Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Bibir

; Lelaki yang memakan hatinya sendiri

‘Dia istriku. Secara de jure. Tapi dia pelacurku. Secara de facto’
Kami menikah tepat tiga tahun yang lalu. Satu Rabu tengah Januari. Ketika gerimis sok manis tak henti menari sejak pagi (Bayangkan, bahkan puisi-puisipun memilih untuk tidak bangun sejak pagi! Memati!)
‘Saya terima nikahnya bla bla bla binti bla bla bla dengan mas kawin seperangkat bla bla bla dan uang tunai senilai bla bla bla dibayar tunaiiii…’, aku copy paste ucapan lelaki berpeci. Jas abu-abu asu.
‘Sah???’, kumisnya bergerak-gerak. Serupa mata tombak.
‘Saaahhh!!!’, kedua kawanku teriak kompak. Sementara aku menikmati sup hatiku sendiri. Yang dimasak dengan air rebusan kaus kaki. Hoeeekkk!!! Dingin pagi seolah meledek. Dan ketika sujud di depan ibu, hangat air mata basahi bahu. Asu asu asu.. begitu doáku.
Sejak itulah aku disebut suami. Sementara dia seorang istri.

(‘Kenapa tak pernah kau perawani bibir ini’, pertanyaannya setiap waktu.
‘Karena aku tak akan pernah merusak sesuatu yang suci’, begitu jawabku. Selalu)

***

; Perempuan yang terpaksa memilih antara neraka atau entah apa namanya

‘Apa?! Menikah?!’, sontak terhenyak.
‘Ya’, jawabnya tenang.
Anjing!! Lelaki sinting!!
‘Menikah?! Kawin?! Di mana sepasang lelaki dan perempuan saling memasangkan cincin?!’, aku masih belum percaya. Dan gilanya, dia anggukkan kepala.

‘...Gotta find a way… Yeah I can’t wait another day…’*, Steven Tyler mengusir sunyi. Starbucks tak ramai senja ini. Hanya dua pasang remaja di sudut sana. Tertawa-tawa menyembah berhala paling kuasa… Amerika.
‘Gimana?’, dia bertanya. Caffè Latte diteguknya. Sementara aku masih tak menemu kata-kata. Bangsat!! Gerimis di luar pun sama sekali tak bersahabat. Tak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda akan datangnya kiamat.

..Yeah… But its never too late… To start again take another breath… And say another prayer…*’
Mocha Frappuccino tiba-tiba berubah rasa. Serupa air soda.
‘Aku tahu kau tak mencintaiku. Begitupun aku. Tapi pentingkah itu?’
Asu!! Beruntung di Starbucks tak ada tumpukan batu. Ingin rasanya kutimpuk kepala lelaki itu.
‘Wahai lelaki..’, aku pelan bicara, ‘Bagaimana mungkin kita menikah? Kawin untuk kemudian bersama-sama bereproduksi, menghasilkan anak lalu membesarkannya… Sementara kita tahu tak ada setitikpun rasa di antara kita?’
‘Logika’, matanya mengerjap sok jenaka.
Tai kuda yang maha sempurnaaa... Mungkinkah Tuhan lupa membagikan jatah otak untuknya??? Logika dia kata???
Cinta cuma masalah waktu cah ayu…’. Prettt!!! Filsafat!!! Setahun aku mengenalnya, filsafat bangsat semacam inilah yang paling aku benci darinya.

Bayangkan, sore tadi aku baru pulang kerja. Dia kirim pesan singkat. Sangat singkat. ‘Starbucks yuk..’. Dan berhubung aku sendiri sangat-sangat suntuk dengan casting robot yang kumainkan setiap hari di kantor, aku iyakan dia. Dan ternyata? Dia mengajakku menikah. Yeeeaaah, hidup ini memang terlalu indahhhh… Sangat indaaahh...
‘Ibuku. Kau tahu itu’, dia menatapku, ‘Aku ingin memberi kado terindah untuknya.. Selagi waktu masih ada..’

....If this life… It seems harder now… It aint no never mind… You got me by your side… *
‘Kenapa harus aku? Aku cuma sahabatmu?’
‘Lalu siapa? Jika dirimu kau bilang ‘cuma’?’
Gerimis di luar tak lagi riwis. Kilat bersilat. Mobil-mobil berjalan. Berhimpitan. Ya, kemacetan memang bahaya laten yang maha sialan.
Ayolah.. Anggap saja kita saling membantu.. Atau kau lebih memilih lelaki pilihan orang tuamu itu?’
Akupun semakin kehilangan kata-kata. Tuhan kadang memang Maha Gila. Memberi pilihan yang sebenarnya bukan surga atau neraka. Melainkan neraka atau entah apa namanya.

‘Jadilah perempuanku. Lalu kita berserah pada waktu’. Waktu??? Jam baru menunjukkan pukul lima seperempat. Tapi aku merasa dudukku disini sudah berabad-abad. Huahhh.. Aku teringat bapak. Juga ibu. Dan juga keinginanku untuk membalas kehidupan yang diberi padaku. ‘Apa mungkin bisa?’, dia diam saja. Sepasang remaja di meja seberang meja tampak bahagia. Berbisik-bisik entah apa, mungkin seputar isi celana. Kurasa mataku mulai berkaca ketika pelan kuanggukkan kepala, ‘Tapi kau harus janji…’
‘Apa?’.
‘Berjanjilah kau akan membuatku jatuh cinta’
Pelan, dia anggukkan kepala.

...And fly away from here.. Anywhere… Yeah I dont care …*
Senja menua. Mocha Frappuccino tak lagi rasa soda. Melainkan kencing kuda.

***

; Sepasang pengantin tanpa rasa

Gamelan masih bertalu di luar kamar. Sajak-sajak purba soal cinta. Soal rasa. Yang sembunyi entah di mana.
‘Haruskah kita melakukannya?’, perempuan itu bertanya. Wangi melati isi udara. Serupa dupa.
‘Entahlah. Aku lelah’, sang lelaki tak henti membaca. Buku tebal di tangannya. Perempuan itu rebah. Ranjang sedikit bergoyang, ‘Kau tidur di mana?’
Lelaki membenarkan letak kacamatanya, ‘Aku di sofa saja. Tak apa’. Malam itu tak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya. Bertahan hingga setahun ke depannya.

***

; Perempuan yang tergila-gila

‘Kenapa tak pernah kau perawani bibir ini’, pertanyaanku setiap waktu.
‘Karena aku tak akan pernah merusak sesuatu yang suci’, begitu selalu. Lalu kamipun bergumul dalam nafsu. Lenguh. Peluh. Luruh.
‘Aku mencintaimu’, kecupku di ujung permainan. Yang selalu dia jawab dengan senyuman. Lalu kamipun berpelukan. Hingga pagi kembali datang.

(Gila.. Tiap hari dia selalu bisa buatku jatuh cinta…)

***

; Lelaki yang membuka topengnya

Meski bukan merpati, aku selalu tepati janji. Bagaimana tidak, dia kini benar-benar cinta mati. Tapi sejak kecil aku tak begitu berbakat membohongi diri sendiri. Tentang bibir itu, ucapanku benar-benar palsu. ‘Aku tak mungkin membiarkanmu melumatku. Karena bibirku hanya miliknya. Dia saja’, hatiku buka suara.






* Aerosmith -Fly Away From Here-
Utan Kayu, 15 Juni 2010

0 komentar:

Posting Komentar