Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Mimpi dan Janji-Janji

(Sayup Suara Papua; 3)

Tulisan sebelumnya ada di sini.

’Masyarakat di sini suka SBY..’, ucap Kores Wetipo. Menurutnya, masyarakat Anyelma, Kurima, dan sekitarnya, tak akan pernah mau memilih orang yang belum pernah mereka lihat. Dan sampai detik ini, SBY adalah satu-satunya presiden republik ini yang bersedia jejakkan kaki di Kurima. Sebuah negeri jauh di ujung timur, yang mungkin terlupa oleh Jakarta beserta istananya.

Menurut cerita, SBY datang ke Kurima sekitar 2007. Ketika itu ribuan massa tumplek blek menyambut kedatangannya. Jalan-jalan diaspal. Jembatan dibangun. Kotoran dibersihkan. Cantik. Lembah Baliem serupa surga. Saya bayangkan helikopter berputar-putar di langit Kurima, sementara 2 sirene Vooridjer meraung-raung membuka jalan di depan, disusul barisan mobil paspampres ber-oaklay hitam, lalu mobil sang RI 1 yang melesat di atas aspal yang baru dituang seminggu sebelumnya, sementara masyarakat tertawa-tawa gembira sambil da da da da di dekat sesemak bunga, dihalau kopral-kopral angkatan darat tak bersahabat dari koramil dan kodim setempat, anak-anak sekolah lambaikan bendera, beberapa di antara massa meludah… cuuuhhh… merah… buah pinang.. terlihat koteka.. koteka lagi… satu lagi… ratusan noken tergantung di kepala.. berisi sayur.. berisi kaleng.. berisi wortel.. berisi entah apa.. lalu ingus-ingus ditarik.. sentrup sentrup.. sang presiden melesat.. tak lagi terlihat.

Demikianlah yang kira-kira terjadi. Dulu. Tahun 2007. Sementara kini? Jembatan yang dulu mulus kini putus. Alam mengirim banjir bandang. Terjang. Dan tumbang. Kali Yetni harus diseberangi dengan kaki. Hanya dua batang kayu diikat tak rapi. Pisahkan Kurima dengan daerah sekitarnya. Pemerintah? Pura-pura buta. ‘Boediono juga pernah kesini.. Beberapa waktu lalu sebelum dilantik…’. Begitulah. Mereka dengan menggebu bercerita. Mereka sama sekali masih percaya bahwa ‘dewa-dewa’ itu bukan pelupa. Bahwa janji pembangunan bukan angan-angan. Setiap pagi di halaman radio saya temui, seseorang dengan bergegas dan bangga mengibarkan sang saka. Merah Putih. Dan saya hanya mampu memaki, ‘Tai..’. Saya tak yakin Indonesia ingat mereka. Saya tak percaya istana menyadari punya Anyelma, juga Kurima, bahkan mungkin Papua. ‘Pemerintah berjanji membangun Kurima 2010..’. Malam diam. Berjalan pelan-pelan.


...bersambung ke sini...

0 komentar:

Posting Komentar