Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Secangkir Racun Hangat dan Hujan yang Tak Begitu Lebat

Sebuah minggu yang sore. Taman kota ditelan sunyi. Beberapa manusia menikmati mendung yang terus menggantung. Tak satupun rintik menitik. Merpati-merpati bercengkerama. Mereka bahagia. Makhluk-makhluk suci yang konon tak pernah ingkar janji. Seorang seniman jalanan meniup saxophone tua di bawah patung malaikat bersayap pekat. Too much love will kill you melumat. Tak peduli meski tiada yang memperhatikan. Tiada telinga mau mendengarkan. Sementara di satu sudut, di kursi besi warna hijau lumut, sepasang manusia terlibat dalam kata dan tawa. Bahagia. Setidaknya itu yang terlihat.

‘Dasar antek kapitalis…’, sang lelaki berkata. Dan tawa kembali berderai.
‘Jika aku antek kapitalis, lalu kau sebut apa dirimu? Berlama-lama nongkrong di coffee shop demi menikmati secangkir kopi dan malam hari?’, perempuan bicara di sela-sela tawa.
‘Lho.. Jangan samakan itu dengan hobby belanjamu.. Keluar masuk mall untuk sekadar mengejar barang-barang diskonan yang kau inginkan.. Padahal sebenarnya benda-benda itu tidak terlalu kau butuhkan..’
‘Dan itu berbeda dengan yang kau lakukan? Gitu?’, perempuan memotong. Dia menantang.
‘Jelas.. Aku nongkrong di coffee shop untuk mencari inspirasi.. Itu kebutuhan, bukan keinginan..’

Lalu untuk kesekian kali, tawa perempuan pecah. Renyah, ‘ Ah.. mana mungkin kau masih bisa membedakan apa yang kau butuhkan dengan apa yang kau inginkan? Bukankah sejak dari dulu kau selalu mengatakan, bahwa kau tak punya lagi punya hati?’. Tawa lagi. Si lelaki menghembuskan asap rokoknya. Menyeringai. Terpaksa mengalah dalam perdebatan ini.

Begitulah yang selalu terjadi pada pertemuan-pertemuan mereka. Pertemuan yang selalu saja singkat. Namun padat. Seniman berbaju kumal itu sudah mengganti lagu. Everybody Hurts mendayu sendu. Sementara merpati-merpati saling berkejaran tak beraturan. Seakan tiada beban pikiran. Beranakpinak, makan, beranakpinak, makan.

‘Kau tahu’, sang perempuan buka suara setelah berhenti dari tawa. Nada suaranya kini beda, ‘Betapa sebenarnya aku menginginkan saat-saat seperti ini bisa terjadi setiap hari’. Keduanya bersitatap. Lelaki melepas senyumnya lalu melepas pandangan di kejauhan. Secara perlahan, dia sulut batang tembakau yang entah sudah kesekian. Suara berkeretak pelan ketika pipi kurus itu menghisap rokok dalam-dalam. Asap mengepul, meliuk, lalu lenyap ditelan alam. Sang perempuan merapatkan jaket biru tua dan membenarkan letak duduknya, ‘Mungkin sebaiknya aku bercerai saja’.

Sang lelaki diam tak berekspresi. Kembali menghisap rokoknya dengan satu isapan yang dalam. Dia sepertinya berharap, isapan itu bisa menelan semua dunia yang ada di sekitarnya. Namun rupanya usaha itu sia-sia. Perempuan itu masih di sampingnya. Begitu juga gembel tua dengan saxophone-nya. Merpati-merpati bahagia. Malaikat bersayap pekat. Tak ada satupun yang menjadi tak ada. Semua masih terlalu nyata untuk bisa disebut sirna.

‘Aku yakin kita bisa bahagia… Berdua…’, perempuan kembali bersuara. Pasangan remaja terlihat tertawa-tawa di seberang sana. Terlihat rona merah muda di wajah keduanya. Ah, rupanya panah cupid menancap tepat di jantung mereka.

‘Sadarkah kau..., Hampir setiap malam aku membayangkan, kita berbincang di atas ranjang, mengutuk dunia dan seluruh isinya, memaki betapa kotornya petinggi-petinggi negeri ini, betapa picik dan munafiknya para pemuka-pemuka agama, betapa tololnya masyarakat kita yang menjadikan TV sebagai berhala, menukar harga diri dengan secangkir kopi di Starbucks, sehelai kutang Victoria Secret, sayap goreng di gerai Mc. D, musik-musik busuk MTV, dan dengan otak kosongnya justru merasa bangga karena bisa mendorong benda konyol bernama troli di sesela lorong-lorong panjang Carrefour, Hypermart, dan sebagainya dan sebagainya… Lalu jika kau haus, aku akan tuangkan bir untukmu, kita meneguknya bersama, membiarkan sedikit alkohol mendinginkan otak kita, lalu kita kembali bicara-bicara.. Dan seterusnya dan seterusnya… ’, perempuan itu menggebu-gebu. Mendung bernaung agung. Belum ada tanda-tanda air tumpah mencipta basah. ‘Aku rindu saat-saat itu…’, mata lentik itu berkedip. Ada asa di sana. Ada asu melintas buru-buru. Beberapa ekor merpati terbang sebentar. Untuk kemudian mendarat lagi.

‘Pulanglah…’, lelaki buka suara untuk kemudian kembali menghisap rokoknya. Nikotin menyesap pelan ke paru-paru. Menempel di dindingnya untuk kemudian membusuk di situ, ‘Suamimu pasti menunggu’. Nada-nada saxophone tak berhenti mengalun santun. Matahari sedikit mengintip di celah langit. Keduanya tak bersuara beberapa lama. Si lelaki menjatuhkan puntung rokok setelah mengembuskan asap yang terakhir, ‘Pulanglah…. Suamimu menunggu di rumah’. Lelaki itu berdiri.

‘Kau mau kemana?’, perempuan memegang tangannya. Si lelaki menolehkan kepala, sekuntum senyum di bibir hitam. Bekas nikotin yang menua. ‘Aku akan pulang’, katanya.
‘Ke tempat itu lagi?’, perempuan lemparkan tanya. Tangannya masih erat mengikat, ‘Mungkin sebaiknya kau pindah ke tempat lain yang lebih nyaman. Tak sehat tinggal di kamar sempit tanpa jendela seperti itu’.
Sang lelaki kembali tersenyum, ‘Aku tak mungkin melakukan itu’
‘Kenapa?’, mata perempuan mengerjap.
Lelaki menghela nafas, ‘Bagaimana jika suatu malam di penghujung hujan dia pulang? Berlari-lari menyeberang jalan menembus titik air yang terus menyerang, lalu mengetuk-ngetuk pintu kamarku dan tak menemukan aku disitu?’

Ada diam teredam. Langit berkeriput. Senja makin terlihat purba. ‘Kau masih menantinya kembali?’, perempuan mengharap jawab.
Lelaki tersenyum kecut. Ada beban tersirat. Berat.
‘Aku tak punya pilihan’, pelan dia lepaskan pegangan tangan sang perempuan, membalik badan, lalu mulai melangkah menuju barat. Ke tempat semua makhluk nantinya berpulang. Siluet hitam ciptakan bayang-bayang. Semakin memanjang. Tanpa aba-aba, pada detik yang sama ada telaga di dua pasang mata. Hujan akhirnya turun meski tak begitu lebat. Secangkir racun hangat sepertinya menu yang tepat. Nikmat..



***



Mojogedang, 12 September 2010

2 komentar:

  1. bunga saja mengatakan...
     

    mengggigit.
    aku suka. :)

  2. Setyo mengatakan...
     

    terima kasih bunga.. :)

Posting Komentar