Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Adzan di Tengah Hujan

Taman kota di pelupuk senja. Mendung bernaung.
'Aku titip ini', perempuan itu ulurkan tangan, 'Bawakan untuknya' . Sekeranjang maaf dalam genggaman.
'Aku tak bisa' , kakek tua menolaknya. 'Maaf hanya boleh dikirim dengan tatap muka. Tanpa perantara. Meski hanya kata'
'Kenapa?'
'Jangan tanya. Aku tak punya jawabnya'.
Lalu lalang manusia. Keluarga-keluarga. Suami-istri tercinta. Wangi bunga. Anak-anak jelita. Bermain bola. Canda.
'Lalu kenapa 'terima kasih' bisa? ', perempuan mengelus kotak kaca di pangkuannya.
Sekumpulan terima kasih melayang di dalamnya. Bercahaya. Jingga muda. Beberapa ungu tua. Tertawa-tawa. Terlihat bahagia.
'Karena ini 'terima kasih'. Bukan maaf', kakek tua mengelus janggutnya.
'Itu bukan jawaban'.
'Sudah kukatakan. Aku tak memilikinya'
Perempuan condongkan tubuh. Angin kirim gerimis. Riwis. Titik air yang terlalu sedikit. Sementara kursi berderit. Mencicit.
'Selain 'terima kasih', apa yang dia titip padamu?' , mata perempuan bercahaya. Terlihat harapan. Namun juga penolakan.
'Tak ada. Hanya itu.'
Melintas kekecewaan.
'Baiklah. Tak apa. Tapi maukah kau membantuku? , perempuan meminta.
'Apa?'
'Bantu aku membangun dinding'
'Untuk apa?'
'Entah. Mungkin perlindungan. Atau persembunyian'
Kakek tua gelengkan kepala.
'Kenapa' , ada rona kecewa. Perempuan muda.
'Bukankah jembatan lebih indah daripada dinding?'
Bungkam. Tanda tanya-tanda tanya.
'Seperti halnya Bethlehem*, kalian butuh jembatan. Bukan dinding'
Tetap tanda tanya-tanda tanya.
'Jembatan itu menghubungkan. Memungkinkan pertemuan. Sebuah jalan. Sementara dinding mengisolasi. Tempat sembunyi. Memuja sendiri'
Perempuan bungkam. Adzan kirim panggilan Tuhan. Mulai hujan.
'Pikirkanlah tentang jembatan' , kakek tua lempar senyuman. Berdiri. Melangkah menuju kiri.
....asyhaduallailahailallaaaaah.... asyhaduallailahailallaaaaah.... Suara menara di utara.



*Dikutip dari ungkapan Paus Yohanes Paulus II mengenai Israel yang membangun tembok Bethlehem, 'Mereka yang terus membangun tembok pemisah, ketimbang jembatan, dan berusaha menduduki dengan kekuatan untuk memaksa umat Kristen dan kaum Muslim meninggalkan negeri itu...'

0 komentar:

Posting Komentar