Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Seorang Kawan dan Pertanyaan-Pertanyaan

‘Kenapa kita dipaksa hidup?’ , tiba-tiba. Sebuah tanya. Kedai Tempo suatu senja. Ada gerimis. Tak ada satupun yang manis.
’Lho lho lho... Maksudnya?’
’Iya. Kenapa kita tiba-tiba dihidupkan? Tanpa persetujuan? Tak diberi pilihan?’
Sejurus saya diam. Untuk kemudian meledak. Sumpah mati. Saya tertawa. Baru sadar, kawan saya yang berukuran jumbo ini ternyata punya bakat jadi komedian, 'Tak diberi pilihan???'

Tanpa basa-basi dia lalu deklamasi, ’Untuk apa sebenarnya kita dilahirkan? Bla bla bla... Kita tak pernah diberi pilihan, ingin dilahirkan sebagai lelaki atau banci.. Bla bla bla... dari rahim siapa... Bla bla bla... Terlahir di negara mana... Bla bla bla.. Lalu apakah surga neraka itu benar-benar ada? Bla bla bla...’
Saya hanya terbengong-bengong. Bertanya-tanya, setan ABG mana yang merasukinya? Atau jangan-jangan sebelum turun ke kedai dia sudah menggak berbotol-botol bir (berikut botol-botolnya maksud saya) ?

Pertanyaan kawan saya itu sebenarnya biasa. Saya yakin dia bukan orang yang pertama bertanya. Saya pun tak bisa bohong, pertanyaan serupa pernah sekian lama saya pelihara. Cogito ergo sum , Descartes bilang. Ketika kita berpikir, maka kita ada. Dan pertanyaan adalah anak kandung dari pemikiran. Orang berpikir terus bertanya, itu wajar. Sangat wajar. Tapi yang agak membuatnya sedikit ajaib adalah sosok kawan saya itu. Umurnya tak lagi muda. Suatu angka yang menurut saya tak seharusnya masih memelihara pertanyaan-pertanyaan semacam itu (Tanpa bermaksud mengatakan dia tak dewasa, mungkin pepatah Tua Itu Pasti Dewasa Itu Pilihan memang sungguh-sungguh benar adanya :). Ditambah satu hal lagi, sejak pertama saya mengenalnya dia itu orang yang saya kategorikan sebagai manusia religius di kantor. Meski nabinya seringkali di-cap sebagai nabi palsu oleh sebagian orang, dia hampir tak pernah absen untuk sholat Jumat meski harus jauh-jauh meluncur ke Priok.

Setelah sesi deklamasi selesai, kami pun berbincang. Saya tanya dia, ’Kamu merasa terpaksa hidup?’. Dan dia justru balik bertanya, ’Bagaimana tidak? Bla bla bla...', dia membaca puisi yang sama.Luar biasa!!! Saya jadi bertanya-tanya. Sebesar apa badai yang pernah menerjangnya? Hingga hidup yang sungguh Maha Luar Biasa (meski kadang termasuk Maha Luar Biasa Bangsat-nya :) ini harus dimaki-maki dan disesali sedemikian rupa. Jujur, saya tak bisa membayangkan bagaimana jika dia menjadi saya. Jab kanan, hook kiri, uppercut, yeop jireugi, dollyo chagi, eolgol ap chagi, disusul nage waza berturut-turut. Itupun belum selesai', kata Gusti. Saya sendiri tak tahu, kenapa segala sesuatunya tiba-tiba menjadi separah ini. Roda memang berputar. Tapi kenapa naiknya pelan tapi turunnya secepat kilat? (Hallah, malah curhat!!! :D

Obrolan kami senja itupun tak menemu keputusan. Dia tetap belum menemukan jawaban. Saya juga hanya geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan pertanyaan, ’Surga neraka itu ada ngga sih?’. Lha kalau ada apa pentingnya? Kalau tak ada apa ruginya?
’Lha kenapa kamu sholat?’, saya ditodong tanya.
’Lho?’, saya kehabisan kata-kata. Tiba-tiba merasa dihakimi. Sumpah mati saya tidak peduli, apa surga itu ada atau tak ada sama sekali. Bahkan saya pun tak peduli, apakah Kanjeng Gusti Pangeran itu benar-benar ada atau benar-benar tidak ada. Yang penting dia bermakna bagi saya. Itu saja. Prinsip saya cukup sederhana, kalo Dia bermakna bagi kita, alangkah lebih baiknya jika Dia dianggap ada. Kalau Dia dirasa tidak bermakna, dianggap tidak ada pun tidak apa-apa.

’Berarti kamu meragukan-Nya?’, saya diserang lagi. Kali ini orang yang lain. Lha siapa juga yang meragukan? Saya itu percaya. Sangat percaya. Lha wong Dia bermakna kok, kenapa harus tidak percaya? Saya memang bukan seorang komunis. Tapi saya pikir tak perlu menjadi seorang komunis untuk berpikir tentang kemungkinan kebenaran kalimat Marx. ’Agama itu candu’ mungkin memang benar adanya. Bagi yang berorientasi melulu surga, agama memang bisa menjelma candu yang berbahaya. Tapi candu-pun selama dikonsumsi dalam batas wajar dan dalam keadaan tetap sadar, menurut saya juga tidak apa-apa. Tapi itu menurut saya lho..

’Sudahlah, tak usahlah kau pusing-pusing memikirkan eksistensi surga neraka.. Kayak lagunya Chrisye itu lho...’ , sayapun bernyanyi, ’Jika surga dan neraka tak pernah ada... Masihkan kau bersujud kepada-Nya... Jika surga dan neraka tak pernah ada.. Masihkah kau menyebut nama-Nya...’
’Lha tapi aku tu berpikir... Aku kan manusia.., diberi otak untuk berpikir.. Cogito Ergo Sum...’
, kawan saya menggebu.
’Iya memang.. tapi jangan lupa, semakin sering kita berpikir semakin sering pula Tuhan tertawa..’
’Lha terus gimana?’
’Ya sudah.. Daripada capek-capek berpikir, menjadi orang baik saja...’
’Maksudnya?’
’Ya menjadi orang baik... Orang yang berbahagia ketika melihat orang lain berbahagia’
’Termasuk ketika kebahagiaan orang lain itu menyakiti hati kita?’
’Apa? Hati? Apa itu?’
, saya pun bertanya.
Ituuu... Hatiiii... yang dipakai untuk merasa...’
’Oh itu... Punyaku sudah aku gadaikan. Ada seseorang yang lebih membutuhkan..’
’Semuanya?’
’Sisanya sudah habis aku makan’


Dan tanpa peringatan, hujan menyerang. Kilat bersilat. ’Udan kui luh-e Gusti Pangeran, le...’*, sayup saya mendengar wejangan ibu saya. Dulu. Waktu kecil dulu. Ah, saya sangat merindukan ibu, 'Agenging pangaksami duh Ibu, dalem dereng wantun wangsul...'**


***



* 'Hujan itu airmata Tuhan nak..'
** 'Beribu maaf bu, saya belum berani pulang...'




Utan Kayu, 14 Maret 2010

1 komentar:

  1. eL mengatakan...
     

    dalem ugi wedos menawi kedah wangsul, hehehe...

Posting Komentar