Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Muhammad – muhammad


Asu!!!’, Muhammad membanting kartu. Wangi ciu memburu. Sementara yang lain terbahak. Gelak menggelegak.
‘Mungkin memang belum rejekimu, Mad..’, lalu seteguk. Malam yang mabuk.
‘Iya, Mad.. Namanya saja hidup.. Ada yang menang pasti ada yang kalah..’, seorang kawan sok bijak. Sepasang cicak berdecak.
Cangkemmu! Ini duit istriku! Besok makan apa coba?’, Muhammad setengah gila. Cleguk.. otak beranak pinak. Alkohol bau menthol.
‘Lha tadi siapa yang ngajak maen kartu? Giliran kalah kok mecucu..’, tawa-tawa meledak. Muhammad menyambar sarung. Melangkah sambil terhuyung.
‘Lho, kemana? Ini tu jadwal rondamu..’, Pak RT angkat suara.
Gathel!! Aku mau ngeloni Surti..’, Muhammad hilang. Kelam menerkam.

***

…See the stone set in your eyes... See the thorn twist in your side... I wait for you…
Bono isi udara. Asap rokok merajalela.
‘Hidupmu tak cuma hari ini’, seorang kawan bicara.
Muhammad menenggak dari botolnya. Bir dingin yang ketiga, ‘Caranya yang tak bisa kulupa’
Kafe setengah gelap. Asap bikin pengap. Di luar gerimis. Tapi Muhammad tak merasa manis.
‘Sampai kapan kau akan begini?’
Muhammad meredup, ‘Sampai kapan kau akan hidup?’
Malam kian tenggelam. Luka lebam-lebam. Inikah jahanam?

***

Kotak itu bernama TV. Semua isinya tai. Seperti malam ini. Kuis SMS tolol presenter bahenol.
‘Sudahlah, Yang…’, Adam berusaha meredam. Apartemen malam-malam.
Muhammad ingin menjerit. Hatinya sakit.
‘Sudah apanya?’, Muhammad menatap cowoknya, ‘Papah tau hubungan kita. Aku tak lagi dianggap anaknya’, mata menelaga. Setitik air tiba-tiba.
Adam diam saja. Memencet remote ala kadarnya. Siaran bola. Berita. Dialog politik tai kuda. Film Hollywood isi celana.
‘Kita ke luar negeri. Kita menikah di sana’
Muhammad berdiri. Menuju kamar mandi, ‘Itu solusi?’

***

‘Ceraikan aku’, Khadijah pelan.
Muhammad tercekat. Redup 10 watt menatap.
‘Kenapa?’
Gonggongan anjing di luar sana. Menelusup lewat jendela.
Khadijah menatap suaminya, ‘Kenapa? Cuma perempuan tolol yang rela dimadu’
Muhammad terkesiap, ‘Jaga mulutmu, Bu.. Kanjeng Nabi itu dulu..’
Tai asu. Telan semua ayat-mu’, Khadijah memotong, ‘Ceraikan aku’
Di luar gelap melaknat. Perempuan memilih murtad.




Casablanca, 8 Januari 2011
* Foto karya Onetreeink (dicuri dari sini)

2 komentar:

  1. lelakipantangmenyerah mengatakan...
     

    wahh3, bagus juga ni bung.
    inspiratif sekali tulisan Anda.
    menginspirasi orang untuk tahu bahwa Anda telah meninggalkan jejak kemahatololan yg hanya didasari kebencian.
    Mungkin bila satu nama dengan satu kisah busuk sang pemilik nama, tentu tak akan membuat orang berpikir begitu.
    tapi coba lihat,,

  2. Setyo A. Saputro mengatakan...
     

    @ lelakipantangmenyerah: terima kasih bung.. :D

Posting Komentar