Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Sinatra dan Kitab yang Takkan Pernah Selesai Dibaca


Serak Sinatra di telinga. …And now, the end is near.. And so I face the final curtain.. My friends, I'll say it clear.. I'll state my case, of which I'm certain… Tut tut tut.. Lagi-lagi. Tak kau angkat lagi.

Ah. Malam makin hening sekarang. Angin tak lagi kencang. Tapi kenapa telpeonku tak kau angkat? Apakah di tempatmu; di manapun dirimu sekarang; ada yang sedang sekarat? Semoga saja tidak. Karena ini kan hari Sabtu. Bukankah poliklinik rumah sakit negeri tak buka di akhir minggu?
‘Tapi UGD kan buka 24 jam?’, kubayangkan kau membantahku.
Ah iya, kau memang selalu lebih cerdas dibanding aku.

By the way, kenapa My Way? Tapi ah, sudahlah. Tak perlu kau jawab.
‘Lagu itu berarti bagiku’, pasti jawabanmu begitu. Seperti jawaban siapapun yang pernah mendengarnya dengan telinga dan jiwa. Sakral, kalau bahasaku begitu. Seperti adzan yang menelusup di awan yang bergumpal-gumpal.
‘Ha? Kau bandingkan Sinatra dengan muadzin?’, kau pasti seketika mencecarku. Dan sebelum aku sempat menjelaskan, kau pasti kembali menyerang, ‘Lirik lagu dan panggilan untuk sembahyang?’.
Dan kemudian kita akan terlibat sebuah perdebatan yang tak berujung. Mengutip dalil-dalil, petikan syair, filsuf ini, filsuf itu, ayat ini, kitab itu, dan ketika kita sama-sama lelah karena tak ada yang mau mengalah, kaupun berucap, ‘Gimana kalo secangkir kopi?’.
Dan selesai. Diskusi kita usai. Hanya ada wangi kopi dan Indomie yang membawa cerita-cerita dari negeri jauh tak bernama.

Kau tahu, hening yang menganjing ini benar-benar bikin pusing. Apakah kau sedang mandi tadi? Tapi bukankah kau bisa mengirimkan sms, sekadar mengatakan hal itu kalau memang benar begitu? Atau kau tak mendengar hape-mu berdering? Ah, berdering? Sepertinya kosakata itu sudah seharusnya tak dipakai lagi saat ini. Mungkin ada baiknya jika aku memilih kata ‘berbunyi’ atau ‘bersuara’. Bukankah hape sekarang tak lagi ber-kring kring kring? Tidak lagi seperti pesawat telepon era 70-an yang angka-angkanya harus diputar ketika kita ingin menghubungi seseorang di seberang, seperti yang sering kita lihat di film-film lawas James Bond dan Warkop DKI?

Tapi sebentar. Jika tidak berdering kring kring kring, seperti apa bunyi hape-mu ketika aku berusaha menghubungi nomermu? Sinatra juga-kah? Ah, pasti iya. Fly Me to The Moon pastinya. …Fly me to the moon… Let me play among the stars… Let me see what spring is like on a-Jupiter and Mars… Karena aku tahu pasti, itu lagu favoritmu. Dari dulu. Ya ya ya… Terbang ke bulan. Gimana kira-kira rasanya? Sayang Louis Armstrong sudah mati. Jadi tak mungkin bisa ditanyai lagi.
‘Neil Armstrong!’, kau membantah.
‘Aaahhh, cuma beda dikit. Sama-sama Armstrong. Toh What a Wonderful World jauh lebih merdu dibanding cerita tentang heroisme astronot Amerika beserta Apollo 11-nya’.
Lalu kau tertawa. Dan seperti biasanya, sepasang cekung itu tiba-tiba ada tanpa aba-aba. (Asal kau tahu, aku menyukainya. Mengingatkanku akan lembah di dunia antah berantah dalam dongeng ibuku ketika aku masih kecil dulu. Tempat yang seringkali kuangankan ketika aku dipaksa tidur siang. Wangi rumput dan titik embun. Dulu di mimpiku. Sekarang di pipimu)

Tapi, siapa bisa memastikan kalau dering hape-mu memang Sinatra? Tapi bukan ST12 kan pastinya? Perempuan sepertimu tak mungkin berselera busuk seperti itu. Atau jangan-jangan kau pasang ringtone khusus untuk menyaring telepon dari nomerku? Ah, betapa layak dikasihaninya diriku jika memang begitu. Dan lagi apa alasannya coba. Kau sedang tak ingin pusing-pusing berdiskusi denganku? Hmmm… mungkin saja. Banyak kawan-kawanku yang memilih cepat-cepat pulang ketika kami tengah berbincang.
‘Capek ngobrol denganmu’, katanya, ‘Bikin mati muda’.

Ah, tapi tidak kok. Aku janji, tema pembicaraan kita nanti adalah sesuatu yang sangat sederhana. Aku janji tak akan ada perbincangan yang membuat kening kita berkerut mawut. Tak ada obrolan tentang busuknya negeri ini, korup-nya orang-orang parlemen, jahanamnya belantara kota, terlebih, apa itu Tuhan, di mana kebenaran, dan tema-tema lainnya yang akan membuat wajah kita tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Kita hanya akan berbincang tentang: berapa harga sandal Swallow yang warna hijau di pasar baru, kenapa sekarang jarang ada orang membeli kaset bajakan, apa gambar seprai ranjang tidurmu waktu kecil dulu, kamu kalau memakai sepatu kanan dulu atau kiri dulu. Cuma tema-tema semacam itu.

Atau mungkin kau memang sekadar benar-benar tak dengar. Tapi bukankah hapemu bisa bergetar? Jika kau taruh di atas meja, pasti hape itu akan bergerak-gerak dengan suara 'drdrdrdrdrdrdrdr' sambil berputar-putar.
‘Drdrdrdrdrdr?’, kau bertanya.
Dan aku cuma bisa garuk-garuk kepala. Iya ya? Suara getaran hape itu kalau ditulis gimana ya? Benarkah 'drdrdrdrdrdr'? Ah, apa yang kita dengar kadang memang tak selalu bisa kita visualkan. Suara orang tertawa misalnya. Kalau aku jujur saja lebih suka menulisnya 'hahahaha'. Atau 'hehehehe'. Tapi toh ada juga yang menuliskannya 'wkwkwkwkwk'. Bahkan 'xixixixixi. Haghaghaghag. Kekekekeke'. Lalu siapa yang benar coba? Aku? Mereka? Semua? Atau malah; jangan-jangan; tak ada? Oh iya, lalu bagaimana suara getar hapemu itu ketika aku meneleponmu? Brrrrrrrrr? Ah, malah seperti orang kedinginan.

Atau jangan-jangan hapemu tidak kau taruh di meja, tapi kau kantongi di saku celana? Lho, tapi bukankah dengan begitu getarannya justru terasa? Atau kau sedang di dalam bis kota? Ya ya ya, tak aman memang mengangkat hape di tempat umum seperti itu. Tapi kau mau kemana coba? Sekarang sudah jam 1. Tadi kutelpon dirimu jam 12.15. Pergi dinihari begini memang mau menjemput pagi? Bukankah jam-jam segini lebih nyaman jika kau rebahkan tubuhmu di ranjang? Memasrahkan hidup dalam kekuasaan malam?

Apa mungkin memang kau sedang benar-benar tak ingin diganggu, karena asik chatting dengan lelaki-mu. Yang mana? Mana aku tahu. Aku bilang kan mungkin. Yang namanya kemungkinan kan akan selalu ada di dunia, betapapun sedikit prosentasenya.
‘Kamu itu tak terlalu pintar ya?’, kubayangkan kau mendorong pelan dahiku.
Ya, mungkin memang aku yang terlalu bodoh untuk melakukan sesuatu yang lain.
‘Maksudnya?’
Ya, karena menurutku di dunia ini tak ada yang lebih mudah untuk dilakukan seorang pria, ketimbang jatuh cinta padamu.
‘Lho?’, wajahmu pasti bingung sesaat, untuk kemudian meledak terbahak, ‘Kamu mabuk?’, pasti pertanyaan itu.
Tapi, ah sudahlah. Tertawalah. Kau memang satu-satunya kitab yang tak akan pernah sanggup aku khatamkan. Bertemu denganmu membuatku tiba-tiba merasa sangat-sangat tua sekaligus kembali seperti remaja.

Ah, pagi datang sebentar lagi. Tapi kenapa teleponku tak kau angkat tadi? Padahal ada konser Jazz bagus besok Minggu. Dan aku ingin mengajakmu.


***

Lelaki itu selesai membaca kembali apa yang sudah ditulisnya. Kepulan asap rokok menari-nari di depan layar laptop. ‘Sedikit picisan’, menyesap kopi yang sudah lama dingin, ‘Tapi siapa tahu ada redaktur media bodoh yang mau memuat di koran-nya. Lumayan, untuk beli susu si Bumi’. Ah, Bumi? Lelaki itu beranjak dari kursi lalu menuju pintu warna biru. Di celahnya dia temukan seorang perempuan dan juga bidadari kecilnya pulas dalam pelukan impian.
‘Itu Bumi. Dan itu ibunya. Kitab yang sudah kuselesaikan bahkan ketika baru akan kubuka sampulnya’.
Lelaki itu menghampiri jendela yang terbuka. Gerimis di luar sama sekali tak berwarna. Hanya hitam yang terlihat kejam.
‘Tuhan, apakah ini airmata-Mu atau justru muncratan liur-Mu? Kau sedang terluka atau justru terbahak di atas sana?’.
Sayup, bedug subuh ditabuh. Adzan berkejaran. Sinatra merayap pelan.
That's life, that's what all the people say… You're riding high in April, Shot down in May… But I know I'm gonna change that tune… When I'm back on top, back on top in June…



***



Casablanca, 3 Januari 2011
* Foto : Tatiana Mikhina

0 komentar:

Posting Komentar