Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Aku Ingin Menjadi Garam

Besi sepasang. Memanjang. Ke depan. Drak drak drak drak... 'Teka teki TTS... Teka teki TTS...' , asongan cari makan (Teka Teki. Bukan misteri.). 'Korek gas tisu tisu... korek gas tisu tisu...' (Bakar. Atau tangisi. Mungkin maksudnya begitu...).

***

Satu lelaki. Satu novel cinta. Lembata. Satu Aqua. 'Tuhan, ijinkan aku menjadi garam...' . Bungkam. Bungkam. Bungkam. 'Sekali ini saja...'. Subhanallah subhanallah subhanallah.... 10... 20... 30... 40........ 100... 1000... se-entah...

***

Merah. Kuning. Hijau. Kadang ungu. Lapis legit itu.
'Aku suka...'
'Kenapa?'
'Entah. Mungkin cinta...'
'Ah... Kau bisa aja...'
, manja.
Masa. Masa. Masa.

***

Drak drak drak drak... Di luar kelam. Tak ada hujan. Lokomotif menjerit. Kecup langit. 'Tuhan... aku ingin menjadi garam...' . Satu surau melintas, 'Itu rumahku... mungkin kita... ', suara itu. Dia tahu.

***

'Kau di mana nak?'
'Saya selalu di sini ibu'
'Kenapa kau tidak beranjak?'
'Saya tidak tahu'
'Pergilah. Menuju bahagia'
'Saya sedang melakukannya'
'Tidakkah kau sakit?'
'Bahkan kami sama-sama menjerit'
'Kau tidak apa-apa?'
'Saya hanya akan bahagia'
'Baiklah. Kau ingin didoakan?'
'Saya ingin menjadi garam'


Drak drak drak drak...
Di depan gelap. Simpan jawab.



Senja Utama Jakarta-Jogja
8 Des. 2009
*gambar diambil dari sini

0 komentar:

Posting Komentar