) dengan seorang pemain cello bernama Lyla Novacek (Keri Russell)

Di bawah bulan purnama sepasang sejoli ini bercinta di atap sebuah gedung. Pada pertemuan pertama. Ya. Pada pertemuan pertama. Dengan diawali dialog romantis seperti di kisah-kisah putri produksi Disney, keduanya lalu saling melumat. Lalu erat. Namun seperti yang sudah digariskan penulis kisah, pertemuan pertama itu adalah juga yang terakhir. Mereka berpisah. Dan karena satu hal, bayi Evan yang lahir (sekitar) sembilan bulan setelahnya ditaruh di panti asuhan oleh ayah Lyla, Thomas Novacek (William Sadler). Mati, begitu katanya pada putri tercinta. Hingga cerita bergulir sebelas tahun sesudahnya. Pencarian, penantian yang lalu diakhiri pertemuan. Bahagia pada akhirnya.

Musik. Inilah satu hal yang paling digaris bawahi dalam film ini. Sebenarnya bukan kesengajaan jika dua hari terakhir ini saya menikmati dua film yang sama-sama bercerita tentang seorang komposer. Yang satu lagi adalah Trois Couleurs: Bleu. Sebuah film perancis produksi 1993. Tapi jangan coba membandingkan antara keduanya. Peraih Best Film, Best Actress dan Best Cinematography dalam Venice Film Festival 1993 ini jauh lebih hening dan khidmat. Khas film-film Eropa. Dan satu lagi, jauh lebih realis.

Ya. Menurut saya August Rush memang terlalu mengada-ada. Terlalu banyak kebetulan yang dipaksakan. Seperti halnya telek bebek bernama sinetron yang menghiasi layar TV negeri ini. ‘Jelas beda’, seorang kawan mendebat saya, ‘Setidaknya di film ini tidak ada adegan mata mendelik-delik jahat yang dizoom in zoom out ping seket buntet’, lanjutnya. Ya. Dia benar. Mungkin memang itu salah satu hal yang membedakan di antara keduanya. Tapi tetap saja alur cerita August Rush sangat memungkinkan dikategorikan sebagai kisah yang (meminjam kosakata jaman terkini) lebay.

Sekali lagi, saya tidak bilang film ini jelek. Tidak. Lha wong nyatanya berhasil menjadi salah satu nominator Academy Award 2007 kok. Cuma ceritanya sedikit mengada-ada. Bagi saya, menikmati film ini membuat penantian sekianpuluh tahun Florentino Ariza dalam Love in The Time of Cholera menjadi jauh lebih memungkinkan untuk benar-benar terjadi. Tindakan ‘tolol’ dalam film yang menurut saya gagal menerjemahkan karya besar Marquez itu tiba-tiba saja terdengar jauh lebih membumi. Tapi sudahlah. Toh August Rush memang sekadar fiksi. Yang penting saya besok mau download original soundtrack-nya. Lumayan untuk menemani saat insomnia. Begitu.



***



Casablanca, 1 Juni 2011

3 komentar:

  1. Sang Nanang mengatakan...
     

    wah saya malah belum pernah nonton je...

  2. Majalah Masjid Kita mengatakan...
     

    itu dia adegan yg saya benci... mata mendelik dan zoom zoom gak jelas :(

  3. Setyo A. Saputro mengatakan...
     

    @ Sang Nanang: cobalah nonton bung kalo ada waktu.. musiknya lumayan bagus.. :D

    @ Majalah Masjid Kita: memang tayangan tidak sehat bung.. :D

Posting Komentar