Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Berdamai dengan Dunia

11 Maret 2010. Game Master Plaza Semanggi. 'Buuuukkkk!!!' , busa hitam tersentak. Angka digital berkerlip. Tunjukan skor. Dan pukulan kesembilan itu, membuat tangan saya terkilir. Memaksa saya mencari wahana permainan lain. Yang lebih 'aman'. Memancing boneka? Lupakan saja.

Tiga bulan belakangan saya sibuk mencari sansak. Seorang kawan yang pernah menjanjikan, ternyata hanya tong kosong. Omong bohong. ' Janji dibuat untuk dilanggar ', pepatah lama yang abadi. Dulu saya sempat sangat menginginkan sansak hidup . Yang bisa berteriak ketika dipukul. Menjerit ketika ditendang. Dan mengerang ketika ditebas pedang. Tapi itu dulu. Lagian mana ada manusia yang merelakan tubuhnya begitu saja? Yang ada justru saya yang balik dihabisi. Bisa-bisa saya mati. Minimal patah tulang. Atau sekedar opname.

'Siapa kira-kira orang yang sangat ingin kau pukuli habis-habisan saat ini?' , kawan saya bertanya. Pizza Hut suatu senja. What a Wonderful World menjadi latarnya. Tiga gelas es kopi entah apa saya lupa namanya ada di atas meja.
'Hmmmm...' , saya berpikir, ' Tidak ada..'
'Oh ya?' , dua kawan meragu.
'Ya'
'Termasuk dia?' , kawan itu menyebut seorang public enemy. Musuh massa.
'Ya. Bahkan dia. Entahlah. Sepertinya aku sudah tak punya nafsu lagi untuk menganiaya. Mungkin tak tersisa tenaga' . Ada senyum (yang manis :)
'Ya ya ya... Mungkin kau memang sudah mulai berdamai dengan dunia...' . Dan saya tertawa. Berdamai dengan dunia? Frase yang menarik.

***

'Seorang samurai mempunyai tuan yang harus dibela.. Harus dipertahankan... Tapi kalau ronin? Apa lagi yang bisa diperjuangkannya? Dia manusia sepi. Sendiri.' , saya menggebu di gagang telepon. Beberapa malam yang lalu. Seorang kawan di seberang menjawab dengan tanya, 'Kenapa metafora yang kau pakai selalu seperti itu? Perang, pertempuran, kemenangan, ksatria, dan kawan-kawannya? Tidakkah kau tertarik menggunakan perumpamaan yang sedikit beda? Rumah misalnya'
'Ha?! Rumah?!'
'Ya. Rumah. Hidup itu seperti rumah. Yaitu tembok-tembok, pintu, jendela, dan atap. Bahan dan ukuran boleh dipilih, tapi kegunaan rumah tergantung pada ruang-ruang kosong yang dibentuk oleh hal-hal tersebut. Tidakkah itu terdengar lebih sejuk?'
Dalam hati saya mengiyakan. Ya. Betapa selama ini saya terlalu sering mengasosiasikan hidup dengan hal-hal yang berbau darah dan merah . Bagi saya, hidup itu kalau tidak menang ya kalah . Kalau tidak jaya ya mati . Begitu seterusnya begitu seterusnya. Tak pernah sedikitpun terbersit ide untuk menggambarkan hidup dengan metafora-metafora yang kalem dan biasa-biasa saja . Seperti kertas misalnya. Atau mungkin botol, sandal, cobek, pantai, mata , terlebih lagi; rumah.
'Kamu itu seorang melankoli yang terlalu banyak membaca buku kiri' , smash keras mendarat di kening saya. Dan tawa meledak karenanya.

***

'Saya tak lagi butuh sansak' , status baru saya. 'Kenapa?' , satu comment di bawahnya. 'Saya ingin berdamai dengan dunia' . Ya. Bahwa hidup adalah peperangan mungkin memang benar. Tapi perang itu melelahkan , jauh lebih benar. Hidup adalah sesuatu yang akbar. Jauh lebih besar dari sekedar urusan menang atau kalah. 'Damai itu indah' , kalimat di spanduk salah satu partai politik ketika musim kampanye lalu. Mungkin begitu. Damai dengan waktu, damai dengan siapa saja, damai dengan-nya, damai dengan-Nya, dan juga dengan dunia.

Karena itu, dengan tangan gemetar, bendera putih coba saya kibarkan. Hymne Sinatra pelan saya lantunkan,





Utan Kayu, 11 Maret 2010

1 komentar:

  1. Tria nin mengatakan...
     

    pukpukpuk.

Posting Komentar