Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Taiisme



Gombal mukiyo!’, kawan saya muntab. Seorang ibu muda yang berprofesi sebagai abdi negara di salah satu departemen milik negeri ini. Baru beberapa bulan yang lalu dia manak (baca: melahirkan anak). Seorang anak lelaki yang (konon kalo disimpulkan dari status-status heboh di akun jejaring sosialnya) cukup lucu.

Begini ceritanya. Siang tadi dia mengantar anak pertamanya itu untuk imunisasi. Dan tak lama setelah itu di beranda akun FB-nya dia menemukan link sebuah artikel yang diposting seorang teman, Imunisasi = Tipu Muslihat Yahudi Menghancurkan Umat Lain. Sebuah artikel sampah dari seseorang yang (merasa) kalah.

Sebenarnya bukan isi artikel copas dari kaskus itu yang bikin kawan saya ngamuk-ngamuk. Tapi siapa yang memposting link itu. Temannya kawan saya itu juga PNS. Begitu juga suaminya. Dan konon keduanya adalah anggota (atau minimal simpatisan) dari satu organisasi multinasional yang setiap hari menggembar-gemborkan jaman keemasan kekhalifahan dan sangat anti terhadap apapun yang berbau demokrasi (baca: HTI).

Di titik inilah penonton mulai tergelak. Seseorang yang tiap hari tak henti menghujat demokrasi sebagai tai, tapi membelikan susu anaknya, membeli sabun untuk mencuci pakaiannya, membeli mie ayam, celana dalam, daster dan menghidupi segala keperluan keluarganya dari gaji bulanan sebagai seorang abdi dari negara yang (secara de jure) menjunjung tinggi azas demokrasi? Lha ini namanya what the hell atau what the fuck?

Di jaman kini, ideologi menjadi sesuatu yang tak penting lagi. Begitu kata seorang kawan. Tak heran, di jalanan bisa saja kita melihat seorang penjual bakso mengenakan kaos PDIP sementara di gerobaknya tertempel stiker PKS & Golkar. Sesuatu yang sepertinya sulit kita temukan di masyarakat politik yang masih menjunjung tinggi arti ideologi seperti Thailand, misalnya. Atau mungkin juga di Indonesia dekade 60-an. Sebuah masa di mana ideologi bukanlah sesuatu yang main-main. Di mana kiri adalah berarti kiri. Kanan adalah kanan. Komunis, nasionalis atau agamis.

Tahun 65 saya belum ada. Tapi dari yang bisa kita baca dari catatan-catatan yang ada (catatan Gie salah satunya), ketika itu masing-masing mahasiswa (atau rakyat pada umumnya) benar-benar menyadari perannya sebagai agen politik dari ideologi yang mereka imani. Tapi sekarang? Tai kuda dengan itu semua. Ideologi-ideologi besar sudah pecah tak tentu arah. Terlalu banyak varian. Sementara masyarakat juga semakin pragmatis. Seseorang yang mengenakan kaos PKS di jalanan belum tentu mengimani ide-ide yang diusung partai itu.

Lalu jika kondisinya seperti ini, sebenarnya pihak mana yang bisa dikatakan menang? Entahlah. Yang jelas, pada akhirnya kita memang akan kembali pada hukum yang biasa. Mulut bisa saja mengaku Agamis. Bahkan Komunis. Tapi perut tetap saja Kapitalis. Begitu..

***

Casablanca, 3 Juli 2011

2 komentar:

  1. Anonim mengatakan...
     

    Tulisan yang bagus, buat ngaca orang2 di negeri ini...

  2. Setyo A. Saputro mengatakan...
     

    Terima kasih bung..

Posting Komentar