Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

SMS-SMS Itu...

; Sepenggal Narasi Kemplu :D


Hanya orang yang tak penting yang mencintai hal-hal tak penting. Mungkin memang benar. Dan saya adalah salah satunya. Begini ceritanya. Sejak tahun 2005 lalu, saya menyimpan sekitar 30an sms di kartu SIM saya. Kenapa tidak di HP? Karena Motorola C115 milik saya tak memberikan fasilitas untuk itu. Benda mungil yang seringkali disebut tamagochi oleh kawan-kawan saya ini tak memiliki fitur untuk menyimpan SMS di memorinya.

‘Ga penting banget sih.. Kenapa ga dihapus saja?’, seorang kawan pernah marah-marah karena SMS-nya hanya separuh yang singgah di HP saya. ’Memorinya penuh’, saya menjelaskan. Dan dia lalu mempertanyakan SMS-SMS yang memenuhinya.

Bagi saya itu bukan SMS biasa. Ada sejarah di dalamnya. Semacam catatan perjalanan. Sedari dulu saya memang mencintai hal-hal yang berbau memorabilia. Saya suka menyimpan kenangan. Dalam benak, sekaligus dalam bentuk yang nyata.

Karena satu dan lain hal, beberapa waktu yang lalu saya sempat berpikir untuk menghapus kumpulan pesan singkat itu. Saya ingin membunuh kenangan. Terutama yang berhubungan dengannya. Tapi apa daya, saya tak punya kekuatan untuk melakukannya. Sebagian dari hati saya masih berusaha untuk terus mempertahankan. Hingga akhirnya, waktu memberi keputusan.

Saya membeli sebuah HP. Bekas seorang kawan. Sebuah benda yang saya harapkan bisa memfasilitasi kebutuhan saya yang kini tak lagi sekedar butuh telepon dan SMS. SIM card saya pasang. Dan kawan saya itu berniat menghapus pesan singkat miliknya yang masih tersimpan di memori HP. Di sinilah tangan Tuhan bekerja. Tanpa sengaja, kalimat-kalimat keramat milik saya ikut binasa. Kumpulan SMS pilihan yang saya jaga selama 5 tahun terakhir ini, ikut menghilang ketika tombol delete ditekan. Jujur saya goncang (Lebay!!! :) Itu bukan kalimat biasa. Ada catatan tentang janji; yang ditepati maupun tak ditepati, ada catatan tentang resolusi; meski akhirnya basi, ada provokasi dan motivasi, ada rayuan, ada kenangan, intinya; ada sejarah. Dan kini, semua itu tak lagi ada di tempatnya. Tapi ah sudahlah..., waktu sudah memutuskan. 'Rupanya sekedar kata-katanya pun saya tak lagi punya hak untuk memilikinya :)'



***


Utan Kayu, 30 maret 2010

0 komentar:

Posting Komentar