Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Hot Pants, Tank Top, dan Che Guevara di Pentas Jazz

Baiklah. Mari sedikit membincang tentang Jazz. Jadi begini. Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan datang di Java Jazz Festival. Kebetulan kartu pers yang saya miliki memberi saya kesempatan untuk mendapatkan selembar tiket gratis. Daily pass hari pertama.

Hot pants, tank top , dan wajah-wajah ceria gadis belia menjadi pemandangan pertama yang saya temui di lokasi. 'Wow, jazz sekali...' , benak saya tertawa geli. Saya tak bisa membayangkan apa yang dirasakan budak-budak negro itu di surga sana. Yang dulu keringat, jeritan, darah, dan nanah-nya melahirkan musik yang kini disebut jazz ini. Mungkin gembira, bahagia, atau justru terhina. Saya tak cukup berani berkesimpulan.

'Kondisi sekarang tak lagi ditentukan oleh -isme, ideologi, atau state of mind, tapi oleh desire, nafsu dan keinginan mengkonsumsi', begitu kata Kenichi Ohmae . Begitulah. Seperti halnya Mc Donalds, begitu juga jazz. Lihat saja orang kita yang berbondong memesan paket nasi di Mc. D. Yang (mungkin) sebenarnya tidak 'menikmati' rasa sebenarnya dari makanan tadi, melainkan hanya sekedar mengkonsumsi 'citra'. Bahkan kemungkinan tak sedikit di antara mereka yang tak mengetahui bahwa di negeri sononya, Mc. D tak memproduksi makanan berbahan dasar nasi. Tapi apakah itupun perlu diketahui, ketika ternyata 'apapun' yang dijual sudah cukup membuat kita merasa sebagai warga dunia yang menikmati santapan global? Santapan manusia 'beradab'?

Pemikiran jahat semacam itu jugalah yang muncul di otak saya ketika melihat hot pants, tank top, dan gadis-gadis belia tadi. Saya tak cukup yakin bahwa adek-adek yang lucu dan imut-imut itu mengerti apa dan siapa sebenarnya jazz itu? Tapi ah sudahlah, apa pentingnya juga mereka tahu. Komodifikasi dan kapitalisme industri toh sudah cukup memberi penjelasan, bahwa tugas seni adalah menghibur. Itu saja. Art is entertainment. Tak lebih.

Dan karena belakangan saya sangat memanjakan otak saya, akhirnya saya memilih berhenti untuk memikirkan itu. Saya memilih menikmati tiket gratis yang saya miliki. Termasuk menikmati Direct from Vegas The Rat Pack with Ron King Big Band yang membawakan swing jazz dengan penuh energi. My Way, That's Life, New York New York, dan kawan-kawannya cukup berhasil menampar-nampar hati saya dengan sempurna.

Tapi ya gimana lagi, lha wong dasarnya otak saya itu susah diatur. Jadi mau tak mau sepanjang pertunjukan saya terus kepikiran dengan seorang mas-mas yang saya lihat waktu keluar dari pertunjukannya Syaharani. T-shirt hitam dengan gambar Che Guevara di punggungnya telah sukses membuat saya tersenyum getir. Jujur saja, ini bukan pertama kalinya saya melihat Che Guevara di tempat yang tidak semestinya . Tapi itu bukan berarti hal ini sudah menjadi biasa bagi saya. Jadi ya tetap saja saya tersenyum miris. Dan satu hal lagi yang membuat senyum saya malam itu lebih miris daripada biasanya, yaitu yang dipegang di tangan kiri mas-masnya itu. Tangan seorang cewek cantik dengan rambut sebahu . Bukan apa-apa sebenarnya, tapi gimana ga miris kalau malam itu saya datang ke acara itu sendirian. Bayangkan, sudah datang nonton Java Jazz sendiri, terus melihat pengikut Che Guevara yang menggandeng cewek cantik di tangan kiri. Bukankah itu sungguh sebuah kondisi yang memprihatinkan?? 'Padahal saya juga seorang sosialis...', benak saya berontak :(



***



Utan Kayu, 28 Maret 2010

1 komentar:

  1. eL mengatakan...
     

    lah kamu nonton java jazz dewe, ga ngajak ngajak. makanya semuanya jadi terasa pahit. ha ha ha ...

    btw, saya juga teramat sangat bingung dengan fenomena hot pants tank top ini, apalagi kalau lagi di bioskop yang ac nya super duper dingin, mereka apa nggak hipotermia?

    ah, yang penting kan gaya.. gaooolll... kebahagiaan batin bisa dengan mudah mengalahkan derita fisik. *halah*

Posting Komentar