Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Sesumbar Tentang Ketakutan Terbesar

‘Apa ketakutan terbesarmu?’
Satu pertanyaan. Jutaan jawaban.
’Setiap orang pasti punya’ , satu kawan memastikan.
Begitulah. Tiap manusia pasti memiliki .
'Apa bentuknya?'
'Ah... Itu tak penting. Yang pasti tak ada manusia yang tak punya... Semua...'

***

’Masuklah..’ , sang Ibu memanggil anaknya.
Badai mengamuk. Kapal menari. Kanan kiri. Awan tebal. Petir binal.
’Di luar sedang badai nak...’
’Tidak ibu..’ , anak bermata merah menjawab, ’Badai ini belum apa-apa. Masih ada yang akan lebih liar. Nanti. Suatu waktu.’

Demikian penggambaran Sjumandjaya tentang Chairil kecil dalam AKU (Penggambaran ini saya gambarkan lagi dengan bahasa saya sendiri. Saya lupa kalimat aslinya. Kebetulan bukunya juga tak saya bawa)

Dalam imajinasi Sjumandjaya , Chairil kecil sedang mempersiapkan dirinya unuk menyongsong sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Daripada sekedar badai yang tampak seperti mainan.

***

’Ketakutan terbesarku adalah ketika tak lagi punya rasa takut’ , kawan A kirim pesan.
’Aku takut naik pesawat. Pinjam tanganmu. Genggam jariku’ , kawan B meminta.
’Jangan ajak aku ke Rumah Hantu. Aku tak mau’ , kawan C tersedu.
’Aku takut tidur sendiri. Temani..’ , kawan D suatu hari.
Apapun bentuknya. Ketakutan itu ada. Tapi bagaimana menyikapinya?
’Ketakutan itu ada untuk dihadapi. Dikalahkan. Bukan diikuti..’ , ceramah seseorang suatu hari.
’Iya. Tapi aku takut’
’Lalu?’
’Apa salahnya menjadi takut?’
’Tak salah. Itu lumrah.’
’Lalu?’
’Hadapi.’
’Tapi aku takut’
’Lalu?’
’Apa salahnya menjadi takut?’
... dst dst....

***

"TAK ada lagi yang tersisa, kecuali anak-anak yang dipercayakan Allah sama saya. Mereka adalah harta saya yang tak ternilai," ujar Hendun (45). Ibu lima anak, nenek satu cucu-yang usianya sama dengan usia anak bungsunya-itu dengan cekatan membersihkan puing- puing rumahnya yang sebagian masih teronggok di halaman rumah ibunya di Desa Lancang Baroh, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen.... Tak ada lagi yang ditakuti Hendun. Yang paling menakutkan sudah dia lewati. Suami Hendun dibunuh orang bersenjata ketika Hendun hamil tiga bulan, sekitar empat tahun lalu...’, demikian kalimat di koran lama yang saya baca .

Begitulah ketika ketakutan terbesar sudah ditemui. Manusia menjadi kuat. Bahkan tak jarang menjadi nekat. Berdiri. Dada membusung. Kepala mendongak. Berteriak serak, ’Apa lagi yang harus ditakuti?!’

***

’Aku takut tak lagi punya rasa takut’ , suara kawan saya menggema.
’Ya. Sangat beralasan. Memang menyakitkan.’, satu sms untuknya.
Malam terasa terlalu lama.

2 komentar:

  1. katakatalina mengatakan...
     

    Ketakutan itu ada untuk dihadapi. Dikalahkan.

    mungkin memang harus begitu....

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ katakatalina: ya3.. mungkin memang harus seperti itu.. tapi mungkin juga tidak sama sekali.. entah.. :)

Posting Komentar